Categories
Komunitas Uncategorized

Yuk, Daftar Workshop Sulap Kaus Bekas dan Kantong Plastik Jadi Produk Estetik

Bingung mau ngabuburit yang berfaedah? Atau mau menambah ilmu dan keahlian mengelola barang bekas? Workshop Joli Jolan kali ini bakal cocok nih buat kalian! Workshop Do It Yourself bertema Sulap Kaus Bekas dan Kantong Plastik Jadi Produk Estetik bakal membuat kawan-kawan semakin kreatif sekaligus eco-friendly.

Kawan akan diajak merangkai kaus bekas serta tas kresek menjadi prakarya seperti coaster (tatakan gelas), wadah alat tulis, dan lain sebagainya. Tertarik bergabung? Berikut informasi kegiatannya.

  • Waktu: Sabtu, 30 Maret 2024 pukul 15.00-17.00 WIB
  • Lokasi: Ruang Solidaritas Joli Jolan, Jalan Siwalan No.1 Kerten, Laweyan, Solo (google map Joli Jolan).
  • Mentor: Meilisa (Crafter @lovya.handmade Bandung)
  • Fasilitas: Workshop kit, stiker, souvenir Joli Jolan
  • Kontribusi: 40k (peserta terbatas)

Segera daftarkan diri di bit.ly/workshopjolijolan atau scan barcode di poster. Pendaftaran ditutup apabila kuota sudah terpenuhi. Info lebih lanjut bisa langsung menghubungi nomor berikut ini 085808339523

Categories
Reportase

Galeri Mini di Car Free Day

Joli Jolan membuka “galeri mini” di Car Free Day Colomadu, Minggu, 3 Maret 2024. Kegiatan yang berada tepat di depan pabrik Gula Colomadu ini turut didukung teman-teman dari komunitas ‘Dari Kita’, sebuah komunitas saling berbagi yang diinisiasi oleh mahasiswa UNS Solo. Mereka menemukan visi dan misi yang sama dengan Joli Jolan dalam upaya berbagi dan menyebarkan semangat kebaikan.

Dari pukul 06.00 pagi, relawan Ruang Solidaritas Joli Jolan dan komunitas ‘Dari Kita’ mempersiapkan lapak barang-barang preloved yang dapat diambil secara gratis. Di luar dugaan, lapak tersebut menjadi daya tarik tersendiri bagi para pejalan kaki yang sedang lewat. Dengan penasaran, mereka mampir dan memilih berbagai macam barang untuk diambil, mulai dari tas, pakaian, hingga sepatu.

Kegiatan tersebut merupakan salah satu upaya Ruang Solidaritas Joli Jolan mengkampanyekan secara langsung kepada masyarakat umum aksi memperpanjang usia barang bekas. Para pengunjung yang berinteraksi dengan relawan Joli Jolan pun merasa senang dan terbantu dengan adanya kegiatan tersebut. Mereka berharap Joli Jolan senantiasa rutin menggelar kegiatan serupa di Car Free Day selanjutnya.

Categories
Reportase

Mandiri Pangan di Tengah Kebijakan Nol Sawah

Judul asli “Mandiri Pangan di Tengah Kebijakan Nol Sawah: Petani Kota Solo Menanam di Antara Tembok Rumah dan Toko” oleh Ariyanto Mahardika, Project Multatuli
September 22, 2023

Sinar matahari terik menyorot para pekerja bangunan di pinggir Jl. Melon Raya, Karangasem, Solo. Seorang perempuan paruh baya tampak mendorong troli berisi air untuk mengaduk pasir dan semen. Air diambilnya dari selokan yang dibendung dengan batu-batu kecil dan plastik bekas pembungkus makanan. Selokan itu semula adalah saluran irigasi untuk mengairi sawah di kawasan ini.

“Untuk perumahan,” kata perempuan itu, merujuk adonan semen dan pasir.

Pemandangan perempuan pekerja bangunan tak sulit ditemukan di Solo. Mereka kebanyakannya adalah petani dari luar kota. Demi bisa tetap hidup, bila sedang tidak musim panen, mereka akan melakoni profesi lain. Salah satunya pekerja bangunan musiman.

‘Kota Batik’ ini kini semakin ramai dengan kompleks perumahan baru, kafe yang menyajikan aneka makanan, dan tempat indekos. Bangunan-bangunan itu berdiri di bidang-bidang lahan persawahan. Di antara bangunan, sebagian lahan yang tersisa dibiarkan penuh dengan ilalang.

Kondisi nyaris serupa juga dijumpai di Jajar, tetangga Kelurahan Karangasem. Lahan-lahan di antara gedung dan permukiman dibiarkan bera atau tak lagi ditanami, sebagian lain ditumbuhi rumput liar. Bila sudah begitu, maka cepat atau lambat lahan itu bakal berubah jadi kompleks perumahan atau bangunan baru.

***

Di Kampung Nayu, Banjarsari, sekitar enam kilometer arah timur laut Karangasem, sekelompok ibu-ibu sibuk memanfaatkan lahan kosong yang tersisa dengan menanam aneka rupa sayur.

Tanaman sawi, tomat, dan labu terlihat menyembul dari sebidang tanah dan taman bedengan, atau yang kerap dikenal orang kota dengan raised-bed gardening. Tanaman cabai juga ada di petak lainnya.

