Categories
Reportase

Beragam Cara Daur Ulang Sampah APK

Melimpahnya alat peraga kampanye (APK) dalam kontestasi Pemilu 2024 belakangan menjadi masalah tersendiri. Apabila tidak terkelola, deretan APK dengan beragam variannya dapat menjadi sampah usai perhelatan pemilihan umum usai.

Sebagai contoh, sampah APK di provinsi kecil seperti Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) saja mencapai 160 ton. Angka itu diketahui usai Satpol PP DIY membersihkan APK di sudut-sudut kota pada masa tenang. Padahal sebelumnya Jogja sudah terbelit problem sampah rumah tangga yang hingga kini belum dapat dipecahkan.

Terbatasnya kapasitas TPA hingga ketiadaan teknologi atau sarana-prasarana untuk mengelola sampah APK membuat banyak daerah kesulitan menangani hal tersebut. Setali tiga uang, partai politik sebagai “pihak yang bertanggungjawab” menghasilkan sampah APK pun minim partisipasi dalam memecahkan masalah.

Namun kabar baiknya, ada sejumlah daerah yang mulai berinovasi untuk mengelola sampah APK sehingga berdayaguna. Di Bogor, pemda setempat mendaur ulang sampah APK menjadi bahan konstruksi seperti paving block. Mereka mengelolanya di Tempat Pengolahan Sampah Reuse, Reduce, dan Recycle (TPS3R) Mekarwangi, Bogor.

Dalam sehari, TPS3R dapat mengolah 400 kilogram (kg) sampah plastik dan 200 kg sampah APK untuk menghasilkan bahan konstruksi. Wali Kota Bogor Bima Arya mengatakan upaya tersebut lebih baik ketimbang sampah ditimbun begitu saja di TPA.

“Namun kapasitasnya memang terbatas, hanya 200 kg sehari. Yang tidak bisa diolah kami salurkan ke jejaring dan titik-titik lain,” ujar Bima, dikutip dari Antara, Selasa, 13 Februari 2024.

Lalu, bagaimana teknis mengolah APK menjadi bahan konstruksi? Pertama, sampak APK akan disortir terlebih dulu. Sampah yang telah tersortir kemudian dipindahkan secara estafet ke ruang utama pengolahan untuk dicacah menjadi biji atau serpihan plastik.

Beberapa APK berbahan flexi seperti baliho atau banner perlu disobek terlebih dulu secara manual untuk memudahkan dalam proses pencacahan. Setelah dicacah, APK dicampur dengan sampah plastik dan alumunium yang juga sudah melalui proses pencacahan.

Selanjutnya, material masuk ke dalam mesin pencetakan bahan konstruksi jenis balok atau papan dan sebagainya. Bahan konstruksi ini dapat dipakai untuk membuat kerangka atau fondasi sumur resapan. Ke depan, balok dan kayu hasil produksi dari sampah APK diharapkan dapat diolah menjadi paving block.

Diolah Jadi Kompos

Di Jakarta, pemda setempat menjadikan fasilitas pengelolaan sampah di Saringan Sampah TB Simatupang, Jakarta Selatan sebagai lokasi pengolahan sampah APK. Fasilitas tersebut telah dilengkapi beberapa mesin pencacah masing-masing sesuai jenis sampah.

Sampah APK dari bahan kayu atau bambu bakal diolah menjadi kompos. Sedangkan spanduk atau baliho yang berbahan plastik dapat menjadi RDF. Untuk sampah berbahan tekstil, pemda mendorong ke PLTSa Bantargebang dengan pencacahan terlebih dahulu di fasilitas TB Simatupang. Di Bantargebang, sampah berbahan tekstil akan menjadi bahan bakar PLTSa.

Sementara itu, Kota Depok memilih berkolaborasi dengan bank sampah setempat untuk memecahkan problem timbunan sampah APK. Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kota Depok telah memastikan tidak akan membuang sampah bekas APK ke TPA Cipayung.
Mereka akan bekerjasama dengan Bank Sampah Induk Harum untuk mengolah material itu menjadi barang berdayaguna. DLHK telah memfasilitasi tempat penampungan sementara khusus sampah APK di UPS Cisalak untuk kemudian diolah di bank sampah.

Namun, upaya mendaur ulang sampah APK yang mulai dilakukan di sejumlah kota bukan tanpa kritik. Indonesian Center for Environmental Law (ICEL) menilai mendaur ulang APK bukan solusi komprehensif untuk mengurangi limbah APK. Apalagi jika daur ulang tersebut berujung pembakaran sehingga memicu polusi udara.

ICEL mendesak pemerintah dan pihak terkait mulai memikirkan dampak sampah APK sejak sebelum masa kampanye dimulai. Mereka mendorong regulasi tegas yang mendorong peserta pemilu menggunakan APK yang dapat dipakai ulang. Hal itu dinilai menjadi upaya mendasar agar sampah APK dapat ditanggulangi sejak dini sehingga menekan dampak pada lingkungan.

