Categories
Sudut Joli Jolan

Berkooperasi, Berbagi

Indonesia memperingati Hari Koperasi Nasional setiap tanggal 12 Juli. Sekilas, perayaan ini tampak tak ada hubungannya dengan Joli Jolan. Namun, sejatinya tak demikian. Meski belum berbentuk koperasi secara kelembagaan, Joli Jolan lahir dan tumbuh sampai sekarang karena semangat kooperasi.

Ya, koperasi memiliki nilai-nilai seperti swadaya, kesetaraan, pemerataan, dan solidaritas yang rutin kami usung hingga kini. Lewat berbagi pakaian, barang maupun makanan, Joli Jolan ingin mendorong masyarakat berdaya dengan mencukupi kebutuhannya sendiri. Tak hanya menanti pemerintah.

Memeriahkan Hari Koperasi, Joli Jolan akan memberi bonus dua item barang/pakaian bagi pengunjung pada hari Sabtu, 13 Juli 2024. Jadi, kawan-kawan bisa mendapatkan lima item barang/pakaian secara gratis. Meski bisa mendapatkan lebih banyak, kami tetap sarankan agar mengambil barang sesuai kebutuhan.

Kami tunggu di galeri ya. Selamat Hari Koperasi!

Categories
Sudut Joli Jolan

Redistribusi Joli Jolan ke Boyolali

Halo kawan-kawan! Akhir pekan ini tim Joli Jolan mau main ke Pengging, Boyolali, nih. Tentu bukan sekadar refreshing, kami berencana berbagi sejumlah pakaian dan piranti lain ke warga sekitar. Program ini menjadi bagian redistribusi yang belakangan rutin kami lakukan untuk mengurangi beban di galeri Kerten.

Tak hanya menstabilkan stok di ruang penyimpanan, kegiatan ini ingin mendorong agar penerima barang donasi dapat semakin merata dan meluas. Kami juga ingin berbagi ide dan inspirasi bersama warga Pengging terkait gerakan Joli Jolan.

Syukur-syukur, ke depan warga bisa memenuhi kebutuhan sandangnya dengan prinsip swakelola dan mengoptimalkan yang ada. Kawan-kawan yang ingin terlibat dalam kegiatan di Pengging atau sekadar ngobrol-ngobrol, boleh banget gabung.

🏡Lokasi: Slanggen, RT 7/RW 1 Ngaru-aru, Banyudono, Boyolali (rumah Pak Kenthut).
Waktu: Sabtu, 6 Juli 2024 pukul 09.00-12.00 WIB.

Oh ya, galeri di Kerten Sabtu ini tetap buka ya. Silakan yang ingin berburu pakaian atau barang gratis. Kami belum dapat menerima donasi pakaian dan aksesorisnya. Sementara donasi yang diterima hanya perlengkapan sekolah (alat tulis, tas dan sepatu anak dll), mainan, boneka, buku, dan makanan/sembako.

Categories
Sudut Joli Jolan

Kado di Hari Buruh

Halo kawan-kawan! Ruang Solidaritas Joli Jolan baru saja mendapatkan penghargaan bergengsi nih berupa Anugerah Komunitas Penggerak Terdepan Kategori Penggerak Aksi Sosial Kolaboratif dalam ajang Detikjateng-jogja Awards 2024.

Penghargaan diserahkan langsung kepada salah satu inisiator Joli Jolan Septina Setyaningrum dalam puncak acara di Pandanaran Ballroom Padma Hotel Semarang, Selasa (30/4/2024) siang. Kategori ini diberikan kepada kelompok masyarakat yang mendedikasikan organisasinya untuk perbaikan kualitas hidup masyarakat luas.

Sementara, Detikjateng-jogja Awards merupakan apresiasi yang diberikan kepada 20 tokoh, institusi, dan komunitas yang inovatif serta memberikan dampak positif di Jawa Tengah dan Jogja. Lalu, bagaimana Joli Jolan bisa terpilih?

Para peraih penghargaan melewati serangkaian proses panjang penilaian dari Tim Asesmen. Penilaian itu dilakukan Tim Asesmen atas karya nyata yang menunjukkan sifat inspiratif, inovatif, kreatif serta berbagai prestasi yang berdampak positif terhadap masyarakat di wilayah Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta.

Bagi kami, penghargaan itu menjadi wujud apresiasi publik terhadap Joli Jolan selama ini. Award ini semakin istmewa karena diberikan menjelang Hari Buruh 1 Mei. Ya, mayoritas pengunjung maupun sukarelawan Joli Jolan adalah buruh atau pekerja upahan.

