Categories
Gagasan

Memanfaatkan Internet sebagai Sarana Berbagi

Internet, terutama media sosial, sering dianggap sebagai penyebab menurunnya produktifitas umat manusia dewasa ini. Bukan pendapat yang keliru apabila mengaitkan internet dan media sosial sebagai penyebab distraksi yang sering menyabotase penggunanya dalam bekerja. Namun, perlu dipahami bahwa internet dan media sosial hanyalah sebuah alat. Penggunalah yang pada dasarnya memiliki kendali untuk mengelola internet yang mereka gunakan. Penggunalah yang berperan dalam memutuskan bagaimana mereka menggunakan internet dan media sosial, termasuk bagaimana memanajemen distraksi dalam kehidupan mereka. Layaknya pisau dapur yang dapat digunakan untuk mengiris sayuran ataupun melukai.

Kita tidak bisa menutup mata bahwa internet, termasuk media sosial yang ada di dalamnya, memiliki banyak sekali manfaat yang bakal tidak habis kita hitung satu per satu. Adanya tulisan ini pun merupakan salah satu dari manfaat yang bisa didapatkan dari internet. Tanpa bantuan internet siapa yang menjamin bakal ada yang menulis dan membaca tulisan ini? Bahkan secara sosial pun, internet telah memberikan dampak signifikan dalam menunjang kehidupan kita sehari-hari. Mulai dari komunikasi, akses informasi, pertukaran pengetahuan, dan membangun kesadaran sosial. Internet menjadikan hal-hal tersebut jauh terasa lebih mudah, efisien, dan cepat.

Internet Mendukung Penyebaran Informasi

Joli Jolan menyadari bahwa aksi kecil Joli Jolan tidak hanya dimulai dari semangat relawan dalam membantu dan menyebarkan informasi Joli Jolan dari mulut ke mulut. Namun, ada juga peran internet, baik melalui liputan berita online maupun media sosial, dalam menyebarkan informasi Joli Jolan ke audience yang lebih luas. Joli Jolan pada akhirnya tidak sekadar dikenal oleh masyarakat Kota Solo saja, tetapi sampai ke kota-kota lain yang tersebar di seluruh Indonesia. Joli Jolan tumbuh sebagai komunitas lokal yang kegiatan-kegiatannya dapat diintip langsung oleh siapa saja melalui media sosial.

Contoh lain dari peran internet adalah banyaknya situs-situs penggalangan dana yang bersliweran di beranda iklan media sosial kita. Penggalangan dana tersebut berhasil menjangkau berbagai penjuru negeri dengan cara yang relatif mudah dan cepat. Pastinya sudah banyak pihak yang terbantukan dengan kehadiran platform penggalangan dana semacam itu.

Inilah peran internet dan media sosial yang berdampak signifikan dalam menebar inspirasi dan kebaikan. Internet dan media sosial tidak hanya berakhir sebagai alat untuk menghabiskan waktu tanpa tujuan yang bermanfaat. Lebih dari itu, internet dan media sosial mampu dimanfaatkan sebagai sarana berkomunikasi, bersilaturahmi, berbagi informasi dan ilmu, serta menyebarkan gagasan dan semangat yang positif.

Pada akhirnya penggunalah yang memutuskan akan dibawa ke mana internet atau media sosial yang mereka gunakan. Apakah akan digunakan untuk mencari hiburan atau mencari ilmu? Mencari keduanya? Atau malah mencari hal-hal yang kurang bermanfaat? Apa pun keputusan yang mereka ambil, keputusan-keputusan itulah yang nantinya akan menentukan seberapa efektif waktu yang telah mereka habiskan. Inilah nanti yang pada akhirnya menentukan kualitas kehidupan mereka.

Categories
Komunitas

Jalan-jalan Solo: Trotoar Masa Lalu, Masa Kini, dan Masa Depan

Tren penggunaan angkutan umum yang didukung Program Teman Bus sukses membuka 13 koridor di Kota Solo. Meski demikian, hal ini perlu diimbangi ketersediaan halte, ruang jalan yang berkeselamatan hingga trotoar yang memadai.

Sayangnya pembangunan trotoar selama ini kerap terpinggirkan. Kebijakan transportasi di Tanah Air yang berfokus pada kendaraan bermotor membuat trotoar dibuat ala kadarnya, asal ada. Trotoar didesain dengan lebar yang minim dan tanpa peneduh. Lebih sial lagi, tak sedikit trotoar yang jadi ruang parkir atau tempat mangkal PKL.

Namun wajah apik trotoar Kota Solo masih dapat dilihat di sejumlah lokasi yang selesai direvitalisasi seperti Jl. Slamet Riyadi (sisi selatan), Jl. Kyai Mojo, Jl. Juanda, Jl. Gatot Subroto, dan Jl. Sudirman. Di luar itu, masih banyak trotoar yang belum terjamah pembangunan. Kondisinya gelap pada malam hari, rusak, dan terputus oleh perubahan tata ruang.

Padahal di zaman dulu Solo sempat memiliki jalur yang mengintegrasikan banyak moda transportasi seperti bus, delman, pesepeda hingga kereta api dengan trotoar ideal untuk pejalan kaki. Perkembangan trotoar di Kota Solo bakal dikupas dengan fun dalam Jalan-jalan Solo: Trotoar Masa Lalu, Masa Kini, dan Masa Depan pada:

  • Waktu: Minggu, 7 Mei 2023 pukul 09.00-12.00 WIB
  • Titik Kumpul: Ruang Solidaritas Joli Jolan, Jalan Siwalan No.1 Kerten, Laweyan, Solo
  • Titik Akhir: Kulonowun Kopi, Koridor Ngarsopuro (sebagian perjalanan via BST, cek grafis rute)
  • Fasilitas: Minuman dari Kulonuwun Kopi, stiker, doorprize buku hingga kaus
  • Kontribusi: 40k (kuota peserta maksimal 20 orang)

Jalan-jalan Solo merupakan bagian dari program Jane’s Walk hasil koalisi Women on The Move dan Women in Transport Leadership. Acara ini terselenggara hasil kerja sama Lingkar Studi Transportasi Transportologi, Ruang Solidaritas Joli Jolan dan Pedestrian Jogja.

Segera daftarkan diri ya kawan. Kami akan menutup pendaftaran apabila kuota peserta sudah terpenuhi.

Registrasi: s.id/jalan2solo
Narahubung: 085725233966

Categories
Uncategorized

Redistribusi Donasi Jadi Solusi

Mengelola pakaian dan barang yang terus mengalir adalah salah satu kegiatan utama dan rutin dilakukan oleh Joli Jolan. Selama ini, seluruh barang donasi memang disortir ulang oleh sukarelawan untuk memastikan kelayakannya ketika didistribusikan. Namun, saking banyaknya donasi yang datang (terutama pakaian), terkadang kami kewalahan dalam mengelolanya. Tak hanya kewalahan terkait masalah waktu dan sumber daya relawan, melainkan juga kapasitas ruang penyimpanan yang terbatas. Seringkali kami harus menolak donasi pakaian, terutama pakaian perempuan, karena stok di galeri yang masih sangat melimpah.