Sebidang tanah itu berada di antara rumah warga yang berada di belakang Kantor Kelurahan Joglo. Lahan yang dimanfaatkan untuk bercocok tanam itu hanya sepertiga dari total kebun. Di tengah-tengah sebidang tanah itu berdiri rumah tua berbentuk joglo, rumah khas Jawa. Di bagian pinggir kebun terdapat pohon nangka dan sisa tonggak bambu.

Hampir setiap sore, ibu-ibu berkumpul dan bercocok tanam di lahan yang semula ditumbuhi ilalang dan rumpun bambu. Mereka rutin menyemprot tanaman, mencabuti rumput, atau membersihkan petak untuk persemaian. Tanaman disemprot pestisida alami yang dibuat dari buah dan rempah seperti kunir, sirsak, cengkih, dan serai. Campuran bahan-bahan ini tak hanya bisa membasmi hama tetapi juga menjaga kesuburan tanah.

Di bagian lain, di atas tanah petak berukuran satu kali empat meter, kangkung mulai rimbun. Tumbuhan itu subur pada petak yang ditata rapi dengan batang-batang paving block pada pinggir area tanamnya. Sebentar lagi kangkung bisa dipanen.

“Satu petak itu bisa menghasilkan sekitar Rp200 ribu setiap panen. Kami jual secara online melalui media sosial. Per ikat kami jual Rp7 ribu. Semua kami tanam dengan organik,” begitu kata Margareta Pety Aryani, warga yang juga Ketua Kelompok Wanita Tani (KWT) Ngudi Makmur.

Harga jual sayur-mayur organik KWT Ngudi Makmur memang lebih mahal dari pasar, tetapi masih di bawah harga pasar swalayan. Bu Pety, begitu ia akrab disapa, mengaku selama ini sayur-mayur yang ditanamnya selalu laku, bahkan ia sering menerima pesanan di awal.

Kelompok Wanita Tani (KWT) Ngudi Makmur sedang memanen sayuran di kebunnya yang terletak di Joglo, Banjarsari, Solo, beberapa waktu lalu. Sayuran organik tersebut sebagian dimanfaatkan untuk dikonsumsi warga setempat, sebagian dijual untuk kas kelompok. (Chrisna Chanis Cara/Joli Jolan)

Pety memimpin KWT Ngudi Makmur sejak kali pertama kegiatan ini dimulai sekira empat tahun lalu. Tanah yang dipakai milik tetangganya, keluarga Rodiah.

Rodiah (63) merelakan lahan di samping rumahnya untuk kegiatan para tetangga asalkan saat dibutuhkan, kegiatan kelompok perempuan yang peduli pada penghijauan dan ketahanan pangan itu, bersedia dipindahkan ke lokasi lain.

“Ya, ndak ada perjanjian khusus. Ini memang milik keluarga kami. Saudara saya tinggal di Bali. Tapi kalau kami nanti sewaktu-waktu membutuhkan bisa diminta kembali,” kata Rodiah.

Pety berkisah, ia semula tidak bertani di lahan milik Rodiah. Ia bersama beberapa ibu-ibu awalnya menanam di lahan kosong yang juga tidak jauh dari tempat tinggalnya. Kegiatannya itu mengundang keinginan warga lain untuk ikut berpartisipasi. Alhasil, mereka meminta agar kegiatan bercocok tanam dilakukan di lahan yang lebih luas.

“Kami lalu pindah ke sini. Di sana luasnya sekitar 700 meter persegi. Dulu itu, di sini banyak alang-alang dan pohon-pohon besar,” kata Pety yang juga seorang guru agama Katolik di SMP Negeri 3 Surakarta.

Tidak mudah bagi Pety dan kelompoknya memulai bercocok tanam. Anggota KWT Ngudi Makmur terdiri atas ibu-ibu kampung yang sebagian besarnya ibu rumah tangga. Tak ada dari mereka yang merupakan petani tulen, yang sehari-hari bergelut dengan lumpur dan cuaca terik, serta hafal jenis-jenis penyakit tanaman.

“Awalnya susah. Tanaman banyak yang mati atau terserang penyakit. Tapi kami kemudian mendapat bimbingan penyuluhan dari dinas pertanian,” imbuh Pety, merujuk pada Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Dispangtan) Pemerintah Kota (Pemkot) Surakarta.

Pety menerangkan kegiatannya turut mengundang perhatian Pemkot Surakarta. Pada 2021, kelompok tani yang dipimpinnya mendapat dukungan dana sebesar Rp55 juta dalam dua tahap.

“Pada 2021, kami menerima Rp30 juta dan tahun berikutnya Rp25 juta dari DAK [Dana Alokasi Khusus]. Dana itu kami gunakan macam-macam kebutuhan di antaranya untuk membuat saluran air”, kata Pety.

Semula, KWT Ngudi Makmur beranggotakan sekitar 30 orang. Saat ini, yang masih aktif tinggal separuhnya. Penyebabnya karena sebagian anggota bergabung dengan kelompok tani di lahan sebelumnya. Sementara, sebagian lain anggota KWT yang mundur karena merasa tidak memiliki kecocokan dengan kegiatan ini, kata Pety.

Warga sekitar kampung memutuskan untuk tetap mengolah lahan sebelumnya dan membentuk kelompok tani bernama Sumber Berkah. Anggota kelompok tani tak semuanya perempuan tetapi juga laki-laki. Selain bercocok tanam, ibu-ibu ini juga mencoba usaha lain dengan menjual minuman dari daun telang. Produksinya masih terbatas. Saat ini mereka hanya akan membuat minuman apabila ada pesanan. Satu botol minuman telang berukuran seperempat liter dijual dengan harga Rp15 ribu.

