Categories
Komunitas

Ketika Pustaka Jadi Primadona (Sebuah Catatan dari Urban Social Forum 10)

Tan Malaka, seorang pejuang kemerdekaan, menggambarkan betapa pentingnya buku sebagai asupan, melebihi sandang dan pangan. Ya, buku memang tak sekadar sumber ilmu, tapi juga sumber inspirasi dan gagasan. Kedua hal ini menjadi menjadi benang merah dalam Urban Social Forum (USF) 10 yang digelar di SMPN 10 Solo dan Lokananta akhir pekan lalu. Joli Jolan sendiri terlibat dalam USF di Lokananta pada hari Minggu, 10 Desember 2023.

Sebagai salah satu mitra di Gerai Komunitas, Joli Jolan membawa cukup banyak buku untuk dibagikan gratis di stan kami. Hal itu tak lepas dari segmen USF yang bakal menyedot animo banyak anak muda. Kami yakin generasi muda yang hadir di USF lebih tertarik dengan buku bacaan yang bagus ketimbang pakaian preloved bermerek.

Benar saja, sekitar 80% pengunjung stan Joli Jolan lebih memilih mengambil buku ketimbang pakaian. Ini berkebalikan 180 derajat dengan operasional di galeri Kerten, di mana mayoritas warga mencari pakaian dan asesorisnya. Jenis buku yang diambil pun beragam mulai novel, buku sosial, hingga bacaan ilmiah yang menunjang perkuliahan.

Sebagian merasa kaget ketika kami memberikan buku ini secara cuma-cuma. Masing-masing pengunjung bisa mengambil maksimal dua buku saat itu. “Beneran gratis? Ini buku terjemahan lho,” ujar seorang pengunjung perempuan sambil menimang sebuah novel yang cukup tebal.

Saking tingginya antusiasme, kami sempat mengambil stok buku tambahan dari galeri Kerten. Ketika anak muda saat ini banyak diasosiasikan sebagai tuna literasi, bukankah hal ini menjadi sebuah kabar baik? Melihat fenomena ini, kami pun berpikir. Jangan-jangan bukannya anak muda malas membaca, tetapi akses terhadap buku berkualitas yang belum memadai, terutama dari segi harga.

Kalau sudah begitu, apakah anak muda harus mengamini anjuran Tan Malaka untuk mengurangi duit untuk makanan dan baju? Mungkin tak perlu seekstrem itu. Dengan saling berbagi, kita bisa mengakses buku berkualitas dengan terjangkau, bahkan gratis. Yuk bikin inisiatif berbagi atau bertukar buku di lingkunganmu!

Categories
Komunitas

Joli Jolan Tularkan Semangat Berbagi di Petak Rembuk USF 10

Minggu 10 Desember 2023, Joli Jolan mendapat kesempatan untuk sharing pengalaman dalam kegiatan Petak Rembuk Urban Social Forum (USF) 10 di pendopo Lokananta. Kegiatan yang diinisiasi Kolektif Agora ini menghadirkan dua sukarelawan Joli Jolan, Chrisna Chanis Cara dan Ika Yuniati. Mereka menceritakan sederet perjalanan Joli Jolan selama empat tahun dalam merajut solidaritas di Kota Solo.

Dalam salah satu penjelasannya, Chrisna menjelaskan perjalanan Joli Jolan selama empat tahun penuh dengan cerita menarik dan inspiratif. Antusiasme masyarakat saat mendonasikan barang layak menjadi inti yang mewarnai perjalanan Joli Jolan. Bahkan ada beragam pengalaman sentimental dari para donatur saat merelakan dan mendonasikan barang-barang kesayangan mereka. Mereka berharap barang-barang pemberian tersebut dapat dimanfaatkan orang lain yang lebih membutuhkan.

Salah satu pengalaman menarik lainnya terjadi saat pandemi Covid-19. Seperti komunitas-komunitas lain pada umumnya, Joli Jolan pun terdampak gelombang pandemi ketika galeri Joli Jolan baru dibuka empat bulan untuk umum. Kebijakan pemerintah dan pertimbangan kesehatan mengharuskan Joli Jolan menutup total galeri dari aktivitas publik.

Menariknya, pandemi malah menjadi momentum yang tepat dalam menghidupkan semangat solidaritas yang menjadi fondasi utama Joli Jolan. Joli Jolan berupaya untuk aktif mendukung ketahanan pangan melalui program dapur umum. Beberapa komunitas lain pun turut serta membantu penyediaan pangan untuk dibagikan ke masyarakat sekitar. Joli Jolan meyakini bahwa semangat warga bantu warga harus ditumbuhkan di masa krisis seperti itu.

Sesuatu yang Baik Harus Diupayakan dengan Baik

Bukan berarti perjalanan empat tahun senantiasa mulus. Ada beragam pengalaman kurang menarik dalam mengelola Joli Jolan. Salah satunya tentang bagaimana Joli Jolan sering dianggap sebagai tempat ‘pembuangan’ barang tidak layak pakai. Tidak hanya sekali dua kali Joli Jolan menerima barang-barang kurang pantas untuk didonasikan, seperti pakaian lusuh hingga pakaian dalam bekas. Siapa yang bersedia menerima barang seperti itu?

Sesuatu yang baik tentu perlu diupayakan secara baik agar menghasilkan hasil yang optimal. Oleh karena itu, mendonasikan barang perlu diniati dengan niat yang juga baik. Sehingga, apa yang diberikan dapat memberikan manfaat yang tepat bagi penerima. Seperti yang sering diingatkan Ika Yuniati bahwa berdonasi itu berarti mendonasikan barang terbaik untuk kebahagiaan orang lain. Berdonasi harus menjadi upaya dua arah yang tidak hanya mengosongkan ruang penyimpatan donatur, tetapi juga memberikan dampak positif kepada orang lain.

Selama 45 menit, forum sharing Petak Rembuk ini menjadi sarana menebar nilai-nilai inspitarif dan pembelajaran terkait solidaritas. Ke depan Joli Jolan berharap keberadaan komunitas tersebut dapat menebar manfaat kepada lebih banyak orang. Tidak hanya di Kota Solo, tetapi juga kota-kota lain di Indonesia. Sehingga semangat solidaritas akan terus menginspirasi siapa pun, kapan pun, dan di mana pun.

Categories
Komunitas

Joli Jolan Berbagi Pengalaman di Petak Rembuk USF 10

Pandemi Covid-19 yang menghantam Indonesia beberapa waktu lalu memberikan pengalaman berharga bagi kita semua. Terlepas dari rentetan kabar duka, ada sisi positif yang mengemuka di sekeliling kita. Ya, rasa solidaritas dan semangat warga bantu warga sangat kental. Resiliensi ini berhasil membuat kita keluar dari masa sulit pandemi Covid-19.

Joli Jolan sendiri punya sederet cerita yang menunjukkan bahwa masyarakat bisa berdaya. Tak perlu menunggu pemerintah, inisiatif-inisiatif kecil yang konsisten nyatanya bisa diandalkan untuk sedikit menjadi solusi masalah.

