Minggu, 2 Maret 2025, bertepatan dengan hari kedua bulan Ramadan komunitas Involuntir Surakarta mengadakan acara bersama anak-anak Panti Asuhan Ihsan Sakeena di Latar Situ Joli Jolan, Kerten. Kegiatan yang dilaksanakan sembari menunggu waktu berbuka puasa ini tidak hanya menjadi momen silaturahmi bagi relawan Involuntir Surakarta dengan anak-anak Panti Asuhan Ihsan Sakeena, tetapi juga dengan relawan Joli Jolan.
Kegiatan dimulai setelah peserta yang terdiri dari relawan Involuntir, anak-anak panti asuhan, dan relawan Joli Jolan berkumpul membentuk lingkaran di pendapa. Satu per satu, anak-anak dari Panti Asuhan Ihsan Sakeena memperkenalkan diri dengan menyebutkan nama mereka masing-masing. Setiap nama yang disebutkan pun disambut dengan sapaan akrab oleh peserta lain sehingga mengawali suasana dengan akrab.
Setelah selesai perkenalan, kegiatan dilanjutkan dengan ice breaking. Setiap perserta diminta untuk saling mengoper boneka koala ke orang yang berada di samping mereka sambil diiringi musik. Ketika musik berhenti, peserta yang memegang boneka harus menjawab pertanyaan yang diberikan oleh pembaca acara. Permainan ini berhasil mencairkan suasana dan membuat semua peserta tertawa riang, siap untuk mengikuti inti acara.
Menuangkan Kreativitas dengan Menghias Pot Galon
Para peserta dibagi menjadi tujuh kelompok melalui permainan “Kapal Pecah.” Pembawa acara menyebutkan jumlah kapal yang pecah kemudian peserta diharuskan membentuk kelompok sesuai jumlah kapal tersebut. Proses mencari pasangan kelompok pun dipenuhi canda tawa, karena para peserta yang belum saling mengenal mau tidak mau harus berani untuk berkenalan.
Setelah kelompok terbentuk, para peserta diarahkan untuk menuju ke area Latar Situ. Setiap kelompok kemudian mendapatkan satu galon bekas, alat lukis, dan cat air. Tugas mereka adalah mengubah galon bekas tersebut menjadi pot tanaman yang kreatif dan penuh warna. Kegiatan ini tidak hanya melatih kreativitas, tetapi juga meningkatkan keakraban antarpeserta. Setiap anggota kelompok pun saling berdiskusi dan menuangkan ide mereka ke dalam lukisan. Hasilnya, berbagai gambar indah seperti taman bunga dan komposisi warna menghiasi galon-galon bekas tersebut.
Pot-pot tersebut kemudian diisi dengan media tanam dan bibit tanaman yang telah disiapkan. Proses ini dipandu langsung oleh relawan dan influencer berkebun, Mewalik. Melalui proses menanam ini, para peserta diajarkan bagaimana cara menanam dan merawat tanaman hingga tumbuh besar. Kegiatan ini diharapkan mampu menumbuhkan rasa tanggung jawab dan kecintaan terhadap alam, terutama terhadap tanaman.
Menjelang waktu berbuka puasa, para peserta kembali ke pendapa untuk mengikuti sesi terakhir, yakni menulis surat untuk kakak-kakak relawan Involuntir. Dengan penuh antusias, mereka pun menuliskan ungkapan terima kasih dan rasa syukur mereka atas kebersamaan pada sore hari itu. Salah satu perwakilan relawan kemudian membacakan surat tersebut, yang berhasil menyentuh hati semua orang dan menciptakan momen haru.
Kegiatan ditutup dengan berbuka puasa bersama dan menjalankan ibadah salat Maghrib berjamaah. Sebagai hadiah terakhir, para peserta dipersilakan memilih barang-barang dari galeri Joli Jolan yang disediakan secara gratis. Kegiatan ini diharapkan tidak hanya memberikan pengalaman berharga tentang kebersamaan dan kepedulian, tetapi juga menjadi stimulus inspirasi bagi peserta dalam memanfaatkan barang bekas secara kreatif. Sebuah penutup yang berkesan bagi relawan Involuntir Surakarta dan anak-anak Panti Asuhan Ihsan Sakeena.