Sawah Nol Hektare

Area persawahan di Solo bukan sudah habis. Di sisi timur Edutorium Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) di Kecamatan Laweyan masih terlihat hamparan tanaman padi di antara kompleks permukiman warga. Begitu juga di wilayah Kecamatan Banjarsari dan Kecamatan Jebres. Bila ditotal, luas lahan persawahan di kedua kecamatan ini bisa mencapai sekitar 40 hektare. Akan tetapi, bisa dikatakan lahan-lahan itu adalah yang terakhir di tengah maraknya pembangunan area bermukim dan berniaga.

Kebanyakan petani yang menggarap sawah yang tersisa di Solo adalah pendatang, bukan pemilik lahannya. Produktivitas sawah anjlok, panen terus merosot akibat dari menurunnya fungsi saluran irigasi. Para petani dan penyewa lahan harus mengebor tanah agar tetap bisa mengairi lahan garapan.

Merespons situasi itu, pada 2017, saat FX Hadi Rudyatmo masih menjabat Wali Kota Surakarta, mengusulkan agar sawah lestari di wilayah yang dipimpinnya dihapus. Usulan sudah disampaikan ke Ganjar Pranowo, yang ketika adalah Gubernur Jawa Tengah. Kala itu, sawah di Solo tercatat mencapai 96 hektare. Luasan itu telah merosot dibandingkan empat tahun sebelumnya yang mencapai 135,03 hektare.

Alih fungsi lahan mulai masif terjadi sejak kehadiran Peraturan Daerah (Perda) No. 1/2012 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Surakarta 2011-2031. Perda yang ditandatangani Joko Widodo, selaku Wali Kota Surakarta saat itu, bertujuan mengatur kota yang semakin padat dengan penduduk, selain juga untuk menjadi panduan bagi arah investasi pembangunan.

Kota Solo memiliki luas 46,72 kilometer persegi dengan tingkat kepadatan penduduk mencapai 522.364 jiwa pada 2020, dan terus meningkat setiap tahunnya. Jumlah penduduk yang terus meningkat berbanding lurus dengan kebutuhan ruang. Keberadaan lahan non-terbangun di Solo hingga ke wilayah pinggiran kota pada akhirnya menyebabkan perluasan aktivitas perkotaan hingga ke area tersebut.

Studi Nurdiana & Giyarsih (2016) bertajuk, Analisis Fragmentasi Spasial Berbasis Citra Multitemporal Untuk Mengidentifikasi Fenomena Urban Sprawl di Surakarta, menyebutkan dinamika perluasan aktivitas perkotaan itu turut mengakibatkan perubahan penggunaan lahan nonterbangun menjadi lahan terbangun hingga ke wilayah perbatasan seperti di Kecamatan Kartasura.

Melihat kebutuhan ruang terbangun yang terus meningkat, usulan penghapusan area sawah akhirnya benar-benar terealisasi. Pada 2021, Perda No. 4/2021 tentang RTRW Kota Surakarta 2021-2041 lahir. Seiring munculnya regulasi tersebut, lahan pertanian di kota ini menjadi nol hektare.

“Pada saat Peraturan Daerah ini mulai berlaku, Peraturan Daerah Kota Surakarta Nomor 1 Tahun 2012 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Surakarta Tahun 2011-2031 [Lembaran Daerah Kota Surakarta Nomor 1 Tahun 2012] dicabut dan dinyatakan tidak berlaku,” demikian tertulis pada salinan Perda yang diteken Wali Kota Surakarta, Gibran Rakabuming Raka pada 9 Juli 2021, atau sekitar lima bulan setelah dirinya dilantik.

Syarat Minimum Lahan Pertanian Kota

Dua tahun lalu, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Dispangtan) Pemerintah Kota (Pemkot) Solo menerbitkan Peta Ketahanan dan Kerentanan Pangan (Food Security and Vulnerability Atlas/FSVA) untuk menjelaskan lokasi wilayah rentan pangan di kota tersebut. Dari laporan itu, terdata sebanyak enam dari 54 kelurahan di Solo berada pada status rentan pangan dengan skala tinggi, sedang, dan rendah. Status rentan pangan di antaranya mengacu pada indikator akses ekonomi, kesehatan, dan kepadatan penduduk. Salah satu rekomendasi kebijakan untuk mengatasi hal tersebut adalah mendorong pembangunan pertanian kota atau urban farming, sebuah inisiatif yang sudah lebih dulu dilakukan oleh KWT Ngudi Makmur sebelum peta itu muncul.

Kendati demikian, pertanian kota bukan hal yang mudah dilakukan di Solo. Silvania Dwi Utami, peneliti dari organisasi non-pemerintah yang konsen pada isu perencanaan kota, Yayasan Kota Kita, menerangkan bahwa pertanian kota sejatinya juga membutuhkan syarat minimum lahan. Hal ini yang kemudian menjadi tantangan di Solo yang ketersediaan lahannya terus berpacu dengan laju permukiman.

“Untuk mencapai hasil optimal produksi dibutuhkan lahan 50 meter persegi,” kata Silvania, seraya menambahkan bahwa jumlah minimum itu juga belum berarti dapat secara penuh menyediakan kebutuhan masyarakat secara berkelanjutan.