Dalam Petak Rembuk yang diinisiasi oleh Kolektif Agora @kolektifagora di Urban Social Forum @urbansocialforum, dua sukarelawan kami yakni Chrisna Chanis Cara @chrisna_chanis dan Ika Yuniati @ikayun akan berbagi pengalaman soal bagaimana Joli Jolan melalui pandemi dan tetap merawat gerakannya hingga kini.

Acara dikonsep diskusi santai di Lokananta Bloc @lokanantabloc, Minggu 10 Desember 2023 pukul 16.00-16.30 WIB. Banyak juga diskusi lain yang tak kalah menarik yang digelar sejak Sabtu 9 Desember 2023 di SMPN 10 Solo. Sampai jumpa di Lokananta!

Categories
Komunitas

Joli Jolan Gabung di Urban Social Forum 10

Akhir pekan ini Joli Jolan bakal ikut berpartisipasi di Urban Social Forum (USF) nih! Kami akan hadir di hari kedua USF yakni pada Minggu 10 Desember 2023 di Lokananta. Dalam forum perkotaan yang sudah memasuki tahun kesepuluh ini, Joli Jolan akan bergabung di dua agenda.

Pertama adalah diskusi santai bertajuk Petak Rembuk yang akan digelar pukul 16.00-16.30 WIB. Bersama Kolektif Agora, Joli Jolan akan berbagi pengalaman soal membangun gerakan warga bantu warga hingga tetap bertahan sampai sekarang.

Joli Jolan juga bakal berpartisipasi di Gerai Komunitas. Selama setengah hari, tepatnya pukul 10.00-17.00 WIB, kami akan “memindahkan” galeri kami ke halaman Lokananta. Kawan bisa mendapatkan pakaian hingga buku-buku keren secara gratis, barter, atau dengan berdonasi.

Kami juga akan membawa merchandise eksklusif yakni kaus Joli Jolan dengan jumlah sangat terbatas. Kawan bisa mendapatkannya dengan berdonasi 100k. Seluruh donasi akan kami gunakan untuk membiayai gerakan ke depan.

Oh ya, Urban Social Forum digelar sejak Sabtu 9 Desember 2023 ya di SMPN 10 Surakarta. Banyak panel diskusi perkotaan menarik yang bisa kawan ikuti secara gratis. Yang penasaran bisa langsung cek Instagram @urbansocialforum atau website-nya di urbansocialforum.or.id. Sampai jumpa!

Categories
Reportase

Kolaborasi PO. Mata Trans dan Lazismu Kota Surakarta dalam Membantu Kekeringan Air di Boyolali

Air merupakan unsur dasar dalam kehidupan manusia di Bumi. Oleh karena itu, penting bagi manusia untuk selalu menghargai peran air dalam menjaga eksistensi dan kesejahteraan manusia, flora, dan fauna. Akan tetapi badai El Nino yang terjadi pada tahun 2023 telah menjadi faktor pemicu periode panas yang berkepanjangan. Salah satu dampak yang paling mencolok dari badai El Nino adalah periode kekeringan yang panjang dan parah. Curah hujan di berbagai tempat di Indonesia juga berkurang sehingga pasokan air bagi masyarakat di wilayah-wilayah tertentu menjadi bermasalah. Pada saat seperti ini, kebutuhan akan air untuk konsumsi manusia, pertanian, serta industri menjadi sangat mendesak. Ketersediaan air bersih menjadi kritikal ketika sumber-sumber air alami mengering.

Dalam upaya untuk memberikan bantuan dan dukungan kepada masyarakat yang membutuhkan, Perusahaan Otobus (PO) Mata Trans berkolaborasi dengan LAZISMU Kota Surakarta berupaya memberikan bantuan kepada masyarakat yang paling membutuhkan selama badai El Nino berlangsung. Pada hari Jum’at, 20 Oktober 2023, program Mata Trans Berbagi telah menyalurkan 11 tangki air bersih di Dusun Ngaliyan, Kawengen, Bakalan, Kembangsari Desa Mriyan Kecamatan Tamansari, Kabupaten Boyolali. Kolaborasi ini merupakan ikhtiar perusahaan dalam memperluas manfaat kepada masyarakat melalui Corporate Social Responsibility (CSR).

Aris Purwanto sebagai koordinator kegiatan menyatakan bahwa “Mata Trans adalah perusahaan yang bergerak dalam usaha Persewaan Armada Transportasi Pariwisata dan tersebar di Solo, Jogja, Jakarta serta Bali, kami selalu memegang teguh prinsip kesetaraan, kesimbangan serta keberlanjutan. Program CSR ini merupakan langkah kongkrit perusahaan dalam proses implementasi corporate value di tengah masyarakat”.

Categories
Komunitas

patjarmerah Solo: Simpul Kolaborasi dan Gotong Royong Literasi

Kabar bertumbangannya satu per satu toko buku besar di Indonesia memunculkan sejumlah asumsi terkait perkembangan literasi di Indonesia. Tuduhan bahwa minat literasi Indonesia rendah kembali dilontarkan, bersamaan dengan persaingan buku cetak dengan buku elektronik, dan juga pembajakan yang tak kunjung berhasil diatasi.

Pada saat kabar itu terdengar dan menjadi pembahasan panas di media sosial, patjarmerah, Pasar Buku dan Festival Kecil Literasi Keliling Nusantara justru mengumumkan mereka akan bergerak menuju Solo. Toko buku mereka pun buka di Pos Bloc Jakarta dan Fabriek Bloc Padang. Mengapa pada saat toko buku-toko buku besar banyak yang gulung tikar, patjarmerah justru tetap bisa berkeliling dan berkembang?

“Karena kami dirawat oleh semangat kolaborasi dan gotong royong literasi,” kata Windy Ariestanty, pendiri dan penggagas patjarmerah. Kesadaran bahwa buku harus dipercakapkan dan harus menciptakan ruang interaksi inklusif adalah salah satu alasan yang mendorong kelahiran patjarmerah. “Kami masih berpegang pada semangat itu. Itu juga masih menjadi DNA kami.” Kolaborasi dan gotong royong membuat apa-apa yang terasa tidak mungkin menjadi mungkin untuk diwujudkan. Membuat pasar buku dan festival secara berkeliling untuk mendekatkan akses literasi membutuhkan banyak pertaruhan. Beruntungnya, di setiap tempat kami selalu mendapati kawan-kawan yang punya semangat sama, di Solo salah satunya.

Literasi Pendorong Revitalisasi Tradisi

Solo memiliki rekam jejak yang panjang, tidak hanya dalam dunia pergerakan, tetapi juga literasi. Di mata Akhmad Ramdhon, dosen Universitas Sebelas Maret dan juga pegiat literasi Solo, jejak panjang literasi yang membentuk Solo adalah hasil perpaduan keberadaan tradisi Kasunanan dan Mangkunegaran. Kesadaran akan pentingnya kekuatan literasi ini juga turut membingkai perubahan dan modernisasi kota, salah satunya lewat pers lokal. Patahan kondisi masa lalu dan masa depan ini jugalah yang menjadi kerja-kerja strategis warga kota: pemerintah, pendidikan, dan komunitas.

