Categories
Sudut Joli Jolan

Gara-gara Si Informan, Natasha Kenal Joli Jolan

Mengenal lapak Joli Jolan menjadi anugerah tersendiri bagi beberapa orang yang merasakan kebermanfaatannya. Manusia sebagai makhluk sosial dibantu dengan media sosial, berlomba-lomba menyampaikan informasi kebermanfaatan itu kepada sesamanya yang berjalan begitu masif. Sehingga, berdampak dengan lebih banyaknya masyarakat yang turut berkontribusi. Informasi dari media sosial menggelinding sampai obrolan darat, dijadikannya bahan diskusi di tongkrongan.

Beberapa waktu lalu, informasi kebermanfaatan dari lapak Joli Jolan dibawa dan diperdengarkan di tongkrongan yang berisi lima orang, termasuk si Informan. Si Informan adalah salah satu orang yang merasakan kebermanfaatan dari lapak Joli Jolan tersebut. Dia menemukan sisi humanis di tengah kerasnya perkotaan yang mana sifat individualnya begitu kentara. Dia merasakan segarnya air di tengah dahaga. Orang-orang gotong-royong saling berbagi dan membantu kepada sesamanya yang membutuhkan. Si Informan merasa berkewajiban mendiskusikan lapak Joli Jolan ke mereka. Menurut penilaiannya, empat temannya ini memiliki karakter jarang bergaul dan rutinitas monoton. Hidupnya berjalan normal dan berkecukupan, tetapi sering kali mengeluhkan banyak hal, seperti kurangnya rasa syukur.

Semua peserta diskusi antusias mendengarkan. Tak lama berselang, keluh kesah di antara mereka pun satu per satu saling bersautan, tidak jauh dari perasaan bosan dengan rutinitas yang dijalankan dan perasaan selalu ada yang kurang dalam hidup. Sehingga, informasi yang didengar dan didiskusikan menjadi menarik dan panjang. Mereka pun penasaran untuk berkunjung ke lapak Joli Jolan.

Malam hari, sepekan sebelum lapak Joli Jolan digelar pada setiap hari Sabtu, si Informan bersama teman-temannya berkumpul, mengkonfirmasi kembali keinginan mereka. Salah satu di antara mereka mengusulkan iuran untuk membawa bingkisan makanan berupa nasi bungkus. Teman-teman yang lain menyepakati usulan tersebut dan bersepakat untuk iuran. Selanjutnya, muncul pertanyaan, siapa saja yang ikut ke lapak Joli Jolan? Mereka saling bertatapan, menyampaikan ada agenda lain. Hanya ada satu orang yang bisa ke lapak Joli Jolan, yakni Natasha. Teman-teman yang berhalangan bersedia hanya menerima laporan. Nantinya, Natasha ditemani si Informan.

Tiba di hari Sabtu, hari yang ditentukan, lapak Joli Jolan buka dari jam 10 pagi hingga jam 1 siang. Natasha sudah bersiap sejak pukul 8 pagi untuk mengingatkan teman-temannya kembali. Barangkali ada yang berubah pikiran untuk ikut. Namun, tetap saja, Natasha dan si Informan yang akan ke lapak.

Natasha sangat bersemangat, antusias dan tidak sabar untuk sampai di lokasi. Semalam, dia hanya tidur 2-3 jam saja. Seringkali terbangun, takut melewatkan kesempatan berharga ini. Sekitar jam 9 pagi, Natasha sudah di depan rumah si Informan dengan membawa nasi bungkus yang terbungkus rapi. Senyumnya nyengir kegirangan saat si Informan keluar dari rumah menemuinya. Setelah bersiap, menggunakan motor sendiri-sendiri, mereka berdua berangkat ke Jl. Siwalan No. 1, Kerten, Kota Surakarta, alamat lokasi lapak Joli Jolan.