“Trofi Kemanusiaan” ini kami tujukan setinggi-tingginya kepada para relawan, Joliers, dan para kolaborator yang membersamai sampai hari ini. Terima kasih untuk semua. Panjang umur upaya-upaya baik.🏡✨

Kredit foto: @detik_jateng

Categories
Sudut Joli Jolan

Ngabuburit Bareng Joli Jolan: Ramadan di Jerman

Jerman adalah salah satu negara dengan populasi pemeluk agama Islam terbesar di Eropa. Pada 2022, jumlah umat Muslim di Negeri Panzer itu tercatat 4,95 juta jiwa atau 6,1% dari jumlah penduduk. Angka itu hanya di bawah Rusia dan Prancis.

Hal itu membuat Jerman menjadi negara di Eropa yang menyambut Ramadan dengan suka cita. Sukma Larastiti, salah satu inisiator Joli Jolan, bakal membagikan pengalaman pertamanya menjalankan puasa di luar negeri dalam Ngabuburit Bareng Joli Jolan: Ramadan di Jerman, Selasa, 2 April 2024, pukul 16.00-17.00 WIB.

Awal tahun ini, Lala, sapaan akrabnya, terpilih menjadi fellow Alexander von Humboldt International Climate Protection 2024/2025. Fellowship tersebut menjadi salah satu beasiswa ilmuwan prestisius di Jerman. Selama setahun, Lala bakal menimba ilmu bersama peraih fellow lain di Universitas Kassel.

Selain membahas ritual Ramadan, kawan akan diajak mengetahui budaya toleransi dan solidaritas di Jerman. Lala juga akan berbagi pengalaman seputar pengelolaan sampah, ekonomi sirkular, transisi energi, hingga isu perubahan iklim yang menjadi perhatian warga di sana.

Obrolan nanti akan dipandu sukarelawan Joli Jolan yang juga jurnalis Solopos, Ika Yuniati. Catat waktunya, jangan sampai ketinggalan ya!

Categories
Reportase

SINDIKASI Desak Pemberi Kerja untuk Membayarkan THR secara Penuh

Serikat Pekerja Media dan Industri Kreatif untuk Demokrasi (SINDIKASI) mendesak pengusaha dan pemberi kerja untuk membayarkan Tunjangan Hari Raya (THR) secara penuh dan tepat waktu kepada pekerja media dan industri kreatif, termasuk bagi pekerja lepas (freelancer).

Hal ini sesuai Peraturan Menteri Ketenagakerjaan Nomor 6 Tahun 2016 tentang Tunjangan Hari Raya (THR) Keagamaan yang dipertegas melalui Surat Edaran (SE) Nomor M/2/HK.04/III/2024 tentang Pelaksanaan Pemberian Tunjangan Hari Raya Keagamaan 2024 Bagi Pekerja/Buruh di Perusahaan.

Ketua Umum SINDIKASI Ikhsan Raharjo menekankan pentingnya pemberi kerja mematuhi Peraturan Menteri Ketenagakerjaan Nomor 6 Tahun 2016 yang menjamin semua pekerja termasuk freelancer mendapatkan THR sepanjang ia sudah bekerja dengan masa kerja satu bulan secara terus-menerus atau lebih.

“Jadi, diatur atau tidak diatur dalam kontrak kerja, pekerja, termasuk freelancer, yang sudah bekerja dengan masa kerja satu bulan secara terus-menerus atau lebih berhak untuk menerima THR,” ujar Ketua Umum SINDIKASI Ikhsan Raharjo. SINDIKASI memberikan penekanan mengingat laju pertumbuhan jumlah pekerja lepas di sektor media dan industri kreatif semakin meningkat.

Koordinator Divisi Advokasi SINDIKASI Guruh Riyanto menambahkan pekerja lepas tergolong dalam perjanjian kerja waktu tertentu. Oleh karena itu, perhitungan besaran THR merujuk pada pasal 3 mesti sesuai dengan masa kerja dan besaran upah rata-rata yang diterima selama sebulan.

“Pekerja/buruh yang bermasa kerja minimal 1 bulan secara terus-menerus tetapi kurang dari 12 bulan, diberikan THR secara proporsional, dengan menghitung jumlah masa kerja dibagi 12 bulan dikali satu bulan upah,” ujar Guruh.

Sementara bagi pekerja dan buruh yang telah memiliki masa kerja selama 12 bulan secara terus-menerus atau lebih berhak mendapat THR sebesar satu bulan upah. Guruh pun mengingatkan agar perusahaan atau pemberi kerja wajib membayarkan THR kepada pekerja selambat-lambatnya 7 hari sebelum Hari Raya Idul Fitri.

“Pemerintah juga harus punya komitmen yang tegas untuk mengawasi dan menindak, serta memberikan sanksi perusahaan yang tidak menunaikan kewajibannya memberikan THR kepada pekerja sesuai dengan aturan yang berlaku,” tegas Ikhsan.