“Rekam jejak patjarmerah di tiap titiknya menunjukkan mereka punya kemampuan merangkul para tiang sanggah dari ekosistem literasi, mempertemukan mereka dalam satu arena serta berkolaborasi,” kata Ramdhon. Keberadaan patjarmerah di Solo jadi terasa penting karena gerakan yang digawangi anak-anak muda ini bisa jadi pendorong, penggerak, juga pengingat bahwa sebuah tempat tanpa pondasi literasi akan kehilangan identitasnya. Revitalisasi tradisi selalu dimulai dari literasi.

Ini jugalah yang dilihat oleh Mufti Rahardjo, Sekretaris Dinas Arsip dan Perpustakaan Daerah (Dispersipda) Solo. Dinas Arsip dan Perpustakaan Daerah Solo, sehingga mendukung patjarmerah Solo. Sebagai salah satu kebutuhan dasar yang kodrati, kata Mufti, literasi membuat kita mendapatkan bagian dari pemenuhan jawaban kognitif (cipta), afektif (rasa), dan psikomotoris (karsa). Bagi Mufti kehadiran patjarmerah dengan segala portofolio dan beragam aktivitasnya memberi ruang yang segar bagi masyarakat Solo dan sekitarnya.

“Seharusnyalah literasi menjadi denyut dari setiap tempat,” katanya. “Dan itu harus diupayakan bersama-sama, beramai-ramai, bergotong royong.”

Selain keterlibatan Dinas Arsip dan Perpustakaan Daerah (Dispersipda) Solo dan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Solo, sejumlah penulis, penerbit, pegiat literasi, pekerja kreatif berbagai bidang, dan komunitas-komunitas kreatif di Solo juga turut terlibat. Mereka berkolaborasi dengan penulis, pegiat literasi, pekerja kreatif berbagai bidang, dan komunitas dari luar Solo. Ada satu juta buku terbitan lebih dari 100 penerbit di Indonesia, juga lebih dari 100 pembicara pilihan mengisi festival literasi patjarmerah di Solo.

“Selain ada Ratih Kumala, Joko Pinurbo, Reda Gaudiamo, Yusi Avianto Pareanom, Ivan Lanin, Martin Suryajaya, Felix K. Nessi, para penulis dan kawan-kawan Solo dari berbagai bidang kreatif pun hadir,” kata Ringgana Wandy Wiguna, salah satu relawan patjarmerah Solo yang bertugas di Divisi Komunikasi. Ia menyebut nama Indah Darmastuti, Yudhi Herwibowo, Panji Sukma, Jungkat-Jungkit, Fanny Chotimah, dan lain-lain. Informasi lengkap terkait acara festival ini bisa dilihat di patjarmerah.com/solo.

patjarmerah Solo akan diadakan pada 1-9 Juli 2023 di Ndalem Djojokoesoeman, Gajahan, Pasar Kliwon, Solo. Bangunan ini adalah salah satu cagar budaya yang penting bagi Solo karena merupakan bagian dari sejarah perkembangan Kota Surakarta sebagai Kota Kerajaan Masa Mataram Islam.

Categories
Komunitas

Merabai Denyut Literasi Surakarta bersama patjarmerah

Patjarmerah, Pasar Buku dan Festival Kecil Literasi Keliling Nusantara yang dijuluki oleh para pencinta buku dan media sebagai sirkus literasi keliling memutuskan singgah di Solo. Gerbang Ndalem Djojokoesoeman di Gajahan, Pasar Kliwon, Solo yang menjadi arena pasar buku dan festival literasi ini akan dibuka pada 1-9 Juli 2023 mulai pukul 09.00 hingga 22.00 WIB.

Kekayaan narasi dan sejarah panjang Surakarta membuat patjamerah memilih untuk mengawali denyutnya pada tahun 2023 di kota ini. “Selain sebelum Pandemi kami memang sempat berencana membuat patjarmerah di Solo. Itu sekitar April 2020,” cerita Windy Ariestanty, pendiri dan penggagas patjarmerah.

Solo adalah tempat yang sangat kental dengan budaya literasi dan sangat banyak merekam sejarah terkait jejak penulisan masa lampau. Karya-karya klasik lahir dari Keraton Kasunanan dan Pura Mangkunegaran. Di antaranya Yosodipuro yang menulis Serat Wulang Reh, Paku Buwono IV dan Serat Wulang Sunu, Mangkunegara IV menulis Serat Wedhatama, Paku Buwono V menulis Serat Centhini, dan ada juga pujangga legendaris dari Kota Solo, yaitu Ki Padmasusastra dan Ronggowarsito. Selain itu, majalah dan surat kabar pertama di Indonesia pun lahir di Solo.

“Solo dengan semua ciri khas dan kedenyutannya menjadi titik tepat untuk mengawali patjarmerah 2023. Dari titik yang menjadi arena pergerakan inilah, patjarmerah akan bergerak,” sambung Windy dalam keterangan persnya. Banyak tokoh penting yang menggencarkan pergerakan datang dari Surakarta. Sebutlah Tjokroaminoto, H. Samanhudi, dan Marco Kartodikromo. Mereka mengandalkan kemampuan tulis-menulisnya di surat kabar dan berbagai macam aksi protes yang digelar dalam rangka ”menuntut persamaan hak bumiputera”. Ada pula Tjipto Mangunkusumo yang mengkritisi sistem feodal. Sarekat Islam dan gerakan Bumi Putera.

Denyut Literasi dan Identitas Tempat

Denyut dipilih menjadi tema patjarmerah selama 2023. Kata ini menyimbolkan hidup dan upaya untuk terus hidup, termasuk di dunia literasi. Ini jugalah yang dilihat oleh Mufti Rahardjo, Sekretaris Dinas Arsip dan Perpustakaan Daerah (Dispersipda) Solo. Sebagai salah satu kebutuhan dasar yang kodrati, literasi membuat kita mendapatkan bagian dari pemenuhan jawaban kognitif (cipta), afektif (rasa), dan psikomotoris (karsa). “Seharusnyalah literasi menjadi denyut dari setiap tempat.” Bagi Mufti kehadiran patjarmerah dengan segala portofolio dan beragam aktivitasnya memberi ruang yang segar bagi masyarakat Solo dan sekitarnya.

Di mata Akhmad Ramdhon, dosen Universitas Sebelas Maret dan juga pegiat literasi Solo, jejak panjang literasi yang membentuk Solo adalah hasil perpaduan keberadaan tradisi Kasunanan dan Mangkunegaran. Kesadaran akan pentingnya kekuatan literasi ini juga turut membingkai perubahan dan modernisasi kota, salah satunya lewat pers lokal. Patahan kondisi masa lalu dan masa depan ini jugalah yang menjadi kerja-kerja strategis warga kota: pemerintah, pendidikan, dan komunitas.

“Rekam jejak patjarmerah di tiap titiknya menunjukkan mereka punya kemampuan merangkul para tiang sanggah dari ekosistem literasi, mempertemukan mereka dalam satu arena serta berkolaborasi,” kata Ramdhon. Keberadaan patjarmerah di Solo jadi terasa penting karena gerakan yang digawangi anak-anak muda ini bisa jadi pendorong, penggerak, juga pengingat bahwa sebuah tempat tanpa fondasi literasi akan kehilangan identitasnya. Revitalisasi tradisi selalu dimulai dari
literasi.