Categories
Reportase

Tumbuhnya Media Alternatif di Daerah Perlu Didorong

JOGJA—Kebebasan pers media lokal masih terbelenggu motif ekonomi sehingga belum sepenuhnya berpihak ke publik. Di Jogja, belenggu itu ditambah sistem monarki yang membuat keberpihakan media pada publik kadang dipertanyakan. Kehadiran media alternatif yang independen perlu didorong untuk menjaga atmosfer kebebasan pers.    

Hal itu mencuat dalam diskusi publik bertajuk “Potret Independensi Media Lokal di Yogyakarta” yang digelar Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Yogyakarta di Auditorium Universitas Islam Indonesia (UII), Kamis (16/6/2022). Diskusi yang bekerjasama dengan UII dan Yayasan Kurawal itu memaparkan hasil riset akademisi Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Gilang Jiwana Adikara.

Dalam risetnya, dosen Ilmu Komunikasi itu meneliti independensi media lokal di Jogja dalam memberitakan pusat kekuasaan di wilayah tersebut yakni Keraton Jogja. Fokus pemberitaan utamanya terkait isu pertanahan di DIY.  “Awalnya AJI Jogja menggelar liputan investigasi soal isu agraria di Jogja. Namun dari semua media yang terlibat, tidak ada satu pun dari media lokal di Jogja. Pernah ada yang mencoba mendaftar tapi mundur. Ini sebenarnya ada apa?,” kata Gilang.

Bersama AJI Jogja, Gilang kemudian berinisiatif merancang peneliian dengan mengambil sampel tiga media lokal terbesar di Jogja yakni Kedaulatan Rakyat, Harian Jogja dan Tribun Jogja. Penelitian dimulai sejak akhir 2021 hingga awal 2022. Ada dua hal yang dibidik yakni frame pemberitaan media mengenai isu pertanahan dan Keraton Jogja serta kebijakan redaksi media dalam memberitakan isu yang terkait dengan pertanahan Keraton Jogja.

Penelitian dilakukan dengan mengumpulkan pemberitaan di media online sepanjang 2021-2022 dengan kata kunci Sultan Ground (SG) dan Pakualaman Ground (PAG). Diketahui penguasaan tanah di Yogyakarta oleh Keraton Jogja dilakukan melalui klaim atas SG dan PAG. Dari pengumpulan berita, tercatat sebanyak 43 berita terkait SG dan PAG dibikin Harian Jogja dalam rentang 2021-2022.

Adapun Tribun Jogja mengangkat 18 berita dan Kedaulatan Rakyat 16 berita. Dari hasil penelitian, Gilang menyebut media lokal di DIY memilih berhati-hati saat mengkritik persoalan publik yang menyangkut Keraton Jogja. “Seluruh media relatif melepaskan keberadaan Sultan atau Kadipaten yang mungkin terkait dengan konflik [agraria],” ujar Gilang.

Dia mencontohkan konflik lahan antara warga Jogja dengan PT Kereta Api (KAI). Dalam masalah tersebut, Sultan HB X tidak dimintai pendapat. Wartawan, imbuhnya, hanya mewawancara PT KAI dan masyarakat terdampak. “Di KR bahkan hanya terbit dua kali yang menggambarkan konflik antara warga dan kesultanan [kaitannya dengan tanah],” kata dia.

Ewuh Pakewuh

Sebaliknya, apabila isu yang diangkat terkait SG dan PAG untuk memakmurkan rakyat seperti wacana pemerintah dan Keraton Jogja selama ini, ketiga media lokal tersebut kompak memberitakan. “Ketiga Wacana itu diulang-ulang terus. Ini temuan menarik. Tapi kalau isu konflik, media lokal adem ayem, yang bikin hanya media nasional,” kata dia.

Dari hasil penelusuran ke kebijakan redaksi lewat wawancara, media terkait mengakui fokus pemberitaan lebih pada pemerintahan daerah bukan kekuasaan Kesultanan Jogja alias kerajaan. “Yang dikritik Sultan HB X sebagai gubernur bukan Sultan. Kalau ada kritik (ke pemerintah atau Keraton) diarahkan [wawancara media] ke pembantu Sultan entah sekda atau kepala dinas,” papar Gilang.

Selain itu, media juga sepakat pelaksanaan Undang-Undang Keistimewan (UUK) di Jogja sudah bagus meski tetap harus dikontrol. Menurut Gilang, ada upaya dari media di Jogja untuk menghindari protes keras dari masyarakat Jogja yang selama ini loyal terhadap kerajaan atau status quo. “Kritik dilakukan tapi ekstra hati-hati. Menghindari protes keras masyarakat Jogja yang dinilai masil loyal terhadap Keraton. Jadi daripada diboikot mending main halus,” tutur Gilang.