Lebih lanjut, Guruh juga mengajak seluruh pekerja, termasuk freelancer untuk berani memperjuangkan hak THR terlebih hal itu telah diatur dalam regulasi yang kuat.

Untuk Anggota SINDIKASI yang mengalami masalah ketenagakerjaan, khususnya THR juga bisa mengirimkan aduan ke Divisi Advokasi SINDIKASI Wilayah yang saat ini sudah terbentuk di Jabodetabek dan Jogjakarta.

Categories
Sudut Joli Jolan

Bakdan Hemat di Joli Jolan

Kebutuhan harian biasanya meningkat jelang Lebaran. Beli bahan pokok, makanan kecil hingga belanja pakaian membuat pusat perbelanjaan penuh sesak. Keinginan konsumtif ini kadang secara tak sadar menguras kocek yang lumayan dalam.

Kondisi tersebut semakin mengimpit karena belakangan ini harga sembako mulai melangit. Namun, inisiatif saling bantu bisa menjadi alternatif agar warga mendapatkan kebutuhannya secara terjangkau, bahkan gratis.

Tahun ini Joli Jolan kembali mendistribusikan pakaian preloved berkualitas untuk berhari raya secara cuma-cuma. Kalau beruntung, kawan juga bisa mendapatkan sandang yang baru. Pokoknya koleksi terbaik Joli Jolan akan dibagikan menyambut Lebaran.

Semua boleh mengakses tanpa kecuali karena tujuannya untuk mengurangi konsumerisme, bukan charity. Kami menyediakan kotak atau umplung bagi kawan yang ingin berdonasi dalam mendukung gerakan Joli Jolan, sehingga dapat terus berkelanjutan dalam menebar manfaat.

Donasi nantinya akan kami gunakan untuk operasional ruang (kebersihan, listrik, peralatan galeri) hingga program berbagi makanan. Layanan ini kami buka pada 23 Maret (10.00-13.00 WIB) dan 30 Maret (11.00-14.00 WIB) di Jalan Siwalan No.1 Kerten Laweyan Solo (Google map Joli Jolan).

Daripada mengeluarkan kocek dan berdesak-desakan di pusat perbelanjaan, lebih baik cari pakaian di Joli Jolan. Uangnya bisa disimpan untuk berbagi di kampung halaman. Yuk, ikutan Berburu Baju Lebaran di Joli Jolan!🏡✨

#lebaran2024
#pakaiangratis
#rakyatbanturakyat
#berbagibaju
#mutualaid
#jolijolan

Categories
Komunitas Uncategorized

Yuk, Daftar Workshop Sulap Kaus Bekas dan Kantong Plastik Jadi Produk Estetik

Bingung mau ngabuburit yang berfaedah? Atau mau menambah ilmu dan keahlian mengelola barang bekas? Workshop Joli Jolan kali ini bakal cocok nih buat kalian! Workshop Do It Yourself bertema Sulap Kaus Bekas dan Kantong Plastik Jadi Produk Estetik bakal membuat kawan-kawan semakin kreatif sekaligus eco-friendly.

Kawan akan diajak merangkai kaus bekas serta tas kresek menjadi prakarya seperti coaster (tatakan gelas), wadah alat tulis, dan lain sebagainya. Tertarik bergabung? Berikut informasi kegiatannya.

  • Waktu: Sabtu, 30 Maret 2024 pukul 15.00-17.00 WIB
  • Lokasi: Ruang Solidaritas Joli Jolan, Jalan Siwalan No.1 Kerten, Laweyan, Solo (google map Joli Jolan).
  • Mentor: Meilisa (Crafter @lovya.handmade Bandung)
  • Fasilitas: Workshop kit, stiker, souvenir Joli Jolan
  • Kontribusi: 40k (peserta terbatas)

Segera daftarkan diri di bit.ly/workshopjolijolan atau scan barcode di poster. Pendaftaran ditutup apabila kuota sudah terpenuhi. Info lebih lanjut bisa langsung menghubungi nomor berikut ini 085808339523

Categories
Reportase

Galeri Mini di Car Free Day

Joli Jolan membuka “galeri mini” di Car Free Day Colomadu, Minggu, 3 Maret 2024. Kegiatan yang berada tepat di depan pabrik Gula Colomadu ini turut didukung teman-teman dari komunitas ‘Dari Kita’, sebuah komunitas saling berbagi yang diinisiasi oleh mahasiswa UNS Solo. Mereka menemukan visi dan misi yang sama dengan Joli Jolan dalam upaya berbagi dan menyebarkan semangat kebaikan.