Di lapak Joli Jolan, Natasha dan si Informan menyapa dan berkenalan dengan founder Joli Jolan dan teman-teman relawan, berbincang sebentar sembari bergegas bersiap-siap menyiapkan lapak. Mereka turut serta membantu mengangkat barang-barang yang perlu disiapkan bersama relawan. Menerima dan memindahkan barang dari donatur yang baru datang. Di sudut yang lain, orang-orang yang ingin mendapatkan manfaat dari Joli Jolan, beberapa sudah menunggu, beberapa yang lain baru datang, sekitar lapak sudah mulai ramai.

Tak terasa waktu sudah menunjukkan jam 10, sudah saatnya lapak Joli Jolan dibuka. Koordinator relawan menyambut hangat melalui mikrofon sekaligus memberikan arahan. Penerima manfaat pun dengan saksama mendengarkan. Setelah selesai memberi arahan, penerima manfaat dipersilahkan masuk. Mereka berduyun-duyun dengan tertib menuju display barang-barang yang telah dipajang dengan rapi.

Pada pekan itu, penerima manfaat disambut dengan mahasiswa dari Universitas Sebelas Maret (UNS) jurusan Fisipol. Mereka membagikan susu kotak dan alat tulis di pintu masuk lapak untuk anak-anak. Ada wartawan dan beberapa mahasiswa jurusan yang sama berkeliling mendokumentasikan, termasuk teman si Informan, Natasha.

Setelah berkeliling, Dia mengambil tempat duduk di sudut lapak di samping si Informan, merasakan aura yang berbeda dengan kebiasaan yang dijalaninya. Apa yang dilihatnya menjadi pemandangan yang berharga. Mempertanyakan mengapa dulu saat menjadi mahasiswa dia tidak seperti mahasiswa yang dilihatnya di lapak. Mereka dengan sesamanya melakukan kegiatan berbagi. Meskipun dengan barang yang terlihat “murah” atau barang yang tidak baru namun masih bisa bermanfaat.

Mengapa dia tidak mendapatkan ekosistem yang sebaik mereka. Dia pada saat itu mahasiswa kupu-kupu (kuliah-pulang, kuliah-pulang). Atau jika berkumpul dengan temannya, hanya menguntungkan kebahagiaan dirinya dan teman-temannya saja yang tidak berimbas pada kemanfaatan orang banyak. Tak heran jika, di rumahnya tergeletak banyak sekai barang hasil healing bersama teman-temannya yang sudah tidak terpakai.

Matanya menyapu sekitar, terhenti saat melihat bapak-bapak memilah-milah mainan anak, yang mungkin akan diberikan kepada anak laki-lakinya. Ibu-ibu memilih baju anak, dari gantungan baju satu ke satunya, memilih dengan saksama. Sepertinya Ibu itu ingin memberikan baju yang terbaik untuk anak perempuannya. Dia pun tiba-tiba teringat saat dirinya masih kecil dulu. Seringkali dia menangis dan melempar barang apa saja yang ada di dekatnya, mengurung diri di kamar sembari memaki orang tuanya jahat dan tidak sayang kepada dirinya apabila apa yang diinginkannya tidak kunjung dibelikan oleh orang tuanya.

Tubuhnya duduk di kursi, tetapi pikirannya melayang jauh. Hatinya dikoyak dengan pemandangan yang ada di lapak. Mulutnya bercerita menguraikan “dosa dan penyesalan” kepada si Informan. Si Informan mendengarkan dengan saksama, hanya sesekali menimpali. Sebelum akhirnya berpamitan pulang, Natasha mengucapkan sumpah pada dirinya untuk datang lagi dan menjadi si Informan selanjutnya untuk memperluas kebermanfaatan Ruang Solidaritas Joli Jolan.

Categories
Komunitas

Kejutan dari Grobogan

Belum lama ini kami mendapatkan kiriman video dari seorang warga Grobogan. Video pendek itu langsung menarik perhatian kami. Bagaimana tidak, terlihat di sana berjejer sepatu, sandal, dan tas yang masih berkondisi sangat bagus. Ada pula deretan pakaian yang dipajang layaknya toko sandang.