Keseimbangan keluar-masuk barang donasi memang sangat kami perhatikan agar operasional galeri berjalan lancar setiap pekan. Kami tak ingin donasi kawan-kawan terlalu lama menumpuk hingga akhirnya menjadi rusak atau kurang terawat. Seringkali penumpukan donasi pakaian memang tak terhindarkan, terutama setelah kami membuka galeri kami sehabis tutup atau libur panjang. Kami tidak bisa hanya mengandalkan operasional setiap Sabtu untuk dapat menyalurkan donasi yang dikirim dari penjuru Indonesia.

Kami menyadari bahwa problem ini tidak bisa diselesaikan sendirian. Program kolaborasi pun menjadi solusi yang lagi-lagi mujarab. Beberapa hari lalu, kami mendistribusikan kelebihan donasi yang ada di galeri ke “kampung becak” di Clolo, Kadipiro. Ada beragam pakaian hingga aksesoris seperti jilbab yang disalurkan ke sana. Redistribusi donasi ini ternyata memang cukup berhasil membuat “lega” ruang penyimpanan kami.

Sebelumnya kami juga cukup sering menyalurkan donasi ke sejumlah kawasan marjinal maupun daerah yang tak terjangkau layanan Joli Jolan. Oleh karena itu, kami pun sangat terbuka bagi kawan yang ingin membantu menyalurkan pakaian untuk warga yang membutuhkan di daerah sekitarnya. Tak harus menunggu bencana, pakaian layak dan piranti lain seperti tas hingga buku faktanya masih sangat dibutuhkan sejumlah saudara kita.

Apabila komunitas kawan ingin mengadakan gerakan baksos atau inisiatif kolektif lain, jangan ragu untuk menghubungi kami. Sebisa mungkin akan kami dukung kegiatan tersebut sesuai stok barang yang ada di galeri.

Categories
Uncategorized

Libur Lebaran 2023

Halo, Kawan-kawan! Menyambut Lebaran, kami izin libur sejenak ya untuk berkumpul bersama keluarga. Layanan Joli Jolan kami tutup sementara mulai 22 April sampai 12 Mei. Kami akan menyapa kawan-kawan lagi pada 13 Mei.

Kami tidak menerima donasi pakaian maupun barang selama libur operasional. Namun kami masih menerima donasi berupa sembako atau makanan kemasan dengan kontak/janjian terlebih dulu.

Di sela rehat yang cukup panjang ini, kami akan menggelar sarasehan bagi calon sukarelawan baru Joli Jolan. Kami juga berencana menggelar sebuah program kolaboratif bersama komunitas lain di awal Mei. Jangan sampai kelewatan infonya.

Bagi kawan yang hendak mudik, hati-hati di jalan, ya. Selamat berkumpul bersama keluarga!


Joli Jolan adalah gerakan kolektif berbasis warga sipil yang berfokus pada redistribusi kepemilikan. Kami terbuka bagi kawan yang ingin berkolaborasi. Kami juga mengundang kawan untuk terlibat menjadi sukarelawan. Panjang umur solidaritas 🏡✨

👕Info lebih lanjut: jolijolan.org
✊Jadi relawan: linktr.ee/Jolijolan
🌻Dukung kami: trakteer.id/jolijolan/tip

Categories
Sudut Joli Jolan

Berburu Baju Lebaran Gratis

Kebutuhan harian biasanya meningkat jelang Lebaran. Beli bahan pokok, makanan kecil hingga belanja pakaian membuat pusat perbelanjaan penuh sesak. Keinginan konsumtif ini kadang secara tak sadar menguras kocek yang lumayan.

Namun inisiatif saling bantu bisa menjadi alternatif agar warga mendapatkan kebutuhannya secara terjangkau, bahkan gratis. Tahun ini Joli Jolan kembali mendistribusikan pakaian untuk berhari raya secara cuma-cuma. Semua boleh mengakses tanpa kecuali karena tujuannya untuk mengurangi konsumerisme, bukan charity.

Kami menyiapkan koleksi terbaik bagi kawan yang membutuhkan sandang atau perlengkapan lain untuk menyambut Lebaran. Mau barter koleksi pakaian juga bisa. Kami menyediakan kotak atau umplung bagi kawan yang ingin berdonasi untuk mendukung gerakan Joli Jolan.

Donasi nantinya akan kami gunakan untuk operasional ruang (kebersihan, listrik, ATK) hingga program berbagi makanan. Layanan ini kami buka pada 8 & 15 April Berburu Baju Lebaran Gratis pukul 10.00-13.00 WIB di Jalan Siwalan No. 1 Kerten Laweyan Solo (Google Map Joli Jolan).

Daripada mengeluarkan kocek dan berdesak-desakan di pusat perbelanjaan, lebih baik cari pakaian di @joli_jolan. Uangnya bisa disimpan untuk berbagi di kampung halaman. Yuk, ikutan Berburu Baju Lebaran di Joli Jolan! 🏡✨

#lebaran2023 #pakaiangratis #rakyatbanturakyat #teteptetulung #jolijolan

Categories
Gagasan

Berdonasi Bukan Sekadar Membuang Barang

tidak terasa 3 tahun Joli Jolan hadir menjadi ruang solidaritas bagi masyarakat Kota Solo. Usia yang bisa dibilang masih terlalu awal untuk mendeklarasikan diri sebagai komunitas yang besar. Namun, tiga tahun sangatlah cukup untuk melihat kembali ke belakang, mengevaluasi sekaligus menghargai setiap pencapaian-pencapaiannya. Bagi sebuah komunitas yang dibentuk dan dikelola secara sukarela, tiga tahun menjadi bukti nyata dalam menjawab tantangan klise sebuah komunitas, yakni kontinuitas.

Tiga tahun tentunya merupakan waktu yang sangat cukup dalam menggoreskan beragam cerita bagi Joli Jolan, para sukarelawan, dan Joliers yang terlibat di dalamnya. Ada cerita yang menarik, ada pula cerita yang kurang menyenangkan. Namun, kita kesampingkan dulu cerita menariknya karena setiap pihak pasti memiliki kisah menyenangkannya saat menjadi bagian dari Joli Jolan. Kita garis bawahi cerita yang kurang menarik saja, karena di titik inilah ada problem yang perlu dievaluasi demi kebaikan bersama.

Satu dari permasalahan yang kadang ditemui sukarelawan selama tiga tahun ini adalah barang donasi berkualitas rendah yang sangat jauh dari kata layak. Tidak sekali dua kali relawan Joli Jolan menemukan pakaian yang sangat tidak pantas pakai, mulai dari baju kotor dan sobek, pakaian dalam yang kusam (pakaian dalam sendiri pun sebenarnya tidak layak untuk didonasikan), hingga sepatu usang yang telah digerogoti tikus.