Belum lama ini kami mendapatkan kiriman video dari seorang warga Grobogan. Video pendek itu langsung menarik perhatian kami. Bagaimana tidak, terlihat di sana berjejer sepatu, sandal, dan tas yang masih berkondisi sangat bagus. Ada pula deretan pakaian yang dipajang layaknya toko sandang.
Tak hanya itu, teh serta tepung-tepungan seperti tepung beras dan tapioka juga ditata berjejer. Semuanya bisa diambil gratis oleh warga secukupnya. Gerakan ini muncul di Wirosari, Grobogan. Lokasinya tak jauh dari Bledug Kuwu.
Meski kawasan mereka tak jauh dari objek wisata, tak sedikit warganya yang masih hidup marginal. Hal ini membuat seorang pemilik toko di daerah itu tergerak. Pertemuannya via media sosial dengan Joli Jolan membuatnya membulatkan tekad untuk ikut membuat wadah saling bantu.
Cik Susy, nama pemilik toko itu, kemudian berkontak dengan salah satu sukarelawan kami untuk merealisasikan gerakan serupa di daerahnya. Kami salut karena tak butuh waktu lama Cik Susy dkk. untuk mengeksekusi niatnya.
Beberapa kardus berisi pakaian pun kami kirim dari Solo sebagai “modal” kegiatan. Lalu bagaimana dengan sepatu, sandal hingga tepung yang ada di sana? Ya, itu semua dari donasi warga sekitar. Keren ya? Mereka dengan berkesadaran saling bantu untuk menguatkan kehidupan sesama warga.
Pada 7 Desember 2024 nanti, kawan-kawan di Grobogan akan kembali berkegiatan. Kami berdoa semoga gerakan di Grobogan dapat rutin berjalan, setidaknya sebulan sekali seperti yang telah diinisiasi warga Banyudono, Boyolali, dan Jaten, Karanganyar. Bagi kawan yang berdomisili di Grobogan dan sekitarnya, ini kesempatan untuk berkolaborasi.
Cik Susy dkk. bilang yang hendak berdonasi bisa diantar ke tokonya di Toko Mulia Wirosari. Donasi apa pun wajib dalam kondisi baik ya! Saat ini mereka juga membutuhkan sukarelawan agar kegiatan saling bantu dapat berkelanjutan. Jika ada yang membutuhkan kontak Cik Susy, silakan kontak kami. Panjang umur solidaritas!
Hari Habitat Sedunia (World Habitat Day) diperingati setiap Hari Senin pertama di bulan Oktober yang diakui oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa atau yang disingkat PBB. Peringatan ini merefleksikan kondisi kota-kota besar dan kecil, serta hak dasar setiap orang untuk mendapatkan tempat tinggal yang layak termasuk layanan sanitasi. Tema Hari Habitat Sedunia tahun 2024 adalah melibatkan kaum muda untuk menciptakan masa depan perkotaan yang lebih baik.
USAID IUWASH Tangguh mengadakan pre-event Hari Habitat Sedunia pada Hari Selasa, 8 Oktober 2024 dengan mengajak jurnalis, komunitas, Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) dan influencer dari Soloraya dan Kota Salatiga untuk mengunjungi Instalasi Pengelolaan Lumpur Tinja (IPLT) Ngronggo di Kota Salatiga.
Joli Jolan sebagai komunitas yang bergerak dalam bidang sosial dan lingkungan diundang berpartisipasi dalam pra-event Hari Habitat Sedunia oleh USAID IUWASH Tangguh.
Dalam pra-event tersebut, kami diajak untuk berdiskusi tentang pengelolaan lumpur tinja bersama Kepala Dinas PUPR Kota Salatiga, Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Dinas PUPR sebagai pengelola IPLT, beserta komunitas sanitasi aman Salatiga. Saat kunjungan lapangan, kami juga diajak untuk melihat langsung bagaimana proses pengolahan lumpur tinja di IPLT Ngronggo.
Peserta mendapatkan penjelasan yang komprehensif mengenai sanitasi aman, termasuk bahaya kebocoran septic tank terhadap lingkungan. Septic tank adalah tempat penampungan tinja di rumah. Septic tank yang bocor bisa mencemari sumber air warga seperti sumur. Hal ini membuat sumur terkontaminasi bakteri e-coli yang berbahaya bagi kesehatan.