Patjarmerah Solo di Ndalem Djojokoesoeman

Semangat kolaborasi dan gotong royong literasi pun masih diusung patjarmerah. Di Solo, selain menggandeng Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Surakarta dan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Surakarta, patjarmerah juga berkolaborasi dengan para pegiat literasi dan komunitas lintas bidang kreatif, di antaranya Difalitera, Sastra Pawon, Kamar Kata, Kembang Gula, Lokananta, termasuk Persis. Komunitas ini akan berkolaborasi dengan jenama-jenama internasional dan nasional, seperti Netflix, Tik Tok, Bioskop Online, Facebook, dan juga para penerbit. Para penulis dan seniman atau pekerja kreatif berbagai bidang juga turut diajak. Di antaranya Jungkat-Jungkit, Soloensis, Soerakarta Walking Tour, Solo Societeit, dan Titi Laras.

Pada salah satu sesi, Ngudhar Rasa: Meracik Masa Depan Kuliner Indonesia Lewat Tradisi Pangan, Pura Mangkunegaran bersama Lakoat.Kujawas dari Nusa Tenggara Timur, Bhumi Bhuvana dari Jogja, dan Titi Laras dari Solo akan bertukar rasa dan berbagi cerita. Penulis-penulis Solo–Sanie Kuncoro, Indah Darmastuti, Panji Kusuma, Beri Hanna. Peri Sandi Huizche pun hadir mengisi sesi-sesi di festival, berkolaborasi dengan pembicara-pembicara pilihan lainnya, seperti Joko Pinurbo, Ratih Kumala, Felix, K. Nessi, Yusi Avianto Pareanom, Martin Suryajaya, Reda Gaudiamo, Alexander Thian, Adimas Immanuel, Syahid Muhammad, Andina Dwi Fatma, dan lainnya. Tak ketinggalan penampilan istimewa dari Papermoon Puppet Theatre.

Akan ada 1 juta buku dan lebih dari 100 pembicara pilihan hadir di patjarmerah Solo. Ndalem Djojokoesoeman dipilih menjadi arena literasi karena sejarah panjangnya. Bangunan cagar budaya yang berdiri pada 1849 merupakan salah satu ndalem pangeran masih utuh di Solo. Bangunan ini dulunya menjadi kediaman raja pada masa Kesunanan Surakarta, khususnya keturunan Paku Buwono X dan Paku Buwono IX.

Categories
Sudut Joli Jolan

Susur Kampung dan Workshop Menulis Cerita

Akses air minum dan sanitasi aman menjadi kebutuhan dasar individu yang vital. Saat ini, akses air minum aman di Kota Surakarta baru mencapai 60,08% dan sanitasi aman mencapai 61,47%.

Upaya peningkatan akses ini tentunya tidak hanya mengandalkan peran pemerintah saja. Butuh partisipasi banyak pihak termasuk peran komunitas melalui berbagai kanal komunikasi untuk membantu menyebarluaskan informasi mengenai pentingnya ketersediaan akses air minum dan sanitasi aman tersebut.

Banyak platform tersedia untuk bercerita mulai dari media sosial, online, blog, video blogging, podcast hingga media cetak. Kekuatan platform ini juga harus diimbangi dengan kekuatan cerita yang menginspirasi dan mendorong perubahan yang lebih baik.

Untuk menghasilkan cerita yang menarik dan inspiratif inilah, kami menggelar pelatihan menulis cerita yang akan difasilitasi jurnalis media lokal dan nasional berpengalaman. Agenda ini diawali dengan susur kampung, kemudian berbagi pengalaman antarpeserta bersama para ahli. Puncaknya, peserta diajak menceritakan kembali pengalaman yang mereka alami.

Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi antara Ruang Solidaritas Joli Jolan bersama USAID IUWASH Tangguh. Acara ini akan digelar pada:

Waktu: Minggu, 25 Juni 2023 pukul 08.00-15.00 WIB
📌 Titik Kumpul: Kantor USAID IUWASH Tangguh Jawa Tengah, Jl. Semangka 16, Kerten, Surakarta
🚸 Susur Kampung: Kelurahan Gilingan, Banjarsari, Surakarta
📍 Titik Akhir: Hotel Pose In, Surakarta
Fasilitas: Snack dan makan siang, doorprize, sertifikat
🍭 Biaya: Gratis
☘️ Kuota: 20 orang

Kami akan memilih pendaftar dengan InstaStory paling menarik dan informatif untuk mengikuti acara. Pendaftaran dibuka sampai Jumat 23 Juni 2023 pukul 16.00 WIB.

Registrasi: https://bit.ly/susurIUWASH
Narahubung: 085725233966

Categories
Gagasan

Perempuan ‘Pemulung Modern’ di Jawa Timur: Memilah dan Mengelola Sampah Atas Nama Kerja Sosial

Project Multatuli
22 February 2023

DUDUK DENIK ARIE WAHYUNI (47) tak pernah tenang. Selama dua jam wawancara, ia berkali-kali bangun menerima tamu dan menjawab pesan di ponselnya.

Hari itu keramik di salah satu kamar sedang diperbaiki. Debu dan pekerja bangunan lalu-lalang di ruang tamu, yang juga disesaki lemari, kursi, meja komputer, kantong filter tembakau sampai tumpukan pupuk.

“Ya, begini ini, di rumah campur-campur, ada barang-barang bank sampah, gudang, kantor, tempat tinggal, semua jadi satu. Saking nggak ada tempat lagi,” kata Denik.

Tiga anak Denik tidur bersama di kamar utama di lantai bawah, yang hari itu keramiknya diperbaiki. Di lantai dua, ada empat kamar; tiga kamar disewakan untuk kos-kosan. Satu kamar lain untuk penyimpanan maggot, belatung pengurai sampah organik untuk pembuatan pupuk.

Sudah hampir tiga tahun, Denik bergerak mengumpulkan, memilah, dan mengolah sampah bersama warga pengurus RT di Kelurahan Tanjung Perak (sebelumnya bernama Kelurahan Perak Utara, Surabaya). Ia adalah salah satu pendiri dan ketua dari kegiatan kolektif yang diberi nama Bank Sampah Wani.

“Pokoknya semangatnya kayak Bonek, wani!” katanya.

Penunjukan Denik sebagai ketua karena ia paling vokal dan bersemangat di antara warga lain yang nyaris menyerah dengan wacana ini. Padahal, ia sudah sibuk bekerja sebagai pengawas di perusahaan kontraktor dan mengurus keluarga.

Kehadiran bank sampah itu berawal dari keinginan rukun warga mengikuti lomba Desa/Kelurahan Berseri (Bersih, Sehat, Lestari) Provinsi Jawa Timur tahun 2021. Manajemen bank sampah yang rumit, sejak menyusun pengurus, gudang, hingga imbal balik yang tidak jelas, membuat warga kurang tertarik.

“Tapi, saya ini orangnya memang keras. Kalau memang syaratnya itu, ya, kenapa nggak dicoba dibuat dulu? Nah, waktu itu saya langsung ditunjuk jadi ketua. Hmm.. ya, ora opo-opo, tapi sing jadi pengurus bojone kalian, yo!” kata Denik membalas bapak-bapak pengurus RT.

