Ruang solidaritas lintas kelas yang menjadi perantara masyarakat untuk saling menerima dan memberi. Berada di Jalan Siwalan no. 1 Kerten, Laweyan, Surakarta.
Dalam hierarki kebutuhan Maslow, kasih sayang merupakan salah satu wujud kebutuhan sosial. Sabtu, 18 Januari 2025, Ruang Solidaritas Joli Jolan terasa semakin hangat dengan kehadiran anak-anak balita hingga seusia SD. Mereka adalah anak-anak yang diasuh di Panti Asuhan Mizan Amanah, Solo.
Setiap Sabtu, anak-anak panti memang rutin refreshing dengan jalan-jalan di sekitar kota. Kami gembira ketika mereka berkenan mampir ke Joli Jolan untuk berakhir pekan. Ketika diajak masuk ke Pendapa Latar Situ Kerten, lokasi di mana Joli Jolan berada, senyum mereka langsung merekah.
Anak-anak antusias melihat banyak mainan, boneka, komik, alat tulis dan gambar hingga jajanan yang ditata di pendapa. Tak butuh waktu lama bagi mereka untuk memilih barang apa yang mereka suka. Barang-barang ini merupakan donasi kawan-kawan Joliers, yang telah kami kurasi sehingga dapat memberikan yang terbaik bagi para anak panti.
Kegiatan ini menjadi salah satu penanda Joli Jolan membuka pojok anak di awal tahun 2025. Setiap Sabtu, kami menyediakan sudut khusus bagi anak-anak untuk memilih mainan yang disukainya. Di sana, orangtua diminta tidak “cawe-cawe” memilihkan mainan untuk anaknya. Ini dilakukan agar anak memiliki inisiatif untuk memutuskan apa yang mereka inginkan, bukan apa yang dirasa baik buat mereka.
Selain itu, anak diajak saling berinteraksi dengan anak lain, saling berbagi mainan. Hal sederhana itu diharapkan memupuk kepedulian dan rasa solidaritas sejak dini. Orangtua dapat memberi arahan jika sang anak justru mengambil lebih banyak, enggan berbagi dengan sesama.
Kawan-kawan juga dapat berpartisipasi melestarikan pojok anak dengan donasi mainan yang bersih dan menarik. Kami juga menerima donasi buku anak, susu, atau snack sehat untuk mendukung perkembangan mereka. Yuk, bareng-bareng manfaatkan pojok anak Joli Jolan!
Joli Jolan adalah ruang yang egaliter bagi semua kalangan. Semua bisa memanfaatkan Joli Jolan untuk memenuhi kebutuhan, entah itu dengan cara mengambil barang gratis, barter, atau berdonasi.
Namun ada ketentuan yang perlu diperhatikan saat berkunjung. Hal ini untuk memastikan semua pengunjung nyaman berinteraksi di Joli Jolan. Apa saja itu? Yuk simak panduan singkatnya!
Masuk Galeri dengan Tertib
Berdesak-desakan, apalagi “lomba lari” saat masuk galeri tidak disarankan. Hal itu bisa membahayakan pengunjung anak, lansia maupun kalangan rentan lain saat berkunjung ke galeri. Tenang saja, barang gratis di Joli Jolan tidak akan habis dalam satu jam. Jadi tidak perlu buru-buru ya!
Dilarang Merokok
Joli Jolan adalah ruang publik ramah anak sehingga bebas asap rokok. Jadi untuk mas-mas, bapak-bapak atau siapapun, silakan merokok di luar galeri. Sukarelawan kami tidak akan segan mengingatkan pengunjung yang ngeyel merokok saat kegiatan.
Mengambil Pakaian/Barang Diam-diam
Menyediakan pakaian/barang secara gratis yang bisa rutin diakses ternyata tak menjamin barang di galeri bebas dari tangan jahil. Ya, masih saja ada orang yang mengambil pakaian secara diam-diam meski dapat mengambil maksimal tiga item barang gratis di setiap kunjungan.
Hal ini tidak sesuai dengan nilai Joli Jolan yang ingin mendorong warga mengonsumsi barang secukupnya atau sesuai kebutuhan. Jika menuruti keinginan tentu tidak ada batasnya. Perilaku ini juga secara tidak langsung mengambil hak orang lain, jauh dari makna solidaritas.
Memakai Kartu Orang Lain
Setiap pengunjung Joli Jolan wajib memakai kartu anggotanya sendiri untuk mengakses layanan. Kenapa demikian? Ini karena Joli Jolan punya aturan main bahwa pengunjung baru bisa mengambil pakaian/barang gratis paling cepat dua pekan setelah pengambilan sebelumnya.
Jadi, memakai kartu orang lain agar bisa mengambil setiap pekan adalah sebuah kecurangan. Memiliki kartu ganda dengan tujuan serupa juga adalah pelanggaran. Tidak ada ruang di Joli Jolan bagi pengunjung yang hendak memanfaatkan gerakan untuk kepentingannya sendiri.
Rebutan Barang
Joli Jolan bukanlah ajang bansos atau pasar murah yang warga harus berebut mendapatkannya. Semua mendapatkan akses yang sama. Jadi tak perlu berebut, apalagi antarsesama warga. Mendahulukan pengunjung lain yang benar-benar membutuhkan pakaian/barang tertentu akan lebih baik.
Mengambil Pakaian/Barang di Luar Ketentuan
Tidak semua item donasi di Joli Jolan berjumlah melimpah. Ada pula yang jumlahnya terbatas seperti sepatu, tas, boneka, mainan, celana jins, jaket dan sejenisnya. Untuk item-item ini, pengunjung hanya boleh mengambil maksimal satu buah untuk pemerataan.
Contoh, tidak bisa mengambil tiga item semuanya sepatu. Yang boleh yakni satu sepatu dan dua pakaian/buku/item lain yang jumlahnya banyak di galeri.
Buang Sampah Sembarangan
Galeri Joli Jolan bukan tempat pembuangan sampah yaa. Jadi mari tertib untuk buang sampah di tempat yang disediakan.