Dari pukul 06.00 pagi, relawan Ruang Solidaritas Joli Jolan dan komunitas ‘Dari Kita’ mempersiapkan lapak barang-barang preloved yang dapat diambil secara gratis. Di luar dugaan, lapak tersebut menjadi daya tarik tersendiri bagi para pejalan kaki yang sedang lewat. Dengan penasaran, mereka mampir dan memilih berbagai macam barang untuk diambil, mulai dari tas, pakaian, hingga sepatu.

Kegiatan tersebut merupakan salah satu upaya Ruang Solidaritas Joli Jolan mengkampanyekan secara langsung kepada masyarakat umum aksi memperpanjang usia barang bekas. Para pengunjung yang berinteraksi dengan relawan Joli Jolan pun merasa senang dan terbantu dengan adanya kegiatan tersebut. Mereka berharap Joli Jolan senantiasa rutin menggelar kegiatan serupa di Car Free Day selanjutnya.

Categories
Reportase

Mandiri Pangan di Tengah Kebijakan Nol Sawah

Judul asli “Mandiri Pangan di Tengah Kebijakan Nol Sawah: Petani Kota Solo Menanam di Antara Tembok Rumah dan Toko” oleh Ariyanto Mahardika, Project Multatuli
September 22, 2023

Sinar matahari terik menyorot para pekerja bangunan di pinggir Jl. Melon Raya, Karangasem, Solo. Seorang perempuan paruh baya tampak mendorong troli berisi air untuk mengaduk pasir dan semen. Air diambilnya dari selokan yang dibendung dengan batu-batu kecil dan plastik bekas pembungkus makanan. Selokan itu semula adalah saluran irigasi untuk mengairi sawah di kawasan ini.

“Untuk perumahan,” kata perempuan itu, merujuk adonan semen dan pasir.

Pemandangan perempuan pekerja bangunan tak sulit ditemukan di Solo. Mereka kebanyakannya adalah petani dari luar kota. Demi bisa tetap hidup, bila sedang tidak musim panen, mereka akan melakoni profesi lain. Salah satunya pekerja bangunan musiman.

‘Kota Batik’ ini kini semakin ramai dengan kompleks perumahan baru, kafe yang menyajikan aneka makanan, dan tempat indekos. Bangunan-bangunan itu berdiri di bidang-bidang lahan persawahan. Di antara bangunan, sebagian lahan yang tersisa dibiarkan penuh dengan ilalang.

Kondisi nyaris serupa juga dijumpai di Jajar, tetangga Kelurahan Karangasem. Lahan-lahan di antara gedung dan permukiman dibiarkan bera atau tak lagi ditanami, sebagian lain ditumbuhi rumput liar. Bila sudah begitu, maka cepat atau lambat lahan itu bakal berubah jadi kompleks perumahan atau bangunan baru.

***

Di Kampung Nayu, Banjarsari, sekitar enam kilometer arah timur laut Karangasem, sekelompok ibu-ibu sibuk memanfaatkan lahan kosong yang tersisa dengan menanam aneka rupa sayur.

Tanaman sawi, tomat, dan labu terlihat menyembul dari sebidang tanah dan taman bedengan, atau yang kerap dikenal orang kota dengan raised-bed gardening. Tanaman cabai juga ada di petak lainnya.

Sebidang tanah itu berada di antara rumah warga yang berada di belakang Kantor Kelurahan Joglo. Lahan yang dimanfaatkan untuk bercocok tanam itu hanya sepertiga dari total kebun. Di tengah-tengah sebidang tanah itu berdiri rumah tua berbentuk joglo, rumah khas Jawa. Di bagian pinggir kebun terdapat pohon nangka dan sisa tonggak bambu.

Hampir setiap sore, ibu-ibu berkumpul dan bercocok tanam di lahan yang semula ditumbuhi ilalang dan rumpun bambu. Mereka rutin menyemprot tanaman, mencabuti rumput, atau membersihkan petak untuk persemaian. Tanaman disemprot pestisida alami yang dibuat dari buah dan rempah seperti kunir, sirsak, cengkih, dan serai. Campuran bahan-bahan ini tak hanya bisa membasmi hama tetapi juga menjaga kesuburan tanah.

Di bagian lain, di atas tanah petak berukuran satu kali empat meter, kangkung mulai rimbun. Tumbuhan itu subur pada petak yang ditata rapi dengan batang-batang paving block pada pinggir area tanamnya. Sebentar lagi kangkung bisa dipanen.

“Satu petak itu bisa menghasilkan sekitar Rp200 ribu setiap panen. Kami jual secara online melalui media sosial. Per ikat kami jual Rp7 ribu. Semua kami tanam dengan organik,” begitu kata Margareta Pety Aryani, warga yang juga Ketua Kelompok Wanita Tani (KWT) Ngudi Makmur.

