Tak terasa sebentar lagi kita bertemu dengan bulan Ramadan. Bagi umat Islam, bulan itu menjadi momen yang sangat ditunggu karena berlimpah kebaikan. Ramadan tahun ini pun seperti penantian untuk bisa beribadah lebih leluasa menyusul pandemi Covid-19 yang melanda sejak tahun 2020.
Biasanya sebagian umat membeli perlengkapan ibadah baru seperti sarung, sajadah atau mukena untuk menyambut Ramadan. Padahal, peralatan ibadah yang dimiliki sebelumnya masih bagus dan layak pakai. Hal ini tentu memicu kemubaziran yang justru ditentang dalam ajaran agama. Solusinya bagaimana? Salah satunya adalah solidaritas berbagi.
Menjelang bulan puasa tahun ini, kami membikin program Joli Jolan Sambut Ramadan untuk mewadahi kawan-kawan yang ingin menyumbangkan perlengkapan ibadahnya sebagai berikut: mukena, sarung, baju koko, sajadah, peci, tasbih, perlengkapan ibadah lain (kecuali jilbab). Periode pengumpulan mulai dari tanggal 8 Maret 2022 hingga tanggal 19 Maret 2022.
š”Drop Box:
Ruang Solidaritas Joli Jolan, Jalan Siwalan No.1 Kerten Laweyan Solo. CP Damai (088232117938), Novia (085290340291).
Jalan Ahmad Yani No.294 Gondang Banjarsari Solo. CP Pondra (089622763978).
Rumah Cak Sarif, Jalan Langenharjo Grogol Sukoharjo (samping Alfamart Langenharjo). CP Khoirus (081937385878).
Rumah Anton Wijaya, Perum Gading Permai, Jalan Raya Gading Permai 2 Blok AT 04 Grogol Sukoharjo. CP Santi (087733691119).
Seluruh perlengkapan ibadah yang didonasikan wajib masih bagus/layak pakai ya, syukur-syukur perlengkapan baru. Untuk piranti seken, disarankan dilaundry terlebih dulu untuk menjaga kebersihannya.
Dengan konsep berbagi atau barter, kita bisa memeroleh barang yang diinginkan tanpa harus mengeluarkan biaya. Kita juga bisa membantu kalangan yang belum beruntung untuk mendapatkan perlengkapan ibadah terbaik. Yuk, ikut berbagi!
Aktivitas belanja pakaian bekas atau thrifting belakangan menjadi tren di berbagai kota di Indonesia, termasuk Solo. Tak sekadar melapak di lokapasar (marketplace), para pelaku bisnis thrifting ābergerilyaā lewat sejumlah festival atau pameran. Jual-beli pakaian bekas menjadi medium perlawanan terhadap fast fashion yang cenderung kurang ramah lingkungan dan bermasalah dalam upah pekerjanya.
Namun ada kecenderungan gerakan thrifting masa kini lupa dengan āmisi muliaā-nya yakni memperpanjang usia produk atau pakaian. Sejumlah toko thrift justru membeli pakaian bekas dari luar negeri untuk dijual lagi dengan iming-iming keuntungan tinggi. Konsep thrifting yang mestinya mendukung kampanye zero waste malah berpotensi menimbulkan sampah fesyen baru apabila produk impor tersebut tak terserap pasar. Itu belum termasuk pertimbangan kesehatan dan regulasi yang hingga kini masih jadi perdebatan.
Konsumen pun belum sepenuhnya teredukasi ihwal tujuan sejati thrifting. Tak sedikit yang justru nge-thrift secara impulsif karena harga murah atau termakan brand, meski sebetulnya tidak benar-benar mereka butuhkan. Lantas bagaimana model thrifting yang ideal di era kekinian? Bagaimana pola konsumsi fesyen yang berkelanjutan? Yuk, kita obrolin bareng dalam Webinar Joli Jolan bertema Di Balik Thrifting: Antara Tren Fesyen dan Kesadaran Lingkungan pada:
š Selasa, 15 Februari 2022 ā° 19.00-21.00 WIB š Live via zoom
Narasumber: Risa Vibia (Sustainable fashion enthusiast, founder Pasar Wiguna) Septina Setyaningrum (Provincial Advisor Green Infrastructure Development) Chrisna Chanis Cara (Inisiator Ruang Solidaritas Joli Jolan)
Moderator: Ika Yuniati (Jurnalis Solopos)
Kegiatan webinar gratis, terbuka untuk umum. Fasilitas: E-certificate & souvenir Joli Jolan (bagi peserta terpilih).