Belum lama ini kami mendapatkan kiriman video dari seorang warga Grobogan. Video pendek itu langsung menarik perhatian kami. Bagaimana tidak, terlihat di sana berjejer sepatu, sandal, dan tas yang masih berkondisi sangat bagus. Ada pula deretan pakaian yang dipajang layaknya toko sandang.
Tak hanya itu, teh serta tepung-tepungan seperti tepung beras dan tapioka juga ditata berjejer. Semuanya bisa diambil gratis oleh warga secukupnya. Gerakan ini muncul di Wirosari, Grobogan. Lokasinya tak jauh dari Bledug Kuwu.
Meski kawasan mereka tak jauh dari objek wisata, tak sedikit warganya yang masih hidup marginal. Hal ini membuat seorang pemilik toko di daerah itu tergerak. Pertemuannya via media sosial dengan Joli Jolan membuatnya membulatkan tekad untuk ikut membuat wadah saling bantu.
Cik Susy, nama pemilik toko itu, kemudian berkontak dengan salah satu sukarelawan kami untuk merealisasikan gerakan serupa di daerahnya. Kami salut karena tak butuh waktu lama Cik Susy dkk. untuk mengeksekusi niatnya.
Beberapa kardus berisi pakaian pun kami kirim dari Solo sebagai “modal” kegiatan. Lalu bagaimana dengan sepatu, sandal hingga tepung yang ada di sana? Ya, itu semua dari donasi warga sekitar. Keren ya? Mereka dengan berkesadaran saling bantu untuk menguatkan kehidupan sesama warga.
Pada 7 Desember 2024 nanti, kawan-kawan di Grobogan akan kembali berkegiatan. Kami berdoa semoga gerakan di Grobogan dapat rutin berjalan, setidaknya sebulan sekali seperti yang telah diinisiasi warga Banyudono, Boyolali, dan Jaten, Karanganyar. Bagi kawan yang berdomisili di Grobogan dan sekitarnya, ini kesempatan untuk berkolaborasi.
Cik Susy dkk. bilang yang hendak berdonasi bisa diantar ke tokonya di Toko Mulia Wirosari. Donasi apa pun wajib dalam kondisi baik ya! Saat ini mereka juga membutuhkan sukarelawan agar kegiatan saling bantu dapat berkelanjutan. Jika ada yang membutuhkan kontak Cik Susy, silakan kontak kami. Panjang umur solidaritas!
by Nurdiyansah Dalidjo, Project Multatuli November 21, 2024
Merenungkan tentang “merawat” (to care) membuat saya berpikir. Merawat sesungguhnya adalah keniscayaan untuk menghubungkannya pada keberlangsungan hidup. Dan bicara soal itu, saya dan mungkin banyak dari kita terlintas pada kenangan masa kecil.
Saya teringat ibu saya dan menyadari bahwa saya adalah anak yang dibesarkan secara kolektif. Maksudnya, bukan eksklusif hanya oleh orang tua, melainkan komunitas tempat saya pernah tinggal.
Ibu saya perempuan berpendidikan dan berkarier. Ia guru. Ia selalu bangun tidur paling pertama setiap hari. Ia menyiapkan sarapan dan membenahi rumah sebelum pergi kerja di luar rumah. Terkadang, saya ikut dibawanya mengajar di kelas, tapi biasanya saya lebih sering dititipkan ke tetangga.
Pepatah “it takes a village to raise a child” benar-benar nyata kami alami. Sebab, mana mungkin ibu saya mampu membayar pengasuh dengan gaji guru pegawai negeri di bawah upah minimum? Dan para tetangga kami, khususnya ibu-ibu, menawarkan diri agar saya dititipkan saja pada mereka yang sudah punya anak-anak remaja. Tentu mereka berpengalaman mengurus anak.
Maka, saya tumbuh menjadi anak yang berpindah-pindah dari satu tetangga ke tetangga lain. Di kesempatan berbeda, ibu saya membantu mereka saat ada hajatan. Kelak, ketika saya besar dan tidak tinggal di permukiman yang sama, ibu menasihati agar sesekali saya berkunjung ke rumah-rumah tetangga lama kami itu.
“Merawat silaturahmi,” kata ibu agar saya jangan lupa pada kepedulian dan kebaikan mereka. Dan, meski tak ada hubungan keluarga, persaudaraan kami terjalin panjang, bahkan hingga kini. Saya pun baru menyadari bahwa kerja perawatan itu penting, dibutuhkan, dan berdampak panjang.
Saya menulis kenangan kecil itu bukan bermaksud untuk meromantisasi bagaimana saya kecil dirawat ibu-ibu di perumahan tentara di era Orde Baru. Belakangan saya paham itulah bentuk kasih atau kepedulian kolektif (collective care). Dan, di masa kaum perempuan didomestikasi dengan ideologi ibuisme sebagai pendamping ayah dan pengayom keluarga, istri-istri prajurit rendahan punya caranya sendiri untuk tumbuh bersama, membangun solidaritas dan perlawanan dalam lingkup kecil.
Tetapi, sayangnya, harus saya akui, itu tak selalu kita hargai, bahkan tidak kita pahami kehadirannya.
Kerja perawatan (care work) kerap dilekatkan sebagai hal yang sudah semestinya atau dianggap remeh (taken for granted). Kita sering gagap atau gagal menyadari karena kita terbiasa melabeli kerja-kerja perawatan sebagai ranah domestik selayaknya prototipe keluarga. Terutama di kalangan keluarga yang secara tradisional heteronormatif, pekerjaan-pekerjaan itu dilakukan perempuan: nenek, ibu, kakak perempuan, pekerja rumah tangga (PRT), dan transpuan.
Pekerjaan perawatan adalah pekerjaan yang selama ini tidak berbayar (seperti pelekatan pada pekerjaan istri atau ibu rumah tangga atau peran menjadi ibu yang seolah sepatutnya mengurus anak dan rumah); atau berupah murah (seperti PRT atau buruh perempuan); atau tidak berupah sama sekali (seperti banyak dilakukan transpuan dan kawan-kawan queer lain kepada sesama komunitas queer yang diabaikan keluarga).
