Categories
Gaya Hidup Uncategorized

Saat Kata “Gratis” Sulit Ditolak

Berjalan menyusuri pameran, festival, atau bazar sering kali berakhir dengan tas yang semakin penuh. Satu booth menawarkan tote bag, booth lain membagikan pulpen, stiker, tumbler, atau notebook. Rasanya sayang jika dilewatkan karena semuanya gratis. Padahal, beberapa minggu kemudian, tidak sedikit barang tersebut hanya tersimpan di laci atau sudut lemari tanpa pernah benar-benar digunakan. Bukan karena kualitasnya buruk, melainkan karena sejak awal kita memang tidak membutuhkannya.

Fenomena ini ternyata bukan sekadar kebiasaan. Penelitian di bidang behavioral economics menunjukkan bahwa manusia cenderung memberi nilai lebih pada sesuatu ketika harganya menjadi nol atau gratis. Akibatnya, keputusan untuk mengambil barang sering kali didorong oleh rasa sayang jika kesempatan itu dilewatkan, bukan karena manfaatnya benar-benar diperlukan. Tanpa disadari, kebiasaan kecil ini ikut menambah barang yang akhirnya hanya menjadi koleksi di rumah.

Padahal, setiap barang gratis tetap membutuhkan bahan baku, energi, proses produksi, hingga distribusi sebelum sampai ke tangan kita. Ketika akhirnya tidak digunakan, sumber daya yang telah dikeluarkan menjadi kurang optimal atau malah sia-sia. Bayangkan seandainya barang tersebut diambil oleh mereka yang memang benar-benar membutuhkan barang tersebut dan memanfaatkannya. Bisa jadi nilai guna barang tersebut akan terpenuhi.

Di sinilah green lifestyle tidak hanya berbicara tentang memilah sampah atau mendaur ulang, tetapi juga tentang membuat keputusan yang lebih sadar sejak awal. Mengurangi konsumerisme bukan selalu berarti menolak barang baru, melainkan memilih mana barang yang benar-benar akan digunakan dalam keseharian dan mana yang perlu ditinggalkan.

Menariknya, keputusan paling ramah lingkungan sering kali bukan terjadi saat kita membuang atau mendaur ulang barang, melainkan beberapa detik sebelum menerimanya. Sebelum mengambil sebuah barang, berhenti sejenak untuk bertanya ke dalam diri sendiri, “Apakah aku benar-benar akan memakai ini?” Pertanyaan reflektif tersebut mungkin terdengar sederhana. Namun, ketika barang yang memang tidak kita butuhkan tetap tersedia untuk orang lain yang akan memanfaatkannya, upaya kecil tersebut bisa memberi manfaat yang lebih besar daripada sekadar memenuhi rak di rumah.

Tidak semua kesempatan harus diakhiri dengan membawa sesuatu. Kadang, pulang dengan pengalaman, pengetahuan, atau relasi baru justru memberi manfaat yang jauh lebih lama daripada barang yang akhirnya hanya menjadi penghuni tetap di dalam lemari.

Categories
Komunitas

Joli Jolan Ikut Serta di Pameran Art Edu Care#15

Akhir bulan ini, Ruang Solidaritas Joli Jolan bakal meramaikan agenda bertajuk Art Edu Care#15 di Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT), Jebres, Solo, Jumat-Selasa 23-27 Mei 2025. Art Edu Care merupakan pameran seni yang memiliki sejarah cukup panjang, dengan penyelenggaraan perdana pada tahun 2010. Tahun ini agenda besutan Program Studi Pendidikan Seni Rupa UNS itu mengusung tema “Feel The Same”.

Sebagai gerakan sosial-lingkungan, undangan dari kawan-kawan seni kami apresiasi sebagai kerja bersama membangun peradaban. Oleh karena itu, Joli Jolan sengaja membawa banyak buku bacaan di Art Edu Care#15. Setiap pengunjung stan Joli Jolan dapat mengambil maksimal dua buku dengan gratis.

Setelah itu, cukup unggah foto bareng buku yang diambil ke story Instagram dan tag @joli_jolan dan @arteducare. Kami juga menyediakan pakaian dan aksesoris keren yang juga bisa diambil secara cuma-cuma. Ada pula pameran info grafis tentang Joli Jolan yang bisa kawan simak di stan.

Yang spesial, kali ini kami bekerja sama dengan komunitas Ajeg Social untuk menampilkan deretan seni upcycle. Karya tersebut berupa pakaian, rajutan, topi, aksesoris, dan lain sebagainya. Produk ini sebagian mengambil bahan pakaian bekas di Joli Jolan, menjadi upaya bersama kami untuk mengampanyekan fesyen berkelanjutan.

Tentu kawan-kawan juga dapat menikmati karya seniman-seniman keren yang dipamerkan di Art Edu Care#15. Oh ya, stan kami tepatnya berada di teras Perpustakaan TBJT (berdampingan dengan Galeri Seni). Kami tunggu ya!