Harga jual sayur-mayur organik KWT Ngudi Makmur memang lebih mahal dari pasar, tetapi masih di bawah harga pasar swalayan. Bu Pety, begitu ia akrab disapa, mengaku selama ini sayur-mayur yang ditanamnya selalu laku, bahkan ia sering menerima pesanan di awal.

Kelompok Wanita Tani (KWT) Ngudi Makmur sedang memanen sayuran di kebunnya yang terletak di Joglo, Banjarsari, Solo, beberapa waktu lalu. Sayuran organik tersebut sebagian dimanfaatkan untuk dikonsumsi warga setempat, sebagian dijual untuk kas kelompok. (Chrisna Chanis Cara/Joli Jolan)

Pety memimpin KWT Ngudi Makmur sejak kali pertama kegiatan ini dimulai sekira empat tahun lalu. Tanah yang dipakai milik tetangganya, keluarga Rodiah.

Rodiah (63) merelakan lahan di samping rumahnya untuk kegiatan para tetangga asalkan saat dibutuhkan, kegiatan kelompok perempuan yang peduli pada penghijauan dan ketahanan pangan itu, bersedia dipindahkan ke lokasi lain.

“Ya, ndak ada perjanjian khusus. Ini memang milik keluarga kami. Saudara saya tinggal di Bali. Tapi kalau kami nanti sewaktu-waktu membutuhkan bisa diminta kembali,” kata Rodiah.

Pety berkisah, ia semula tidak bertani di lahan milik Rodiah. Ia bersama beberapa ibu-ibu awalnya menanam di lahan kosong yang juga tidak jauh dari tempat tinggalnya. Kegiatannya itu mengundang keinginan warga lain untuk ikut berpartisipasi. Alhasil, mereka meminta agar kegiatan bercocok tanam dilakukan di lahan yang lebih luas.

“Kami lalu pindah ke sini. Di sana luasnya sekitar 700 meter persegi. Dulu itu, di sini banyak alang-alang dan pohon-pohon besar,” kata Pety yang juga seorang guru agama Katolik di SMP Negeri 3 Surakarta.

Tidak mudah bagi Pety dan kelompoknya memulai bercocok tanam. Anggota KWT Ngudi Makmur terdiri atas ibu-ibu kampung yang sebagian besarnya ibu rumah tangga. Tak ada dari mereka yang merupakan petani tulen, yang sehari-hari bergelut dengan lumpur dan cuaca terik, serta hafal jenis-jenis penyakit tanaman.

“Awalnya susah. Tanaman banyak yang mati atau terserang penyakit. Tapi kami kemudian mendapat bimbingan penyuluhan dari dinas pertanian,” imbuh Pety, merujuk pada Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Dispangtan) Pemerintah Kota (Pemkot) Surakarta.

Pety menerangkan kegiatannya turut mengundang perhatian Pemkot Surakarta. Pada 2021, kelompok tani yang dipimpinnya mendapat dukungan dana sebesar Rp55 juta dalam dua tahap.

“Pada 2021, kami menerima Rp30 juta dan tahun berikutnya Rp25 juta dari DAK [Dana Alokasi Khusus]. Dana itu kami gunakan macam-macam kebutuhan di antaranya untuk membuat saluran air”, kata Pety.

Semula, KWT Ngudi Makmur beranggotakan sekitar 30 orang. Saat ini, yang masih aktif tinggal separuhnya. Penyebabnya karena sebagian anggota bergabung dengan kelompok tani di lahan sebelumnya. Sementara, sebagian lain anggota KWT yang mundur karena merasa tidak memiliki kecocokan dengan kegiatan ini, kata Pety.

Warga sekitar kampung memutuskan untuk tetap mengolah lahan sebelumnya dan membentuk kelompok tani bernama Sumber Berkah. Anggota kelompok tani tak semuanya perempuan tetapi juga laki-laki. Selain bercocok tanam, ibu-ibu ini juga mencoba usaha lain dengan menjual minuman dari daun telang. Produksinya masih terbatas. Saat ini mereka hanya akan membuat minuman apabila ada pesanan. Satu botol minuman telang berukuran seperempat liter dijual dengan harga Rp15 ribu.

Sawah Nol Hektare

Area persawahan di Solo bukan sudah habis. Di sisi timur Edutorium Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) di Kecamatan Laweyan masih terlihat hamparan tanaman padi di antara kompleks permukiman warga. Begitu juga di wilayah Kecamatan Banjarsari dan Kecamatan Jebres. Bila ditotal, luas lahan persawahan di kedua kecamatan ini bisa mencapai sekitar 40 hektare. Akan tetapi, bisa dikatakan lahan-lahan itu adalah yang terakhir di tengah maraknya pembangunan area bermukim dan berniaga.

