Categories
Komunitas

Joli Jolan Ikut Serta di Pameran Art Edu Care#15

Akhir bulan ini, Ruang Solidaritas Joli Jolan bakal meramaikan agenda bertajuk Art Edu Care#15 di Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT), Jebres, Solo, Jumat-Selasa 23-27 Mei 2025. Art Edu Care merupakan pameran seni yang memiliki sejarah cukup panjang, dengan penyelenggaraan perdana pada tahun 2010. Tahun ini agenda besutan Program Studi Pendidikan Seni Rupa UNS itu mengusung tema “Feel The Same”.

Sebagai gerakan sosial-lingkungan, undangan dari kawan-kawan seni kami apresiasi sebagai kerja bersama membangun peradaban. Oleh karena itu, Joli Jolan sengaja membawa banyak buku bacaan di Art Edu Care#15. Setiap pengunjung stan Joli Jolan dapat mengambil maksimal dua buku dengan gratis.

Setelah itu, cukup unggah foto bareng buku yang diambil ke story Instagram dan tag @joli_jolan dan @arteducare. Kami juga menyediakan pakaian dan aksesoris keren yang juga bisa diambil secara cuma-cuma. Ada pula pameran info grafis tentang Joli Jolan yang bisa kawan simak di stan.

Yang spesial, kali ini kami bekerja sama dengan komunitas Ajeg Social untuk menampilkan deretan seni upcycle. Karya tersebut berupa pakaian, rajutan, topi, aksesoris, dan lain sebagainya. Produk ini sebagian mengambil bahan pakaian bekas di Joli Jolan, menjadi upaya bersama kami untuk mengampanyekan fesyen berkelanjutan.

Tentu kawan-kawan juga dapat menikmati karya seniman-seniman keren yang dipamerkan di Art Edu Care#15. Oh ya, stan kami tepatnya berada di teras Perpustakaan TBJT (berdampingan dengan Galeri Seni). Kami tunggu ya!

Note: Khusus Jumat 23 Mei, stan buka mulai 18.30 WIB.

Categories
Sudut Joli Jolan

Tilikan Fest 2024: Joli Jolan Ramaikan Skena Distribusi

Akhir pekan ini Joli Jolan akan ikut berpartisipasi di Festival Literasi Seni Solo, TILIKAN FEST. Acara ini akan digelar selama tiga hari, Jumat-Minggu (20-22/9/2024) di Lokananta Bloc. Ada banyak pertunjukan, diskusi, workshop, dan komunitas-komunitas keren yang bisa kawan temukan di acara ini.

Joli Jolan sendiri bakal berpartisipasi di kegiatan Koleb Konek, wadah yang mempertemukan komunitas independen di Solo dan sekitarnya. Masuk di skena distribusi, Joli Jolan akan membawa beberapa barang yang bisa diakses secara gratis ataupun barter seperti pakaian, bahan bacaan, tas, sepatu, dan aksesoris lain.

Selain itu, kami akan membawa sejumlah merch seperti kaus, pouch stiker, bordir yang bisa kawan beli untuk mendukung gerakan Joli Jolan. Di Tilikan Fest, Joli Jolan juga bakal memperkenalkan produk upcycle terbaru. Belum lama ini, kami bekerja sama dengan sebuah usaha mikro untuk mengolah donasi pakaian tak layak menjadi produk keset.

Jadi jangan sampai terlewatkan acaranya ya! Sila mampir dan memanfaatkan ruang distribusi kami, atau sekadar diskusi untuk membuka peluang-peluang kolaborasi di masa depan. Untuk galeri Kerten, Sabtu pekan ini kami izin tutup dulu. Layanan di Kerten akan kembali seperti biasa mulai Sabtu, 28 September 2024.

Panjang umur solidaritas!

Categories
Gaya Hidup

Dari Rumah, Piringan Hitam Sampai Fesyen Berkelanjutan

Akhir pekan lalu Joli Jolan diajak main ke Hoz, rumah salah satu sukarelawan kami yang juga sineas muda, Zen Al Ansory. Sebuah undangan yang istimewa dan menyenangkan. Kami berkesempatan mengeksplor Hoz yang dibangun dengan pendekatan arsitektur lingkungan yang kental. Sumur lawas dan pohon-pohon besar masih dipertahankan usai pembangunan. Rumah berkonsep industrial itu pun punya banyak bukaan sehingga mengurangi penggunaan energi.

Yang tak kalah istimewa pagi itu adalah pertemuan kami dengan Subo Family. Subo Family adalah keluarga yang punya listening bar di kawasan Cipete, Jakarta Selatan. Pengunjung yang telah reservasi dapat menikmati koleksi piringan hitam plus sajian makanan di basement rumah mereka. Hari itu, mereka menginap di Hoz di sela ekspedisi Jeda Wastra yang mereka jalani sejak awal Januari.

Namun Subo ternyata tak hanya tentang seni dan gastronomi. Keluarga yang terdiri dari Aria Anggadwipa (ayah), Intan Anggita Pratiwie (ibu) dan Irama Lautan Teduh (anak) ini juga pecinta lingkungan. Intan bersama musisi Andien mendirikan Setali Indonesia, yayasan yang bergerak di bidang fesyen berkelanjutan.

Perbincangan pun mengalir ke pengelolaan limbah fesyen yang belakangan banyak jadi perhatian. Kami belajar bagaimana mereka mampu meningkatkan nilai sampah fesyen lewat upcycle. Intan bersama Setali banyak menciptakan barang dengan bahan kain bekas seperti tas, celemek, atasan, vest, dan lain sebagainya. Untuk mengelola komunitas agar berkelanjutan, mereka menerapkan tarif sekian rupiah bagi mereka yang berdonasi pakaian. Mereka menghitungnya dengan satuan kilogram.

Sudah donasi tapi masih diminta membayar pula, apa banyak yang mau? Pikir kami saat itu. Intan dan Aria kompak menyatakan bahwa pengelolaan sampah itu tak mudah. Butuh waktu, tenaga, dan biaya yang tak sedikit. Kami pun merenung sejenak. Selama ini Joli Jolan serba swadaya untuk menyortir, me-laundry, hingga membersihkan gudang penyimpanan. Kami pun masih mengirim pakaian tak layak ke Sukoharjo untuk dikelola menjadi bahan bantal. Meski lokasinya cukup jauh, hal itu kami lakukan agar pakaian tak menjadi beban bumi jika dibuang ke tempat sampah. Ya, kami masih sering menerima donasi pakaian tak layak pakai dari pengunjung. “Soal biaya pengelolaan sampah fesyen itu sebenarnya tinggal edukasi. Banyak kok sekarang yang sudah sadar dan ikut membantu gerakan kami,” ujar Aria.

Hari beranjak siang. Kami giliran dipertemukan dengan pegiat upcycle lain yang tak kalah keren, Ache Andini (Achebong). Kak Ache ini hobi bikin kolase dan mengelola kertas bekas untuk dijadikan notebook atau hiasan cantik. Bekas wadah susu UHT yang tak laku dijual di bank sampah pun bisa dia sulap jadi barang bernilai. Kami pun antusias dan menawarkan beberapa kolaborasi di masa mendatang. Rasanya hari itu ada chemical reaction yang mempertemukan kami dengan para pegiat ekonomi sirkular. Berawal dari obrolan ringan, siapa tahu ada hal besar menunggu di ujung jalan.