Categories
Sudut Joli Jolan

Webinar: Di Balik Thrifting: Antara Tren Fesyen dan Kesadaran Lingkungan

Aktivitas belanja pakaian bekas atau thrifting belakangan menjadi tren di berbagai kota di Indonesia, termasuk Solo. Tak sekadar melapak di lokapasar (marketplace), para pelaku bisnis thrifting “bergerilya” lewat sejumlah festival atau pameran. Jual-beli pakaian bekas menjadi medium perlawanan terhadap fast fashion yang cenderung kurang ramah lingkungan dan bermasalah dalam upah pekerjanya.

Namun ada kecenderungan gerakan thrifting masa kini lupa dengan “misi mulia”-nya yakni memperpanjang usia produk atau pakaian. Sejumlah toko thrift justru membeli pakaian bekas dari luar negeri untuk dijual lagi dengan iming-iming keuntungan tinggi. Konsep thrifting yang mestinya mendukung kampanye zero waste malah berpotensi menimbulkan sampah fesyen baru apabila produk impor tersebut tak terserap pasar. Itu belum termasuk pertimbangan kesehatan dan regulasi yang hingga kini masih jadi perdebatan.

Konsumen pun belum sepenuhnya teredukasi ihwal tujuan sejati thrifting. Tak sedikit yang justru nge-thrift secara impulsif karena harga murah atau termakan brand, meski sebetulnya tidak benar-benar mereka butuhkan. Lantas bagaimana model thrifting yang ideal di era kekinian? Bagaimana pola konsumsi fesyen yang berkelanjutan? Yuk, kita obrolin bareng dalam Webinar Joli Jolan bertema Di Balik Thrifting: Antara Tren Fesyen dan Kesadaran Lingkungan pada:

🗓 Selasa, 15 Februari 2022
⏰ 19.00-21.00 WIB
🍭 Live via zoom

Narasumber:
Risa Vibia (Sustainable fashion enthusiast, founder Pasar Wiguna)
Septina Setyaningrum (Provincial Advisor Green Infrastructure Development)
Chrisna Chanis Cara (Inisiator Ruang Solidaritas Joli Jolan)

Moderator:
Ika Yuniati (Jurnalis Solopos)

Kegiatan webinar gratis, terbuka untuk umum.
Fasilitas: E-certificate & souvenir Joli Jolan (bagi peserta terpilih).

Ketentuan Pendaftaran:
-Follow Instagram @joli_jolan & @pekenjolijolan
-Registrasi: https://bit.ly/WebinarThrifting (link di bio)

Narahubung:
Faisal (081226674883)

Categories
Gaya Hidup

Dari Rumah, Piringan Hitam Sampai Fesyen Berkelanjutan

Akhir pekan lalu Joli Jolan diajak main ke Hoz, rumah salah satu sukarelawan kami yang juga sineas muda, Zen Al Ansory. Sebuah undangan yang istimewa dan menyenangkan. Kami berkesempatan mengeksplor Hoz yang dibangun dengan pendekatan arsitektur lingkungan yang kental. Sumur lawas dan pohon-pohon besar masih dipertahankan usai pembangunan. Rumah berkonsep industrial itu pun punya banyak bukaan sehingga mengurangi penggunaan energi.

Yang tak kalah istimewa pagi itu adalah pertemuan kami dengan Subo Family. Subo Family adalah keluarga yang punya listening bar di kawasan Cipete, Jakarta Selatan. Pengunjung yang telah reservasi dapat menikmati koleksi piringan hitam plus sajian makanan di basement rumah mereka. Hari itu, mereka menginap di Hoz di sela ekspedisi Jeda Wastra yang mereka jalani sejak awal Januari.

Namun Subo ternyata tak hanya tentang seni dan gastronomi. Keluarga yang terdiri dari Aria Anggadwipa (ayah), Intan Anggita Pratiwie (ibu) dan Irama Lautan Teduh (anak) ini juga pecinta lingkungan. Intan bersama musisi Andien mendirikan Setali Indonesia, yayasan yang bergerak di bidang fesyen berkelanjutan.

Perbincangan pun mengalir ke pengelolaan limbah fesyen yang belakangan banyak jadi perhatian. Kami belajar bagaimana mereka mampu meningkatkan nilai sampah fesyen lewat upcycle. Intan bersama Setali banyak menciptakan barang dengan bahan kain bekas seperti tas, celemek, atasan, vest, dan lain sebagainya. Untuk mengelola komunitas agar berkelanjutan, mereka menerapkan tarif sekian rupiah bagi mereka yang berdonasi pakaian. Mereka menghitungnya dengan satuan kilogram.

Sudah donasi tapi masih diminta membayar pula, apa banyak yang mau? Pikir kami saat itu. Intan dan Aria kompak menyatakan bahwa pengelolaan sampah itu tak mudah. Butuh waktu, tenaga, dan biaya yang tak sedikit. Kami pun merenung sejenak. Selama ini Joli Jolan serba swadaya untuk menyortir, me-laundry, hingga membersihkan gudang penyimpanan. Kami pun masih mengirim pakaian tak layak ke Sukoharjo untuk dikelola menjadi bahan bantal. Meski lokasinya cukup jauh, hal itu kami lakukan agar pakaian tak menjadi beban bumi jika dibuang ke tempat sampah. Ya, kami masih sering menerima donasi pakaian tak layak pakai dari pengunjung. “Soal biaya pengelolaan sampah fesyen itu sebenarnya tinggal edukasi. Banyak kok sekarang yang sudah sadar dan ikut membantu gerakan kami,” ujar Aria.

Hari beranjak siang. Kami giliran dipertemukan dengan pegiat upcycle lain yang tak kalah keren, Ache Andini (Achebong). Kak Ache ini hobi bikin kolase dan mengelola kertas bekas untuk dijadikan notebook atau hiasan cantik. Bekas wadah susu UHT yang tak laku dijual di bank sampah pun bisa dia sulap jadi barang bernilai. Kami pun antusias dan menawarkan beberapa kolaborasi di masa mendatang. Rasanya hari itu ada chemical reaction yang mempertemukan kami dengan para pegiat ekonomi sirkular. Berawal dari obrolan ringan, siapa tahu ada hal besar menunggu di ujung jalan.