Di satu sisi, kita melihat kerja perawatan sebagai bentuk kebaikan dan kepedulian (kindness and caring) seperti mungkin banyak dari kita (ketika kecil) pernah merasakan diurus ibu dan punya keluarga sebagai tempat bernaung. Namun, di sisi lain, kita menyadari bahwa dalam kapitalisme (dan “pembangunan”), kerja-kerja perawatan itu bisa punya makna berbeda yang terhubung pada penindasan terhadap kelompok tertentu.
Pertama, aktivitas perawatan langsung, personal, dan relasional, seperti orang tua mengasuh bayinya atau pasangan merawat pasangannya yang sakit. Kedua, aktivitas perawatan tidak langsung seperti memasak, membersihkan, dan merapikan. Dari situ, kita dapat meneruskannya dengan melihat pemisahan kategori untuk pekerjaan perawatan tak berbayar (tanpa imbalan uang) dan pekerjaan perawatan yang berbayar (umumnya juga berupah murah) seperti guru dan perawat.
Selain itu, ada perawatan yang berbasis pada hubungan keluarga (maksudnya ikatan darah) dan bukan keluarga. Ibu rumah tangga dan PRT adalah bagian dari tenaga kerja perawatan yang mengaburkan kategori pekerjaan perawatan karena keduanya memberikan perawatan langsung dan tak langsung di ruang domestik. Tetapi, ibu rumah tangga tak berupah, sedangkan PRT berupah sangat rendah, bahkan belum diakui penuh sebagai pekerja. (Sampai sekarang, lebih dari 20 tahun, Rancangan Undang-Undang Perlindungan PRT masih mangkrak di DPR.)
Menurut ILO, mayoritas pekerja perawatan di seluruh dunia dilakukan oleh pengasuh tak berbayar; kebanyakan pekerjanya adalah perempuan dan anak perempuan dari kelompok dengan keterbatasan akses sosial, budaya, lingkungan, dan ekonomi.
Dalam kacamata lebih besar, kita sadar bahwa pekerja perawatan, untuk berbagai kategori, didominasi oleh perempuan yang bekerja di bawah kondisi memprihatinkan (tidak layak) dan mendapatkan upah atau penghargaan rendah.
Ironisnya, para pekerja perempuan itulah yang mendominasi perekonomian informal kita. Tidak sulit bagi kita melihat keterhubungan itu semua dengan ketimpangan gender dalam segala lini di dunia yang patriarki, cis-heteronormatif, dan binerisme.
Namun, kita menyadari bahwa dunia yang kita tinggali memang didesain untuk tidak mempedulikan kerja perawatan. Atau, setidaknya, mengondisikan kita enggan membuka mata dan telinga pada pentingnya merawat. Sebab, dengan begitulah kita sesungguhnya sedang dilemahkan.
Kita terbawa pada jargon “kemandirian” (independensi) yang memiliki tendensi pada keutamaan individualitas (kemampuan melakukan segala hal sendirian) sebagai corak utama dari kultur kapitalisme dan neoliberalisme, bukan pada makna kemandirian sebagai sesuatu yang terhubung pada kebebasan (lepas dari keterikatan atau berdiri di atas kaki sendiri) dalam konteks dekolonisasi dan dekolonialisasi. Pada kenyataannya, kita tidak pernah benar-benar bisa melakukan semua hal sendirian!
Coba bayangkan, apakah eksekutif urban atau pejabat perusahaan atau pemerintah selalu mencuci dan menyetrika baju sendiri? Siapa yang diberikan beban ganda untuk merawat anak dan rumah ketika lelaki berkeluarga punya karier cemerlang? Apakah mungkin keluarga (orang tua dan anak-anak) yang sukses di profesi dan pendidikan tetap dapat berfungsi secara optimal tanpa PRT?
Apakah tuan tanah dapat mempertahankan privilese dan kekayaannya tanpa buruh tani yang merawat tanah mereka? Apakah aksi demonstrasi mahasiswa dapat bertahan berhari-hari tanpa ada kelompok yang menyuplai makanan atau membuka dapur umum dan merawat yang terluka?
Kerja perawatan dibutuhkan dan kita tidak dapat berjalan sendiri tanpa orang-orang yang berkorban untuk mengambil peran dalam merawat. Sampai sini, saya ingin bilang bahwa pilihan terhadap siapa saja yang mengambil peran perawatan sebetulnya telah berani melawan dan menegaskan tindakan revolusioner.
Buku The Care Manifesto yang ditulis The Care Collective (Andreas Chatzidakis, Jamie Hakim, Jo Littler, Catherine Rottenberg, dan Lynne Segal) menyatakan bahwa “ketergantungan pada perawatan telah dianggap patologis, alih-alih diakui sebagai bagian dari kondisi manusiawi kita.”
Sehingga, dengan bertahan merawat kerja perawatan secara kolektif di mana pun dalam kehidupan kita, kita telah menormalisasi bahwa benar kita memiliki kebutuhan pada perawatan. Dan, dengan tetap membawa praktik keperawatan sebagai bagian dari gerakan sosial kita, adalah upaya mengakui dan merawat kesalingtergantungan (interdependensi) di antara sesama.
Dengan begitu, kita dapat lebih terfokus pada saling menjaga, peduli, dan bersolidaritas ketimbang mengorbankan kelompok tertentu (biasanya lagi-lagi perempuan atau kelompok minoritas lain) untuk mengalami kelelahan dan beban ganda dalam kerja perawatan yang tak diakui, tak dihargai, dan seringkali dianggap tak penting.
Pada banyak situasi, pengabaian itu menjelma pada pembiaran terhadap kerja (dan pekerja) perawatan pada kondisi kerja yang tidak menguntungkan serta kelelahan fisik dan mental (burnout) tanpa dukungan apa-apa.