Dengan kata lain, menurut Silvania, para pemangku kepentingan di Solo perlu memastikan terlebih dahulu jumlah produksi yang konsisten. Setelahnya, baru dikembangkan model bisnis secara profesional.

Saat ini, terdapat sekitar 86 kelompok tani dan tujuh KWT, termasuk Ngudi Makmur di Solo. Silvania secara umum mendorong agar kegiatan ini lebih dimaksimalkan untuk mendukung kebutuhan pangan warga secara mandiri.

“[Inisiatif] Pertanian perkotaan [seperti KWT Ngudi Makmur] membantu memenuhi kebutuhan pangan di saat krisis pandemi dan secara lebih khusus memiliki manfaat pemberdayaan bagi wanita, bagi komunitas. Mampu memperkuat kohesi sosial,” katanya.

“Di sisi lain, praktik-praktik pangan lokal, jika dipraktikkan secara luas mampu memangkas rantai pasok pangan dan mendorong upaya pengurangan emisi dari sektor pangan.”

Pandemi dan Masalah Pangan yang Bergizi

Pemberdayaan masyarakat dalam kemandirian pangan menjadi semakin bernilai manakala bencana seperti pandemi Covid-19 terjadi. Selama pandemi, pasokan makanan terganggu pembatasan pergerakan, penutupan bisnis, hingga perubahan pola konsumsi.

Penelitian Smeru Institute menemukan rumah tangga di Indonesia menerapkan coping mechanism dalam memenuhi kebutuhan sehari-sehari dengan menjual barang atau mengurangi pengeluaran selama pandemi. Bagi keluarga dari kelompok masyarakat miskin, mekanisme ini hanya semakin mencekik kehidupan.

Angka kemiskinan Indonesia meningkat dari 9,22 persen pada September 2019 menjadi 10,19 persen pada 2020. Kondisi tak berbeda terjadi di Solo. Pada 2019, persentase kemiskinan di Solo mencapai 8,70 persen, angka itu kemudian naik pada 2020 menjadi 9,03 persen, dan 9,40 pada 2021.

Sebagai kota yang dirancang sebagai wilayah bisnis dan perniagaan, pasokan pangan di Solo dipasok dari luar daerah. Semisalnya jagung dari Boyolali dan beras dari Karanganyar, Sragen, Sukoharjo, Klaten, dan sayur seperti cabai dari Blora.

Maka, kehadiran inisiatif pertanian kota seperti yang dilakukan KWT Ngudi Makmur sejatinya dapat meminimalisir dampak memburuknya kemiskinan yang dapat memicu masalah gizi seperti stunting.

Di tengah persoalan alih fungsi lahan dan kepadatan penduduk, Pemkot Surakarta juga tengah menargetkan daerahnya mengejar target nol kasus stunting pada 2024. Berdasarkan data Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Pemkot Surakarta pada Februari 2023, terdapat 1.050 anak balita atau tiga persen kasus stunting.

Wali Kota Gibran pada Maret 2023, mengakui bahwa kasus stunting di kotanya masih banyak dan mengatakan akan menindaklanjuti melalui penanganan rumah tidak layak huni dan kemiskinan.

Penelitian Yayasan Kota Kita tentang peran sektor informal dalam mendorong sistem pangan berkelanjutan pada Maret-Mei 2023, menemukan masyarakat miskin memenuhi kebutuhan pangan mereka utamanya dengan sumber karbohidrat seperti nasi dan sayur. Kondisi ini mencerminkan kurangnya asupan protein hewani sebagai zat gizi penting yang dapat mencegah masalah stunting pada anak.

Kebutuhan protein utamanya didapatkan dari telur, dengan lebih dari 80% responden mengkonsumsi telur paling tidak 3-6 kali seminggu. Namun demikian, diversifikasi asupan protein dari sumber lain seperti ayam dan daging tergolong sangat rendah karena faktor keterjangkauan harga. Sebanyak 26% responden menyebutkan hampir tidak pernah mengkonsumsi daging. Mereka hanya mengkonsumsi daging sapi saat perayaan seperti Iduladha.

Namun, memenuhi kebutuhan pangan harian dengan protein hewani sulit dilakukan. Hasil penelitian yang sama menemukan bahwa untuk memenuhi kebutuhan pangannya, masyarakat miskin telah menghabiskan 62 persen dari pendapatannya.

Di Kelurahan Setabelan, Kecamatan Banjarsari misalnya, tercatat terdapat 25 anak balita yang tengah dipantau kelurahan setempat karena rawan terkena stunting.

“Di sekitar anak itu tinggal ada masalah sanitasi karena penduduknya sangat padat. Di RW 05 masih banyak yang menggunakan sumur dan kamar mandi umum yang lokasinya berdekatan,” kata Prita Ratnaningtyas, penyuluh KB Kelurahan Setabelan, awal Agustus lalu.

Kepadatan penduduk Kecamatan Banjarsari, menurut catatan Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Surakarta pada 2022, mencapai 11.074 orang per kilometer persegi. Luas total Kecamatan Banjarsari adalah 15,26 kilometer persegi.

Beruntung solidaritas komunitas lokal masih cukup tinggi di wilayah ini. Sewaktu pandemi, warga sekitar berinisiatif meminta para pedagang sayur di Pasar Legi menyisihkan sebagian dagangan mereka untuk disalurkan ke Kelurahan Setabelan.