Namun, permintaannya sulit jadi kenyataan. Para bapak pengurus RT gagal membujuk istri mereka bergabung mendirikan bank sampah. Dari belasan pengurus RT, hanya ada empat ibu yang bersedia membantu Denik.

Tapi, belum lama berjalan, satu pengurusnya mundur.

“Yang satunya ini mikir dia butuh duit buat nambah-nambah kebutuhan karena memang dia nggak terlalu mampu. Ya wajar juga, namanya ini memang kerja sosial,” kata Denik.

Denik bersama tiga ibu pengurus lain mencari tahu via mesin pencari Google untuk segala hal tentang kegiatan pemilahan sampah. Mereka sama sekali tidak memiliki pengalaman tentang bank sampah. Mereka belajar cara-cara mendirikan bank sampah dari layanan pendampingan manajemen sampah Bank Sampah Induk Surabaya (BSIS).

Sebagai modal awal, tim kecil Bank Sampah Wani meminjam Rp500 ribu dari kas RT untuk membeli timbangan, karung, dan alat tulis kantoran. Untuk gudang, warga setuju menyisihkan sebagian ruang kecil yang biasa dijadikan tempat penyimpanan aset RT.

Denik dan tim mulai mengumpulkan sampah di tingkat RT. Ketika itu, pengumpulan terbatas pada barang-barang yang bisa dijual dengan harga lumayan.

“Botol plastik seperti Aqua itu kita terima. Tapi nggak terima sama labelnya, nggak laku karena katanya nggak bisa didaur ulang. Kita juga terima kardus-kardus dan kertas,” kata Denik.

Keterbatasan tenaga dan waktu para pengurus membuat proses pengumpulan hanya dilakukan sekali sebulan. Setelah terkumpul, sampah kemudian dipilah.

“Nah, di sini bapak-bapak pengurus RT ikut bantu. Nggak bisalah kalau perempuan semua angkat-angkat. Jadi, misalnya suami saya itu sekretaris RT, di bank sampah dia  di bagian pemilahan.”

Sampah yang sudah dipilah lalu dijual ke Bank Sampah Induk Surabaya. Dari sekitar puluhan kilogram sampah yang terkumpul, mereka dapat keuntungan antara Rp20 ribu – Rp50 ribu. Uang itu pun harus dikumpulkan untuk membayar utang modal awal ke kas RT.

Meniru sistem perbankan, bank sampah mengajak warga menabung barang bekas untuk selanjutnya dijual. Hasil penjualan kemudian disimpan dalam kas bank sampah, yang bisa dicairkan  setiap saat. Nasabah bank sampah juga menerima buku tabungan untuk memantau berapa banyak uang yang terkumpul dari menabung sampah.

Bank sampah unit seperti Bank Sampah Wani menetapkan harga beli yang lebih rendah ke nasabah ketimbang harga di bank sampah induk demi menutup biaya operasional saat pengumpulan, pencucian, dan pemilahan sampah.

Pada awal-awal operasionalnya, Denik kerap ditanya warga tentang berapa banyak keuntungan yang bisa didapatkan dari menjual sampah. Denik tak mampu menjanjikan apa-apa. Di tengah situasi itu, salah satu pengurus bank sampah kembali mundur.

“Kader tapi keder, karena nggak digaji. Yo, ora opo-opo.”

Semakin berkurangnya pengurus tak membikin Denik patah semangat. Ia punya gol bank sampahnya tidak sekadar mengumpulkan dan menjual, melainkan juga bertekad memajukan operasional Bank Sampah Wani.

“Ya sudah kita kayak orang-orang ngemis gitu. Ke RT-RT lain datang, sosialisasi buat minta sampah, ha ha ha…”

Ia meminta surat pengantar ke kelurahan untuk mengurus surat keputusan bank sampah ke Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Surabaya. “Minta pengantar ke Pak Lurah itu perjuangan. Betul-betul dipersulit padahal kata DLH itu gampang.”

Sayang, semangat Denik terhalang pandemi. Bank Sampah Wani terpaksa vakum karena pembatasan kegiatan dan adaptasi terhadap wabah terlebih dahulu.

Olah Ide dari Sampah

Awal 2021, Denik dan tiga pengurus lain mulai mengumpulkan kembali semangat yang terputus pandemi.

“Kita mulai lagi kumpulkan sampah-sampah warga. Di situ ternyata warga mulai nagih-nagih. Nggak mau kalau cuma sebulan sekali ambilnya,” kata Denik.

“Aduh, tenaga kami juga terbatas. Kita juga nggak ada gudang,” imbuhnya. “Dari situ sebenarnya saya bingung, tapi jadi semangat juga.”

Ia kembali mengurus SK Bank Sampah ke kelurahan. Kali ini usahanya sukses. Rencana untuk mendaftarkan BSW ke lomba Desa/Kelurahan Berseri dilanjutkan. Selain BSW, juga ada dua RW lain di Kelurahan Perak Utara yang mengikuti lomba serupa.

Di tengah proses itu, ia terus memikirkan cara agar bank sampah unit tak sekadar memindahkan sampah dari satu tempat ke tempat lain. Ide mengolah sampah pun muncul.

“Pokoknya di kepalaku itu banyak ide, gimana ini nggak cuma gini-gini aja,” katanya.

Denik, yang semula tidak menerima sampah saset berlapis foil karena harga jualnya rendah, mulai berani mengambil dan mengolahnya jadi beragam kerajinan. Awalnya, Denik mengajak pengurus dan warga membuat kerajinan dari sampah bekas, lagi-lagi bermodal panduan di internet.

Aneka jenis tas, taplak meja, hingga tempat tisu hasil olahan sampah bekas itu dijual di bazar-bazar sekolah dan kelurahan dengan harga Rp12 ribu-Rp30 ribu.

“Yo, Alhamdulillah laku. Tapi, nggak selalu begitu. Balik lagi, warga itu juga ada yang kurang berminat. Sekalipun ada, laku, tetap belum bisa jadi pemasukan meskipun kita titipkan ke sana-sini,” kata Denik.

Selain kerajinan barang bekas, Denik mulai memikirkan bagaimana mengolah sampah organik dan minyak jelantah. Suaminya mendukung ide itu.

“Suamiku belajar ngolah sampah jadi pupuk, ngilangin bau minyak jelantah untuk bikin jadi lilin. Sama, belajarnya juga dari Mbah Google,” katanya.

Di antara waktu yang sibuk dan penuh ide itu, Denik menerima kabar Kelurahan Perak Utara berhasil memenangkan lomba Desa/Kelurahan Berseri untuk kategori madya dari Dinas Lingkungan Hidup Pemerintah Provinsi Jawa Timur.

Kemenangan itu bagi Denik bukan cuma hadiah atas kerja kerasnya, tapi jadi momentum untuk semakin memasarkan bank sampahnya.

Pokoke dalam pikirku, ini kita menang, punya nama,” katanya, menegaskan bahwa BSW memiliki andil penting dari kemenangan itu.

Modal prestasi itu membuatnya semakin ingin mengembangkan BSW. Kali ini ia ingin membuat semua sistem pencatatan tabungan nasabah menjadi digital.

“Kasihan bendaharanya, semuanya dicatat manual.”