Kebanyakan petani yang menggarap sawah yang tersisa di Solo adalah pendatang, bukan pemilik lahannya. Produktivitas sawah anjlok, panen terus merosot akibat dari menurunnya fungsi saluran irigasi. Para petani dan penyewa lahan harus mengebor tanah agar tetap bisa mengairi lahan garapan.

Merespons situasi itu, pada 2017, saat FX Hadi Rudyatmo masih menjabat Wali Kota Surakarta, mengusulkan agar sawah lestari di wilayah yang dipimpinnya dihapus. Usulan sudah disampaikan ke Ganjar Pranowo, yang ketika adalah Gubernur Jawa Tengah. Kala itu, sawah di Solo tercatat mencapai 96 hektare. Luasan itu telah merosot dibandingkan empat tahun sebelumnya yang mencapai 135,03 hektare.

Alih fungsi lahan mulai masif terjadi sejak kehadiran Peraturan Daerah (Perda) No. 1/2012 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Surakarta 2011-2031. Perda yang ditandatangani Joko Widodo, selaku Wali Kota Surakarta saat itu, bertujuan mengatur kota yang semakin padat dengan penduduk, selain juga untuk menjadi panduan bagi arah investasi pembangunan.

Kota Solo memiliki luas 46,72 kilometer persegi dengan tingkat kepadatan penduduk mencapai 522.364 jiwa pada 2020, dan terus meningkat setiap tahunnya. Jumlah penduduk yang terus meningkat berbanding lurus dengan kebutuhan ruang. Keberadaan lahan non-terbangun di Solo hingga ke wilayah pinggiran kota pada akhirnya menyebabkan perluasan aktivitas perkotaan hingga ke area tersebut.

Studi Nurdiana & Giyarsih (2016) bertajuk, Analisis Fragmentasi Spasial Berbasis Citra Multitemporal Untuk Mengidentifikasi Fenomena Urban Sprawl di Surakarta, menyebutkan dinamika perluasan aktivitas perkotaan itu turut mengakibatkan perubahan penggunaan lahan nonterbangun menjadi lahan terbangun hingga ke wilayah perbatasan seperti di Kecamatan Kartasura.

Melihat kebutuhan ruang terbangun yang terus meningkat, usulan penghapusan area sawah akhirnya benar-benar terealisasi. Pada 2021, Perda No. 4/2021 tentang RTRW Kota Surakarta 2021-2041 lahir. Seiring munculnya regulasi tersebut, lahan pertanian di kota ini menjadi nol hektare.

“Pada saat Peraturan Daerah ini mulai berlaku, Peraturan Daerah Kota Surakarta Nomor 1 Tahun 2012 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Surakarta Tahun 2011-2031 [Lembaran Daerah Kota Surakarta Nomor 1 Tahun 2012] dicabut dan dinyatakan tidak berlaku,” demikian tertulis pada salinan Perda yang diteken Wali Kota Surakarta, Gibran Rakabuming Raka pada 9 Juli 2021, atau sekitar lima bulan setelah dirinya dilantik.

Syarat Minimum Lahan Pertanian Kota

Dua tahun lalu, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Dispangtan) Pemerintah Kota (Pemkot) Solo menerbitkan Peta Ketahanan dan Kerentanan Pangan (Food Security and Vulnerability Atlas/FSVA) untuk menjelaskan lokasi wilayah rentan pangan di kota tersebut. Dari laporan itu, terdata sebanyak enam dari 54 kelurahan di Solo berada pada status rentan pangan dengan skala tinggi, sedang, dan rendah. Status rentan pangan di antaranya mengacu pada indikator akses ekonomi, kesehatan, dan kepadatan penduduk. Salah satu rekomendasi kebijakan untuk mengatasi hal tersebut adalah mendorong pembangunan pertanian kota atau urban farming, sebuah inisiatif yang sudah lebih dulu dilakukan oleh KWT Ngudi Makmur sebelum peta itu muncul.

Kendati demikian, pertanian kota bukan hal yang mudah dilakukan di Solo. Silvania Dwi Utami, peneliti dari organisasi non-pemerintah yang konsen pada isu perencanaan kota, Yayasan Kota Kita, menerangkan bahwa pertanian kota sejatinya juga membutuhkan syarat minimum lahan. Hal ini yang kemudian menjadi tantangan di Solo yang ketersediaan lahannya terus berpacu dengan laju permukiman.

“Untuk mencapai hasil optimal produksi dibutuhkan lahan 50 meter persegi,” kata Silvania, seraya menambahkan bahwa jumlah minimum itu juga belum berarti dapat secara penuh menyediakan kebutuhan masyarakat secara berkelanjutan.