Aksi yang bermula dari sumbangan para pedagang pasar itu lantas menjadi gerakan berkelanjutan dan mengundang sejumlah pendonor baik perorangan atau kelompok usaha yang ikut membantu inisiatif tersebut. Gerakan yang dilakukan setiap Jumat pekan pertama dan ketiga tersebut kemudian diberi nama Lurginting alias Sedulur Pasar Legi Peduli Stunting.

Wahyuningsih A. Nugraheni, koordinator Lurginting, mengatakan saat ini bentuk bantuan yang diterimanya semakin variatif, seperti susu baik untuk anak-anak maupun ibu hamil. Sejumlah penjual daging ayam juga mulai mau menyumbangkan sedikit dari dagangannya.

“Kegiatan sempat terhenti tetapi kemudian berlanjut dan pedagang juga makin antusias. Ini kan untuk ‘Berkah Jumat’ juga,” kata Wahyu.

Akan tetapi, upaya itu masih sangat kecil dibandingkan kemiskinan dan akses terhadap makanan bergizi yang masih menjadi tantangan di Solo yang memerlukan penanganan lebih serius dari para pejabat pembuat kewenangan.

“Meskipun inisiatif skala kecil yang dilakukan oleh ibu-ibu KWT Ngudi Makmur dan Lurginting ini masih memiliki banyak keterbatasan dan bukan menjadi satu-satunya solusi dalam mendorong kemandirian pangan, inisiatif berbasis warga ini mampu memberikan sumbangan secara nyata pada situasi krisis, utamanya dalam memberikan alternatif akses pangan bagi kelompok masyarakat yang paling rentan di kota,” kata Silvania, menutup percakapan.

Artikel ini adalah kolaborasi bersama Yayasan Kota Kita untuk memotret inisiatif kemandirian pangan di kawasan urban. 

Yayasan Kota Kita menerbitkan riset terkait pangan perkotaan yang bisa kamu baca pada tautan ini: Pangan Perkotaan di Tiga Wilayah Urban di Indonesia

Artikel ini pertama terbit di Project Multatuli dan direpublikasi di sini menggunakan lisensi Creative Commons.

Categories
Sudut Joli Jolan

Joli Jolan Sambut Ramadan

Halo kawan-kawan! Tak terasa ya sebentar lagi kita bertemu kembali dengan bulan puasa. Sebagai bulan yang dinanti-nanti, sejumlah umat Muslim biasanya mulai mempersiapkan diri, salah satunya membeli perlengkapan ibadah baru. Hal ini tidak salah. Namun sikap itu bisa memicu kemubaziran apabila alat ibadah yang sebelumnya ternyata masih layak pakai.

Di sisi lain, mungkin masih banyak di antara kita yang belum memiliki alat ibadah yang bagus dan layak memyambut bulan suci. Alasan ini membuat kami kembali membikin program Joli Jolan Sambut Ramadan. Program ini dapat mewadahi kawan-kawan yang ingin menyumbangkan alat ibadahnya seperti mukena, sarung, baju koko, sajadah, peci, tasbih dan perlengkapan ibadah lain (kecuali jilbab).

Seluruh perlengkapan ibadah yang didonasikan wajib masih bagus/layak pakai ya, syukur-syukur baru. Untuk alat ibadah seken, disarankan dilaundry terlebih dulu untuk menjaga kebersihannya. Nantinya, seluruh donasi alat ibadah yang terkumpul dapat diakses untuk semua warga yang membutuhkan.

Donasi dapat dikirim ke Ruang Solidaritas Joli Jolan, Jalan Siwalan 1 Kerten Solo, atau sejumlah drop box kami (info lengkap di pinned profile). Pengumpulan donasi kami tunggu hingga 16 Maret 2024. Kawan-kawan dapat mengontak kontak relawan kami Sdri. Fitra 0877 3588 8945 atau DM IG @joli_jolan.

Dengan konsep berbagi, kita bisa memeroleh barang yang diinginkan tanpa harus mengeluarkan biaya. Yuk ikut berbagi!

Categories
Komunitas

Ketika Pustaka Jadi Primadona (Sebuah Catatan dari Urban Social Forum 10)

Tan Malaka, seorang pejuang kemerdekaan, menggambarkan betapa pentingnya buku sebagai asupan, melebihi sandang dan pangan. Ya, buku memang tak sekadar sumber ilmu, tapi juga sumber inspirasi dan gagasan. Kedua hal ini menjadi menjadi benang merah dalam Urban Social Forum (USF) 10 yang digelar di SMPN 10 Solo dan Lokananta akhir pekan lalu. Joli Jolan sendiri terlibat dalam USF di Lokananta pada hari Minggu, 10 Desember 2023.

Sebagai salah satu mitra di Gerai Komunitas, Joli Jolan membawa cukup banyak buku untuk dibagikan gratis di stan kami. Hal itu tak lepas dari segmen USF yang bakal menyedot animo banyak anak muda. Kami yakin generasi muda yang hadir di USF lebih tertarik dengan buku bacaan yang bagus ketimbang pakaian preloved bermerek.