Ia meminta suaminya, seorang karyawan di bidang IT, untuk menyusun rancangan awal pembuatan aplikasi mirip mobile banking serta situs web Bank Sampah Wani.

“Pokoknya saya yang ngide, dia yang mengerjakan. Dia sampai bilang, ‘Duh, Bu. Idemu itu menyengsarakanku’,” katanya tertawa.

Tapi, digitalisasi butuh modal.

Ide lain muncul. Ia berinisiatif mengajukan proposal kerjasama ke perusahaan-perusahaan di sekitar Pelabuhan Tanjung Perak. Menurutnya, banyak peluang dari program pertanggungjawaban keberlangsungan perusahaan alias CSR.

Proposal pertama diajukan ke PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo).

“Nekat aja. Padahal saya tuh belum tahu bagaimana caranya jadi mitra binaan untuk program CSR. Yo, Alhamdulillah proposalnya tembus, rek!” katanya.

Dari Pelindo, Bank Sampah Wani dapat dukungan komputer, laptop, printer, gerobak sampah motor, serta dukungan pembuatan aplikasi dan situs web.

Berkat dukungan itu, bank sampah unit tersebut menambah periode pengumpulan sampah menjadi dua kali dalam satu bulan.

Periode pertama, biasanya pada minggu kedua, Bank Sampah Wani bersama warga pengurus membuka pengumpulan sampah di area titik kumpul RT. Pengumpulan kedua, pada akhir bulan, Denik dan tim menjemput sampah ke rumah-rumah warga.

“Kita jemput bola atas dasar laporan ada sampah yang sudah numpuk. Pokoknya sekarang itu satu bulan kita sudah bisa dapat 500 kg sampah yang sudah terpilah. Makanya kita juga butuh tambahan gudang,” ucapnya.

Hanya saja dalam setahun terakhir ini, harga jual sampah yang ditetapkan Bank Sampah Induk Surabaya terus turun. Denik tak tahu persis alasan di balik penurunan harga tersebut, selain spekulasi ada permainan harga kertas. Di luar itu, ia hanya memikirkan bagaimana nasabahnya tetap mau menabung meski harga jual sampah bekas terus turun.

Saat ini, Bank Sampah Wani memiliki sekitar 80 nasabah yang tercatat dalam pembukuan, dengan rerata nilai tabungan per orang Rp50 ribu-Rp200 ribu. Sementara, untung untuk ‘gaji’ kader, “SEPULUH EWU!” teriak Denik.

Selayak-layaknya Apresiasi

Bagi Denik, keberhasilan bank sampah warga bergantung dari banyak dukungan. Pertama, tentu saja dukungan keluarga.

Kedua, dukungan pengurus. “Yang penting konsisten, sabar. Niatnya memang kerja sosial, kita ini pencinta lingkungan,” kata Denik, seraya berkelakar. “Ya, semacam pemulung modern juga, sih.”

Ketiga, dukungan warga. Denik mengaku kesulitan mengubah pola pikir warga tentang sampah. Selama melakukan sosialisasi bank sampah, Denik menekankan edukasi tentang pemisahan dan pencucian barang bekas sebelum disetor dan diolah.

Demi memicu semangat warga, Denik terkadang masih rela menerima barang bekas kotor untuk kemudian dipilah dan dicuci para pengurus Bank Sampah Wani. Namun, ia berharap hal ini tidak terus-menerus karena mereka terbatas tenaga dan waktu.

“Mengajari warga itu angel. Milah sampah saja angel. Memang ada yang bergerak, tapi belum 100 persen. Kita pengennya ketua RT koordinir warganya. Kolektif dulu, kalau butuh penjemputan, kita jemput,” kata Denik.

Keempat, dukungan pemerintah daerah dalam regulasi, kemudahan perizinan, dan pengakuan bank sampah unit sebagai bagian dari Kader Surabaya Hebat.

Kader Surabaya Hebat adalah bagian program kerja Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi untuk memberdayakan masyarakat mendorong perbaikan kerja di sektor lingkungan, kesehatan (posyandu), dan antisipasi demam berdarah (jemantik).

Para kader mendapat gaji kisaran Rp300 ribu-Rp400 ribu per bulan dalam program yang dimulai tahun 2021 itu. Pada 2022, pemkot menyuntikkan dana Rp13,4 miliar untuk program tersebut, salah satunya untuk kenaikan gaji para kader di kisaran Rp500-600 ribu per bulan.

“Sampah itu dianggapnya bagian dari kerja sektor lingkungan. Persoalannya, dari dulu, pengurus bank sampah itu tidak ada yang jadi Kader Surabaya Hebat,” kata Denik.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Surabaya Agus Hebi tidak memberi respons saat dikonfirmasi.

“Memang nggak ada aturan bank sampah digaji seperti KSH. Tapi, kok seperti dianaktirikan? Kalau ada bank sampah prestasi, yang dipuji KSH-nya, lho aku deg… Pengelolaan lingkungan? Padahal bank sampah, kan, bagian dari itu.”

175 Ribu Ton Sampah per Hari

Jawa Timur tercatat sebagai provinsi dengan jumlah bank sampah unit (dikelola masyarakat) dan bank sampah induk (dikelola LSM/Pemda/masyarakat) terbanyak di Indonesia.

Merujuk Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) tahun 2022, jumlah bank sampah unit di Jawa Timur mencapai 2.684 dari total 11.531 gerai di seluruh Indonesia. Sementara, dari total 237 bank sampah induk, 29 di antaranya ada di Jawa Timur.

Sekalipun jumlah bank sampah unit dan induk telah mencapai belasan ribu, tetapi angka ini belum sepenuhnya efektif dalam menjawab persoalan pengelolaan sampah di Indonesia.

Mengutip data yang sama, jumlah sampah yang diterima bank sampah unit sepanjang tahun 2022 mencapai 404,78 juta kg. Dari jumlah itu, hanya 138,4 juta kg yang terkelola atau sekitar 34%. Begitu juga dengan sampah yang dikelola bank sampah induk hanya 0,3% saja atau 247.498 kg dari total 90,2 juta kg sampah yang diterima.

KLHK mengestimasi jumlah sampah harian di Indonesia mencapai 175 ribu ton. Mereka mengklaim bisa mengelola sampai 77 persennya, sudah termasuk kerja-kerja bank sampah. Sisa sampah yang tidak terkelola masih akan menumpuk.

Pada 2022, timbunan sampah telah mencapai 18,89 juta ton. Bila tidak di TPA, sebagian besar sampah plastik yang tidak terkelola itu berakhir mencemari laut.

Pemerintah sejauh ini telah membangun sejumlah fasilitas pengelolaan sampah non-organik menjadi sumber energi baru. Akan tetapi, kapasitas pengelolaannya juga masih belum sebanding dengan jumlah sampah yang dihasilkan.

Semisal untuk industri pengolahan dengan teknologi pirolisis yang menggunakan bahan baku sampah plastik jenis LDPE (Low Density Polyethylene) dan sampah plastik jenis PET (Polyethylene Terephthalate) untuk diubah menjadi bahan bakar minyak (BBM). Saat ini, jumlah fasilitas yang terbangun tidak melebihi 10 unit dengan kapasitas pengelolaannya hanya 2.102 ton/tahun.