Kunjungan lapangan di kawasan IPLT Ngronggo diawali dengan menyaksikan proses pengolahan lumpur tinja yang dimulai sejak diturunkannya lumpur tinja dari truk pengangkut lumpur tinja ke dalam kolam penampungan.
Truk pengangkut lumpur tinja ini bekerja dalam program Layanan Lumpur Tinja Terjadwal (L2T2) yang menyedot tinja dari septic tank warga untuk diproses di IPLT. Lalu, lumpur tinja dialirkan ke bak penampungan untuk dipisahkan antara air dan padatan.
Proses pemisahan antara air dan padatan dilakukan dengan cara konvensional, yaitu menggunakan metode drying bed. Cairan lumpur tinja dialirkan dengan memanfaatkan gaya gravitasi melalui media yang dapat menyerap cairan atau gas dalam bak penampungan.
Hasil dari proses pemisahan itu adalah air yang dimurnikan dan padatan yang diolah menjadi pupuk yang siap digunakan untuk tanaman hias ataupun tanaman keras. Sedangkan air yang sudah dimurnikan dialirkan ke badan-badan air atau sungai terdekat sehingga tidak mencemari tanah dan sungai.
Pengelolaan lumpur tinja ini bisa dijadikan ladang bisnis komersial karena hasil dari olahan padatan lumpur tinja dapat dimanfaatkan sebagai pupuk, di samping bisnis L2T2 atau yang jamak disebut sedot tinja. L2T2 juga turut berkontribusi terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Salatiga.
Sayangnya, layanan ini belum dimanfaatkan secara maksimal oleh masyarakat. Padahal, ini penting untuk meningkatkan kesehatan keluarga dan masyarakat di sekitarnya. Sedot tinja juga sebaiknya tidak dilakukan hanya saat wc mampat, tetapi harus secara berkala 3-5 tahun sekali. Jadi, sudahkan kamu mendaftar L2T2 di kotamu?
A short summary oleh Maheswari Damai Relawan Ruang Solidaritas Joli Jolan Solo, 3 Oktober 2024
Riuh rendah suara anak-anak terdengar mendominasi pada hari Selasa pagi, 8 Oktober 2024 di ruang kelas 3 SD Alam Surya Mentari Solo. Suasana belajar yang aman dan nyaman langsung terasa saat memasuki halaman sekolah.
SD Alam Surya Mentari memiliki kegiatan rutin yang cukup unik, yakni kelas inspirasi yang dikoordinir oleh komite. Tema kegiatan kelas inspirasi tahun 2024 ini adalah saling berbagi untuk menumbuhkan empati. Kali ini Joli Jolan diundang untuk mengisi kelas inspirasi tersebut.
Kelas inspirasi bersama dengan relawan Joli Jolan diawali dengan melakukan games atau permainan yang melibatkan anak. Sungguh asyik melakukan interaksi dengan anak-anak yang memang cenderung tidak bisa duduk anteng tersebut. Saat relawan memberikan salam dan menanyakan ingin dipanggil dengan sebutan apa, maka dengan jenaka minta dipanggil “mas” atau “mbak”. Wah, luar biasa. Panggilan dengan mas atau mbak artinya menganggap dirinya mampu bersikap dewasa.
Antusiasme dalam bermain games sangat terasa, tidak perlu mendorong-dorong agar anak berani maju untuk melakukan permainan yang sesungguhnya menstimulasi empati. Meskipun games sudah dilakukan sampai 2 putaran, masih saja ada yang minta untuk dilakukan lagi.
Setelah selesai bermain games, kegiatan dilanjutkan dengan memutar liputan CNN yang programnya bertajuk BERBUAT BAIK. Pemutaran liputan ini bertujuan untuk memperkenalkan Ruang Solidaritas Joli Jolan kepada anak-anak dengan visualisasi.