Inilah yang semestinya perlu dipahami bersama. Donasi merupakan sebuah upaya untuk memberikan barang yang masih layak pakai kepada orang lain secara sukarela. Meskipun ada kata “sukarela”, bukan berarti donasi menjadi kedok untuk membuang barang yang sudah tidak terpakai. Niat berdonasi pun pada akhirnya menjadi kurang lengkap apabila dilakukan dengan cara yang kurang bijaksana.

Memang indikator kelayakan setiap orang dalam memaknai barang donasi itu beragam. Meski indikator setiap orang berbeda, perlu kita pahami bersama bahwa mendonasikan barang berarti memberikan hak kepada pihak lain untuk mengelola barang tersebut. Oleh karena itu perlu adanya rasa tanggung jawab dalam mendonasikan barang agar tidak menganggap kesempatan berdonasi sebagai ajang membuang barang tidak terpakai.

Pertimbangkan Sebelum Berdonasi

Nah, sebelum memutuskan apakah barang tersebut layak didonasikan, sebaiknya tanyakan terlebih dahulu ke dalam diri sendiri apakah kita merasa nyaman menggunakan barang tersebut di depan umum. Apabila masih, maka barang tersebut relatif layak untuk didonasikan. Namun, apabila kita sendiri pun merasa tidak nyaman menggunakannya, maka perlu kita pertimbangkan ulang untuk mendonasikan barang tersebut. Bisa jadi barang itu memang masih dapat digunakan, tetapi bukan berarti barang tersebut masih layak pakai.

Barang seperti itu tentunya tidak layak pula didonasikan. Mungkin kita bisa mencari alternatif lain melalui komunitas yang dapat mengolah barang usang tersebut menjadi produk yang baru. Siapa tahu barang tersebut dapat diolah menjadi sesuatu yang lebih bernilai dari sebelumnya. Namun yang paling penting ke depan, bijaklah dalam membelanjakan uang untuk keperluan fesyen. Dengan demikian kita bisa mengurangi potensi sampah fesyen yang membebani bumi.

Categories
Reportase

Akhir Pekan Ini, Warga Bahas Tantangan Pengelolaan Ruang Publik di Solo

Kota Solo termasuk wilayah dengan ruang publik yang cukup melimpah. Dengan luas “hanya” 44,02 kilometer persegi, Kota Bengawan punya deretan lokasi berkumpul warga seperti Taman Balekambang, Plaza Manahan, Plaza Sriwedari, Taman Banjarsari, hingga taman-taman kecil yang tersebar di kelurahan. Solo juga baru saja membangun Taman Bendung Tirtonadi yang membuat pilihan ruang publik semakin melimpah.

Itu belum termasuk beberapa halaman kantor kecamatan dan kelurahan yang kini disulap sebagai pusat-pusat kuliner UMKM di malam hari. Hal ini tentu perlu disyukuri. Namun jika ditilik, seluruh ruang publik tersebut adalah fasilitas yang disediakan pemerintah. Warga cenderung hanya ditempatkan sebagai objek pengguna. Padahal, partisipasi warga dalam menciptakan ruang-ruang publik yang inklusif dan sesuai kebutuhan mereka pun tak kalah penting.

Inisiatif tersebut bukannya tak pernah ada. Sempat muncul deretan ruang publik yang dimotori anak muda dan warga sipil seperti Gedung Kesenian Solo, Cangwit Creative Space, Pakem Solo, Muara Market hingga Gudang Sekarpace. Sejumlah seniman muda juga sempat mengelola Gedung Djoeang 45 untuk berkreasi.

Namun deretan inisiatif warga ini tak bertahan lama lantaran kendala internal maupun eksternal. Hanya beberapa yang masih eksis seperti Rumah Budaya Kratonan, Rumah Banjarsari, Ruang Atas serta sejumlah wadah publik anyar seperti Solo Art Market dan Ruang Solidaritas Joli Jolan.

Lalu, bagaimanakah model pengelolaan ruang publik yang ideal dan berkelanjutan? Apakah keterlibatan pemerintah merupakan sebuah keniscayaan atau justru melemahkan? Ataukah saat ini inisiatif warga menjadi lebih cair dan tidak terikat satu ruang?

Menanggapi hal ini, Golek Bolo Space mengundang komunitas, mahasiswa, pegiat ruang publik, akademisi, jurnalis dan masyarakat umum untuk mengikuti diskusi bertajuk Warga dan Tantangan Pengelolaan Ruang Publik. Acara akan digelar pada:

Hari, tanggal: Sabtu, 24 September 2022

Pukul: 09.30 – 12.00 WIB

Tempat: Golek Bolo Space, Jl. Ronggowarsito 72, Keprabon, Banjarsari, Solo (sekompleks dengan Hotel Fortuna)

Narasumber:

  1. Zen Zulkarnaen (Direktur Rumah Banjarsari)
  2. Sita Ratih Pratiwi (Manajer Rumah Budaya Kratonan)
  3. Septina Setyaningrum (Inisiator Ruang Solidaritas Joli Jolan)
  4. Andi Setiawan (Inisiator Laboratorium Desain Sosial)
  5. Moderator: Sukma Larasati (General Manager Golek Bolo Space)

Diskusi tidak dipungut biaya alias gratis. Seluruh peserta diskusi akan mendapatkan diskon makan 50% dari Kedai Golek Bolo. Yuk, sumbangkan gagasan atau sekadar unek-unek kalian untuk mewujudkan kota yang dinamis dan berpihak pada kepentingan warga.

Narahubung: 085647198717

Categories
Sudut Joli Jolan

Cuci Gudang, Tata Ulang: Joli Jolan Tutup Sementara

Bulan September ini Ruang Solidaritas Joli Jolan bakal punya sejumlah kegiatan outdoor setelah rutin beroperasi di Kerten, Laweyan. Selama September, Joli Jolan akan banyak berkolaborasi dengan warga dan komunitas untuk penyaluran pakaian dan barang di lingkungan mereka. Penyaluran langsung ini kami lakukan agar penerima manfaat dari gerakan Joli Jolan lebih merata, tidak sebatas pada warga yang berkunjung ke galeri saja.

Sejauh ini ada beberapa lokasi penyaluran yang tersebar di wilayah Solo (Gilingan, Jagalan), Sukoharjo (Baki, Grogol), dan Karanganyar (Jumapolo). Kami juga berencana menggelar garage sale di sebuah ruang publik di tengah kota pada akhir bulan. Selain asas pemerataan, kegiatan ini kami lakukan untuk mengurangi koleksi di galeri secara drastis. Hal tersebut agar galeri bisa “bernapas”, menata ulang ruang sehingga koleksi berganti anyar.

Sejumlah kegiatan dan upaya penataan ini membuat kami harus menutup sementara galeri selama September. Saat tutup galeri, kami membatasi donasi barang yang masuk, terutama pakaian. Kami akan memberitahukan lebih lanjut apabila sudah bisa menerima donasi secara normal. Joli Jolan bakal kembali menyapa kawan-kawan di galeri Jalan Siwalan No. 1 Kerten pada Sabtu, 1 Oktober 2022. Apabila ada yang ingin berkolaborasi, jangan sungkan kontak kami.