Refleksi dari Gerakan Perempuan dan Minoritas
Gerakan sosial secara umum sepatutnya terus melihat kerja-kerja perawatan sebagai pondasi gerakan. Saya meyakini gerakan sosial yang solid, efektif, dan berumur panjang mensyaratkan dukungan yang nyata dan kuat dalam membangun kerja perawatan, terutama perawatan kolektif.
Berbeda dengan self-care yang meningkatkan kualitas kehidupan kita sebagai individu, perawatan kolektif mendesak kita untuk membangun keterhubungan: melihat kerja perawatan sebagai perihal yang diupayakan sekaligus tanggung jawab bersama komunitas/organisasi/gerakan, termasuk kesehatan mental.
Tentu saja, ia bukan perkara mudah, meski jangan kita katakan sebagai sesuatu yang terlampau sulit dan tak mungkin. Sebab, dengan begitu, kita berbagi beban dan tanggung jawab untuk merasa tidak sendirian (teralienasi) di suatu ruang. Dan, kita tak lagi punya alasan untuk meremehkan apalagi mendudukkan perawatan bakal datang dengan sendirinya.
Kerja perawatan perlu dibangun dan dirawat. Dalam aktivisme, upaya itu adalah politis karena berkontribusi pada kelangsungan napas kerja gerakan. Jadi, ketika kita mengupayakan membangun gerakan sosial yang solid, efektif, dan berumur panjang, kita perlu merefleksikan diri bersama dan kritis bertanya: bagaimana orang-orang di dalam organisasi/gerakan hendak mengakui, menghargai, dan memberikan dukungan pada kerja perawatan maupun yang merawat?
Perhatian pada perawatan itu bukan sesuatu yang mengada-ada atau utopis. Sejarah gerakan sosial kita, khususnya gerakan sosial berbasis identitas minoritas dan seringkali secara kuantitas relatif kecil, kaya akan pengalaman kerja-kerja perawatan. Meski kecil, bukan berarti tak penting atau tak bermakna.
Kartini, pemikir dan tokoh Jawa yang kemudian berpredikat Pahlawan Nasional Indonesia, sebetulnya telah menyadarkan kita pada pentingnya kerja perawatan sebagai sesuatu yang politis dan perjuangan revolusioner yang nyata di era kolonialisme. Ia tidak hanya menulis esai dalam bentuk surat, tapi juga membangun sekolah untuk mendidik anak-anak dan orang dewasa agar melek huruf. Ia bahkan menjadi guru untuk itu.
Kelak, ketika Indonesia merdeka, Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani) turut melanjutkan salah satu warisan Kartini itu lewat program pemberantasan buta huruf dan pembangunan Taman Kanak-kanak Melati. Para anggota organisasi perempuan yang berdiri tahun 1950 itu pergi ke desa-desa dalam memberikan pelayanan mengajar baca tulis.
Begitu juga gerakan LGBTIQ+ yang dimulai komunitas transpuan pada akhir 1960-an dan berkembang pada dekade selanjutnya. Perjuangan yang diawali oleh organisasi-organisasi pelopor transpuan, seperti Jajasan Wadam DCI-Djaja (JWD), Himpunan Wadam Djakarta (Hiwad), dan Persatuan Waria Kota Surabaya (Perwakos), membangun wadah yang bercorak keanggotaan dan keutamaan merawat komunitas yang mengalami stigma, diskriminasi, dan kekerasan, termasuk oleh aparat.
Secara umum, komunitas LGBTIQ+ yang “terbuang” dari tatanan keluarga dan tak sedikit yang hidup di jalanan, membangun kerja berbasis perawatan dengan memaknai ulang arti/fungsi “keluarga” sebagai unit sosial yang menyediakan kerja perawatan langsung, personal, dan relasional. Namun, merawat itu dilandaskan pada ketertindasan dan solidaritas identitas queer, bukan hubungan darah (sebagian mengistilahkannya dengan pembangunan chosen family).
Pun ketika krisis AIDS melanda. Pengabaian dan peminggiran orang-orang queer (terutama transpuan dan gay) dalam sistem pelayanan kesehatan, akhirnya mengorbankan komunitas queer dalam epidemi HIV/AIDS pada 1980-an dan 1990-an. Kerja-kerja perawatan dilakukan lewat pengadaan layanan konsultasi hotline, tempat tinggal, pendampingan dan perawatan orang dengan HIV positif (ODHIV), serta kampanye dan advokasi yang mendesak inklusivitas perawatan, khususnya kesehatan medis.
Kita juga bisa belajar dari salah satu benih pokok dalam gerakan Reformasi 1998.
Suara Ibu Peduli, sebuah gerakan politik yang sebagian besar dimotori kelompok aktivis perempuan, menjadikan momentum kelangkaan dan mahalnya harga susu sebagai usaha subversif untuk menjatuhkan rezim Orde Baru. Puncaknya, kita bersama-sama berhasil menyelenggarakan demonstrasi di Bundaran HI pada 23 Februari 1998. Aksi ini, dalam ungkapan Gadis Arivia di makalahnya pada peringatan sembilan tahun Reformasi dengan judul “Politik Representasi Suara Ibu Peduli, sebagai “aksi feminis”.
Dan, kerja-kerja perawatan itu, yang seringkali luput dalam narasi seputar demonstrasi besar mahasiswa ‘98 yang berujung pada pemunduran diri Sang Diktator, adalah dukungan berupa dapur umum dan “nasi bungkus Reformasi” bagi para demonstran yang dipelopori kaum ibu atas dasar kepedulian untuk merawat.
Dalam gerakan sosial, kerja-kerja perawatan memang jarang menghasilkan potret favorit yang heroik, semacam lelaki muda maskulin yang berteriak merdeka sambil angkat senjata di medan perang atau mahasiswa yang merobohkan pagar simbol tirani. Pada situasi tertentu, kita memang perlu aksi anarki atau radikal.
Tetapi, bukan berarti itu mengabaikan peran penting dari orang-orang yang merawat dan kerap dilekatkan pada aspek feminin yang dianggap subordinat. Membuka dapur umum, menyediakan layanan pertolongan pertama (paramedis), mendampingi yang ditangkap, dan mengobati yang terluka secara fisik dan mental, dapat dilakukan oleh siapa pun.