Tak hanya itu, teh serta tepung-tepungan seperti tepung beras dan tapioka juga ditata berjejer. Semuanya bisa diambil gratis oleh warga secukupnya. Gerakan ini muncul di Wirosari, Grobogan. Lokasinya tak jauh dari Bledug Kuwu.

Meski kawasan mereka tak jauh dari objek wisata, tak sedikit warganya yang masih hidup marginal. Hal ini membuat seorang pemilik toko di daerah itu tergerak. Pertemuannya via media sosial dengan Joli Jolan membuatnya membulatkan tekad untuk ikut membuat wadah saling bantu.

Cik Susy, nama pemilik toko itu, kemudian berkontak dengan salah satu sukarelawan kami untuk merealisasikan gerakan serupa di daerahnya. Kami salut karena tak butuh waktu lama Cik Susy dkk. untuk mengeksekusi niatnya.

Beberapa kardus berisi pakaian pun kami kirim dari Solo sebagai “modal” kegiatan. Lalu bagaimana dengan sepatu, sandal hingga tepung yang ada di sana? Ya, itu semua dari donasi warga sekitar. Keren ya? Mereka dengan berkesadaran saling bantu untuk menguatkan kehidupan sesama warga.

Pada 7 Desember 2024 nanti, kawan-kawan di Grobogan akan kembali berkegiatan. Kami berdoa semoga gerakan di Grobogan dapat rutin berjalan, setidaknya sebulan sekali seperti yang telah diinisiasi warga Banyudono, Boyolali, dan Jaten, Karanganyar. Bagi kawan yang berdomisili di Grobogan dan sekitarnya, ini kesempatan untuk berkolaborasi.

Cik Susy dkk. bilang yang hendak berdonasi bisa diantar ke tokonya di Toko Mulia Wirosari. Donasi apa pun wajib dalam kondisi baik ya! Saat ini mereka juga membutuhkan sukarelawan agar kegiatan saling bantu dapat berkelanjutan. Jika ada yang membutuhkan kontak Cik Susy, silakan kontak kami. Panjang umur solidaritas!

Categories
Sudut Joli Jolan

Solidaritas dan Segelas Es Lemon

Bulan Oktober segera berakhir, namun cuaca di Solo masih saja kurang bersahabat. Beberapa hari belakangan ini pun suhu telah mencapai angka 390 Celcius saat siang. Maklum, matahari bersinar sangat terik dan menyengat. Banyak kawan mengeluhkan hal tersebut, demikian pula saya yang sering berkegiatan di luar ruang.

Bagaimana mengatasi hal ini agar semua kegiatan tidak terhenti karena harus berkegiatan di bawah teriknya cuaca? Salah satunya adalah menjaga tubuh supaya selalu terhidrasi atau lembab. Saya selalu membawa botol air minum yang bisa menjaga suhu air awet sesuai yang diinginkan atau insulated bottle, biasanya juga disebut tumbler.

Tumbler saya isi dengan air lemon dingin. Resepnya sederhana, hanya membutuhkan lemon 1 buah dan air mineral dingin 750 ml. Boleh dicampur madu 1 sendok makan atau sesuai selera. Lemonnya dibelah menjadi 2, separuh diiris dan separuhnya diperas untuk semuanya dimasukkan ke dalam tumbler.

Saya menyukai suhu air minum sekitar 100 Celcius, yang saya dapatkan dari menuang air yang sudah didinginkan di kulkas. Jadi ketika tubuh sudah mulai terasa dehidrasi atau haus, maka saya teguk perlahan air lemon dingin dari tumbler untuk menjaga badan tetap lembab dan nyaman.

Viralnya Joli Jolan

Di tengah panasnya Kota Solo, ada hal yang mendadak menjadi penyejuk hati selain segelas lemon. Sungguh tidak menyangka kegiatan sederhana kami di Joli Jolan dilihat jutaan pemirsa melalui berbagai platform media sosial. Sekaligus telah diforward (diteruskan) ribuan kali, baik langsung dari media sosial maupun dari grup Whatsapp (WAG) ke WAG lain.