Cara terbaik mengenal sebuah kota adalah berjalan kaki dan naik angkutan umum. Itulah yang ingin kami kenalkan dari kegiatan kami, Walking Tour Joli Jolan dan Transportologi ke Bekonang naik Batik Solo Trans (BST) koridor 5, yang baru saja diluncurkan bulan lalu, Sabtu kemarin (8/1).
Walking tour ini masih punya relasi erat dengan upaya Joli Jolan mengampanyekan lingkungan yang lebih lestari. Jika biasanya masih bergulat dengan sampah, kali ini kami ingin mengajak sesama relawan dan jejaring gerakan untuk naik angkutan umum yang semakin membaik di Solo.
Berjalan kaki bermanfaat tak hanya untuk alam karena menghasilkan nol emisi, tapi juga untuk kesehatan. Orang-orang yang biasanya naik kendaraan bermotor kami ajak kembali untuk menikmati aktivitas jalan kaki. Menyayangi kembali bagian tubuhnya yang lama tidak diajak untuk bergerak.
Naik angkutan umum juga bermanfaat untuk lingkungan karena menghasilkan emisi yang lebih rendah ketimbang kendaraan pribadi. Di dalam angkutan umum, kami kembali berbaur sebagai warga kota yang setara. Tidak ada perbedaan status. Tidak ada sekat kelas.
Mengenal Kota dengan Lebih Dekat
Selama berjalan kaki dan naik angkutan umum, kami belajar kembali mengenal kota dan sekitarnya dengan lebih dekat dan perlahan. Kendaraan bermotor dengan kecepatannya yang tinggi tidak memungkinkan manusia mengamati daun yang berguguran, bunga-bunga yang bermekaran, hingga jalan tanah dengan batu kerikil yang sering digunakan pejalan kaki. Sulitnya menyeberang di tengah lalu lintas yang abai pejalan kaki, tantangan untuk menemukan rambu halte di tepi jalan, warung mie ayam sedap, hingga pura mungil yang bersembunyi dalam keramaian juga kami temukan dalam perjalanan. Kendaraan bermotor hanya melintas sesaat, menciptakan jarak antara manusia dan realitas alam dan kehidupan warga.
Selama perjalanan, aku melihat wajah-wajah girang mereka yang kembali menikmati angkutan umum dan kehidupan warga dari dekat. Ada yang bilang ingin kembali naik angkutan umum, tapi masih merasa kesulitan karena aksesibilitas buruk. Ada yang bercerita kesulitan keluar rumah dengan hilangnya angkutan umum sedangkan ia tak bisa mengendarai kendaraan bermotor. Setiap warga punya cerita, punya memori, dan punya harapan untuk kembali naik angkutan umum.
Dari status kecil naik BST kemarin, aku menerima pertanyaan-pertanyaan kecil dari mereka yang penasaran naik angkutan umum pada masa kini. Bagaimana cara pembayarannya, di mana bisa naik. Ada yang berharap koridor angkutan umum dibuka menuju tempat tinggalnya.
Setiap kali aku mendengar harapan, aku hanya bisa membantunya berdoa. Semoga terkabul. Seperti harapanku dulu berdoa agar koridor 5 segera dibuka. Dulu, pada 2016. Ternyata, butuh waktu 6 tahun agar harapan itu terkabul. Ketika akhir tahun lalu koridor ini diluncurkan, aku sudah tidak berumah di sepanjang rute koridor 5.
Sepanjang perjalanan kemarin, kami jadi kelompok yang terlampau gembira. Aku berharap kegembiraan itu jadi awal memori baik kami semua naik angkutan umum. Memori ini adalah awal untuk kami semua kembali naik angkutan umum, mengenali kota kami dengan lebih baik, dan berbagi ruang jalan untuk sesama.
Beberapa kali kami mendapatkan pertanyaan yang sama saat mengobrol dengan warga atau komunitas lain tentang Ruang Solidaritas Joli Jolan. Ke depan Joli Jolan mau sebesar apa? Mau buka cabang di mana aja? Pertanyaan ini tidak salah. Bahkan mengandung harapan agar gerakan ini semakin tersebar di daerah-daerah lain. Yang menarik, jawabannya bisa beragam antarsesama sukarelawan. Ya, kami memang belum punya masterplan atau rencana jangka panjang. Jangankan masterplan, bisa rutin buka setiap akhir pekan dengan sukarelawan yang memadai pun sudah pencapaian luar biasa. Hahaha
Namun kami punya satu hal yang hingga kini menyatukan kami di Joli Jolan. Kami punya pemahaman bahwa gerakan yang sukses dan berdampak tak harus dikenal dan berkibar seantero Nusantara. Cendikiawan dan ahli ekonomi, E.F. Schumacher, pernah mengkritik kecenderungan untuk membangun sebuah struktur serba besar dan njelimet dalam tatanan kehidupan. Sistem itu nyatanya seringkali membuat manusia kehilangan pribadinya.