Hebatnya, walaupun hanya tayangan 10 menit, anak-anak mampu menjawab kuis-kuis yang dilemparkan oleh relawan terkait kegiatan Joli Jolan. Mereka terlihat senang sekali karena boleh memilih sendiri hadiah yang dibawakan dari galeri Joli Jolan. Ada yang memilih boneka untuk adiknya, ada yang memilih buku bacaan karena memang hobi membaca, ada yang memilih kerudung untuk ibundanya, dan berbagai macam barang lainnya dengan alasannya sendiri-sendiri.
Sesaat setelah melihat video Joli Jolan, anak-anak berkolaborasi memajang barang yang dibawa dari rumah. Anak-anak antusias melakukan barter atau boleh mengambil barang sesuai dengan kebutuhan. Bahkan ada seorang anak yang mengambil kembali barangnya, sungguh menggemaskan.
Setelah anak-anak praktik bertukar barang atau ijolan, barang-barang sisa yang dipajang saat kelas inspirasi dibawa oleh relawan Joli Jolan untuk dibagi pada hari Sabtu, 12 Oktober 2024 di galeri yang berada di Jalan Siwalan Nomor 1 Kerten, Solo.
Halo kawan-kawan! Ada kabar baik nih buat kalian yang berdomisili di Karanganyar dan sekitarnya. Mulai akhir pekan ini, gerakan barter dan berbagi pakaian/barang gratis bakal hadir di Jaten. Tepatnya di Jalan Josroyo Timur Nomor 26-28 RT 1 RW 14 Jaten (belakang Kantor Kecamatan Jaten).
Gerakan ini diinisiasi oleh seorang guru SMA Ursulin yang terinspirasi dengan @joli_jolan. Rencananya, kegiatan di Jaten akan buka sebulan sekali. Galeri di Jaten akan dibuka perdana besok Minggu, 25 Agustus 2024 pukul 09.00-12.00 WIB.
Untuk Joliers yang berdomisili di Jaten dan sekitarnya, silakan merapat ya! Untuk sementara galeri di Jaten hanya melayani kegiatan berbagi pakaian/barang gratis. Bagi yang hendak berdonasi bisa melalui @joli_jolan maupun drop box yang disediakan (dengan menghubungi CP terlebih dulu).
Kalian juga bisa berkontribusi menjadi sukarelawan lho di galeri Jaten. Jika berminat, sila langsung mampir hari Minggu. Panjang umur solidaritas!
Masalah sampah menjadi isu serius yang sudah seharusnya membutuhkan perhatian kita semua. Pentingnya memberikan edukasi yang benar untuk meminimalisir berkembangnya sampah yang semakin tidak terkendali.
Koordinator Pusat Korps PII Wati mempersembahkan sebuah webinar dengan judul “Perempuan Perempuan Bijak Konsumsi, Menjaga Bumi Menjaga Masa Depan”
Dengan pemateri yang super kece, yakni : 🗣️ Narasumber : Sukma Larastiti 📌 Relawan Komunitas Jolijolan 📍 Domisili Jerman 👤 Moderator: Shafiyah Lu’luah Nadirah 🔗 Kadiv. KPKP Korpus Korps PII Wati
Penasaran? Catat nih jadwalnya, insyaaAllah kita akan agendakan pada :
Hari : Sabtu, 13 Juli 2024 Waktu : 19.30 WIB Platform : Google Meet Link : https://meet.google.com/oaq-pdiu-ewm
Komunitas Joli Jolan diundang oleh SMA Ursulin pada Hari Selasa, 23 April 2024 untuk mengisi kegiatan Integrated Learning Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (IL P5) yang merupakan bagian dari pembelajaran kurikulum merdeka. Tema IL P5 kali ini adalah gaya hidup berkelanjutan bagi peserta didik kelas X. Adapun tujuan kegiatan mengundang narasumber Komunitas Joli Jolan adalah memantik peserta didik untuk bernalar kritis dan kreatif dalam mengatasi dampak climate change (perubahan iklim).
Climate change menurut definisi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengacu pada perubahan jangka panjang pada iklim bumi yang menyebabkan pemanasan atmosfer, lautan, dan daratan. Perubahan iklim mempengaruhi keseimbangan ekosistem yang mendukung kehidupan dan keanekaragaman hayati, serta berdampak pada kesehatan. Oleh karena itu, peserta didik kelas X SMA Ursulin dipantik untuk berkontribusi dalam mengatasi dampak climate change dengan cara kreatif dan mudah dilakukan dalam keseharian.