Ya, hal itu tak lepas dari unggahan Youtuber yang juga sukarelawan Joli Jolan, Mas Daniel, atau yang akrab dikenal dengan Mewalik. Videonya tentang Joli Jolan viral di Instagram dan TikTok yang membuat sukarelawan Joli Jolan harus menggelar “pertemuan darurat” hari Kamis, 17 Oktober 2024 lalu.

Bahagia? Bangga? Atau biasa saja? Entahlah, setiap relawan memaknai viralnya Joli Jolan dengan sikap dan caranya masing-masing. Saya menyerah untuk membaca komentar yang jumlahnya ribuan. Apabila itu doa-doa baik, maka doa tersebut sudah menembus langit.

Apabila itu cacian dan kecurigaan akan menjadi penghapus dosa-dosa relawan dan semua pihak yang membersamai ruang solidaritas Joli Jolan. Bahkan ada yang disangkut-pautkan dengan urusan politik, jauhlah. Kami ada bukan karena kepentingan pragmatis sesaat.

Pesan melalui WA dan telepon berdering dari handai taulan yang lama tak bersua. Antara senang karena diperhatikan dan menjawab segala pertanyaan yang sama. Antara lain, siapa pemilik Joli Jolan? Jawabannya: milik semua orang.

Sedari awal, kami bersepakat bahwa tidak ada kepemilikan aset. Siapa pun yang menaruh manekin, gantungan baju, hanger, lemari, etalase kaca dsb tidak dicatat dalam administrasi Joli Jolan. Setiap saat jika dibutuhkan oleh pemiliknya, boleh diambil kembali.

Juga ada pertanyaan tentang bagaimana gerakan ini menghidupi dirinya padahal komunitas tanpa uang ini akan mencapai usia lima tahun pada Tanggal 21 Desember 2024. Lalu, ada yang berempati untuk berbagi dengan bentuk uang. Saat ini kami menggunakan akun Trakteer sebagai satu-satunya akses jika ada warga yang ingin urun dana di Joli Jolan.

Hanya dengan segelas es lemon tea yang berharga Rp5.000, warga sudah bisa berkontribusi merawat gerakan Joli Jolan. Setiap dana yang terkumpul via Trakteer akan kami gunakan untuk menunjang operasional gerakan serta pengelolaan website. Yuk ikut merasakan segarnya solidaritas dengan segelas es lemon tea!

Categories
Gagasan

Saatnya Mengorganisir Kebaikan

Belakangan ini menjadi hari yang membahagiakan sekaligus melelahkan bagi Joli Jolan. Membahagiakan karena atensi terhadap gerakan ini semakin besar. Berkat video pendek yang dibuat oleh @mewalik, vlogger berkebun yang juga merupakan sukarelawan kami, gerakan Joli Jolan kembali viral menembus sekat wilayah.

Follower Instagram Joli Jolan bertambah hingga 9.000 orang hanya dalam waktu tiga hari. Komen di konten maupun DM/pesan pun seakan tidak ada habisnya untuk dijawab (mohon maaf bagi pesan yang belum terbaca ya, pasti nanti kami balas). Rata-rata warga menanyakan bagaimana cara berbagi kebaikan lewat Joli Jolan.

Tak sedikit pula yang memberikan doa dan dukungan moral bagi gerakan kecil dari Kerten, Laweyan, Solo ini. Hal membahagiakan tak berhenti di situ. Kami melihat antusiasme yang begitu besar dari warga untuk menginisiasi gerakan serupa di wilayahnya.

Warga dari Jogja, Semarang, Surabaya, Bandung, Batam, Bali hingga Samarinda mengapungkan niat untuk membikin wadah berbagi. Mereka yang berasal dari kota yang sama saling tag, membicarakan kemungkinan untuk merealisasikan gerakan saling bantu. Ini yang paling membuat kami bahagia, optimistis dan terharu dalam satu waktu.