Pembelajaran tentang community care dari gerakan perempuan dan gerakan LGBTIQ+ menegaskan konteks dan wujud nyata dari interdependensi dalam hal perawatan. Ia jelas tak mungkin dipisahkan dari makna solidaritas dan cita-cita perubahan sosial yang lebih baik.
Tentu saja, hal sama sudah dilakukan dalam gerakan nelayan, tani, miskin kota, masyarakat adat, disabilitas, PRT, dan kelompok minoritas lain. Kita juga sudah belajar dari bagaimana kita melewati pandemi COVID-19, yang minim kehadiran perlindungan negara, secara sadar kita didesak pada pilihan untuk harus saling rawat (dirawat dan merawat) agar bisa bertahan hidup dalam krisis. Pengalaman itu telah kita praktikkan dan lalui bersama!
Membersihkan Piring Kotor
Sementara di sektor pembangunan, yang dekat dengan gerakan sosial maupun aktivisme, kerja-kerja perawatan kerap luput atau seringkali dianggap tidak perlu didukung.
Secara spesifik, pada konteks kemitraan dengan lembaga donor, dukungan anggaran atau hibah (grant) dibatasi pada usulan proyek soal advokasi kebijakan, kampanye, pemberdayaan, publikasi, dan lain-lain dalam kategori “aktivitas”. Ia menyisakan biaya-biaya atas dukungan kantor (overhead) yang tak lebih dari 10-30 persen, bahkan sama sekali tak ada jika itu bukan core funding (dukungan finansial yang menutupi biaya dasar inti organisasi).
Di sini, ranah domestik organisasi diposisikan seakan minor padahal ia tulang punggung bagi kelangsungan kesejahteraan (welfare and well-being) staf dan kerja organisasi di ranah publik. Ini termasuk urusan penggajian dan fasilitas lain yang dibutuhkan untuk merawat organisasi dan orang-orang di dalamnya.
Kerja perawatan pun seringkali dilihat sebagai bagian dari “service delivery” sehingga dinilai tidak perlu mendapatkan dukungan. Padahal, kerja-kerja merawat tata kelola proyek pembangunan memicu dampak kesehatan mental pekerja.
Praktiknya, ada kebutuhan konseling, misalnya, tapi tidak selalu bisa dipenuhi oleh organisasi. Karena ketergantungan organisasi pada lembaga donor, yang mengabaikan kerja perawatan, maka organisasi itu sangat terbatas atau bahkan tidak punya sumber daya dalam mendukung perawatan kolektif.
Dengan demikian, ketiadaan dukungan pada perawatan dianggap normal. Ia menjadi risiko ditanggung sendiri. Jika bukan karena alasan independensi individu untuk mengurus diri sendiri, ada dalih bahwa ya begitulah kerja gerakan sebagai labor of love.
Padahal, sesungguhnya, lewat merawat itulah cinta dan kasih dapat tumbuh dengan subur, sehingga membuat orang-orang dan organisasi/gerakan bisa saling membutuhkan sekaligus berkembang beriringan.
Kenyataannya, kita sadar bahwa tak ada pesta (untuk menyebutnya sebagai aksi massa besar atau keberhasilan proyek pembangunan) yang tidak meninggalkan piring kotor. Dan pernahkah kita termenung bagaimana atau siapa yang membersihkan dan merapikan piring kotor?
Membangun Ekosistem Perawatan
Sampai sini saya ingin menegaskan kembali bahwa orang-orang yang telah mengambil peran merawat adalah orang-orang yang sesungguhnya aktif melawan dan bertindak revolusioner.
Itu bukan sekadar karena merawat tidak mudah, melainkan dengan merawat kita telah melakukan lompatan besar untuk mendobrak banyak hal.
Maka dari itu, ruang domestik sama berharganya dengan ruang publik; bahwa kita sadar perempuan dan kelompok minoritas punya lapis ketertindasan dari kerja perawatan yang dilakukan dan diabaikan oleh banyak pihak atau sistem (negara); bahwa merawat dapat menempatkan kita untuk tidak tercatat dalam sejarah; bahwa merawat menaruh kemanusiaan sebagai keutamaan (human being as a center); bahwa merawat membuat cinta kasih dan empati menjadi terbuka dan mudah diakses (to make love more accessible); bahwa merawat menjaga keberlanjutan yang melampaui berbagai tantangan.
Kita perlu melihat perawatan sebagai perspektif, pendekatan, dan infrastruktur yang melengkapi kelangsungan daya hidup. Perawatan harus menjadi hal universal di berbagai ranah dan diarusutamakan sebagai perihal pokok untuk dibangun dan dirawat sebagai serangkaian elemen dan jejaring yang saling dibutuhkan (interdependen), terkait, dan beraturan (dalam komunitas/organisasi/gerakan).
Ujungnya, ia membentuk dan menyediakan satu kesatuan utuh dalam merawat secara bersama. Dalam konteks ini, kita dapat menyebutnya ekosistem perawatan (ecosystem of care) yang mencakup ragam sektor dan dimensi, mulai dari fisik, mental, intelektual, sosial, spiritual, hingga emosional.
Kata kunci interdependensi, keterhubungan, dan keteraturan mensyaratkan kita untuk menjalin relasi. Sehingga terbangun kebutuhan, kesepahaman, dan keterlibatan dalam proses identifikasi dan respons terhadapnya. Misalnya, apa sistem yang sudah ada dan perlu dibangun, siapa yang membutuhkan apa, siapa yang bisa melakukan apa (termasuk menyadari yang terabaikan/marginal).
Dan, situasi yang menantang adalah memaknai dan mengkontekstualisasikan care dalam komunitas/organisasi/gerakan. Kita menyadari bahwa kesadaran pada nilai dan perilaku terhadap perawatan muncul dari bagaimana kita memahami komunitas/organisasi/gerakan lewat “bahasa” atau cara kita mengenalinya sebagai ruang, perasaan, dan koneksi. Di sana, kita berkumpul, bergembira, berbincang, dan berpartisipasi (berkolaborasi) secara bermakna dan bersama-sama.
