Categories
Komunitas

Bisnis Tinja (Site Visit with IUWASH TANGGUH)

Hari Habitat Sedunia (World Habitat Day) diperingati setiap Hari Senin pertama di bulan Oktober yang diakui oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa atau yang disingkat PBB. Peringatan ini merefleksikan kondisi kota-kota besar dan kecil, serta hak dasar setiap orang untuk mendapatkan tempat tinggal yang layak termasuk layanan sanitasi. Tema Hari Habitat Sedunia tahun 2024 adalah melibatkan kaum muda untuk menciptakan masa depan perkotaan yang lebih baik.

USAID IUWASH Tangguh mengadakan pre-event Hari Habitat Sedunia pada Hari Selasa, 8 Oktober 2024 dengan mengajak jurnalis, komunitas, Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) dan influencer dari Soloraya dan Kota Salatiga untuk mengunjungi Instalasi Pengelolaan Lumpur Tinja (IPLT) Ngronggo di Kota Salatiga.

Joli Jolan sebagai komunitas yang bergerak dalam bidang sosial dan lingkungan diundang berpartisipasi dalam pra-event Hari Habitat Sedunia oleh USAID IUWASH Tangguh.

Dalam pra-event tersebut, kami diajak untuk berdiskusi tentang pengelolaan lumpur tinja bersama Kepala Dinas PUPR Kota Salatiga, Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Dinas PUPR sebagai pengelola IPLT, beserta komunitas sanitasi aman Salatiga. Saat kunjungan lapangan, kami juga diajak untuk melihat langsung bagaimana proses pengolahan lumpur tinja di IPLT Ngronggo.

Peserta mendapatkan penjelasan yang komprehensif mengenai sanitasi aman, termasuk bahaya kebocoran septic tank terhadap lingkungan. Septic tank adalah tempat penampungan tinja di rumah. Septic tank yang bocor bisa mencemari sumber air warga seperti sumur. Hal ini membuat sumur terkontaminasi bakteri e-coli yang berbahaya bagi kesehatan.

Kunjungan lapangan di kawasan IPLT Ngronggo diawali dengan menyaksikan proses pengolahan lumpur tinja yang dimulai sejak diturunkannya lumpur tinja dari truk pengangkut lumpur tinja ke dalam kolam penampungan.

Truk pengangkut lumpur tinja ini bekerja dalam program Layanan Lumpur Tinja Terjadwal (L2T2) yang menyedot tinja dari septic tank warga untuk diproses di IPLT. Lalu, lumpur tinja dialirkan ke bak penampungan untuk dipisahkan antara air dan padatan.

Proses pemisahan antara air dan padatan dilakukan dengan cara konvensional, yaitu menggunakan metode drying bed. Cairan lumpur tinja dialirkan dengan memanfaatkan gaya gravitasi melalui media yang dapat menyerap cairan atau gas dalam bak penampungan.

Hasil dari proses pemisahan itu adalah air yang dimurnikan dan padatan yang diolah menjadi pupuk yang siap digunakan untuk tanaman hias ataupun tanaman keras. Sedangkan air yang sudah dimurnikan dialirkan ke badan-badan air atau sungai terdekat sehingga tidak mencemari tanah dan sungai.

Pengelolaan lumpur tinja ini bisa dijadikan ladang bisnis komersial karena hasil dari olahan padatan lumpur tinja dapat dimanfaatkan sebagai pupuk, di samping bisnis L2T2 atau yang jamak disebut sedot tinja. L2T2 juga turut berkontribusi terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Salatiga.

Sayangnya, layanan ini belum dimanfaatkan secara maksimal oleh masyarakat. Padahal, ini penting untuk meningkatkan kesehatan keluarga dan masyarakat di sekitarnya. Sedot tinja juga sebaiknya tidak dilakukan hanya saat wc mampat, tetapi harus secara berkala 3-5 tahun sekali. Jadi, sudahkan kamu mendaftar L2T2 di kotamu?

A short summary oleh Maheswari Damai
Relawan Ruang Solidaritas Joli Jolan
Solo, 3 Oktober 2024

Categories
Reportase

Berharap Akses Air dan Sanitasi Layak yang Merata

Air adalah hal yang krusial dalam kehidupan manusia. Air menjadi sumber kehidupan dan kebutuhan dasar bagi kehidupan. Kebutuhan dasar tersebut harus dipenuhi dengan sistem penyediaan air minum yang berkualitas dan sehat serta terintegrasi kepada sektor sanitasi. Apabila kebutuhan ini terpenuhi maka manusia dapat hidup sehat dan produktif.