Schumacher lantas melontarkan ide āSmall is Beautifulā dalam bukunya. Sebuah hal yang kecil tak selalu minim nilai. Kecil justru bebas, efisien, penuh daya cipta, nikmat, dan lestari. Hal itu kami yakini hingga membawa Joli Jolan ke usia keduanya, 21 Desember 2021. Meski kecil, Joli Jolan telah menginspirasi warga atau komunitas lain membuat gerakan serupa yakni barter dan berbagi barang gratis. Di Salatiga ada Gestimba Karangalit, ada pula Gentosan di Jogja. Kawan dari Anak Kasih Indonesia kabarnya juga akan membuat gerakan serupa di pendoponya.
Namun bukan berarti kami puas dengan gerakan kami sekarang. Seperti desain logo khusus HUT kedua Joli Jolan yang futuristik, kami ingin lebih adaptif dengan teknologi. Digitalisasi pendataan hingga pembuatan aplikasi barter (kooperasi) menjadi impian agar Joli Jolan tetap kekinian. Kami juga punya mimpi membikin bulk store dan bank sampah untuk menunjang swadaya pendanaan. Pengembangan jolijolan.org sebagai kanal jurnalisme publik pun terus kami matangkan.
Terima kasih untuk para Joliers yang sudah mendukung Joli Jolan sejauh ini. Sebagai gerakan #rakyatbanturakyat, kami sangat menanti masukan atau kritik dari kawan-kawan. Kami juga terbuka bagi kawan yang ingin menjadi sukarelawan. Panjang umur solidaritas!
Bukan satu dua kali Ruang Solidaritas Joli Jolan menerima donasi yang jauh dari kata layak. Pakaian sobek, celana dalam bekas, sepatu āmangapā, tas rusak dan lain sebagainya kerap kami temui saat menyortir barang donasi. Ya mohon maaf, barang-barang itu langsung kami singkirkan karena tidak pantas jika diberikan pada orang lain. Sedih rasanya melihat sejumlah orang masih menganggap Joli Jolan sebagai gudang pembuangan barang bekas semata.
Barang tak layak tersebut tentu berpotensi menjadi masalah baru. Tak hanya memicu timbunan sampah, tapi juga mengundang penyakit. Tulisan ini mungkin dapat sekaligus menjadi pengingat bagi kawan-kawan tentang pentingnya memberikan barang yang terbaik bagi sesama. Di sisi lain, kami pun perlu mencari solusi apabila barang kurang layak ini telanjur sampai di galeri Joli Jolan. Beberapa bulan terakhir kami bekerjasama dengan sebuah pabrik pengolahan dakron/bantal untuk mengatasi sampah pakaian. Sejauh ini cara tersebut paling efektif untuk mengelola sampah pakaian meski kami harus mengantar ke pabrik yang lokasinya cukup jauh yakni di Gatak, Sukoharjo.
Namun yang masih menjadi pemikiran kami, bagaimana mengelola barang seperti tas, sepatu dan memorabilia lain yang tidak layak agar tidak langsung bermuara di tempat sampah. Beberapa hari lalu kami mendapat ide baru saat main ke Bank Sampah Jensan Mugi Berkah yang berlokasi di Pucangan, Kartasura, Sukoharjo. Kami belajar tentang pengelolaan sampah sederhana yang melibatkan warga dalam lingkup terkecil yakni RT/RW. Terbentuknya bank sampah membuat warga setempat mulai disiplin memilah sampah dari rumah. Sebulan sekali, warga rutin menyetor sampah anorganik seperti plastik, kertas, barang berbahan logam dan kaca serta lain sebagainya ke bank sampah.
Yang menarik, barang-barang khas di Joli Jolan seperti sepatu, tas, dan bahan lain berbahan plastik dan kaca yang kurang layak pun dapat terserap bank sampah. Bersama pengelola Bank Sampah Udadu, rintisan bank sampah yang berlokasi sekompleks dengan Joli Jolan, kami berinisiatif mempraktikkan pengelolaan sampah secara terpadu mulai pekan ini. Pada Rabu, 10 Februari 2021, tim sukarelawan Joli Jolan bersama Udadu akan mulai memilah donasi tak layak pakai agar dapat bernilai ekonomis dan ekologis melalui bank sampah. Sedikit banyak dana yang terkumpul akan kami gunakan untuk operasional Joli Jolan.