Benar saja, sekitar 80% pengunjung stan Joli Jolan lebih memilih mengambil buku ketimbang pakaian. Ini berkebalikan 180 derajat dengan operasional di galeri Kerten, di mana mayoritas warga mencari pakaian dan asesorisnya. Jenis buku yang diambil pun beragam mulai novel, buku sosial, hingga bacaan ilmiah yang menunjang perkuliahan.

Sebagian merasa kaget ketika kami memberikan buku ini secara cuma-cuma. Masing-masing pengunjung bisa mengambil maksimal dua buku saat itu. “Beneran gratis? Ini buku terjemahan lho,” ujar seorang pengunjung perempuan sambil menimang sebuah novel yang cukup tebal.

Saking tingginya antusiasme, kami sempat mengambil stok buku tambahan dari galeri Kerten. Ketika anak muda saat ini banyak diasosiasikan sebagai tuna literasi, bukankah hal ini menjadi sebuah kabar baik? Melihat fenomena ini, kami pun berpikir. Jangan-jangan bukannya anak muda malas membaca, tetapi akses terhadap buku berkualitas yang belum memadai, terutama dari segi harga.

Kalau sudah begitu, apakah anak muda harus mengamini anjuran Tan Malaka untuk mengurangi duit untuk makanan dan baju? Mungkin tak perlu seekstrem itu. Dengan saling berbagi, kita bisa mengakses buku berkualitas dengan terjangkau, bahkan gratis. Yuk bikin inisiatif berbagi atau bertukar buku di lingkunganmu!

Categories
Komunitas

Joli Jolan Tularkan Semangat Berbagi di Petak Rembuk USF 10

Minggu 10 Desember 2023, Joli Jolan mendapat kesempatan untuk sharing pengalaman dalam kegiatan Petak Rembuk Urban Social Forum (USF) 10 di pendopo Lokananta. Kegiatan yang diinisiasi Kolektif Agora ini menghadirkan dua sukarelawan Joli Jolan, Chrisna Chanis Cara dan Ika Yuniati. Mereka menceritakan sederet perjalanan Joli Jolan selama empat tahun dalam merajut solidaritas di Kota Solo.

Dalam salah satu penjelasannya, Chrisna menjelaskan perjalanan Joli Jolan selama empat tahun penuh dengan cerita menarik dan inspiratif. Antusiasme masyarakat saat mendonasikan barang layak menjadi inti yang mewarnai perjalanan Joli Jolan. Bahkan ada beragam pengalaman sentimental dari para donatur saat merelakan dan mendonasikan barang-barang kesayangan mereka. Mereka berharap barang-barang pemberian tersebut dapat dimanfaatkan orang lain yang lebih membutuhkan.

Salah satu pengalaman menarik lainnya terjadi saat pandemi Covid-19. Seperti komunitas-komunitas lain pada umumnya, Joli Jolan pun terdampak gelombang pandemi ketika galeri Joli Jolan baru dibuka empat bulan untuk umum. Kebijakan pemerintah dan pertimbangan kesehatan mengharuskan Joli Jolan menutup total galeri dari aktivitas publik.

Menariknya, pandemi malah menjadi momentum yang tepat dalam menghidupkan semangat solidaritas yang menjadi fondasi utama Joli Jolan. Joli Jolan berupaya untuk aktif mendukung ketahanan pangan melalui program dapur umum. Beberapa komunitas lain pun turut serta membantu penyediaan pangan untuk dibagikan ke masyarakat sekitar. Joli Jolan meyakini bahwa semangat warga bantu warga harus ditumbuhkan di masa krisis seperti itu.

Sesuatu yang Baik Harus Diupayakan dengan Baik

Bukan berarti perjalanan empat tahun senantiasa mulus. Ada beragam pengalaman kurang menarik dalam mengelola Joli Jolan. Salah satunya tentang bagaimana Joli Jolan sering dianggap sebagai tempat ‘pembuangan’ barang tidak layak pakai. Tidak hanya sekali dua kali Joli Jolan menerima barang-barang kurang pantas untuk didonasikan, seperti pakaian lusuh hingga pakaian dalam bekas. Siapa yang bersedia menerima barang seperti itu?

Sesuatu yang baik tentu perlu diupayakan secara baik agar menghasilkan hasil yang optimal. Oleh karena itu, mendonasikan barang perlu diniati dengan niat yang juga baik. Sehingga, apa yang diberikan dapat memberikan manfaat yang tepat bagi penerima. Seperti yang sering diingatkan Ika Yuniati bahwa berdonasi itu berarti mendonasikan barang terbaik untuk kebahagiaan orang lain. Berdonasi harus menjadi upaya dua arah yang tidak hanya mengosongkan ruang penyimpatan donatur, tetapi juga memberikan dampak positif kepada orang lain.

Selama 45 menit, forum sharing Petak Rembuk ini menjadi sarana menebar nilai-nilai inspitarif dan pembelajaran terkait solidaritas. Ke depan Joli Jolan berharap keberadaan komunitas tersebut dapat menebar manfaat kepada lebih banyak orang. Tidak hanya di Kota Solo, tetapi juga kota-kota lain di Indonesia. Sehingga semangat solidaritas akan terus menginspirasi siapa pun, kapan pun, dan di mana pun.

Categories
Komunitas

Joli Jolan Berbagi Pengalaman di Petak Rembuk USF 10

Pandemi Covid-19 yang menghantam Indonesia beberapa waktu lalu memberikan pengalaman berharga bagi kita semua. Terlepas dari rentetan kabar duka, ada sisi positif yang mengemuka di sekeliling kita. Ya, rasa solidaritas dan semangat warga bantu warga sangat kental. Resiliensi ini berhasil membuat kita keluar dari masa sulit pandemi Covid-19.