Begitu juga pengolahan dengan teknologi Refuse-Derived Fuel (RDF) yang mengubah sampah plastik jenis tertentu menjadi briket untuk pembakaran uap. Saat ini, dari total sembilan fasilitas pengolahan, jumlah sampah yang bisa terkelola sepanjang 2019-2022 baru mencapai 151.241 ton.

**

Inisiatif Peduli Lingkungan di Kota Minim Kesadaran

STAMINA RENI ANGGRAENI (42) sudah tidak 100 persen saat kami temui di rumahnya di Sidoarjo, Jawa Timur. Sejak pagi, ia sudah berkeliling ke sana-sini mempersiapkan acara peringatan Hari Peduli Sampah Nasional 2023 pada 19 Februari di Sidoarjo.

Selain mengurus rumah dan ketiga putrinya, Reni punya kegiatan lain. Ia adalah salah satu pengurus paguyuban bank sampah di Sidoarjo. Suaminya bekerja di Kediri, dan baru pulang saban akhir pekan.

Awalnya, Reni menolak untuk diwawancara perihal kegiatan yang dilakoninya itu. Penolakannya lebih karena ia tak percaya diri, bank sampahnya tidak punya banyak peminat, juga tidak ada pengurusnya.

Sudah tujuh tahun, ia menjalankan kegiatan kolektif bank sampah. Berawal dari inisiatif pengumpulan sampah di sekolah putrinya.

Reni mengaku sebagai seorang yang idealis, bila tak terlalu berlebihan, juga aktivis.

“Awalnya aku sama ibu-ibu, berempat. Kita ambil sampah, cuci, jemur sendiri,” kata Reni.

Jenis sampah yang ia ambil adalah bungkus-bungkus makanan. Bermodal dari membaca berbagai informasi di internet, ia kemudian mengumpulkan sampah-sampah itu ke dalam botol untuk kemudian dijadikan ecobricks atau batubata ramah lingkungan.

Botol-botol ecobricks kemudian diubahnya dalam bentuk kursi dan meja. Barang kerajinannya itu tak lagi terlihat seperti tumpukan sampah karena telah ditutup kain kulit sintetis. Hasil kerajinan itu lalu dilombakan.

“Waktu itu pemerintah lagi gencar-gencarnya program lingkungan. Banyak sekali lomba,” kata Reni.

Dari perlombaan itu, ia dapat pesanan. Satu set meja dengan tiga kursi jenis stool dijual seharga Rp350 ribu. Bagi Reni, harga itu sebetulnya belum menutup ongkos produksi. Tapi, bagi sejumlah orang, harga itu kelewat mahal untuk kerajinan dari sampah.

“Ya, susah dijual. Paling cuma orang-orang yang paham lingkungan, yang nggak banyak. Dulu malah ada yang pesan tapi ternyata dia mau ikut lomba dan menang. Yo wis lah, ora opo-opo,” kata Reni.

Dari Pendiri, Berakhir Jadi Sendiri

Dari sekolah, kegiatan pengumpulan dan pengelolaan bank sampah berlanjut ke rumah.

Inisiatif itu masih Reni jalankan bersama keempat kawannya. Ketika itu, struktur kepengurusan bank sampah masih terlihat serius: ada ketua, bendahara, dan pencatat timbangan. Mereka biasanya mengumpulkan sampah sebulan sekali.

Promosi bank sampah dilakukan dari mulut ke mulut, seputar sirkel mereka dan tetangga. Lantaran keempat pengurus lain tidak tinggal di satu perumahan yang sama, Reni sering menjemput langsung sampah-sampah itu dengan mobilnya.

“Aku dulu bisa ambil sendiri sampai Kriyan (sekitar 13 km). Suamiku sempet ngingetin, bensinnya nggak setara sama harga sampahnya. Ya, tapi namanya seneng, lihat ada manfaatnya,” kata Reni.

Sampah yang terkumpul di rumahnya tidak dipilah. Ia sempat melakukan pemilahan, tapi terkendala karena pengepul yang diincar punya batas pengambilan berat sampah. Sementara, bila mengikuti batas berat itu, ia harus punya gudang untuk menyimpan  sampah-sampahnya.

Ia lalu menemukan pengepul dari Kecamatan Wonoayu yang mau mengambil semua jenis sampah bekas, bersih maupun kotor, berapapun jumlahnya. Persoalannya memang harga jual dipukul rata, satu kresek Rp4 ribu-Rp5 ribu. Biasanya, buku bekas yang bisa dijual dengan hitungan per kg dan tinggi, sekitar Rp25 ribu.

Untuk menarik nasabah, Reni berinisiatif menawarkan tabungan sampah dengan sejumlah promosi. “Pokoknya yang cocok sama ibu-ibu. Awal-awal sempat tukar sembako, lalu potongan bayar listrik, nah sekarang emas. Idenya itu dari sampah jadi emas,” kata Reni.

Namun, ia punya kendala. Ia tak punya tenaga memasarkan sampah jadi emasnya ke lebih banyak orang di luar sirkelnya. Saat pandemi, satu persatu pengurusnya mundur, dari alasan capek sampai tidak dapat izin dari suami karena dianggap tidak menguntungkan.

“Sebenarnya emas ini lumayan banyak yang mau karena ada ukuran yang paling kecil 0,25 gram, jadi nabungnya nggak lama. Harganya juga, kan, naik-naik terus. Tapi, aku ini nggak ada yang support,” keluhnya.

Ia sempat merekrut pengurus pengganti, tapi akhirnya batal. Lagi-lagi karena masalah duit. Reni mengatakan dalam satu tahun, ia paling hanya menerima keuntungan sekitar Rp700 ribu.

“Kalau dibagi lima itu sekitar Rp100 ribuan per tahun. Per bulan, satu orang ya sepuluh ewu-an! Orang mikir, daripada ngurus sampah, ya, mending ngurus anak. Kadang izin suami juga. Untung suamiku sakarepku,” katanya.

Sampai saat ini, jumlah nasabahnya yang tercatat mencapai 50 orang. Akan tetapi, yang aktif mengumpulkan sampah paling hanya separuhnya.

“Ya, edukasi maneh. Ini tetangga sendiri saja nggak mengumpulkan, kok,” tukas Reni.

Seminim-minimnya Dukungan

Sekitar dua bulan lalu, Unilever Indonesia menawarkan kerja sama bank sampah Reni. Bentuknya pengisian ulang tiga produk Unilever dengan wadah sendiri, semacam bulk store. Ketiga produk itu sabun cuci pakaian Rinso, sabun cuci piring Sunlight, dan pembersih lantai Wipol.

Modal yang diberikan adalah tiga jeriken dari masing-masing produk itu. Kalau diuangkan setara Rp300 ribu. Dari situ, Reni menawarkan kepada warga untuk mengisi ulang sabun dan pembersih lantai itu menggunakan wadah bekas di rumah.

“Biasanya tak samakan dengan harga pasar, atau selisih [lebih mahal] Rp1.000-Rp2.000. Kalau mahal-mahal orang, kan, mikir, ‘Ngapain, mending beli sendiri ke warung’,” katanya.

Namun, program itu tidak efektif, lanjut Reni. Kebanyakan pembelinya adalah temannya juga. Selebihnya tidak tertarik. Modal itu juga hanya satu kali diberikan Unilever. Untuk selanjutnya, bank sampah harus membeli sendiri isi ulang dari ketiga produk itu.