Minggu, tanggal 25 Mei 2023 Ruang Solidaritas Joli Jolan bersama USAID IUWASH Tangguh mengadakan kegiatan susur kampung dan workshop menulis dengan tema “Mengenal akses air minum dan sanitasi warga surakarta”. Kegiatan susur kampung ini dilaksanakan di kampung Gilingan, Banjarsari, sebuah area perkampungan padat penduduk yang berada di bantaran kali Anyar, anak sungai Bengawan Solo.

Menurut informasi yang kami terima dari pemaparan ketua RT dan warga setempat, ternyata kebutuhan air bersih yang layak masih sangat dibutuhkan di kawasan tersebut. Dari sekitar 90 rumah untuk 1 kawasan RT, hanya terdapat 7 rumah yang memiliki sumur dan 2 titik fasilitas MCK umum/bersama. Dari 7 rumah tersebut, tidak semua kebutuhan air minum warga diambil dari air sumur karena kualitas air terindikasi tercemar. Bau air yang kadang tidak sedap dan rasa air yang tidak layak minum menjadi alasan yang kuat untuk tidak mengonsumsi air tersebut. Akhirnya warga pun memilih untuk membeli air isi ulang untuk memenuhi kebutuhan minum warga.

Kualitas air yang kurang baik di kawasan kampung tersebut berbanding lurus dengan kondisi kesehatan warga, baik dewasa maupun anak-anak. Salah satu yang cukup kentara adalah beberapa kasus stunting di kampung Gilingan. Hal ini tentunya menjadi masalah yang cukup serius, mengingat kawasan ini berada di lingkungan kota Surakarta yang secara administratif memiliki akses kesehatan yang memadai.

Warga sangat berharap adanya akses air dan sanitasi layak yang merata bagi seluruh warga. Apalagi lokasi tersebut tidak jauh dari pusat kota Surakarta. Akan sangat miris apabila masih menemukan ketimpangan-ketimpangan kebutuhan dasar seperti itu.

Bisa jadi hal ini bukan sepenuhnya tanggung jawab pemerintah kota setempat, melainkan menjadi tugas kita bersama sebagai manusia. Minimal dengan terus-menerus memberikan kesadaran tentang pentingnya kebutuhan dan akses air serta sanitasi yang layak. Menyadari bahwa masih ada wilayah-wilayah yang “belum” terlihat oleh para pemangku kepentingan.

Categories
Reportase

Warga Gilingan dan Mimpi Akses Air Minum yang Layak

Salah satu Tujuan Pembangunan Berkelanjutan adalah ketersediaan akses untuk air minum bersih dan sanitasi yang aman. Namun, bagaimana jadinya bila ada perkampungan di salah sudut kota Solo yang berdekatan dengan Kawasan wisata baru Masjid Al Zayed yang ternyata tidak memiliki jamban untuk mandi, cuci, dan kakus (MCK)? Cukup miris tentunya.

Pemandangan pemukiman yang berjejal, rumah-rumah yang berderetan di gang sempit, satu rumah yang dihuni lebih dari 3 kepala keluarga merupakan fenomena yang jamak kita lihat saat berada di kelurahan Gilingan. Pak Andri Prasetyo selaku ketua RT 04 RW 15 kelurahan Gilingan, Kecamatan Banjarsari, Kota Surakarta, menuturkan bahwa kebanyakan warga di tempat tinggalnya tidak memiliki sanitasi yang layak. Tercatat hanya ada 7 rumah dari sekitar 60 rumah yang memiliki septic tank. Bu Jamal, salah satu warga yang memiliki septic tank di rumahnya, mengaku bahwa dari awal sejak memiliki rumah tersebut hingga sekarang sudah 23 tahun belum pernah sekalipun melakukan sedot WC. Padahal sedot WC sebaiknya wajib dilakukan setiap 2 sampai 3 tahun sekali.

Kelurahan Gilingan berada di tepi Kali Pepe. Kali Pepe berada di tengah kota Surakarta yang membentang dari Gilingan-Bendung Karet Tirtonadi- Balapan-Pasar Legi-Pasar Gedhe dan berakhir di Demangan. Di Kali Pepe terdapat tujuh sampai sembilan segmen yang bisa dijadikan tempat pengolahan sumber air bagi warga. Namun, apakah akses sanitasi dan air minum yang mereka gunakan sudah termasuk aman?