Joli Jolan sendiri punya sederet cerita yang menunjukkan bahwa masyarakat bisa berdaya. Tak perlu menunggu pemerintah, inisiatif-inisiatif kecil yang konsisten nyatanya bisa diandalkan untuk sedikit menjadi solusi masalah.

Dalam Petak Rembuk yang diinisiasi oleh Kolektif Agora @kolektifagora di Urban Social Forum @urbansocialforum, dua sukarelawan kami yakni Chrisna Chanis Cara @chrisna_chanis dan Ika Yuniati @ikayun akan berbagi pengalaman soal bagaimana Joli Jolan melalui pandemi dan tetap merawat gerakannya hingga kini.

Acara dikonsep diskusi santai di Lokananta Bloc @lokanantabloc, Minggu 10 Desember 2023 pukul 16.00-16.30 WIB. Banyak juga diskusi lain yang tak kalah menarik yang digelar sejak Sabtu 9 Desember 2023 di SMPN 10 Solo. Sampai jumpa di Lokananta!

Categories
Komunitas

Joli Jolan Gabung di Urban Social Forum 10

Akhir pekan ini Joli Jolan bakal ikut berpartisipasi di Urban Social Forum (USF) nih! Kami akan hadir di hari kedua USF yakni pada Minggu 10 Desember 2023 di Lokananta. Dalam forum perkotaan yang sudah memasuki tahun kesepuluh ini, Joli Jolan akan bergabung di dua agenda.

Pertama adalah diskusi santai bertajuk Petak Rembuk yang akan digelar pukul 16.00-16.30 WIB. Bersama Kolektif Agora, Joli Jolan akan berbagi pengalaman soal membangun gerakan warga bantu warga hingga tetap bertahan sampai sekarang.

Joli Jolan juga bakal berpartisipasi di Gerai Komunitas. Selama setengah hari, tepatnya pukul 10.00-17.00 WIB, kami akan “memindahkan” galeri kami ke halaman Lokananta. Kawan bisa mendapatkan pakaian hingga buku-buku keren secara gratis, barter, atau dengan berdonasi.

Kami juga akan membawa merchandise eksklusif yakni kaus Joli Jolan dengan jumlah sangat terbatas. Kawan bisa mendapatkannya dengan berdonasi 100k. Seluruh donasi akan kami gunakan untuk membiayai gerakan ke depan.

Oh ya, Urban Social Forum digelar sejak Sabtu 9 Desember 2023 ya di SMPN 10 Surakarta. Banyak panel diskusi perkotaan menarik yang bisa kawan ikuti secara gratis. Yang penasaran bisa langsung cek Instagram @urbansocialforum atau website-nya di urbansocialforum.or.id. Sampai jumpa!

Categories
Reportase

Kolaborasi PO. Mata Trans dan Lazismu Kota Surakarta dalam Membantu Kekeringan Air di Boyolali

Air merupakan unsur dasar dalam kehidupan manusia di Bumi. Oleh karena itu, penting bagi manusia untuk selalu menghargai peran air dalam menjaga eksistensi dan kesejahteraan manusia, flora, dan fauna. Akan tetapi badai El Nino yang terjadi pada tahun 2023 telah menjadi faktor pemicu periode panas yang berkepanjangan. Salah satu dampak yang paling mencolok dari badai El Nino adalah periode kekeringan yang panjang dan parah. Curah hujan di berbagai tempat di Indonesia juga berkurang sehingga pasokan air bagi masyarakat di wilayah-wilayah tertentu menjadi bermasalah. Pada saat seperti ini, kebutuhan akan air untuk konsumsi manusia, pertanian, serta industri menjadi sangat mendesak. Ketersediaan air bersih menjadi kritikal ketika sumber-sumber air alami mengering.

Dalam upaya untuk memberikan bantuan dan dukungan kepada masyarakat yang membutuhkan, Perusahaan Otobus (PO) Mata Trans berkolaborasi dengan LAZISMU Kota Surakarta berupaya memberikan bantuan kepada masyarakat yang paling membutuhkan selama badai El Nino berlangsung. Pada hari Jum’at, 20 Oktober 2023, program Mata Trans Berbagi telah menyalurkan 11 tangki air bersih di Dusun Ngaliyan, Kawengen, Bakalan, Kembangsari Desa Mriyan Kecamatan Tamansari, Kabupaten Boyolali. Kolaborasi ini merupakan ikhtiar perusahaan dalam memperluas manfaat kepada masyarakat melalui Corporate Social Responsibility (CSR).

Aris Purwanto sebagai koordinator kegiatan menyatakan bahwa “Mata Trans adalah perusahaan yang bergerak dalam usaha Persewaan Armada Transportasi Pariwisata dan tersebar di Solo, Jogja, Jakarta serta Bali, kami selalu memegang teguh prinsip kesetaraan, kesimbangan serta keberlanjutan. Program CSR ini merupakan langkah kongkrit perusahaan dalam proses implementasi corporate value di tengah masyarakat”.