Sebuah ekosistem perawatan mungkin tampak dari luar sebagai hutan tak berpenghuni. Pohon-pohon besar menjulang tinggi dan berakar kokoh, menaungi beragam tanaman kecil dan satwa. Tanah-tanah subur dilapisi dedaunan kering yang mengembalikan nutrisi. Ada sungai jernih mengalir sepanjang tahun. Tapi, di sanalah masyarakat adat hidup bersama hutan adatnya. Mereka membangun relasi saling membutuhkan dan menguntungkan.
Hutan menyediakan makanan dan segala kebutuhan, begitu pun masyarakat adat menjaga dan merawatnya dari pengrusakan dan eksploitasi.
Ecosystem of care, seperti halnya hutan, bukan ruang hampa dan tak berpenghuni. Kelestariannya, seperti juga keberlangsungan komunitas/organisasi/gerakan, ditentukan oleh makhluk hidup yang ada di dalamnya untuk aktif berpartisipasi saling menjaga interdependensi, keterhubungan, dan keteraturan untuk merawat bersama dan menjadikannya sebagai praktik keseharian.
Apa yang sudah dilakukan para aktivis perempuan dengan Sekolah Pemikiran Perempuan (SPP), misalnya, secara kolektif merawat eksistensi dan pengembangan warisan intelektualitas perempuan di masa lalu dan menumbuhkembangkannya. Ada juga Queer Indonesia Archive (QIA) yang merawat arsip sejarah dan tokoh-tokoh penting gerakan LGBTIQ+ di Indonesia yang dilakukan oleh komunitas queer. Begitu pun gerakan masyarakat adat yang menjadikan kolektivitas merawat sesama komunitas dan wilayah adat sambil memperjuangkan hak kolektif.
Sementara dalam gerakan jurnalisme publik, Project Multatuli–tempat saya bekerja sebagai katakanlah yang membersihkan piring kotor—terus mencoba merawat kerja-kerja jurnalistik sebagai pilar demokrasi dan melayani suara-suara yang dipinggirkan bersama publik untuk keberlanjutannya melalui program membershipKawan M.
Selain itu, kita tahu ada banyak bentuk gerakan, kolektif, atau organisasi non-profit yang memilih kerja-kerja perawatan dalam beragam wujud sebagai fokus kerja, mulai dari rumah singgah, pendampingan korban kekerasan seksual, layanan konseling, penitipan anak (daycare), hingga media mungil dan independen berkepentingan publik.
Pada akhirnya dan harapan saya, kerja perawatan dapat melatih kita membangun kesadaran atas penindasan secara nyata dari dalam diri dan lingkungan sekitar. Juga memupuk kepedulian, empati, dan ruang untuk kita bergerak bersama yang semoga bisa bernapas panjang. Kita harus mengakui, menghargai, dan berpartisipasi pada kerja perawatan itu sendiri.
Terima kasih untuk terus merawat!
Artikel ini pertama terbit di Project Multatuli dan direpublikasi di sini menggunakan lisensi Creative Commons.
Hari Habitat Sedunia (World Habitat Day) diperingati setiap Hari Senin pertama di bulan Oktober yang diakui oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa atau yang disingkat PBB. Peringatan ini merefleksikan kondisi kota-kota besar dan kecil, serta hak dasar setiap orang untuk mendapatkan tempat tinggal yang layak termasuk layanan sanitasi. Tema Hari Habitat Sedunia tahun 2024 adalah melibatkan kaum muda untuk menciptakan masa depan perkotaan yang lebih baik.
USAID IUWASH Tangguh mengadakan pre-event Hari Habitat Sedunia pada Hari Selasa, 8 Oktober 2024 dengan mengajak jurnalis, komunitas, Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) dan influencer dari Soloraya dan Kota Salatiga untuk mengunjungi Instalasi Pengelolaan Lumpur Tinja (IPLT) Ngronggo di Kota Salatiga.
Joli Jolan sebagai komunitas yang bergerak dalam bidang sosial dan lingkungan diundang berpartisipasi dalam pra-event Hari Habitat Sedunia oleh USAID IUWASH Tangguh.
Dalam pra-event tersebut, kami diajak untuk berdiskusi tentang pengelolaan lumpur tinja bersama Kepala Dinas PUPR Kota Salatiga, Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Dinas PUPR sebagai pengelola IPLT, beserta komunitas sanitasi aman Salatiga. Saat kunjungan lapangan, kami juga diajak untuk melihat langsung bagaimana proses pengolahan lumpur tinja di IPLT Ngronggo.
Peserta mendapatkan penjelasan yang komprehensif mengenai sanitasi aman, termasuk bahaya kebocoran septic tank terhadap lingkungan. Septic tank adalah tempat penampungan tinja di rumah. Septic tank yang bocor bisa mencemari sumber air warga seperti sumur. Hal ini membuat sumur terkontaminasi bakteri e-coli yang berbahaya bagi kesehatan.
Kunjungan lapangan di kawasan IPLT Ngronggo diawali dengan menyaksikan proses pengolahan lumpur tinja yang dimulai sejak diturunkannya lumpur tinja dari truk pengangkut lumpur tinja ke dalam kolam penampungan.
Truk pengangkut lumpur tinja ini bekerja dalam program Layanan Lumpur Tinja Terjadwal (L2T2) yang menyedot tinja dari septic tank warga untuk diproses di IPLT. Lalu, lumpur tinja dialirkan ke bak penampungan untuk dipisahkan antara air dan padatan.
Proses pemisahan antara air dan padatan dilakukan dengan cara konvensional, yaitu menggunakan metode drying bed. Cairan lumpur tinja dialirkan dengan memanfaatkan gaya gravitasi melalui media yang dapat menyerap cairan atau gas dalam bak penampungan.