Pada hari minggu tanggal 25 Juni 2023 yang lalu, saya dan rombongan peserta yang terdiri dari komunitas, pembuat konten, dan jurnalis mengikuti susur kampung dan workshop menulis yang diadakan oleh USAID IUWASH Tangguh dan Joli Jolan. Dalam kegiatan ini, saya berkesempatan untuk melihat lebih dekat kondisi riil tentang pengelolaan sumber daya air, air minum sanitasi, dan perilaku hygiene masyarakat kelurahan Gilingan.

Menurut penuturan Pak Andri, banyak warganya yang menggunakan 2 sumber air. Air dari sumur digunakan untuk mandi dan mencuci, sedangkan kebutuhan minum dan memasak didapat dengan membeli air isi ulang. Tentu setiap bulan pengeluaran untuk kebutuhan tersebut mencapai ratusan ribu rupiah, tergantung kebutuhan rumah tangganya. Padahal kebanyakan penghasilan mereka tidak seberapa besar, tetapi mereka tetap harus membeli air karena air merupakan kebutuhan vital.

Salah satu rumah warga yang dihuni 6 kepala keluarga dalam satu rumah.

Risiko Stunting Akibat Sanitasi Buruk

Salah satu dampak yang terjadi akibat sanitasi buruk adalah stunting. Sebanyak 1.103 keluarga atau lebih dari 50% dari total 2.085 keluarga di Kelurahan Gilingan, Banjarsari, Solo, berisiko stunting. Stunting adalah kondisi gagal tumbuh akibat kekurangan gizi pada 1.000 hari pertama kehidupan anak yang bisa mempengaruhi kondisinya saat dewasa nanti (Sumber: https://soloraya.solopos.com/waduh-50-keluarga-di-gilingan-solo-berisiko-stunting-kenapa-ya-1326800)

Penyebab stunting antara lain kurangnya pengetahuan si ibu mengenai gizi sebelum hamil, saat hamil, dan setelah melahirkan. Hal ini semakin diperburuk dengan terbatasnya akses pelayanan kesehatan termasuk layanan kehamilan, kurangnya akses air bersih dan sanitasi, serta masih kurangnya akses makanan bergizi karena tergolong mahal.

Puskesmas Gilingan pernah melakukan penelitian terhadap air sumur yang berada di kawasan ini, hasilnya ada yang layak untuk digunakan dan ada yang tidak layak. Padahal sumber air yang diteliti jaraknya berdekatan. Berdasarkan penelitian pada tahun 2016 jumlah penduduk Kota Surakarta sebanyak 514,171 jiwa dan prediksi jumlah penduduk pada tahun 2022 sebanyak 524,483 jiwa, serta prediksi kebutuhan air pada tahun 2016 sebesar 1,163,428 liter per detik dan pada tahun 2022 sebesar 1.186,763 liter per detik.

Pemerintah Kota Surakarta membutuhkan pasokan air dalam jumlah yang besar untuk memenuhi kebutuhan air minum penduduk yang kian bertambah. Penurunan kuantitas air baku menjadi salah satu isu yang dihadapi Perumda Air Minum dalam meningkatkan produksinya. Selain itu, sumber air baku yang digunakan berpotensi terkontaminasi akibat praktik pembuangan air limbah yang tidak aman.

Untuk memperoleh air bersih, kita juga harus memperhatikan sanitasi yang layak. Air bersih dan sanitasi yang layak dapat mencegah terjadinya infeksi berulang, mencegah diare, mencegah penyakit yang disebabkan oleh racun tinja serta dapat mencegah kekurangan nutrisi dan stunting. Perlu kerjasama dengan berbagai pihak untuk terus melakukan perilaku penggunaan air bersih dan sanitasi yang layak.

Upaya tersebut dapat dilakukan dengan mensosialisasikan kepada masyarakat agar membuang air besar dan kecil di toilet/WC, mencuci tangan dengan sabun, pengelolaan air minum dan makanan rumah tangga, pengelolaan sampah (limbah padat) rumah tangga dan pengelolaan limbah cair rumah tangga (membangun IPAL Komunal). Penyediaan dan pengelolaan air bersih di rumah tangga dapat dilakukan dengan selalu mengolah air sebelum dikonsumsi. Setelah itu, air minum yang telah diolah kemudian disimpan di dalam wadah yang tertutup serta dibersihkan secara rutin.