Komunitas Joli Jolan
Diawali dengan penjelasan singkat oleh Kakak Asa mengenai komunitas Ruang Solidaritas Joli Jolan atau akrab dengan sapaan singkat ijol-ijolan, maka interaksi terjadi dari berbagai arah yang merupakan ciri merdeka belajar.
Ruang Solidaritas Joli Jolan merupakan ruang publik untuk berbagi barang layak pakai. Siapa pun dapat mendonasikan barang di Joli Jolan dan mengambil barang yang tersedia secara gratis. Joli Jolan mengajak untuk hidup bersahaja dengan mengelola barang secukupnya. Joli Jolan mengawali kegiatan pertamanya pada tanggal 19 Desember 2019, sekaligus dijadikan penanda hari lahir komunitas.
Nama Joli Jolan terinspirasi dari istilah Jawa “Ijol-ijolan” yang berarti tukar menukar. Filosofi sederhana ini sebagai pendorong sejumlah relawan untuk membentuk ruang solidaritas melalui barter dan berbagi barang secara gratis dengan masyarakat.
Lokasi Joli Jolan berada di Kompleks Latar Situ yang terletak di Jalan Siwalan No.1, Kerten, Surakarta. Anggota Komunitas Joli Jolan sangat heterogen, mulai dari aktivis kota, mahasiswa, jurnalis, dosen, editor buku, peneliti, ibu rumah tangga, pegawai terminal, hingga pecinta hewan. Masing-masing pihak berkontribusi sesuai keahlian dan kemampuannya masing-masing untuk mewujudkan Ruang Solidaritas Joli Jolan.
Kegiatan Seru bersama Kelas X SMA Ursulin
Keseruan bertambah lagi saat para peserta didik kelas XA sampai XJ melakukan instruksi yang diberikan oleh Pak Dedi sebagai guru selaku koordinator kegiatan ini. Sehari sebelumnya, para peserta didik diminta untuk mempersiapkan barang-barang yang sudah tidak dimanfaatkan lagi. Kami menyebutnya pre-loved. Bendahara kelas juga diminta menyiapkan umplung atau kotak untuk diisi uang seikhlasnya.
Peserta didik terlihat sangat antusias dalam menata barang-barang preloved di masing-masing kelasnya, demikian pula relawan Joli Jolan membawa barang preloved untuk diberikan di beberapa kelas. Mereka terlihat sangat tidak sabar untuk saling berkunjung ke kelas lainnya untuk melihat barang apa yang dibawa oleh temannya yang dapat mereka tukarkan. Semua gembira dan tertawa bersama para guru pendamping ketika mendapatkan barang yang dibutuhkan dan yang diinginkan. Hanya dalam hitungan menit, barang preloved menemukan tuannya yang baru untuk diperpanjang masa manfaatnya.
Ada salah satu peserta didik laki-laki yang digandeng oleh Pak Guru berjalan berkeliling dengan mengenakan pakaian perempuan merangkapi baju seragam sekolah. Semua yang dilewati tertawa, bukan untuk merundung. Rupanya peserta didik tadi mengambil barang untuk pacarnya, padahal dalam kegiatan seru ini mengadop filosofi Joli Jolan, yaitu berikan sesuai kemampuanmu, ambil sesuai kebutuhanmu.
Class Creative Fundraising and Climate Change
Sesi refleksi tiba, peserta didik kembali ke kelas masing-masing. Bapak ibu guru kembali memandu kegiatan ini dengan merefleksikan apa yang telah dilakukan bersama. Alex dan Maria mengungkapkan bahwa mereka tersadar ternyata perilaku konsumtif sangat lekat dengan keseharian mereka. Acapkali membeli barang bukan karena kebutuhan, melainkan dorongan keinginan semata. Saat simulasi kegiatan bertukar barang preloved dilaksanakan, masih banyak murid yang mengambil barang bukan karena kebutuhan, tetapi karena keinginan untuk memiliki barang yang dianggap masih bagus tanpa berpikir apakah barang tersebut nantinya akan bermanfaat atau tidak.