Kerja sama yang ditawarkan Unilever ini adalah yang kedua kali. Saat awal merintis bank sampah, korporasi raksasa yang memproduksi barang konsumsi itu juga sempat memberikan dukungan buku tabungan ke Reni.

Soal pengelolaan sampah, Reni mengaku Unilever sebetulnya menerima sampah bekas. Tapi, hanya dari kemasan produk mereka. Sampah bekas, kebanyakan saset, juga sudah harus bersih, kering, dan terlipat rapi.

“Jadi saset-saset itu ditumpuk sampai tipis. Mereka bayar satu kresek, biasanya 3 kg, Rp1.500. Susah juga, ngumpulin susah dan harus diantar sendiri. Nggak seberapa. Ya, nggak jalan,” kata Reni.

Project Multatuli telah menghubungi Unilever Indonesia tetapi tidak mendapatkan jawaban.

Aspirasi Tanpa Ngoyo

Reni muda pernah hampir jadi politikus. Sewaktu masih kuliah, ayahnya pernah menjagokan anak perempuan pertamanya ini dalam daftar bakal calon legislatif di Sidoarjo.

“Fotoku sempet dipampang di jalan-jalan. Ampun, malu juga. Ambisinya orangtua, ya,” kata lulusan Bahasa Jerman di Universitas Negeri Surabaya ini.

“Ya, nggak jadi, lah. Uang dari mana? Yang iya malah disangka nyari jodoh.”

Reni pernah jadi penulis untuk tabloid muslim milik Jawa Pos, Nurani. Ia menikmati perannya jadi bagian dari industri media. Namun, profesi itu tidak dilanjutkan karena kekhawatiran sang ibu.

“Mamaku dulu pernah bilang, ‘Ojo sampe jadi wartawan.’ Batinku, ‘Ya, nopo?’ Baru tahu susah dan risikonya pas sudah tua ini,” lanjutnya.

Ia kemudian menjadi penulis buku. Mengawalinya dengan menulis cerita pendek bersama penulis-penulis lokal lain. Nyaris sepuluh buku antologi dengan karyanya sudah terbit. Baru-baru ini, ia kembali menerbitkan buku cerita anak yang terinspirasi dari kisah sahabat Nabi Muhammad.

“Plan-ku pengen solo tahun ini, semoga mimpi ini terlaksana. Nulis selama ini lebih buat pengembangan diri, sih,” katanya.

Ia melakoni peran sebagai penulis dengan santai. Ia ingat, suatu ketika ibunya pernah memintanya untuk tidak terlalu aktif. “‘Wis, ojo vokal-vokal. Jaga nama orangtua.’ Ya, tapi gimana? Aku senengnya memang keluyuran, ketemu banyak orang. Sekaligus nyampein aspirasi. Tapi, ya, akhirnya yang selo-selo saja.”

Masalah lingkungan yang saat ini jadi prioritasnya, selain pendidikan, menurutnya jadi barang mahal di Sidoarjo sekalipun sekolahnya punya pemerintah.

Ia kadang tak habis pikir dengan pemerintah daerah Sidoarjo yang lebih banyak sibuk dengan urusan-urusan yang tidak pro-rakyat, apalagi lingkungan.

“Surabaya itu punya wali kota yang lebih bagus. Zaman Bu Risma itu paling gembar-gembor soal lingkungan, sampai ada program bis bawa sampah,” sebut Reni.

“Sidoarjo duitnya dipake ke mana? Yang terakhir malah korupsi,” lanjutnya, seraya membahas vonis tiga tahun penjara untuk mantan Bupati Sidoarjo Saiful Ilah karena terbukti menerima suap pada 2020.

Makanya Reni tak jadi heran mengapa warga di Sidoarjo berbeda dengan Surabaya yang menurutnya lebih banyak yang sadar akan pentingnya mengurus lingkungan. Ia bilang, warga di desa-desa Sidoarjo masih banyak yang percaya bahwa sampah popok sekali pakai harus dibuang ke tempat yang ada airnya. Katanya, ada mitos membuang sampah ‘sembarangan’ bisa membuat anak mereka sakit.

“Bagi mereka dibuang ke kali, sawah, itu nggak apa-apa. Logika mereka karena sungainya ngalir. Pokoknya mereka mikir yang penting masalahku selesai, ya, sudah. Nggak mau mikir itu numpuknya di mana,” kata Reni.

“Kalau orang desa mikir itu ngalir ke laut terus jadi polusi, ya, enak. Berarti sudah sadar semua.”

Maka baginya, pemerintah punya tanggung jawab paling besar dalam memperbaiki masalah sampah, dari hulu ke hilir.

Dari pengamatannya, pengelolaan sampah di Sidoarjo masih mengandalkan tempat pembuangan akhir (TPA). Para petugas sampah, kata Reni, digaji Rp1 juta per bulan, sejauh ini masih ditugaskan untuk memindahkan sampah, belum dikoordinasikan untuk pemilahan dan pengelolaan. Akibatnya, banyak warga melihat persoalan sampah mereka selesai karena sudah terangkut.

“Jadi kayak lingkaran setan. Perusahaan harusnya nurut kalau regulasinya jalan. Tapi, yo, kayaknya kebalikan. Pemerintah yang nurut sama perusahaan,” keluh Reni.

Meski menjalankan bank sampah sendirian, Reni belum berencana untuk mundur. Ia masih akan meneruskan kegiatan ini, paling tidak selama suaminya tetap tidak masalah. Kalaupun bank sampahnya tidak maju, paling tidak ia masih bisa berkontribusi untuk bank-bank sampah lain di Sidoarjo.

“Kita nyari temen yang sefrekuensi saja. Nggak ngoyo. Kalau ada yang setor, ayo, nggak, ya, udah. Urip gawe, opo, ya, mikirnya sangu mati aja. Hidup udah masalah, jangan dibikin masalah. Ya, walaupun sampah juga masalah, ya,” tukasnya sambil tertawa.


Editor: Fahri Salam

Artikel ini pertama terbit di Project Multatuli dan direpublikasi di sini menggunakan lisensi Creative Commons.

Categories
Sudut Joli Jolan

Joli Jolan Tutup Sementara Donasi Pakaian

Untuk sementara Joli Jolan belum dapat menerima donasi pakaian lagi. Ini karena stok pakaian di galeri masih cukup banyak, terutama pakaian perempuan. Kami perlu membatasi donasi agar tidak terus mengalir untuk menjaga keseimbangan stok di gudang. Jujur, tidak mudah mengelola bertumpuk pakaian yang hampir tiap hari berdatangan ke galeri. Selain keterbatasan tempat, kami memiliki keterbatasan waktu dan tenaga karena mayoritas sukarelawan adalah pekerja.

Kami akan senang sekali jika kawan bisa membantu kami. Kali ini bukan dengan berdonasi, tapi ikut mendistribusikan pakaian lewat gerakan berbagi. Kawan bisa mengonsep program sendiri atau bekerja sama dengan organisasi atau kelompok masyarakat sipil untuk mendistribusikan pakaian ke kalangan yang membutuhkan.