Categories
Reportase

Kepadatan Sosial (Belum) Tentu Padat Permasalahan

Tiga puluh enam derajat. Ya, tiga puluh enam derajat celsius waktu kami melakukan kunjungan lapangan sekaligus observasi di Kampung Gilingan, Kelurahan Gilingan, Banjarsari, Surakarta. Suhu yang cukup panas tentunya dan sangat berpotensi membuat kerongkongan kami kering sejadi-jadinya. Namun tenang, kami adalah tim yang haus ilmu, sehingga rasa haus kami cukup terobati dengan informasi yang kami dapatkan melalui pengamatan lapangan. Kegiatan ini merupakan kegiatan kerja sama dari USAID IUWASH dan Joli Jolan dalam rangka memberikan edukasi tentang daerah yang tergolong slum area dan isu-isu di dalamnya. Salah satu isu yang ditekankan pada kegiatan ini adalah sanitasi dan akses air minum aman.

Kegiatan dimulai dari Minggu pagi pada tanggal 25 Juni 2023 dan dihadiri oleh 20 orang yang sangat antusias terhadap ilmu baru. Kegiatan susur kampung dilakukan dengan berjalan kaki di bawah terik matahari yang sedang tinggi-tingginya kala itu. Semangat para peserta saling beradu dengan panasnya matahari yang kadang membuat kami harus istirahat sejenak. Keringat kami mulai menetes bersamaan dengan air pipa paralon di Kampung Gilingan. Bagi kami itu bukanlah suatu masalah, toh air yang menetes juga sama-sama air sekresi dari tubuh manusia kan?

Kampung Gilingan memiliki struktur tata letak permukiman yang cukup klise. Dapat dibayangkan sebuah kampung yang terletak di bantaran sungai di pinggiran kota. Namun hal tersebut justru membuat Kampung Gilingan sangat humanis, baik dari segi sosial maupun strukturnya yang tidak dapat dipisahkan. Rumah-rumah terlihat berdampingan erat dan saling terkoneksi, bahkan saking dekatnya sepertinya masyarakat tidak memiliki privasi tersendiri. Namun keguyuban tersebut malah membuat kedekatan sosial warga sekitar menjadi sangat kukuh. Bagaimana tidak, terdapat 90 rumah dengan lebih dari 100 KK yang saling tumpang-tindih yang membuat tembok-tembok mereka saling berbicara. Tidak heran kalau menurut BPS Surakarta (2018), Kelurahan Gilingan merupakan kelurahan terpadat di Banjarsari dengan kepadatan 15.880 penduduk/ha.

Hal pertama yang membuat saya takjub ketika pertama kali memasuki kampung tersebut adalah sistem perpipaan untuk akses sanitasi yang sempat membuat saya terdiam sejenak. Menurut apa yang saya pelajari semasa kuliah di teknik lingkungan, ini merupakan anomali besar! Sanitasi aman selayaknya harus memisahkan limbah domestik dengan lumpur tinja, karena pengelolaannya pun juga berbeda. Namun hal serupa tidak berlaku untuk Kampung Gilingan. Entah direncanakan atau tidak, sistem perpipaan di Kampung Gilingan memiliki sistem unik mereka sendiri, yaitu integrasi dari semua limbah, baik domestik maupun lumpur tinja menjadi satu pipa output yang sama. Sungguh ide yang sangat efektif untuk mengombinasikan dua saluran yang berbeda mazhabnya menjadi satu jalur eksklusif. Entah ada insinyur di balik ide brilian ini atau faktor lain yang membuat masyarakat beradaptasi dengan impitan Kota Surakarta yang megah itu. Menurut saya, hal ini bukanlah hal yang bisa dinormalkan, meskipun tampaknya DPUPR Kota Surakarta telah menormalkannya. New normal, noted!

Adaptasi di Tengah Keterbatasan

Tidak jauh dari Kampung Gilingan, kami dapat melihat salah satu anak sungai dari Bengawan Solo, yaitu Kali Pepe. Sungai ini adalah sungai yang peruntukannya sangat konsisten bahkan dari tahun 1500-an. Dari sejarahnya yang digunakan sebagai sarana transportasi semenjak abad 16, kini Kali Pepe masih dimanfaatkan sebagai sarana transportasi limbah padat dan limbah domestik. Namun, jangan harap untuk menemukan kapal atau sampan pengangkut limbah di badan sungai. Masyarakat sudah berpikir lebih maju daripada transportasi via wahana. Alih-alih menggunakan sampan dari DLHK Surakarta, masyarakat mencampurkan limbah padat dan domestik mereka dan mengarungkannya di Kali Pepe. Mungkin mereka berpikir bahwa tugas menangani sampah di sungai adalah milik BBWS Bengawan Solo semata. Entahlah, tidak ada yang tahu itu tugas siapa. Yang jelas fungsi Kali Pepe sebagai media transportasi masih dilestarikan hingga kini.