Dengan kata lain, menurut Silvania, para pemangku kepentingan di Solo perlu memastikan terlebih dahulu jumlah produksi yang konsisten. Setelahnya, baru dikembangkan model bisnis secara profesional.

Saat ini, terdapat sekitar 86 kelompok tani dan tujuh KWT, termasuk Ngudi Makmur di Solo. Silvania secara umum mendorong agar kegiatan ini lebih dimaksimalkan untuk mendukung kebutuhan pangan warga secara mandiri.

“[Inisiatif] Pertanian perkotaan [seperti KWT Ngudi Makmur] membantu memenuhi kebutuhan pangan di saat krisis pandemi dan secara lebih khusus memiliki manfaat pemberdayaan bagi wanita, bagi komunitas. Mampu memperkuat kohesi sosial,” katanya.

“Di sisi lain, praktik-praktik pangan lokal, jika dipraktikkan secara luas mampu memangkas rantai pasok pangan dan mendorong upaya pengurangan emisi dari sektor pangan.”

Pandemi dan Masalah Pangan yang Bergizi

Pemberdayaan masyarakat dalam kemandirian pangan menjadi semakin bernilai manakala bencana seperti pandemi Covid-19 terjadi. Selama pandemi, pasokan makanan terganggu pembatasan pergerakan, penutupan bisnis, hingga perubahan pola konsumsi.

Penelitian Smeru Institute menemukan rumah tangga di Indonesia menerapkan coping mechanism dalam memenuhi kebutuhan sehari-sehari dengan menjual barang atau mengurangi pengeluaran selama pandemi. Bagi keluarga dari kelompok masyarakat miskin, mekanisme ini hanya semakin mencekik kehidupan.

Angka kemiskinan Indonesia meningkat dari 9,22 persen pada September 2019 menjadi 10,19 persen pada 2020. Kondisi tak berbeda terjadi di Solo. Pada 2019, persentase kemiskinan di Solo mencapai 8,70 persen, angka itu kemudian naik pada 2020 menjadi 9,03 persen, dan 9,40 pada 2021.

Sebagai kota yang dirancang sebagai wilayah bisnis dan perniagaan, pasokan pangan di Solo dipasok dari luar daerah. Semisalnya jagung dari Boyolali dan beras dari Karanganyar, Sragen, Sukoharjo, Klaten, dan sayur seperti cabai dari Blora.

Maka, kehadiran inisiatif pertanian kota seperti yang dilakukan KWT Ngudi Makmur sejatinya dapat meminimalisir dampak memburuknya kemiskinan yang dapat memicu masalah gizi seperti stunting.

Di tengah persoalan alih fungsi lahan dan kepadatan penduduk, Pemkot Surakarta juga tengah menargetkan daerahnya mengejar target nol kasus stunting pada 2024. Berdasarkan data Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Pemkot Surakarta pada Februari 2023, terdapat 1.050 anak balita atau tiga persen kasus stunting.

Wali Kota Gibran pada Maret 2023, mengakui bahwa kasus stunting di kotanya masih banyak dan mengatakan akan menindaklanjuti melalui penanganan rumah tidak layak huni dan kemiskinan.

Penelitian Yayasan Kota Kita tentang peran sektor informal dalam mendorong sistem pangan berkelanjutan pada Maret-Mei 2023, menemukan masyarakat miskin memenuhi kebutuhan pangan mereka utamanya dengan sumber karbohidrat seperti nasi dan sayur. Kondisi ini mencerminkan kurangnya asupan protein hewani sebagai zat gizi penting yang dapat mencegah masalah stunting pada anak.

Kebutuhan protein utamanya didapatkan dari telur, dengan lebih dari 80% responden mengkonsumsi telur paling tidak 3-6 kali seminggu. Namun demikian, diversifikasi asupan protein dari sumber lain seperti ayam dan daging tergolong sangat rendah karena faktor keterjangkauan harga. Sebanyak 26% responden menyebutkan hampir tidak pernah mengkonsumsi daging. Mereka hanya mengkonsumsi daging sapi saat perayaan seperti Iduladha.

Namun, memenuhi kebutuhan pangan harian dengan protein hewani sulit dilakukan. Hasil penelitian yang sama menemukan bahwa untuk memenuhi kebutuhan pangannya, masyarakat miskin telah menghabiskan 62 persen dari pendapatannya.

Di Kelurahan Setabelan, Kecamatan Banjarsari misalnya, tercatat terdapat 25 anak balita yang tengah dipantau kelurahan setempat karena rawan terkena stunting.