Hasil dari proses pemisahan itu adalah air yang dimurnikan dan padatan yang diolah menjadi pupuk yang siap digunakan untuk tanaman hias ataupun tanaman keras. Sedangkan air yang sudah dimurnikan dialirkan ke badan-badan air atau sungai terdekat sehingga tidak mencemari tanah dan sungai.
Pengelolaan lumpur tinja ini bisa dijadikan ladang bisnis komersial karena hasil dari olahan padatan lumpur tinja dapat dimanfaatkan sebagai pupuk, di samping bisnis L2T2 atau yang jamak disebut sedot tinja. L2T2 juga turut berkontribusi terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Salatiga.
Sayangnya, layanan ini belum dimanfaatkan secara maksimal oleh masyarakat. Padahal, ini penting untuk meningkatkan kesehatan keluarga dan masyarakat di sekitarnya. Sedot tinja juga sebaiknya tidak dilakukan hanya saat wc mampat, tetapi harus secara berkala 3-5 tahun sekali. Jadi, sudahkan kamu mendaftar L2T2 di kotamu?
A short summary oleh Maheswari Damai Relawan Ruang Solidaritas Joli Jolan Solo, 3 Oktober 2024
Halo kawan-kawan! Bakal ada yang beda nih di galeri Joli Jolan akhir pekan ini. Kami berkolaborasi dengan dokter Briandani Subariyanti untuk menggelar cek kesehatan dan konsultasi, gratis! Para pengunjung Joli Jolan dapat mengakses layanan sesuai waktu buka galeri yakni Sabtu, 12 Oktober 2024, pukul 10.00-13.00 WIB.
Kawan hanya cukup membawa KTP untuk cek kesehatan. Pemeriksaan bakal digelar di klinik dokter Briandani yang lokasinya masih sekompleks dengan Joli Jolan. Acara ini juga dalam rangka menyambut pembukaan klinik dokter Briandani. Yuk, jangan sampai kelewatan layanan kesehatan gratis ini ya!
Akhir pekan ini Joli Jolan akan ikut berpartisipasi di Festival Literasi Seni Solo, TILIKAN FEST. Acara ini akan digelar selama tiga hari, Jumat-Minggu (20-22/9/2024) di Lokananta Bloc. Ada banyak pertunjukan, diskusi, workshop, dan komunitas-komunitas keren yang bisa kawan temukan di acara ini.
Joli Jolan sendiri bakal berpartisipasi di kegiatan Koleb Konek, wadah yang mempertemukan komunitas independen di Solo dan sekitarnya. Masuk di skena distribusi, Joli Jolan akan membawa beberapa barang yang bisa diakses secara gratis ataupun barter seperti pakaian, bahan bacaan, tas, sepatu, dan aksesoris lain.
Selain itu, kami akan membawa sejumlah merch seperti kaus, pouch stiker, bordir yang bisa kawan beli untuk mendukung gerakan Joli Jolan. Di Tilikan Fest, Joli Jolan juga bakal memperkenalkan produk upcycle terbaru. Belum lama ini, kami bekerja sama dengan sebuah usaha mikro untuk mengolah donasi pakaian tak layak menjadi produk keset.
Jadi jangan sampai terlewatkan acaranya ya! Sila mampir dan memanfaatkan ruang distribusi kami, atau sekadar diskusi untuk membuka peluang-peluang kolaborasi di masa depan. Untuk galeri Kerten, Sabtu pekan ini kami izin tutup dulu. Layanan di Kerten akan kembali seperti biasa mulai Sabtu, 28 September 2024.
Halo kawan-kawan! Ada kabar baik nih buat kalian yang berdomisili di Karanganyar dan sekitarnya. Mulai akhir pekan ini, gerakan barter dan berbagi pakaian/barang gratis bakal hadir di Jaten. Tepatnya di Jalan Josroyo Timur Nomor 26-28 RT 1 RW 14 Jaten (belakang Kantor Kecamatan Jaten).
Gerakan ini diinisiasi oleh seorang guru SMA Ursulin yang terinspirasi dengan @joli_jolan. Rencananya, kegiatan di Jaten akan buka sebulan sekali. Galeri di Jaten akan dibuka perdana besok Minggu, 25 Agustus 2024 pukul 09.00-12.00 WIB.
Untuk Joliers yang berdomisili di Jaten dan sekitarnya, silakan merapat ya! Untuk sementara galeri di Jaten hanya melayani kegiatan berbagi pakaian/barang gratis. Bagi yang hendak berdonasi bisa melalui @joli_jolan maupun drop box yang disediakan (dengan menghubungi CP terlebih dulu).
Kalian juga bisa berkontribusi menjadi sukarelawan lho di galeri Jaten. Jika berminat, sila langsung mampir hari Minggu. Panjang umur solidaritas!
Kebahagian itu kadang sangat sederhana, sekedar bertemu dan ngobrol sembari minum atau makan dengan sahabat kita. Seperti pertemuan hari ini (3/7), pertemuan saya bersama Robby Tulus (84) dan Daisy Taniredja (88). Saya jemput Robby yang menginap di hotel di daerah Jakarta Pusat dan kami berdua naik kereta komuter ke rumah Daisy di Depok, Jawa Barat.
Robby, tokoh koperasi yang dikenal secara luas di kalangan gerakan koperasi nasional dan internasional ini memang sudah tinggal dan menjadi warga negara Canada dan sedang ke Indonesia dalam rangka memberikan nasihat pengembangan koperasi. Robby adalah guru koperasi saya. Persahabatan kami sudah terjalin lama sejak tahun 2000. Saya mengenal Daisy juga melalui Robby.
Sementara itu, Daisy adalah salah satu perintis awal koran KOMPAS bersama PK Ojong dan Jacoeb Oetama yang berkantor di daerah Harmoni, Jakarta Pusat. Salah satu peninggalanya untuk usaha media adalah model iklan koran kecik atau iklan baris yang memungkinkan orang orang kecil beriklan di koran.
Soal koperasi, memang tidak banyak yang mengetahui peranan Daisy. Orang ini memang tidak banyak bicara tapi banyak mendukung di belakang secara kongkrit usaha pengembangan koperasi.