Kami terbuka bagi kawan yang ingin berkolaborasi. Kami juga mengundang kawan untuk terlibat menjadi sukarelawan. Panjang umur solidaritas! Klik tautan berikut beriku ini.

Categories
Reportase

Belajar dari Rakyat Miskin Jakarta: Membangun Koperasi Mewujudkan Perumahan Kolektif

Ahmad Thovan Sugandi, Project Multatuli
8 July 2022

“Duduk dulu mas, santai dulu, sebentar saya kelarin kerjaan dulu. Saya pesankan kopi ya,” ujar Gugun.

Tanpa basa-basi saya langsung mengiyakan tawaran tersebut. Dengan sigap ia berjalan ke warung di sebelah rumahnya dan kembali dengan secangkir kopi panas tanpa gula yang langsung disuguhkan kepada saya.

“Sebentar ya mas, saya kelarin kerjaan bentar,” ujar Gugun.

Saat saya datang, Gugun Muhammad memang tampak sibuk. Ditemani sebuah laptop, sebungkus rokok dan kopi, ia asyik berunding dengan rekan di sebelahnya sembari sesekali mencatat. Tak berselang lama, Gugun memberi isyarat bahwa pekerjaannya telah usai dan ia siap diwawancara.

Gugun merupakan community organizer dari Urban Poor Consortium, yang tinggal di tepian muara di daerah Kampung Tongkol, jalan Tongkol, Ancol, Jakarta Utara. Ia juga merupakan pegiat dan pendamping warga yang tergabung dalam Jaringan Rakyat Miskin Kota (JRMK). Saat ini ada 3 entitas yang dinaungi oleh JRMK, yaitu warga perkampungan, pedagang kaki lima, dan tukang becak.

Bersama JRMK, Gugun turut aktif memperjuangkan hak atas tanah dan hunian layak bagi warga yang mendiami permukiman informal di Jakarta. Guna mewujudkan itu, JRMK menghadirkan gagasan baru berupa koperasi perumahan. Rencananya, koperasi tersebut akan menjadi pemegang hak atas tanah, sekaligus pemegang hak mengelola kawasan perkampungan.

Ide tentang koperasi muncul di tengah maraknya penggusuran pemukiman warga pada 2015-2017. Kondisi tersebut, membuat JRMK melakukan kontrak politik yang akhirnya disepakati oleh calon gubernur DKI saat itu, Anies Baswedan. Salah satu tuntutan yang paling kuat adalah legalisasi atas tanah dan hunian yang mereka tinggali.

“Kami sepakat tidak hanya menuntut adanya sertifikat tanah, tetapi fokus pada upaya menyelamatkan kampung,” jelas Gugun, Jumat (3/6/2022).

Untuk menyelamatkan kampung, warga bersepakat untuk tidak menjual tanah secara bebas. Mereka berpendapat sistem kepemilikan sertifikat tanah per individu justru memperbesar potensi warga kehilangan tanah.

“Memang legal, tetapi tidak menyelamatkan kampung.”

“Kalau misal satu-satu dapat sertifikat, harganya naik, lalu dijual dan dibeli perusahaan jadi repot nanti.”

Kekhawatiran warga bukan tanpa alasan. Pengambilalihan tanah warga oleh perusahaan pernah terjadi di kampung Lengkong. Menurut Gugun, pertama-tama, perusahaan membayar mafia tanah untuk membuat sertifikat bagi warga. Setelah statusnya jelas, perusahaan menghembuskan isu adanya penggusuran dan warga diiming-imingi kompensasi tinggi. Akhirnya, sebagian warga setuju menjual tanah ke perusahaan. Atas pertimbangan tersebut, JRMK sepakat untuk memakai sistem kepemilikan bersama dengan koperasi.

Jalan Panjang Kepemilikan Tanah Kolektif

Kunci dari mempertahankan kampung kota adalah kepemilikan tanah bersama, bukan individu per individu. Sayangnya, aturan koperasi justru jadi penghambat, sehingga JRMK mesti bolak-balik negosiasi dengan BPN.

Walaupun disetujui oleh gubernur, pemerintah di level bawah enggan memberikan izin dengan alasan koperasi tidak bisa memegang hak atas tanah. Penolakan tersebut didasari pada PP nomor 38 tahun 1963. Dalam aturan tersebut dikatakan, hanya koperasi pertanian yang boleh memegang hak atas tanah.

Tidak menyerah, Gugun dan kawan-kawannya menyodorkan bantahan yang didasarkan pada Perpres nomor 86 tahun 2018 tentang reforma agraria. Aturan itu menyebutkan bahwa hasil redistribusi non-pertanian diberikan sertifikat hak milik tanah. Perpres tersebut secara langsung menguatkan posisi koperasi perumahan JRMK sebagai subjek yang penerima redistribusi tanah, hasil dari reforma agraria.

“Kami mendebat dengan aturan yang lebih baru. Dengan itu pejabat Kanwil Badan Pertanahan Nasional membolehkan karena gubernur dan wakil menteri sudah setuju akan ngasih sertifikat tanah ke koperasi.”

“Itu ada buktinya, berupa hasil rapat terbatas gubernur dan wakil menteri. Itu kita tempel di mading kampung,” jelas Gugun.

Tak berselang lama, kantor Wilayah BPN akhirnya membolehkan koperasi JRMK memegang hak atas tanah, dengan syarat AD ART koperasi mencantumkan keterangan unit usaha properti.

“Kami harus ubah lagi AD ART ke notaris dan keluar duit sendiri karena pemda cuma mau bantu bayar pas pendaftaran.”

Setelah AD ART resmi diubah, BPN kembali mempersoalkan status koperasi JRMK. Lagi-lagi BPN menolak memberi izin dengan alasan organisasi tersebut bukanlah koperasi pertanian.

Setelah melakukan proses diskusi dan riset, warga yang tergabung di JRMK kembali melakukan bantahan ke BPN. Para warga menemukan fakta bahwa PP Nomor 38 tahun 1963 hanya berlaku untuk tanah reguler atau tanah biasa yang dibeli oleh koperasi. Adapun tanah koperasi JRMK tidak termasuk dalam cakupan PP tersebut, karena merupakan pemberian dari negara.

“Sampai saat ini belum ada putusan lagi. Kontrak politik kami dengan gubernur jelas, hak tanah di koperasi, bukan individu. BPN di tingkat kanwil ini yang malah mempersulit prosesnya.”

Warga menduga aparatur pemerintah di level bawah sengaja mempersulit proses perizinan koperasi. Dugaan itu muncul karena melihat proses Percepatan Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) di beberapa kampung yang dipersulit oleh aparat desa dan BPN. Program PTSL diperuntukkan bagi warga yang memiliki tanah (non-sengketa) untuk mendaftarkan tanahnya dan memperoleh sertifikat hak milik (SHM) secara gratis.