Kondisi tersebut diperkuat dengan tradisi ewuh pakewuh di Jogja. Hal itu terlihat dari pilihan redaksi KR yang menyatakan bukan takut mengkritik tapi segan dengan kerajaan. Hal itu berkelindan dengan kepentingan ekonomi. “Pasar mereka warga Jogja. Enggak bisa kritik keras ke sosok (Sultan) yang masih jadi panutan masyarakat,” tutur dia.

Media pun memilih jalan pragmatis karena pertimbanggan ekonomi. Alih-alih menghasilkan berita konflik meski terkait kepentingan publik, mereka memilih berita ringan atau yang sedang tren di media sosial meski jauh dari kepentingan publik. Gilang mengambil contoh kebijakan redaksi Tribun Jogja.

Tersandera Iklan

Faktor ekonomi dalam framing dan kebijakan redaksional media di Jogja juga diyakini akademisi komunikasi UII, Masduki. Doktor lulusan Jerman ini menyebut aktor yang mengontrol independensi media dapat dilacak dengan mudah. Hal itu tak lain pemerintah yang menggelontorkan APBN, APBD, dan sponsor untuk pasang iklan di media-media daerah, termasuk berbagai subsidi. “Kita sudah 25 tahun lebih mengklaim kebebasan pers tapi apakah (kinerja pers) produktif bagi demokrasi,” ujar Masduki.

Selain itu, media lokal dinilai punya ketergantungan ekonomi pada elit politik atau penguasa lokal dari pemerintah daerah di DIY maupun Keraton Jogja. Menurut Masduki, Jogja adalah potret kecil liberalisasi media dan politisasi media. Hal itu lantaran ada ketergantungan pada otoritas politik lokal. “Jogja mungkin liberal karena semua media boleh berdiri di sini. Namun (media) menjadi komprimistis terhadap keraton dan paternalisme kultur Jawa (ewuh pakewuh),” jelasnya lagi.

Masduki pun mengajak insan media berefleksi soal tujuan media didirikan, apakah setia terhadap kepentingan publik seperti amanah UU Pers atau murni motif ekonomi. Menurut Masduki, pertanyaan soal motif ini penting di tengah mayoritas kepemilikan media yang berpola jaringan dan dikelola dengan motivasi ekonomi serta politik yang lebih kuat ketimbang sosial. “Motif utama pasti motif bisnis. Pasti mengutamakan aset [ekonomi] dulu daripada kritik sosial (persoalan publik yang lebih penting),” sebut Masduki.

Media Alternatif

Pihaknya mendorong tumbuhnya media-media alternatif yang model bisnisnya ditopang oleh sistem membership atau iuran keanggotaan. Dengan demikian, media tidak bergantung terhadap APBD maupun penguasa lokal. Masduki menyebut munculnya media baru seperti Project Multatuli (PM) yang menyoroti persoalan publik yang serius menjadi oase di tengah karut marut independensi media arus utama saat ini.

Lebih jauh, Masduki menekankan pentingnya liputan-liputan kolaborasi yang mendalam untuk menyuarakan kepentingan masyarakat. Hal tersebut, imbuhnya, penting agar publik tak hanya disuguhi berita yang berat sebelah.

Anggota Dewan Pers, Paulus Tri Agung Kristanto, mengatakan media kini dihadapkan dengan tantangan berat. Di satu sisi, media dituntut untuk tetap independen dan kritis terhadap persoalan publik. Namun, di sisi lain mereka harus berkompromi dengan kekuasaan yang menjadi sumber penghasilan melalui iklan. Tantangan di Jogja, imbuhnya, semakin berat karena ditambah sistem sosial-politik yang loyal terhadap kekuasaan kerajaan. “Menegakan independensi saat ini seperti menegakkan benang basah. Sejarah media massa di dunia tidak lepas dari kepentingan parpol, elit politik, juga organisasi politik,” ujar Paulus.

Categories
Komunitas

Gentosan, Komunitas Berbagi di Yogyakarta

Gentosan merupakan kegiatan solidaritas untuk saling bertukar barang yang masih layak pakai. Nama Gentosan diambil dari bahasa Jawa yang berarti bergantian. Sesuai dengan namanya, moto dari kegiatan ini adalah nggentosaken barang kagem ngrembakaaken raos pasederekan wonten mongso pandemi. Artinya kurang lebih seperti ini, menukarkan barang untuk menyuburkan (memupuk) rasa persaudaraan di masa pandemi.