Daisy dari sejak muda, begitu pulang kantor dari KOMPAS, dia membantu Robby secara volounter mengembangkan Koperasi Kredit (Credit Union) melalui CUCO (Credit Union Conseling Office) yang kantornya kebetulan tidak terlalu jauh dari KOMPAS. CUCO (Credit Union Conseling Office) atau Badan Koordinasi Koperasi Kredit Indonesia (BK3I) ini dirintis tahun 1970 an oleh Pater Abrecht Kariem Arbie, SJ.
Pater Albrecht memimpin CUCO hanya selama satu tahun, lalu kepemimpinan CUCO diserahkan kepada Robby. Daisy secara partimer mendukungnya. Saat ini gerakan ini telah menghasilkan 900 an koperasi kredit (Credit Union) di tingkat primer dengan anggota 4,6 juta anggota individu dengan asset mandiri hingga 47 trilyun rupiah.
Sebagaimana diketahui, Pater Albrecht, perintis CUCO ini meninggal tertembak pada saat pergolakkan terjadi Dili, Timor Leste tahun 1999 dan dimakamkan di sana. Untuk mengenang banyak jasa-jasanya dan juga karya sosial Pater Albrecht, Daisy bersama beberapa imam dari Ordo Jesuit dan awam dirikan Yayasan Albrecht Kariem Arbie (YAKA).
Melalui sponsorship YAKA, Robby sebagai penasehat YAKA pada tahun 2010 mengembangkan program kaderisasi kepemimpinan. Tujuanya adalah membentuk jaringan kader yang berkarakter kuat dan juga berkomitmen dalam pengembangan lembaga sosial ekonomi masyarakat. Program tersebut dinamakan Kaderisasi Kolega Sosial Ekonomi Strategis Indonesia (K3SI). Dengan dukungan penuh Daisy, Robby berhasil selenggarakan program kaderisasi awal hingga 8 volume di 5 propinsi di Jawa, Sumatra, NTT, Kalbar, hingga Ambon. Kebetulan saya adalah bagian dari kader pertama.
Dari kegiatan kaderisasi ini lahir dua organisasi penting Asosiasi Kader Sosio-Ekonomi Strategis (AKSES), sebuah lembaga think tank sosial ekonomi dan Induk Koperasi Usaha Rakyat (INKUR) yang merupakan federasi nasional dari koperasi sektor riil (KSR) dimana saya saat ini terlibat aktif sebagai ketua AKSES sekaligus CEO INKUR.
AKSES saat ini telah memiliki 376 orang kader aktif yang tersebar di tanah air. INKUR sendiri sudah memiliki 22 koperasi primer yang bergerak di bidang koperasi konsumsi, Agrobisnis, Eco Tourism, jasa perhotelan dan lain lain.
Daisy memang bertangan dingin, melalui dukunganya, mimpi-mimpi sederhana menjadi mudah terwujud. Dia dalam banyak sesi kaderisasi awal juga masih sering ikut. Bahkan sampai di pelosok Tobelo, Maluku Utara.
Daisy pribadi yang sederhana, kalau diminta pidato kalimatnya sangat singkat tapi mendasar. Seperti misalnya pesan yang disampaikan kepada kader AKSES, “kepemimpinan berkarakter itu muncul karena memegang nilai-nilai penting yang diyakini dan dipertahankan. Ini sangat penting, misalnya kejujuran dan keberanian. Dengan kejujuran dan keberanian orang mungkin banyak yang tidak suka, tapi hal tersebut akan datangkan banyak manfaat”.
Dia juga pernah bercerita, ketika dia memimpin usaha periklanan di KOMPAS, dia dengan berani menolak iklan dari keluarga para petinggi pemerintah yang datang memaksa agar iklanya diberikan prioritas segera terbit dan bahkan sampai dengan menancapkan belati di mejanya, tapi dia tetap memegang prinsip tetap harus antri.
Daisy yang sudah tidak bisa pergi terlalu jauh karena fisiknya yang mulai melemah itu terlihat masih sangat jernih pemikiranya. Dia senang mendengarkan cerita tentang perkembangan Koperasi dan itu terlihat dari senyumnya yang sumringah. Tak lupa dia juga menanyakan tokoh tokoh CU seperti Pak Sitanggang, Pak Florus dan lain lain.
Pertemuan kami selain temu kangen, sesungguhnya Daisy sedang mengajak kami untuk selenggarakan kegiatan sederhana untuk memperingati 25 tahun hari meninggalnya dua orang Imam Jesuit penting yang meninggal di Timor Leste ketika masa pergolakkan politik, yaitu alm. Pater Albrecht Kariem Arbie, SJ pendiri Credit Union Indonesia dan Pater Tarcisius Dewanto, SJ.
Semoga kesehatan dan kebahagiaan selalu melekat untuk Daisy. Trimakasih atas dedikasi dan ajaran kesederhanaanmu.
Suroto, Ketua Asosiasi Kader Sosio-Ekonomi Strategis (AKSES)
Masalah sampah menjadi isu serius yang sudah seharusnya membutuhkan perhatian kita semua. Pentingnya memberikan edukasi yang benar untuk meminimalisir berkembangnya sampah yang semakin tidak terkendali.
Koordinator Pusat Korps PII Wati mempersembahkan sebuah webinar dengan judul “Perempuan Perempuan Bijak Konsumsi, Menjaga Bumi Menjaga Masa Depan”
Dengan pemateri yang super kece, yakni : 🗣️ Narasumber : Sukma Larastiti 📌 Relawan Komunitas Jolijolan 📍 Domisili Jerman 👤 Moderator: Shafiyah Lu’luah Nadirah 🔗 Kadiv. KPKP Korpus Korps PII Wati
Penasaran? Catat nih jadwalnya, insyaaAllah kita akan agendakan pada :
Hari : Sabtu, 13 Juli 2024 Waktu : 19.30 WIB Platform : Google Meet Link : https://meet.google.com/oaq-pdiu-ewm