Anehnya, menurut penuturan Gugun, saat PTSL digelar di salah satu kampung Jakarta Utara, bukan SHM yang diperoleh, melainkan hanya sertifikat hak guna bangunan (HGB). Memanfaatkan ketidaktahuan warga, aparat pemerintah mengatakan bahwa HGB dapat langsung diubah ke SHM sehari setelah diterbitkan. Mendengar itu, warga pemegang HGB berbondong-bondong kantor BPN untuk mengubah sertifikatnya menjadi SHM. Sayangnya, proses tersebut tidak lagi gratis, warga dipaksa mengeluarkan dana yang cukup besar.

“Nah ini dibuat celah, jadi HGB gratis, tetapi kalau mengajukan SHM besoknya, sudah harus biaya sendiri, berbayar 10-30 juta per orang,” ujar Gugun. “BPN sempat menyarankan agar jangan atas nama koperasi, tetapi nama semua warga ditulis di sertifikat. Nah itu repot karena tiap ada yang pindah pasti ubah sertifikat dan pasti ada biaya lagi.”

Sistem koperasi membuat kepemilikan tanah dipegang oleh koperasi, sementara warga sebagai anggota koperasi memegang HGB. Jika seorang warga anggota koperasi ingin pindah ke tempat lain, maka ia bisa menjual HGB melalui koperasi.

AD ART koperasi di JRMK membolehkan anggota yang ingin pindah hunian untuk menjual HGB ke sesama anggota atau ke koperasi. HGB tersebut boleh ditawarkan ke orang di luar anggota koperasi dengan syarat seluruh proses penjualan harus melalui koperasi dan disetujui 75 persen dari keseluruhan anggota koperasi.

“Karena harus kita cek, jangan sampai orang luar ini udah punya rumah banyak atau juragan kos-kosan misalnya. Kalau dia tidak punya rumah dan memang layak, dia nanti jadi anggota koperasi dulu untuk beli HGB itu.”

Sembari menunggu keputusan gubernur untuk menetapkan koperasi sebagai pemegang hak atas tanah, JRMK menyiapkan AD ART koperasi yang digodok selama 6 bulan bersama anggota JRMK di tiap kampung.

Secara umum dalam keanggotaan JRMK terdapat dua jenis pemukiman warga, yaitu kampung tapak dan kampung susun. Pengelolaan koperasi perumahan di dua pemukiman tersebut relatif sama, dan yang membedakan adalah jumlah objek yang dikelola. Kampung tapak mengelola tanah dan rumah, sedangkan kampung susun mengelola tanah, gedung, dan ditambah unit hunian.

Pada kampung susun JRMK telah menjalin kerja sama dan perjanjian dengan pemerintah provinsi, untuk mengelola keseluruhan kampung. Mulai dari tanah, unit, dan gedung beserta kawasannya.

JRMK mengusulkan perjanjian berupa kerja sama pemanfaatan, dan koperasi memperoleh HGB. Untuk bangunan atau gedung, pemerintah diharapkan berkenan untuk menghibahkan ke koperasi, sedangkan tiap unitnya diserahkan ke anggota koperasi beserta SHM. Kepemilikan unit tersebut memiliki jangka waktu yang sama HGB, yaitu sekitar 80 tahun bila mengikuti aturan yang berlaku.

“Ini kita targetkan Oktober tahun ini status hak tanahnya sudah jelas, di kampung susun harus sudah ada Perjanjian Kerja Sama. Kita usulkan untuk sewa hibah, jadi misal Perjanjian Kerja Sama itu 5 tahun, 2 tahun sewa, setelah itu diproses hibahnya. Untuk rumah tapak, kita targetkan redistribusi tanahnya Oktober 2022 ini,” jelas Gugun.

***

Sejak April 2022 lalu, semua kampung yang terdaftar di JRMK telah memiliki Koperasi. Saat ini ada 26 koperasi aktif, dengan basis anggota berdasarkan Kartu Keluarga, dan tercatat jumlah total anggota koperasi di JRMK adalah 3.952 KK per 3 April 2022 lalu. Dari jumlah tersebut, tinggal 4 koperasi yang belum berbadan hukum dan sedang dalam proses pengajuan ke pemerintah.

Selain hak tanah dan hunian, menurut Gugun, penting bagi koperasi untuk dapat mengelola kawasan perkampungan. Pengelolaan kawasan berarti juga peluang untuk menumbuhkan perekonomian warga melalui berbagai macam usaha. Sebagai warga kampung Tongkol, ia bermimpi dapat membuat wisata perahu yang dikelola langsung oleh koperasi.

“Mas lihat beton-beton berundak yang menjorok ke sungai itu? Itu untuk dermaga perahu, bisa untuk nongkrong juga,” ucapnya sembari menunjuk bantaran sungai yang terletak persis di depan rumahnya.

Gugun mengatakan, kondisi bantaran sungai yang telah tertata cukup rapi dan bersih dapat difungsikan sebagai jalur wisata baru menuju Kota Tua. Perahu-perahu itu dapat lalu-lalang mengantar wisatawan di daerah kota tua melalui sungai serta muara-muara di utara Jakarta. Namun, hak pengelola kawasan dapat terwujud ketika koperasi berhasil memperoleh hak atas tanah terlebih dahulu.

Selain membangun usaha kecil di kawasan perkampungan, koperasi juga berfungsi sebagai kontraktor atau penyedia jasa perbaikan rumah warga. Menurut penjelasan Gugun, praktik serupa telah diterapkan di kampung tapak Marlina di Jakarta Utara.

“Jika ada anggota yang membutuhkan perbaikan rumah, nah koperasi berfungsi sebagai kontraktornya. Dengan itu bila ada keuntungan, itu dapat dirasakan juga oleh anggota, kembali ke anggota.”

Koperasi Konsumen Kunir Pinangsia Sejahtera (K3PS)

Salah satu koperasi JRMK yang menjadi pengelola kampung susun terletak di Jalan Kunir RT 004/06 Kelurahan Pinangsia, Kecamatan Tamansari, Jakarta Barat. Lokasinya di dekat Kota Tua dan stasiun Jakarta Kota, mayoritas warganya berprofesi sebagai pedagang di kawasan wisata tersebut. Ide keberadaan koperasi muncul setelah pada 2015 kampung Kunir digusur oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Para warga yang terdiri dari 77 keluarga dipaksa mengungsi dan menjauh dari tempat mereka mendulang nafkah.

Penggusuran tersebut cukup mengejutkan bagi warga, mengingat di Kunir memiliki perangkat administratif yang sah seperti RT dan RW. Bahkan kampung Kunir sempat memperoleh penghargaan dari wali kota sebagai wilayah yang menerapkan kebersihan dan penghijauan dengan baik.