Categories
Komunitas

patjarmerah Solo: Simpul Kolaborasi dan Gotong Royong Literasi

Kabar bertumbangannya satu per satu toko buku besar di Indonesia memunculkan sejumlah asumsi terkait perkembangan literasi di Indonesia. Tuduhan bahwa minat literasi Indonesia rendah kembali dilontarkan, bersamaan dengan persaingan buku cetak dengan buku elektronik, dan juga pembajakan yang tak kunjung berhasil diatasi.

Pada saat kabar itu terdengar dan menjadi pembahasan panas di media sosial, patjarmerah, Pasar Buku dan Festival Kecil Literasi Keliling Nusantara justru mengumumkan mereka akan bergerak menuju Solo. Toko buku mereka pun buka di Pos Bloc Jakarta dan Fabriek Bloc Padang. Mengapa pada saat toko buku-toko buku besar banyak yang gulung tikar, patjarmerah justru tetap bisa berkeliling dan berkembang?

“Karena kami dirawat oleh semangat kolaborasi dan gotong royong literasi,” kata Windy Ariestanty, pendiri dan penggagas patjarmerah. Kesadaran bahwa buku harus dipercakapkan dan harus menciptakan ruang interaksi inklusif adalah salah satu alasan yang mendorong kelahiran patjarmerah. “Kami masih berpegang pada semangat itu. Itu juga masih menjadi DNA kami.” Kolaborasi dan gotong royong membuat apa-apa yang terasa tidak mungkin menjadi mungkin untuk diwujudkan. Membuat pasar buku dan festival secara berkeliling untuk mendekatkan akses literasi membutuhkan banyak pertaruhan. Beruntungnya, di setiap tempat kami selalu mendapati kawan-kawan yang punya semangat sama, di Solo salah satunya.

Literasi Pendorong Revitalisasi Tradisi

Solo memiliki rekam jejak yang panjang, tidak hanya dalam dunia pergerakan, tetapi juga literasi. Di mata Akhmad Ramdhon, dosen Universitas Sebelas Maret dan juga pegiat literasi Solo, jejak panjang literasi yang membentuk Solo adalah hasil perpaduan keberadaan tradisi Kasunanan dan Mangkunegaran. Kesadaran akan pentingnya kekuatan literasi ini juga turut membingkai perubahan dan modernisasi kota, salah satunya lewat pers lokal. Patahan kondisi masa lalu dan masa depan ini jugalah yang menjadi kerja-kerja strategis warga kota: pemerintah, pendidikan, dan komunitas.

“Rekam jejak patjarmerah di tiap titiknya menunjukkan mereka punya kemampuan merangkul para tiang sanggah dari ekosistem literasi, mempertemukan mereka dalam satu arena serta berkolaborasi,” kata Ramdhon. Keberadaan patjarmerah di Solo jadi terasa penting karena gerakan yang digawangi anak-anak muda ini bisa jadi pendorong, penggerak, juga pengingat bahwa sebuah tempat tanpa pondasi literasi akan kehilangan identitasnya. Revitalisasi tradisi selalu dimulai dari literasi.

Ini jugalah yang dilihat oleh Mufti Rahardjo, Sekretaris Dinas Arsip dan Perpustakaan Daerah (Dispersipda) Solo. Dinas Arsip dan Perpustakaan Daerah Solo, sehingga mendukung patjarmerah Solo. Sebagai salah satu kebutuhan dasar yang kodrati, kata Mufti, literasi membuat kita mendapatkan bagian dari pemenuhan jawaban kognitif (cipta), afektif (rasa), dan psikomotoris (karsa). Bagi Mufti kehadiran patjarmerah dengan segala portofolio dan beragam aktivitasnya memberi ruang yang segar bagi masyarakat Solo dan sekitarnya.

“Seharusnyalah literasi menjadi denyut dari setiap tempat,” katanya. “Dan itu harus diupayakan bersama-sama, beramai-ramai, bergotong royong.”

Selain keterlibatan Dinas Arsip dan Perpustakaan Daerah (Dispersipda) Solo dan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Solo, sejumlah penulis, penerbit, pegiat literasi, pekerja kreatif berbagai bidang, dan komunitas-komunitas kreatif di Solo juga turut terlibat. Mereka berkolaborasi dengan penulis, pegiat literasi, pekerja kreatif berbagai bidang, dan komunitas dari luar Solo. Ada satu juta buku terbitan lebih dari 100 penerbit di Indonesia, juga lebih dari 100 pembicara pilihan mengisi festival literasi patjarmerah di Solo.

“Selain ada Ratih Kumala, Joko Pinurbo, Reda Gaudiamo, Yusi Avianto Pareanom, Ivan Lanin, Martin Suryajaya, Felix K. Nessi, para penulis dan kawan-kawan Solo dari berbagai bidang kreatif pun hadir,” kata Ringgana Wandy Wiguna, salah satu relawan patjarmerah Solo yang bertugas di Divisi Komunikasi. Ia menyebut nama Indah Darmastuti, Yudhi Herwibowo, Panji Sukma, Jungkat-Jungkit, Fanny Chotimah, dan lain-lain. Informasi lengkap terkait acara festival ini bisa dilihat di patjarmerah.com/solo.

patjarmerah Solo akan diadakan pada 1-9 Juli 2023 di Ndalem Djojokoesoeman, Gajahan, Pasar Kliwon, Solo. Bangunan ini adalah salah satu cagar budaya yang penting bagi Solo karena merupakan bagian dari sejarah perkembangan Kota Surakarta sebagai Kota Kerajaan Masa Mataram Islam.