Tapi tenang, toh sungai di dekat kampung pasti tidak akan mencemari air tanah kan? Di tengah desakan ekonomi, masyakarat Kampung Gilingan telah menemukan solusi untuk mendapatkan akses air minum yang tergolong murah. Mayoritas masyarakat tidak menggunakan air dari PDAM, melainkan air tanah yang hanya memiliki kedalaman belasan meter (tidak jauh berbeda dengan jarak topografi permukiman dengan kedalaman sungai). Untuk apa bayar air kalau di bawah rumah kita masih ada air yang bisa kita manfaatkan kan? Lagipula Perumda Toya Wening Surakarta juga tidak mau repot-repot memberikan saluran air ke kampung pinggiran. Tidak mungkin pula apabila air tanah yang setiap hari diseruput warga Kampung Gilingan telah terkontaminasi dari air sungai yang digunakan untuk menghanyutkan seluruh limbah manusia itu kan? Air tanah pasti bersih, murah pula. Tinggal pakai jasa sumur bor lalu pasang pompa air, beres.

Sejauh ini masyarakat juga masih terlihat sehat kok. Bahkan menurut Saputro, 2017, bantaran sungai Kali Pepe ini mulai dihuni masyarakat semenjak 1998 dikarenakan faktor ekonomi dan lemahnya penegakan aturan dari Pemerintah Kota Surakarta. Sudah sekitar seperempat abad kampung itu dihuni dan itu menandakan bahwa masyakarat betah tinggal di sana. Meskipun menurut wawancara kami dengan seorang warga, terdapat keluhan berupa bau apabila terjadi kebocoran saluran pembuangan limbah. Namun, namanya juga limbah, kalau tidak dikelola dengan benar pasti akan berdampak. Tapi namanya juga sudah nyaman, meskipun banyaknya anomali yang membuat kawasan ini menjadi tidak layak huni, masyarakat masih dengan ikhlas menghuni warisan permukiman tersebut kok.

Banyak perspektif baru yang kami dapatkan dari kegiatan susur kampung ini. Salah satunya adalah inovasi-inovasi masyarakat Kampung Gilingan yang mungkin dapat mengubah pandangan kita mengenai lingkungan permukiman yang sehat. Di samping glamornya Kota Surakarta, ternyata masih banyak masyarakat yang hidup dengan keterbatasannya. Namun dengan lingkungan yang dinilai jauh dari layak tersebut, masyarakat masih dapat hidup berdampingan dengan senyumnya. Mungkin menurut sudut pandang Pemerintah Kota Surakarta, kebahagiaan warga sudah cukup dinilai sebagai standar kelayakan daripada lingkungan hidup yang aman dan berkelanjutan.

Tulisan ini hanya ditujukan untuk berbagi pengalaman saja. Tidak ada pihak yang disinggung untuk bertanggungjawab atas anomali yang telah terjadi sekian lamanya, meskipun itu berhubungan dengan Pemerintah Kota Surakarta itu sendiri. Toh permasalahan akses air minum dan sanitasi adalah kebutuhan dasar setiap manusia dan tercantum dalam SDGs nomor 6. Semoga pengalaman saya dalam kegiatan susur kampung ini dapat menambah wawasan pembaca dalam sisi lain Kota Surakarta yang megah.

Source:
Badan Pusat Statistik Kota Surakarta. (2018). Kecamatan Banjarsari Dalam Angka 2018. Surakarta: BPS Kota Surakarta

Primasasti, Agnia. (2023). Cerita Tentang Kali Pepe. Dulu Jadi Jalur Transportasi Perdagangan, Kini Jadi Simbol Event-event Keberagaman dan Kerukunan – Pemerintah Kota Surakarta. Diakses pada 29 Juni 2023 dari website Pemerintah Kota Surakarta

Saputro, TD. (2017). Dinamika Sosial Ekonomi Pemukiman Liar di Surakarta. Skripsi: Program. Studi Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sebelas Maret