Kami melihat warga semakin sadar bahwa mereka bisa berdaya. Modal sosial ini sangat penting untuk mulai mengorganisir diri. Ya, inisiatif kecil yang terealisasi lebih baik daripada wacana yang di awang-awang. Kami telah membuktikannya selama hampir lima tahun ini.

Mulailah melihat potensi dan kebutuhan di masing-masing wilayah kalian. Tak perlu menanti sempurna untuk memulai hal baik. Cukup kumpulkan beberapa orang dengan visi serupa untuk membuka jalan. Jangan eksklusif. Kolaborasi dengan komunitas lain akan sangat menunjang sebuah gerakan saling bantu (mutual aid).

Tentu bakal ada banyak tantangan, terutama dalam hal konsistensi, di gerakan warga bantu warga seperti ini. Namun dengan komitmen dan kesadaran saling mengulurkan tangan, kami yakin gerakan akan terus lestari. Kini saatnya mengorganisir kebaikan, jangan menunggu pemerintah.

Categories
Komunitas

Inspirasi, Empati, dan Berbagi

Riuh rendah suara anak-anak terdengar mendominasi pada hari Selasa pagi, 8 Oktober 2024 di ruang kelas 3 SD Alam Surya Mentari Solo. Suasana belajar yang aman dan nyaman langsung terasa saat memasuki halaman sekolah.

SD Alam Surya Mentari memiliki kegiatan rutin yang cukup unik, yakni kelas inspirasi yang dikoordinir oleh komite. Tema kegiatan kelas inspirasi tahun 2024 ini adalah saling berbagi untuk menumbuhkan empati. Kali ini Joli Jolan diundang untuk mengisi kelas inspirasi tersebut.

Kelas inspirasi bersama dengan relawan Joli Jolan diawali dengan melakukan games atau permainan yang melibatkan anak. Sungguh asyik melakukan interaksi dengan anak-anak yang memang cenderung tidak bisa duduk anteng tersebut. Saat relawan memberikan salam dan menanyakan ingin dipanggil dengan sebutan apa, maka dengan jenaka minta dipanggil “mas” atau “mbak”. Wah, luar biasa. Panggilan dengan mas atau mbak artinya menganggap dirinya mampu bersikap dewasa.

Antusiasme dalam bermain games sangat terasa, tidak perlu mendorong-dorong agar anak berani maju untuk melakukan permainan yang sesungguhnya menstimulasi empati. Meskipun games sudah dilakukan sampai 2 putaran, masih saja ada yang minta untuk dilakukan lagi.

Setelah selesai bermain games, kegiatan dilanjutkan dengan memutar liputan CNN yang programnya bertajuk BERBUAT BAIK. Pemutaran liputan ini bertujuan untuk memperkenalkan Ruang Solidaritas Joli Jolan kepada anak-anak dengan visualisasi.

Hebatnya, walaupun hanya tayangan 10 menit, anak-anak mampu menjawab kuis-kuis yang dilemparkan oleh relawan terkait kegiatan Joli Jolan. Mereka terlihat senang sekali karena boleh memilih sendiri hadiah yang dibawakan dari galeri Joli Jolan. Ada yang memilih boneka untuk adiknya, ada yang memilih buku bacaan karena memang hobi membaca, ada yang memilih kerudung untuk ibundanya, dan berbagai macam barang lainnya dengan alasannya sendiri-sendiri.

Sesaat setelah melihat video Joli Jolan, anak-anak berkolaborasi memajang barang yang dibawa dari rumah. Anak-anak antusias melakukan barter atau boleh mengambil barang sesuai dengan kebutuhan. Bahkan ada seorang anak yang mengambil kembali barangnya, sungguh menggemaskan.