Kelas XJ kemudian mengajukan pertanyaan, “Apa yang menjadi dorongan utama dalam mendirikan Komunitas Ruang Solidaritas Joli Jolan?”
“Didirikannya Joli Jolan berangkat dari rasa keprihatinan karena konsumerisme menjadi budaya. Apalagi di daerah perkotaan, di mana belanja online sangat mudah dilakukan. Banyak barang yang akhirnya tidak terpakai karena tidak sesuai dengan yang ditawarkan di platform belanja online, baik secara bentuk, fungsi, maupun ukuran. Kebiasaaan untuk memakai dresscode atau membuat baju seragam dalam berbagai kesempatan, yang pada akhirnya hanya dipakai sekali dua kali kemudian disimpan seterusnya di dalam lemari, juga menjadi salah satu ancaman konsumerisme yang jarang disadari.”
Bisa dibilang akar permasalahan pengelolaan sampah, terutama di perkotaan adalah konsumerisme. Muara dari akhir perjalanan sampah setelah melewati tahapan pengelolaan sejak dari sumber, pengumpulan, pemindahan/pengangkutan, pengolahan dan pembuangan adalah Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Sampah. Tumpukan sampah yang dipadatkan di berbagai TPA di Pulau Jawa yang mencapai puluhan bahkan ratusan meter itulah merupakan penyumbang global warming. Gunungan sampah menghasilkan gas metana yang disebabkan oleh bakteri yang kekurangan oksigen untuk proses penguraian sampah organik.
Saat musim kering, beberapa TPA yang sudah melebihi daya tampung mengalami kebakaran. Hal ini dipantik oleh gas metana yang tersulut karena cuaca panas. Sulitnya pemadaman menimbulkan dampak berat, yaitu dampak kesehatan berupa Infeksi Pernafasan Akut (ISPA) dan dampak lingkungan berupa polutan yang dilepaskan ke atmosfer, sehingga mencemari udara dan tanah, serta mengancam kehidupan manusia.
Kegiatan interaktif yang dilakukan oleh peserta didik bersama Komunitas Joli Jolan selama 30 menit tersebut mampu mengurangi dampak lingkungan yang akan berkontribusi terhadap kenaikan suhu bumi yang mengakibatkan perubahan iklim. Bagaimana bisa kegiatan tersebut diklaim mengurangi dampak perubahan iklim? Dihitung prorata, bahwa setiap kelas membawa 10 kg barang yang dikalikan 10 kelas. Hasilnya adalah 100 kg barang yang seharusnya sudah berakhir di TPA ternyata mampu diperpanjang usia manfaatnya oleh peserta didik sendiri. Andai kegiatan ini dilakukan secara reguler, niscaya gerakan sederhana ini dapat menjadi kontribusi dalam mereduksi pemanasan global.
Dari pengalaman berkegiatan yang merupakan mini refleksi Joli Jolan, masing-masing kelas berhasil mengumpulkan sejumlah uang yang didapatkan dari para peserta didik sendiri yang saling barter. Mereka menjadi lebih percaya diri dan tidak ragu dalam mengelola barang preloved yang sebenarnya sudah tidak dimanfaatkan oleh pemilik sebelumnya. Bahkan pengelolaan tersebut pun dapat menghasilkan keuntungan, yakni penambahan uang kas kelas yang siap digunakan dalam berkegiatan di sekolah.
Pada akhirnya perlawanan terhadap konsumerisme tidak sekadar memberikan manfaat di bidang ekonomi tanpa menambah beban bumi karena proses produksi yang seringkali mengabaikan lingkungan. Hal kecil yang telah dilakukan bersama SMA Ursulin ini berkontribusi penting dalam mereduksi dampak perubahan iklim.
Sebagai salah satu upaya Ruang Solidaritas Joli Jolan dalam mewujudkan ruang edukasi, Joli Jolan sekali lagi mengadakan workshop kreatif bertema Menyulap Kaus Bekas dan Plastik Menjadi Produk Estetik. Workshop yang diadakan pada hari Sabtu, 30 Maret 2024 ini dimentori langsung oleh pegiat crafting dari Bandung dan pengelola @lovya.handmade, Kak Meilisa. Melalui workshop yang berlangsung dari pukul 16.00-17.30 ini, para peserta diperkenalkan teknik sederhana mengolah plastik dan kain sisa baju untuk menghasilkan produk yang bermanfaat, seperti tatakan ataupun tempat pensil.