Note: Khusus Jumat 23 Mei, stan buka mulai 18.30 WIB.

Categories
Reportase

Menyelami Kebahagiaan Publik di Tilikan Fest

“Terima kasih, sangat bermanfaat.” “Terima kasih sudah berbagi.” “Semoga ada terus”. Deretan kalimat itu tertulis dalam kolom pesan di daftar pengunjung Joli Jolan di Tilikan Fest 2024. Ya, silih berganti pengunjung, mayoritas anak muda, menyambangi stan Joli Jolan dalam acara yang digelar di Lokananta Bloc, akhir pekan lalu.

Seperti perkiraan, pengunjung stan Joli Jolan lebih antusias dengan deretan buku gratis ketimbang pakaian. Hal ini seperti saat kami berpartisipasi di acara Urban Social Forum di Lokananta beberapa waktu lalu. Joli Jolan tentu tak hendak menyaingi bazar buku yang juga menjadi acara di Tilikan Fest. Kami hanya menjadi alternatif bagi pengunjung kegiatan yang ingin menambah literasi, tetapi kantong sedang tak bersahabat.

Beberapa kali pengunjung tak percaya ketika kami memberikan barang secara cuma-cuma. “Serius ini gratis?,” tanya seorang perempuan muda seraya menutup mulutnya. Saat itu dia tertarik dengan sebuah tas jinjing yang masih berplastik. Karena sungkan mengambilnya secara gratis, dia pun memasukkan sejumlah uang ke kotak donasi.

Donasi seikhlasnya itu nantinya dipakai untuk menunjang operasional Joli Jolan. Sebuncah kebahagiaan pun muncul dari praktik berbagi sederhana. Pengalaman yang kami dapatkan di Tilikan Fest tampaknya membuktikan hasil riset World Happiness Report pada 2022. Dalam penelitian itu, bukan perilaku hedon, konsumerisme atau pamer barang mewah yang menentukan kebahagiaan sejati seseorang.

Justru perilaku prososial, mendermakan harta untuk amal, berbagi pada orang asing, dan kerelawanan yang lebih dominan membentuk tingkat kebahagiaan. Hal lain yang melegakan kami saat join di Tilikan Fest adalah bisa bertemu kawan lama sekaligus kawan baru. Beberapa pengunjung, panitia, maupun awak komunitas di acara ini sudah kami kenal baik.

Acara kemarin menjadi wadah kami bertukar cerita tentang apa pun. Kami juga jadi bisa berkenalan dengan komunitas dan kawan baru, lantas menjajaki peluang berkegiatan bareng ke depan. Modal sosial ini menjadi kebahagiaan tersendiri bagi Joli Jolan, yang sejak awal bergerak kolektif bersama warga.

Kami jadi ingat ujaran seorang ilmuwan politik bernama Robert Lane. Dia bilang kebahagiaan hanya dapat ditemukan dalam hal-hal yang mendahului uang. Hal itu seperti keluarga, teman, atau komunitas yang secara alamiah menjadi sumber makna dan tujuan hidup. Sekali lagi, terima kasih Tilikan Fest. Semoga bisa berjumpa kembali di kesempatan berikutnya. Panjang umur solidaritas.

Categories
Sudut Joli Jolan

Tilikan Fest 2024: Joli Jolan Ramaikan Skena Distribusi

Akhir pekan ini Joli Jolan akan ikut berpartisipasi di Festival Literasi Seni Solo, TILIKAN FEST. Acara ini akan digelar selama tiga hari, Jumat-Minggu (20-22/9/2024) di Lokananta Bloc. Ada banyak pertunjukan, diskusi, workshop, dan komunitas-komunitas keren yang bisa kawan temukan di acara ini.

Joli Jolan sendiri bakal berpartisipasi di kegiatan Koleb Konek, wadah yang mempertemukan komunitas independen di Solo dan sekitarnya. Masuk di skena distribusi, Joli Jolan akan membawa beberapa barang yang bisa diakses secara gratis ataupun barter seperti pakaian, bahan bacaan, tas, sepatu, dan aksesoris lain.

Selain itu, kami akan membawa sejumlah merch seperti kaus, pouch stiker, bordir yang bisa kawan beli untuk mendukung gerakan Joli Jolan. Di Tilikan Fest, Joli Jolan juga bakal memperkenalkan produk upcycle terbaru. Belum lama ini, kami bekerja sama dengan sebuah usaha mikro untuk mengolah donasi pakaian tak layak menjadi produk keset.

Jadi jangan sampai terlewatkan acaranya ya! Sila mampir dan memanfaatkan ruang distribusi kami, atau sekadar diskusi untuk membuka peluang-peluang kolaborasi di masa depan. Untuk galeri Kerten, Sabtu pekan ini kami izin tutup dulu. Layanan di Kerten akan kembali seperti biasa mulai Sabtu, 28 September 2024.

Panjang umur solidaritas!