“Di sekitar anak itu tinggal ada masalah sanitasi karena penduduknya sangat padat. Di RW 05 masih banyak yang menggunakan sumur dan kamar mandi umum yang lokasinya berdekatan,” kata Prita Ratnaningtyas, penyuluh KB Kelurahan Setabelan, awal Agustus lalu.

Kepadatan penduduk Kecamatan Banjarsari, menurut catatan Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Surakarta pada 2022, mencapai 11.074 orang per kilometer persegi. Luas total Kecamatan Banjarsari adalah 15,26 kilometer persegi.

Beruntung solidaritas komunitas lokal masih cukup tinggi di wilayah ini. Sewaktu pandemi, warga sekitar berinisiatif meminta para pedagang sayur di Pasar Legi menyisihkan sebagian dagangan mereka untuk disalurkan ke Kelurahan Setabelan.

Aksi yang bermula dari sumbangan para pedagang pasar itu lantas menjadi gerakan berkelanjutan dan mengundang sejumlah pendonor baik perorangan atau kelompok usaha yang ikut membantu inisiatif tersebut. Gerakan yang dilakukan setiap Jumat pekan pertama dan ketiga tersebut kemudian diberi nama Lurginting alias Sedulur Pasar Legi Peduli Stunting.

Wahyuningsih A. Nugraheni, koordinator Lurginting, mengatakan saat ini bentuk bantuan yang diterimanya semakin variatif, seperti susu baik untuk anak-anak maupun ibu hamil. Sejumlah penjual daging ayam juga mulai mau menyumbangkan sedikit dari dagangannya.

“Kegiatan sempat terhenti tetapi kemudian berlanjut dan pedagang juga makin antusias. Ini kan untuk ‘Berkah Jumat’ juga,” kata Wahyu.

Akan tetapi, upaya itu masih sangat kecil dibandingkan kemiskinan dan akses terhadap makanan bergizi yang masih menjadi tantangan di Solo yang memerlukan penanganan lebih serius dari para pejabat pembuat kewenangan.

“Meskipun inisiatif skala kecil yang dilakukan oleh ibu-ibu KWT Ngudi Makmur dan Lurginting ini masih memiliki banyak keterbatasan dan bukan menjadi satu-satunya solusi dalam mendorong kemandirian pangan, inisiatif berbasis warga ini mampu memberikan sumbangan secara nyata pada situasi krisis, utamanya dalam memberikan alternatif akses pangan bagi kelompok masyarakat yang paling rentan di kota,” kata Silvania, menutup percakapan.

Artikel ini adalah kolaborasi bersama Yayasan Kota Kita untuk memotret inisiatif kemandirian pangan di kawasan urban. 

Yayasan Kota Kita menerbitkan riset terkait pangan perkotaan yang bisa kamu baca pada tautan ini: Pangan Perkotaan di Tiga Wilayah Urban di Indonesia

Artikel ini pertama terbit di Project Multatuli dan direpublikasi di sini menggunakan lisensi Creative Commons.

Categories
Sudut Joli Jolan

Joli Jolan Sambut Ramadan

Halo kawan-kawan! Tak terasa ya sebentar lagi kita bertemu kembali dengan bulan puasa. Sebagai bulan yang dinanti-nanti, sejumlah umat Muslim biasanya mulai mempersiapkan diri, salah satunya membeli perlengkapan ibadah baru. Hal ini tidak salah. Namun sikap itu bisa memicu kemubaziran apabila alat ibadah yang sebelumnya ternyata masih layak pakai.

Di sisi lain, mungkin masih banyak di antara kita yang belum memiliki alat ibadah yang bagus dan layak memyambut bulan suci. Alasan ini membuat kami kembali membikin program Joli Jolan Sambut Ramadan. Program ini dapat mewadahi kawan-kawan yang ingin menyumbangkan alat ibadahnya seperti mukena, sarung, baju koko, sajadah, peci, tasbih dan perlengkapan ibadah lain (kecuali jilbab).

Seluruh perlengkapan ibadah yang didonasikan wajib masih bagus/layak pakai ya, syukur-syukur baru. Untuk alat ibadah seken, disarankan dilaundry terlebih dulu untuk menjaga kebersihannya. Nantinya, seluruh donasi alat ibadah yang terkumpul dapat diakses untuk semua warga yang membutuhkan.

Donasi dapat dikirim ke Ruang Solidaritas Joli Jolan, Jalan Siwalan 1 Kerten Solo, atau sejumlah drop box kami (info lengkap di pinned profile). Pengumpulan donasi kami tunggu hingga 16 Maret 2024. Kawan-kawan dapat mengontak kontak relawan kami Sdri. Fitra 0877 3588 8945 atau DM IG @joli_jolan.

Dengan konsep berbagi, kita bisa memeroleh barang yang diinginkan tanpa harus mengeluarkan biaya. Yuk ikut berbagi!