Setelah anak-anak praktik bertukar barang atau ijolan, barang-barang sisa yang dipajang saat kelas inspirasi dibawa oleh relawan Joli Jolan untuk dibagi pada hari Sabtu, 12 Oktober 2024 di galeri yang berada di Jalan Siwalan Nomor 1 Kerten, Solo.

Categories
Komunitas

Inisiasi Ruang Solidaritas di Karanganyar

Halo kawan-kawan! Ada kabar baik nih buat kalian yang berdomisili di Karanganyar dan sekitarnya. Mulai akhir pekan ini, gerakan barter dan berbagi pakaian/barang gratis bakal hadir di Jaten. Tepatnya di Jalan Josroyo Timur Nomor 26-28 RT 1 RW 14 Jaten (belakang Kantor Kecamatan Jaten).

Gerakan ini diinisiasi oleh seorang guru SMA Ursulin yang terinspirasi dengan @joli_jolan. Rencananya, kegiatan di Jaten akan buka sebulan sekali. Galeri di Jaten akan dibuka perdana besok Minggu, 25 Agustus 2024 pukul 09.00-12.00 WIB.

Untuk Joliers yang berdomisili di Jaten dan sekitarnya, silakan merapat ya! Untuk sementara galeri di Jaten hanya melayani kegiatan berbagi pakaian/barang gratis. Bagi yang hendak berdonasi bisa melalui @joli_jolan maupun drop box yang disediakan (dengan menghubungi CP terlebih dulu).

Kalian juga bisa berkontribusi menjadi sukarelawan lho di galeri Jaten. Jika berminat, sila langsung mampir hari Minggu. Panjang umur solidaritas!

Categories
Sudut Joli Jolan

Berkooperasi, Berbagi

Indonesia memperingati Hari Koperasi Nasional setiap tanggal 12 Juli. Sekilas, perayaan ini tampak tak ada hubungannya dengan Joli Jolan. Namun, sejatinya tak demikian. Meski belum berbentuk koperasi secara kelembagaan, Joli Jolan lahir dan tumbuh sampai sekarang karena semangat kooperasi.

Ya, koperasi memiliki nilai-nilai seperti swadaya, kesetaraan, pemerataan, dan solidaritas yang rutin kami usung hingga kini. Lewat berbagi pakaian, barang maupun makanan, Joli Jolan ingin mendorong masyarakat berdaya dengan mencukupi kebutuhannya sendiri. Tak hanya menanti pemerintah.

Memeriahkan Hari Koperasi, Joli Jolan akan memberi bonus dua item barang/pakaian bagi pengunjung pada hari Sabtu, 13 Juli 2024. Jadi, kawan-kawan bisa mendapatkan lima item barang/pakaian secara gratis. Meski bisa mendapatkan lebih banyak, kami tetap sarankan agar mengambil barang sesuai kebutuhan.

Kami tunggu di galeri ya. Selamat Hari Koperasi!

Categories
Sudut Joli Jolan

Redistribusi Joli Jolan ke Boyolali

Halo kawan-kawan! Akhir pekan ini tim Joli Jolan mau main ke Pengging, Boyolali, nih. Tentu bukan sekadar refreshing, kami berencana berbagi sejumlah pakaian dan piranti lain ke warga sekitar. Program ini menjadi bagian redistribusi yang belakangan rutin kami lakukan untuk mengurangi beban di galeri Kerten.

Tak hanya menstabilkan stok di ruang penyimpanan, kegiatan ini ingin mendorong agar penerima barang donasi dapat semakin merata dan meluas. Kami juga ingin berbagi ide dan inspirasi bersama warga Pengging terkait gerakan Joli Jolan.

Syukur-syukur, ke depan warga bisa memenuhi kebutuhan sandangnya dengan prinsip swakelola dan mengoptimalkan yang ada. Kawan-kawan yang ingin terlibat dalam kegiatan di Pengging atau sekadar ngobrol-ngobrol, boleh banget gabung.

🏡Lokasi: Slanggen, RT 7/RW 1 Ngaru-aru, Banyudono, Boyolali (rumah Pak Kenthut).
Waktu: Sabtu, 6 Juli 2024 pukul 09.00-12.00 WIB.