Diketahui kaus bekas dan plastik merupakan bahan-bahan yang seringkali menjadi penyumbang terbesar sampah di lingkungan. Dalam workshop ini, peserta diajak untuk melihat nilai manfaat yang bisa didapatkan dari kaus bekas dan plastik yang tidak lagi terpakai. Dengan kreativitas dan ketelatenan, kedua bahan tersebut dapat dimanfaatkan menjadi sesuatu yang berguna.
Pertama-tama, kaus yang telah dipotong panjang dan tipis digunakan untuk melilit kantong plastik yang telah diulir panjang layaknya tali. Plastik yang telah terlilit kain tersebut kemudian diikat menggunakan benang wol dengan teknik pengikatan khusus. Hasil ikatan tersebut menjadi fondasi bertekstur estetik dan menarik yang dapat dibentuk sebagai tatakan meja, tempat pensil, atau produk lain sesuai kreativitas.
Para peserta antusias mempraktikkan langkah demi langkah membuat hasil ikatan yang rapi sembari menanti berbuka puasa. Untuk semakin menyemarakkan suasana, Joli Jolan telah menyediakan beragam sajian buka puasa seperti kolak, pizza, dan nugget bagi para peserta workshop.
Membangun Ekosistem yang Saling Mendukung dan Peduli Lingkungan
Kegiatan kolaboratif Joli Jolan bersama pegiat kreatif dan masyarakat umum seperti ini menjadi pemantik inspirasi bagi siapa saja yang terlibat di dalamnya. Ekosistem yang saling mendukung dalam pemberdayaan masyarakat serta kepedulian terhadap lingkungan diharapkan semakin terbentuk. Setiap peserta yang mengikuti kegiatan pun tidak sekadar pulang dengan membawa hasil karya, tetapi juga perasaan positif karena mendapatkan pengetahuan baru dalam berkontribusi menjaga lingkungan dengan cara yang kreatif.
Workshop semacam ini pada akhirnya tidak sekadar menjadi sarana edukasi dalam menghasilkan ide karya-karya sirkular, tetapi mengajak peserta untuk menyadari dan mengapresiasi kontribusi mereka dalam menjaga kelestarian lingkungan. Dengan pola pikir yang tepat dan praktik kreatif dalam megelola sampah, peserta diharapkan menjadi agen perubahan yang membawa dampak positif bagi lingkungan di sekitar mereka masing-masing.
Bingung mau ngabuburit yang berfaedah? Atau mau menambah ilmu dan keahlian mengelola barang bekas? Workshop Joli Jolan kali ini bakal cocok nih buat kalian! Workshop Do It Yourself bertema Sulap Kaus Bekas dan Kantong Plastik Jadi Produk Estetik bakal membuat kawan-kawan semakin kreatif sekaligus eco-friendly.
Kawan akan diajak merangkai kaus bekas serta tas kresek menjadi prakarya seperti coaster (tatakan gelas), wadah alat tulis, dan lain sebagainya. Tertarik bergabung? Berikut informasi kegiatannya.
Waktu: Sabtu, 30 Maret 2024 pukul 15.00-17.00 WIB
Lokasi: Ruang Solidaritas Joli Jolan, Jalan Siwalan No.1 Kerten, Laweyan, Solo (google map Joli Jolan).
Segera daftarkan diri di bit.ly/workshopjolijolan atau scan barcode di poster. Pendaftaran ditutup apabila kuota sudah terpenuhi. Info lebih lanjut bisa langsung menghubungi nomor berikut ini 085808339523
Perempuan berperawakan kecil itu mendadak mengucap syukur saat berkunjung ke galeri Joli Jolan akhir pekan lalu. Raut mukanya seakan tak percaya usai mendapatkan seratusan buku bacaan untuk taman bacanya. “Alhamdulillah, mungkin ini jawaban doa saya,” ujar perempuan berjilbab bernama Dyah itu sambil terus berucap syukur.