“Kami ajukan penghargaan itu sebagai pembelaan agar tidak digusur, tetapi kata Ahok itu nggak bener, yang kasih penghargaan gila. Camat sempat bantu mempertahankan tetapi keputusan di atas tetap digusur,” kisah Koordinator Koperasi Konsumen Kunir Pinangsia Sejahtera (K3PS) Marsha Chairudin saat ditemui, Minggu (10/6/2022).

Setelah digusur, 33 keluarga memutuskan untuk bertahan. Mereka membangun tenda di bekas reruntuhan rumah dan sebagian memilih menyewa hunian di kampung sebelah. Salah satu alasan mereka bertahan adalah agar tetap bisa mencari nafkah di seputaran Kota Tua.

“Selain kampung kami yang diratakan, ternyata dagangan kami juga kena gusuran, diobrak-abrik.”

Memasuki 2017, warga Kunir bersama anggota JRMK yang tersebar di DKI Jakarta melakukan kontrak politik dengan Anies Baswedan. Kampung Kunir memiliki 3 tuntutan. Tuntutan tersebut berupa legalitas lahan, pembentukan kembali RTRW, dan pembangunan kembali hunian warga. Cagub menyetujui kontrak politik tersebut tanpa terkecuali.

Selain 3 tuntutan tersebut, warga Kunir bulat mengajukan koperasi sebagai pemegang hak atas tanah. Bagi warga, keberadaan koperasi mampu memperkuat posisi mereka secara legal. Dengan itu, penggusuran seperti yang terjadi pada 2015 dapat dicegah.

Akhirnya dibentuklah Koperasi Konsumen Kunir Pinangsia Sejahtera (K3PS) yang terdiri dari 33 keluarga sebagai anggota. K3PS dirancang untuk mengelola unit hunian (kampung susun) dan unit usaha yang terletak di area pemukiman warga.

Pada Maret 2022 pembangunan unit hunian berupa kampung susun Kunir dimulai. Unit kampung susun ditargetkan dapat selesai dibangun dalam kurun waktu 6 bulan. Jika sesuai jadwal, pada akhir 17 Oktober 2022 mendatang, unit hunian sudah dapat diresmikan.

“Kami sempat diminta pindah selama kampung susun dibangun. Kami tolak karena justru ingin awasi pembangunan secara langsung,” ujar Marsha.

Bangunan tersebut terdiri dari 4 lantai dan 33 unit hunian. Jumlah itu sesuai dengan jumlah keluarga anggota koperasi di Kunir. Adapun status bangunan dan lahan tersebut diberikan HGB atas nama koperasi.

Menurut Marsha, warga sebenarnya berharap negara dan pemerintah memberikan SHM kepada koperasi. Namun, proses tersebut dipandang akan membutuhkan waktu yang lama.

“Untuk sementara kami terima status ini dulu, yang lainnya nanti kami terus usahakan.”

Para anggota koperasi tidak dikenakan biaya sewa saat menempati rusun tersebut. K3PS hanya menerapkan adanya biaya perawatan yang direncanakan sebesar Rp350.000 untuk lantai dasar. Adapun untuk lantai di atasnya dikenakan biaya perawatan yang lebih murah. Tiap lantai memiliki selisih biaya sebesar Rp50.000. Sementara itu, untuk listrik dan air di tiap unitnya, dibebankan langsung kepada penghuni.

Marsha mengatakan, biaya perawatan tersebut masih dalam tahap perencanaan dan dapat berubah sesuai kesepakatan dengan anggota. Namun, penentuan jumlah biaya akan selalu disesuaikan dengan tingkat penghasilan anggota yang terkecil.

Menurutnya, biaya tersebut relatif terjangkau bagi warga. Bahkan lebih murah dibandingkan harga sewa hunian di kampung-kampung sekitar Kunir. Jika warga kesulitan membayar, koperasi akan memberikan bantuan berupa pinjaman lunak.

“Kalau di deket sini, sewa kamar kos sudah sejutaan,” ujar Marsha.

K3PS juga telah merencanakan pembagian unit hunian. Bagi anggota koperasi yang berstatus lansia, akan ditempatkan di lantai dasar. Hal itu diterapkan agar para lansia tidak perlu menaiki tangga untuk menuju hunian.

Sementara itu, pengelolaan unit hunian seluruhnya dilakukan oleh koperasi tanpa campur tangan pihak ketiga. Seluruh operasional seperti keamanan, perbaikan, kebersihan gedung, dikelola koperasi dengan mempekerjakan warga sekitar.

Selain hunian, tepat di sebelah kampung susun, di tanah yang memanjang sekitar 100 meter, koperasi berencana membangun unit usaha. Sebelumnya koperasi juga telah mengajukan penerbitan SHM untuk lahan bekas pemukiman warga yang telah digusur pada 2015 silam tersebut.

“Kami berharap dapat diterbitkan SHM melalui redistribusi lahan, bagian dari reforma agraria. Dengan itu, negara memberikan sejumlah lahan untuk warga negara dalam hal ini koperasi, jadi bukan diberikan ke individu,” jelas Marsha.

Sebagai wujud keseriusan, warga Kunir telah menyiapkan desain dan rencana anggaran biaya untuk pembangunan unit usaha. Dengan desain bangunan lebih terbuka, unit usaha tersebut direncanakan mampu menampung 22 kios. Sama seperti kampung susun, unit usaha seluruhnya dikelola oleh koperasi. Begitu juga dengan pendapatan dari penyewaan kios akan menjadi pemasukan bagi koperasi.

Hingga saat ini, sudah ada 10 anggota koperasi yang mendaftar sebagai pengguna kios. Selain anggota koperasi, warga sekitar yang memiliki KTP diperbolehkan menyewa unit-unit kios P3PS tersebut. Harga sewa kios masih dalam tahap penggodokan, tetapi pihak koperasi enggan menetapkan tarif yang terlalu mahal bagi warga.

“Tentu iurannya sesuai batas paling bahwa kemampuan warga. Karena warga sudah dibebani iuran wajib koperasi Rp20.000 ditambah uang perawatan hunian,” ucap Marsha.

P3PS menargetkan izin unit usaha dapat segera diterbitkan bebarengan dengan rampungnya pembangunan kampung susun. Bagi warga, keberadaan kios-kios tersebut juga sebagai penopang operasional dan perawatan kampung susun.

Namun menurut Marsha, pemerintah setempat seolah mempersulit izin pendirian unit usaha tersebut. Padahal, legalitas lahan termasuk dalam kontrak politik yang telah disepakati oleh gubernur Anies Baswedan.

“Mereka berdalih akan dibuat untuk keperluan lain, tapi tidak jelas. Nggak dibikin apa-apa dari dulu. Padahal ini untuk mata pencarian kami dan berada di lahan yang kami tempati puluhan .”