Oh ya, galeri di Kerten Sabtu ini tetap buka ya. Silakan yang ingin berburu pakaian atau barang gratis. Kami belum dapat menerima donasi pakaian dan aksesorisnya. Sementara donasi yang diterima hanya perlengkapan sekolah (alat tulis, tas dan sepatu anak dll), mainan, boneka, buku, dan makanan/sembako.

Categories
Sudut Joli Jolan

Kado di Hari Buruh

Halo kawan-kawan! Ruang Solidaritas Joli Jolan baru saja mendapatkan penghargaan bergengsi nih berupa Anugerah Komunitas Penggerak Terdepan Kategori Penggerak Aksi Sosial Kolaboratif dalam ajang Detikjateng-jogja Awards 2024.

Penghargaan diserahkan langsung kepada salah satu inisiator Joli Jolan Septina Setyaningrum dalam puncak acara di Pandanaran Ballroom Padma Hotel Semarang, Selasa (30/4/2024) siang. Kategori ini diberikan kepada kelompok masyarakat yang mendedikasikan organisasinya untuk perbaikan kualitas hidup masyarakat luas.

Sementara, Detikjateng-jogja Awards merupakan apresiasi yang diberikan kepada 20 tokoh, institusi, dan komunitas yang inovatif serta memberikan dampak positif di Jawa Tengah dan Jogja. Lalu, bagaimana Joli Jolan bisa terpilih?

Para peraih penghargaan melewati serangkaian proses panjang penilaian dari Tim Asesmen. Penilaian itu dilakukan Tim Asesmen atas karya nyata yang menunjukkan sifat inspiratif, inovatif, kreatif serta berbagai prestasi yang berdampak positif terhadap masyarakat di wilayah Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta.

Bagi kami, penghargaan itu menjadi wujud apresiasi publik terhadap Joli Jolan selama ini. Award ini semakin istmewa karena diberikan menjelang Hari Buruh 1 Mei. Ya, mayoritas pengunjung maupun sukarelawan Joli Jolan adalah buruh atau pekerja upahan.

“Trofi Kemanusiaan” ini kami tujukan setinggi-tingginya kepada para relawan, Joliers, dan para kolaborator yang membersamai sampai hari ini. Terima kasih untuk semua. Panjang umur upaya-upaya baik.🏡✨

Kredit foto: @detik_jateng

Categories
Sudut Joli Jolan

Kangen Joli Jolan

Pertama kali saya mengenal Ruang Solidaritas Joli Jolan hanya melalui postingan Instagram (joli_jolan). Saat itu satu di antara beberapa postingannya muncul di beranda. Sebuah konsep yang menarik, yakni berbagi kebaikan dengan barang layak pakai. Seketika ketertarikan saya muncul untuk berselancar di laman sosial medianya. Setiap postingan saya kunjungi hingga berlanjut menggali informasi tambahan di website yang mereka punya (jolijolan.org). Meskipun gerakan sosial, tetapi media informasi yang merkea garap sangatlah rapi. Hal ini pastinya meyakinkan pengunjung untuk masuk ke ruang perkenalan lebih dalam.

Setelah mendapat informasi detail, termasuk jadwal layanan, pekan berikutnya saya memutuskan untuk berkunjung ke kantor sekaligus lapak mereka yang bertempat di Jl. Siwalan No. 1 Kota Surakarta. Tempatnya strategis dan sangat mudah dikunjungi dengan transportasi umum maupun kendaraan pribadi.

Saat itu cukup ramai. Jumlah relawan yang berjaga di hari itu juga banyak. Sehingga, sangat memadai untuk memberikan informasi dan pelayanan kepada pengunjung. Sesampai di sana, saya diarahkan untuk mengisi buku tamu. Rasa penasaran yang memuncak, beberapa hal saya tanyakan satu per satu kepada relawan yang berjaga di stand depan pintu. Berbincang, mencari tahu satu dua hal yang mendasari mereka mendirikan komunitas sosial yang mungkin jarang digagas kebanyakan orang.