Beberapa waktu terakhir, Dyah tengah merintis taman bacaan bernama Rumah Baca Teras Kita. Fasilitas itu berlokasi di Sawahan, Ngemplak, Boyolali. Dia memanfaatkan teras rumah dan ruang tamu kebunnya untuk menjadi taman baca. Dyah bersemangat membangun taman baca yang dapat diakses secara gratis mengingat minimnya fasilitas sejenis di kampungnya.
Namun upaya menggerakkan literasi secara swakelola ternyata tak semudah membalikkan telapak tangan. Dia sudah berkeliling ke perpustakaan daerah di Soloraya untuk mengakses donasi buku bacaan, pun lembaga pendidikan lain yang memiliki fasilitas baca. Namun, dia selalu pulang dengan tangan hampa. “Terlalu banyak persyaratan,” ujar Dyah yang siang itu datang bersama sang anak, Rania dan teman sepermainannya.
Selama ini, dia menyicil koleksi taman baca dengan membeli buku di bazar murah dengan kocek sendiri. Dyah pun kaget saat kami mempersilakannya mengambil koleksi buku di Joli Jolan tanpa syarat berbelit. Dia bahkan sampai memaksa kami melihat proposal taman bacanya, menunjukkan bahwa dia serius membangun Rumah Baca Teras Kita. “Rencananya akan kami buka setiap Sabtu-Minggu,” ujarnya.
Saat itu, kami pun merasa senang karena buku donasi dari kawan-kawan sudah menemukan rumah barunya. Belakangan kami memang fokus cuci gudang koleksi agar donasi buku baru bisa masuk. Usai mengepak buku, Dyah langsung memesan taksi online untuk mengantar koleksi barunya sampai rumah. Sang putri, Rania, dan temannya, tampak kegirangan karena bakal punya banyak bahan bacaan anyar. “Semoga suatu hari saya bisa bikin seperti Joli Jolan di tempat saya,” ujar Dyah sebelum bergegas pulang.
Peran Taman Baca dalam Menumbuhkan Literasi
Minimnya minat literasi memang menjadi masalah klasik di Indonesia. Selain rendahnya minat baca, akses terhadap sumber-sumber literasi pun kurang memadai. Harga buku yang semakin melangit tentu menjadi salah satu alasan tersendiri mengapa tidak semua orang memprioritaskan buku sebagai kebutuhan utama. Oleh karena itu, tumbuhnya taman-taman baca seperti ini menjadi oase yang sudah selayaknya didukung.
Berdasarkan data dari pengurus pusat Forum Taman Bacaan Masyarakat (Forum TBM), ada sebanyak 2.388 TBM dan komunitas yang terdaftar pada tahun 20231. Bisa dibilang jumlah yang relatif kecil jika dibandingkan dengan jumlah masyarakat Indonesia yang mencapai 278,7 juta pada pertengahan 20232.
Meskipun adanya taman baca tidak seketika membuat minat baca mayoritas masyarakat Indonesia meningkat, setidaknya taman baca menjadi rujukan bagi mereka yang telah memiliki minat baca tetapi kesulitan membeli buku. Taman baca menjadi upaya mengakrabkan literasi kepada mereka-mereka yang telah menemukan manfaat dan kesenangan dalam membaca.
Apabila peran taman baca terus didukung dan diduplikasi, bukan hal yang mustahil dampak positif akan terwujud ke depannya. Bisa jadi generasi yang tumbuh bersama literasi akan menyebarkan semangat literasinya melalui cara mereka masing-masing saat dewasa nanti. Semangat positif seperti inilah yang sedikit demi sedikit akan mewujudkan kebiasaan literasi secara massal.
Hi.Yusuf, H. (2023, September 14). Taman Bacaan Masyarakat dan Gerakan Sosial Baru di Indonesia. ForumTBM. https://forumtbm.or.id/taman-bacaan-masyarakat-dan-gerakan-sosial-baru-di-indonesia/ ↩︎
Badan Pusat Statistik. (2023, November 24). Hingga Pertengahan 2023, Jumlah Penduduk Indonesia Tembus 278 Juta Jiwa. KKIJateng. https://kkijateng.or.id/hingga-pertengahan-2023-jumlah-penduduk-indonesia-tembus-278-juta-jiwa/ ↩︎