Selain selain iuran wajib dan penyewaan kios, saat ini P3PS telah memiliki beberapa unit usaha aktif. Dua diantaranya adalah penyediaan sembako untuk warga dan toilet umum. Pada lini usaha penyediaan bahan pokok , koperasi sengaja tidak mengambil banyak keuntungan. Selama ini pemasukan terbesar koperasi justru dari penyediaan jasa toilet umum, yaitu berkisar Rp1 juta tiap bulannya. Adapun pemasukan koperasi tiap bulan dapat menyentuh angkat Rp1,5 juta. Dari jumlah itu, sekitar Rp500.000 dipotong tiap bulannya untuk operasional koperasi.

Koperasi Akuarium Bangkit Mandiri

Selain Kunir, salah satu kampung JRMK yang terbilang sukses menggerakkan koperasi adalah Akuarium. Kampung yang terletak di kelurahan Penjaringan, kecamatan Penjaringan tersebut juga sempat digusur pada 2016 silam.

Penampakan Rumah Susun yang diberi nama Kampung Susun Akuarium (Ryan/RRI)

Saat digusur, Akuarium didiami oleh 700 keluarga dengan total bangunan yang digusur berjumlah 234 unit. Pemukiman di Akuarium terbilang padat karena digunakan sebagai area kos para pekerja di pesisir Jakarta.

Tidak tinggal diam, warga Akuarium kompak menggugat penggusuran yang dilakukan Pemprov DKI saat itu. Gugatan tersebut diperkuat dengan kontrak politik yang akhirnya JRMK sepakati dengan calon gubernur.

“Kami agak waspada waktu itu, karena sebelumnya sudah kontrak politik dengan Jokowi. Sempat ditepati, tetapi waktu Ahok kita digusur,” ujar ketua RT 12 Kampung Akuarium dan Pengawas Koperasi Akuarium Bangkit Mandiri, Topas Juanda.

Topas mengatakan kontrak politik yang disepakati JRMK dengan gubernur DKI, menjadi momentum terbentuknya koperasi. Sembari mematangkan konsep koperasi, warga memutuskan untuk bertahan di bekas gusuran kampung Akuarium tanpa fasilitas yang memadai, termasuk listrik dan air bersih. Akhirnya koperasi berhasil terbentuk dan mulai beroperasi di kisaran tahun 2018-2019.

Sebelum kampung susun berdiri, koperasi berusaha mengelola pasokan bahan pokok bagi warga yang bertahan di shelter-shelter. Beras yang dipasok dari Jawa Tengah, saat itu disalurkan ke warga dengan harga terjangkau, di kisaran Rp10.000.

Selain urusan sembako, koperasi memiliki dua tuntutan utama ke Pemprov DKI, yaitu kembalikan kampung dan kembalikan warga di Akuarium. Akhirnya, pada akhir 2020, kampung susun Akuarium mulai dibangun menempati lahan seluas 10.834 meter persegi.

Dalam proses pembangunan tersebut, warga dilibatkan secara langsung. Desain gedung dan hunian merupakan hasil urun daya warga kampung. “Kami bikin beberapa kelompok, masing-masing memberikan gambar dan desain bangunan. Ada 9 desain. Kami diskusikan dengan ahli, lalu yang terpilih diajukan,” ucap Topas.

Menurutnya, sebelum pembangunan, perwakilan warga Akuarium juga melakukan survei ke beberapa rumah susun di kawasan Jakarta. Survei itu dilakukan untuk mengantisipasi adanya kesalahan desain. Terutama terkait keamanan, akses, dan sanitasi gedung. Hasil survei tersebut juga turut dimasukkan ke dalam desain yang sudah disepakati oleh warga.

Setelah dibangun selama kurang lebih 8 bulan, sebagian gedung kampung susun telah berdiri dan dapat ditempati. Saat ini baru ada dua gedung yaitu blok B dan blok D dengan 107 unit hunian. Adapun 3 blok sisanya masih dalam proses pembangunan. Ditargetkan 5 gedung tersebut mampu menampung 241 unit hunian beserta fasilitas umum seperti kios, aula pertemuan, ruang serba guna, dan tempat ibadah.

“Ini ditargetkan selesai Agustus mendatang tetapi karena beberapa kendala, kemungkinan akan mundur dari target awal,” jelas Topas. “Kami juga akan usulkan aturan gubernur yang mengikat agar nanti ketika gubernur lengser, pekerjaan di sini dapat jaminan untuk segera selesai.”

Menurut penuturan Topas, saat ini lahan yang ditempati kampung susun Akuarium berstatus Hak Pakai Lahan (HPL). Adapun status untuk pengelolaan kampung susun sudah sepenuhnya dikelola oleh koperasi berdasarkan perjanjian dengan gubernur. Selain itu, warga berharap HGB juga dapat segera diterbitkan atas nama koperasi, sedangkan hak milik per unit dapat diberikan ke anggota koperasi.

Koperasi Akuarium Bangkit Mandiri berencana menggratiskan biaya perawatan hunian bagi warga kampung susun dengan skema biaya perawatan ditanggung unit usaha yang dikelola oleh koperasi. Koperasi memiliki beberapa unit usaha, yaitu air galon isi ulang, penyewaan kios untuk warga yang ingin berjualan, laundry pakaian, dan penyewaan rumah singgah.

Saat ini tersedia 3 kios disewakan dengan harga sewa Rp600.000 per bulan. Selain itu, ada 4 hunian yang disediakan untuk rumah singgah bagi peneliti atau mahasiswa yang melakukan riset di pesisir Jakarta, dengan tarif Rp150.000 per malamnya.

Namun, karena gedung belum sepenuhnya selesai dibangun dan beberapa unit usaha masih belum maksimal, warga masih dikenakan dua jenis iuran. Pertama yaitu iuran perawatan gedung sebesar Rp100.000 tiap bulan. Iuran tersebut akan disimpan koperasi dan akan digunakan bila terjadi kerusakan dan perbaikan pada gedung atau hunian. Iuran kedua adalah biaya operasional sebesar Rp70.000. Iuran tersebut diperuntukkan bagi operasional gedung seperti listrik, teknisi, dan keamanan gedung.

Selain iuran tersebut, anggota koperasi juga harus membayar Rp20.000 sebagai iuran wajib bulanan. Urusan kebersihan warga memilih untuk kerja bakti. Tiap sudut gedung dijaga tetap bersih, salah satunya dengan melepas alas kaki saat masuk ke gedung.

“Kami ingin menunjukkan bahwa koperasi bisa mengelola pemukiman ini dengan baik.”

Sementara itu, ketua dan koordinator Koperasi Akuarium Bangkit Mandiri, Yani, mengatakan, animo warga untuk bergiat dalam koperasi makin meningkat sejak 2019. Terutama di kalangan perempuan.

“Sejak 2019 iuran wajib relatif rutin dan warga disiplin untuk saling mengingatkan,” ujar Yani.

Selain unit usaha yang telah disebutkan sebelumnya, Yani berharap ke depan koperasi dapat mengelola lapangan olahraga dan kebun bersama. Dua fasilitas tersebut nantinya akan dibangun di kompleks kampung susun Akuarium secara bertahap.