Meskipun beberapa sudah tahu dari informasi yang saya baca baca kemarin, tetapi beberapa pertanyaan saya coba kembangkan untuk mengkonfirmasi banyak hal. Setelah cukup mendapat banyak informasi dan yakin, saya disarankan untuk membuat kartu membership. Tentu dengan senang hati, saya mengiyakan tawaran yang disampaikan relawan tersebut.

Setelah dipersilahkan masuk ke dalam galeri, saya pun berkeliaran di setiap sudut ruangan dan memindai barang-barang gratis yang ada di sana. Joli Jolan menerima donasi segala bentuk barang layak pakai untuk bisa dimanfaatkan orang lain. Biasanya, donatur memberikan donasi barangnya karena sudah bosan atau sudah ganti dengan barang yang baru. Mungkin pikir mereka daripada rusak karena tidak dipakai, alangkah baiknya didonasikan ke Joli Jolan, siapa tau ada (pengunjung) yang membutuhkan untuk memanfaatkan barang tersebut.

Tidak heran, di setiap sudut ruangan penuh dengan barang-barang. Mulai dari sepatu, celana, baju, seragam sekolah, tas, topi, buku, bibit tanaman, dan masih banyak lagi. Jolijolan hanya menerima barang layak pakai, mereka punya regulasi untuk memilah dan memilih terlebih dahulu barang dari donatur. Selanjutnya mereka bersihkan dan diperlakukan selayaknya mereka sendiri yang memakainya. Sehingga, barang yang tertata di ruangan sangat layak untuk digunakan atau mungkin jika tidak berlebihan sangat layak pakai tertata rapi di rak dan cantolan.

Setelah puas di ruangan utama, saya pun bergeser ke teras depan. Di sana tertata rapi banyak sekali buku bacaan. Beberapa pengunjung asyik memilih dan membaca buku yang ada di sana. Saya pun mengambil salah satu buku untuk memuaskan rasa penasaran untuk melihat koleksi buka apa saja yang ada di sana. Satu per satu buku saya buka dan baca sejenak. Dipayungi pohon mangga yang rindang, membuat aktivitas membaca buku semakin nyaman.

Setelah puas dengan buku-buku dan melanjutkan langkah untuk berpindah, ada relawan yang mendatangi saya. Saya memperkenalkan diri kepada relawan tersebut hingga berlanjut berbincang tentang banyak hal. Tidak terasa, sudah banyak tema yang kami bicarakan. Obrolan mengalir dengan santai, layaknya pertemuan antara kawan lama yang tidak lama jumpa. Nyaman dan menyenangkan. Bercerita dan mengkonfirmasi banyak hal menjadi tema perbincangan kami yang panjang. Dilanjutkan rencana kegiatan kolaborasi yang berkesinambungan.

Tidak terasa, Joli Jolan sudah berumur empat tahun sejak kelahirannya. Mengusung tema di tahun ke empat, Empati di Relung Sanubari. Kegiatan utama masih jalan, tetapi lebih banyak lagi program inovatif yang tetap mereka jalankan dan penuh kebermanfaatan. Terlebih lagi, bisa dibilang mereka telah teruji dalam melalui badai Covid-19. Berkaca dari kejadian luar biasa itu, rasa-rasanya Joli Jolan perlu hadir dan menemani di tengah masyarakat untuk bangkit dari keterpurukan.

Saat ini kembali pada fase perkenalan, mengamati tumbuh kembang Joli Jolan dari kejauhan. Melalui setiap postingan media sosial, sembari penuh kegirangan. Semoga Tuhan menjaga mereka yang terus sinergi untuk berlomba-lomba bermanfaat lewat wadah Joli Jolan. Berharap bertemu kembali dalam kegiatan di lain kesempatan.

Jakarta, 7 Januari 2024