Kegiatan ini diinisiasi oleh seorang ibu dari 3 orang anak, Erni Ika Nurhayati. Beliau adalah seorang Pegawai Negeri Sipil di Lingkungan Kementerian Keuangan RI. Gentosan pada awalnya terinspirasi dari Joli Jolan saat dia berkunjung ke Solo. Karena merasa tertarik dengan konsep Joli Jolan, beliau pun berupaya menerapkannya di Yogyakarta dengan memanfaatkan halaman rumahnya di Jalan Sawit Sari II Kusumanegara.

“Terpikir setelah main ke Joli Jolan saat ada acara kerja sama beberapa waktu lalu. Daripada direncanakan terus lebih baik langsung dimulai saja,” kata beliau.

Melalui Gentosan, masyarakat dapat memberikan barang yang masih layak pakai untuk ditukarkan dengan barang lainnya. Barang yang dapat diberikan pun beragam, mulai dari buku, mainan, boneka, peralatan sekolah, peralatan rumah tangga, peralatan ibadah, barang elektronik, sembako, pakaian, dan sebagainya. Syarat utama barang yang dapat ditukarkan adalah barang-barang tersebut sudah dicuci bersih terlebih dahulu.

Dalam sehari masyarakat hanya diperbolehkan melakukan 1 kali penukaran dengan maksimal pengambilan barang sebanyak 3 buah. Pembatasan ini dilakukan guna meminimalkan risiko pengambilan barang yang berlebihan. Erni berharap kegiatan ini dapat bertahan dan semakin dikenal oleh masyarakat, terutama masyarakat Yogyakarta. Beliau juga berharap ke depannya beliau bertemu dengan orang-orang sefrekuensi yang dapat bersama-sama mengembangkan gerakan saling berbagi ini.

Categories
Komunitas

Menggambar Bersama Pak Tino

Terletak sekitar 200 meter dari jalan raya, siapa sangka rumah nan asri di Jl Tino Sidin 297, Bantul, Yogyakarta, ini adalah kediaman Pak Tino Sidin. Sekarang difungsikan sebagai museum Taman Tino Sidin. Bagi anak-anak generasi ’70-’90 an awal, nama Pak Tino tentu cukup familiar. Namun bagi saya sendiri yang lahir di penghujung 90an, sempat dibuat bertanya-tanya.

Pak Tino adalah seorang pelukis. Awal karirnya dimulai dari sanggar lukis anak Seni Sono Yogyakarta yang didirikan  Ny. Larasati Suliantoro Sulaiman dan Ny. Boldwin.

Pada tahun 1969, TVRI Yogyakarta mengundang Pak Tino sebagai pengisi acara berjudul Gemar Menggambar. Acara tersebut mendapat sambutan positif hingga bertahan sembilan tahun. Acara Gemar Menggambar kemudian berpindah ke TVRI pusat mulai tahun 1979-1989.

Selain seorang pelukis dan guru gambar, Pak Tino adalah pejuang kemerdekaan, art director beberapa film, penulis, komikus, serta guru kebatinan. Dia memiliki hubungan yang dekat dengan presiden pertama dan kedua Indonesia, Pak Karno dan Pak Harto.

Saya mengetahuinya dari album foto yang terletak di  lantai 1 museum. Di dalamnya tersimpan rapi berbagai album foto Pak Tino dan keluarga disertai barang-barang memorabilia dan lukisan Pak Tino.

Salah satu barang memorabilia tersebut adalah sebuah crayon Fujita dan crayon Pentel yang cukup populer di era 90an. Perusahaan crayon tersebut sampai memilih Pak Tino Sidin sebagai Brand Ambassador produknya.

Menuju lantai 2, terhampar sketsa-sketsa karya Pak Tino. Pak Tino sering membuat sketsa dari pemandangan atau benda yang beliau lihat. Juga tersimpan rapi komik dewasa dan anak karyannya. 

Menuju lantai 3, tersusun banyak buku berbagai genre milik perpustakaan Museum ini. Pada akhir tur museum, kami belajar menggambar bersama Pak Tino melalui TV yang menyiarkan ulang siaran program Gemar Menggambar.  Sebelum pandemi Covid-19 Museum Taman Tino Sidin sering mengadakan acara menggambar untuk anak-anak maupun acara kesenian.

Gemar Menggambar memang mendapat respon yang positif, namun ada juga yang menuduh Pak Tino mendikte anak-anak saat melukis. Alasannya karena Pak Tino mengedepankan garis lurus dan garis lengkung dalam mengajar. Pak Tino menyangkal pernyataan tersebut. “Saya memang tidak mengajar melukis, melainkan hanya merangsang anak-anak untuk menggambar,” kata Pak Tino berdasarkan keterangan guide museum.


Museum Taman Tino Sidin

Jl. Tino Sidin 297 Kadipiro, Ngestiharjo, Kasihan, Bantul, Yogyakarta 55182

Harga Tiket Masuk Rp 10.000

Buka Senin-Sabtu 09.00-13.00 (selama pandemi)

#ayokemuseum