Namun, menurut Yani, yang menjadi prioritas koperasi saat ini adalah pembangunan unit usaha berupa toko serba ada. Nantinya toko tersebut akan menyediakan berbagai kebutuhan sehari-hari warga Akuarium.

“Kalau koperasi ada usaha yang banyak diakses warga, otomatis hasilnya akan mampu untuk membiayai operasional gedung dan meringankan biaya hidup warga.”

Koperasi Marlina Maju Bersama

Tak hanya kampung susun, sistem koperasi perumahan JRMK juga diterapkan di kampung tapak. Salah satu yang dapat menjadi contoh adalah koperasi Marlina Maju Bersama.

Koordinator Kampung Marlina, Dwi Purnomo atau biasa dipanggil Aco mengatakan, koperasi yang kelola warga tersebut membawahi sekitar 8 RT. Wilayah cakupannya secara administratif terletak di kawasan Jalan Muara Baru, Kelurahan Penjaringan, Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara.

Menurut Aco, di Marlina, fokus koperasi adalah menjadi kontraktor untuk renovasi dan perbaikan rumah warga. Selain itu, koperasi juga bertugas mengelola sejumlah dana donor yang diperuntukan bagi warga Marlina.

“Saat ini kami sedang melakukan perbaikan rumah warga dengan sistem pinjaman bergulir yang dikelola koperasi,” Ucap Aco, Minggu (5/6/2022).

Dalam waktu dekat perbaikan tersebut ditargetkan menyasar 23 rumah warga. Rumah warga dengan kerusakan paling banyak atau tidak layak huni, diprioritaskan untuk diperbaiki lebih awal. Adapun jumlah keseluruhan rumah anggota koperasi Marlina mencapai 202 unit. Sementara ini, baru 6 rumah yang telah rampung direnovasi dengan menghabiskan biaya sebesar Rp600 juta. Setelah itu, koperasi berencana merenovasi minimal 2 rumah tiap tahunnya.

Bantuan yang diberikan koperasi tidak berupa uang tunai, tetapi bahan bangunan dan material pendukungnya. Warga yang direnovasi rumahnya diwajibkan membuat rencana anggaran biaya (RAB). Dari total nilai RAB tersebut, pemilik rumah diminta untuk berkontribusi sebesar 10 persen sebagai tanda komitmen awal.

Terkait desain rumah, warga kampung Marlina selama ini dibantu oleh Rujak Center for Urban Studies, lembaga pusat studi untuk kajian-kajian yang berhubungan dengan masyarakat urban. Sementara itu untuk pekerjanya, pemilik rumah dapat melakukan penunjukkan secara mandiri.

Selain renovasi rumah, koperasi warga di Marlina juga mengelola beberapa unit usaha. Salah satunya adalah memasok bahan pokok seperti telur dan gas. “Kami juga jadi pemasok untuk 5 warung kelontong warga, tetapi saat ini belum maksimal,” ujarnya.

Selama ini menurut Aco, warga cukup rajin membayar iuran sebesar Rp10.000 per bulannya. Namun keikutsertaan warga dalam rapat dan kegiatan rutin koperasi masih minim. Walaupun begitu, program-program koperasi tetap berjalan berkat koordinasi pengurus di tiap RT.

Pengawas Koperasi Marlina Maju Bersama, Eni, menyebut, keberadaan koperasi berfungsi sebagai pengelola penataan kampung. Sebelumnya rumah Eni juga menjadi salah satu yang pertama direnovasi menggunakan dana pinjaman koperasi.

“Rumah saya dirombak total, dengan biaya total Rp125 juta. Dari nilai itu, sekitar Rp115 juta ditanggung oleh koperasi,” ucap Eni.

Ia tidak merasa keberatan dengan beban pinjaman yang ia terima dari koperasi. Pinjaman tersebut dapat Eni cicil selama 10 tahun ke depan.

Sebagai pengawas koperasi, Eni turut mengkoordinir warga untuk aktif berkoperasi. Saat ini, menurutnya, geliat koperasi didominasi oleh para perempuan.

Bersama beberapa anggota koperasi yang lain, Eni memproduksi berbagai jenis jamu. Jamu-jamu yang diracik diantaranya jahe instan, temulawak, kunyit asam, dan beras kencur. Minuman kesehatan tersebut juga dipasarkan ke koperasi-koperasi JRMK yang lain. Hasil dari usaha tersebut sebagian didedikasikan untuk kas koperasi.


Editor: Mawa Kresna

Artikel ini pertama terbit di Project Multatuli dan direpublikasi di sini menggunakan lisensi Creative Commons.

Categories
Reportase

Dosen IPB Pulang Kampung Latih SIswa SMK BK 5 Teras Jaringan Mikrotik

Dosen IPB University melatih sejumlah siswa SMK Bhineka Karya (BK) 5 Teras, Boyolali, jaringan mikrotik, Rabu (27/7/2022). Pelatihan itu digelar dalam program Dosen Pulang Kampung (Dospulkam) LPPM IPB University. Para siswa mendapatkan materi membangun jaringan komputer berbasis virtual laboratorium menggunakan Graphical Network Simulator-3 atau GNS3.

Dosen Program Studi Teknik Komputer Sekolah Vokasi IPB University, Bayu Widodo, mengatakan pelatihan ini memberikan pemahaman dan kemampuan teknis terkait jaringan komputer berbasis virtual laboratorium menggunakan GNS3.

“Kemampuan ini dibutuhkan untuk membuat topologi jaringan komputer,” kata Bayu, saat ditemui wartawan di sela acara, Rabu.

Dosen Program Manajemen Informatika Sekolah Vokasi IPB University, Nur Aziezah, menambahkan perangkat GNS3 memiliki sejumlah keunggulan yang cocok untuk para siswa SMK khususnya di Boyolali.

Sebab, GNS3 adalah alat pelengkap yang sangat baik untuk laboratorium nyata bagi network. “Aplikasi ini dapat diinstal dengan mudah di laboratorium karena multiplatform,” sambung dia.

Dia menjelaskan ke depan, pengembangan strategi pembelajaran untuk memperkuat kompetensi para peserta didik khususnya di lingkungan pendidikan vokasi digelar melalui teaching factory atau TEFA.

TEFA merupakan model pembelajaran di SMK dengan konsep layaknya pekerjaan yang ada di dunia industri. Proses pembelajaran digelar terpadu berorientasi pada tindakan dalam lingkungan belajar di sekolah.

“Pembelajaran di sekolah yang berorientasi TEFA dapat memadukan model yang sudah ada Competency Based Training [CBT], model Production Based Training [PBT]. Peserta didik akan memiliki pengalaman belajar yang lebih riil dengan mengutamakan penguasaan kompetensi,” ujar Aziezah.

Sementara itu, Program Dospulkam LPPM IPB University bertujuan mendorong proses alih teknologi, ilmu pengetahuan, dan seni sesuai dengan urgensi kebutuhan masyarakat dan kelestarian sumber daya alam.(*)

*inforial