Kami meyakini bank sampah bukanlah solusi paripurna terhadap konsumerisme. Bank sampah hanya sebagai alat untuk mengurangi dampak gaya hidup kita yang kurang bertanggungjawab. Pola konsumsi berkelanjutan dengan membeli barang seperlunya tetap yang utama dalam menjaga kelestarian mother earth.
Pada hari keempat social distancing akibat pandemi Covid-19 ini, saya ingin berbagi cerita mengenai komunitas baru di kota tetangga yakni Solo yang diberi nama Joli Jolan.
Ya, kata Joli Jolan ini diambil dari Bahasa Jawa jol-ijolan yang artinya adalah tukar-menukar. TaglineAmbil sesuai kebutuhanmu, Sumbangkan sesuai kemampuanmu adalah kalimat sederhana yang membuat saya tertarik untuk mempelajari lebih lanjut tentang gerakan yang berdiri tanggal Desember 2019 ini. Faktor menarik lain adalah karena salah satu pendiri Joli Jolan merupakan seorang dosen komunitas kami di bidang transportasi yakni Mbak Septi.
Dilansir dari akun resmi @Joli_Jolan, barang-barang yang bisa saling ditukar antara lain; pakaian, buku bacaan, perlengkapan rumah tangga, peralatan sekolah, perkakas/ hiasan rumah, makanan, keperluan hewan peliharaan, dan memorabilia/ barang koleksi.
Pada 15 Februari 2020 lalu, setelah event Edukasi #1 Aman Berlalu Lintas di Alun-alun Pancasila, Anelis (Komunitas Ijo Lumut) dan saya mencoba memperkenalkan terminologi Joli Jolan kepada masyarakat Kota Salatiga. Caranya yakni dengan giveawaymainan daur ulang dari galeri Ijo Lumut. Ya, galeri edukasi dan kreasi daur ulang ini memang cukup produktif dalam menghasilkan berbagai mainan anak-anak.
Saya menilai tak ada salahnya membagikan mainan-mainan ini. Ada dua alasan utama;
Cek ombak, apakah mainan anak-anak bisa diterima masyarakat, apakah bisa dimasukkan sebagai komoditas Joli Jolan.
Memberikan edukasi kepada seniman-seniman cilik Ijo Lumut bahwa tangan di atas memang akan selalu lebih baik daripada tangan di bawah.
Sayangnya pada hari itu hampir semua anak dan orang tua mengambil mainan, tetapi tidak ada satu pun yang ikut menyumbang. Well, ada dua kemungkinan alasan menurut saya.
Gerakan ini memang baru dilakukan sekali sehingga banyak yang masih belum tahu dan tidak prepare mainan untuk ikut disumbangkan.
Tak bisa dipungkiri bahwa masyarakat kita lebih suka mengambil barang secara gratisan dan lupa bahwa ia pun sebenarnya telah mampu menyumbangkan barang juga.
GKJ Sidomukti Salatiga ikut tertarik mengimplementasikan gerakan Joli Jolan ini di Salatiga. Hal tersebut membuat saya semangat meluangkan waktu untuk datang ke markas Joli Jolan di Jajar, Kerten, Solo, 7 Maret 2020 lalu. Saya mengamati dan belajar dari para pakar di komunitas ini secara langsung.
Sampainya di markas Joli Jolan, saya langsung disuguhi makan siang sambil ngobrol dengan teman-teman. Relawannya berasal dari berbagai kalangan; mulai dari anak sekolah, kuliahan, pekerja formal, dan nonformal. Sambil asyik ngobrol, saya melakukan pengamatan dan observasi terhadap suasana Joli Jolan yang ada di sana.
Saya mempelajari ada beberapa poin penting;
Anak-anak yang datang ke Joli Jolan diberi konsumsi susu kotak. Supaya ada effort sedikit untuk mendapatkannya, si anak perlu melewati permainan melewati karpet dengan gambar telapak tangan atau telapak kaki.
Pembiayaan untuk membeli susu itu didapatkan dari kotak kardus bertuliskan Donasi Parkir untuk Membeli Susu Kotak. Kotak tersebut diisi oleh para pengunjung Joli Jolan yang membawa kendaraan. Selain itu, tentu saja Joli Jolan menerima sumbangan susu kotak dari masyarakat
Pengurus Joli Jolan memiliki mindset terbuka terhadap segala sesuatu. Joli Jolan tidak hanya jadi tempat untuk berbagi, tetapi juga telah menjadi ruang publik tempat bertemunya antar komunitas. Mbak Septi pun mengamini bahwa Kota Solo sudah sangat padat sampai tak memiliki ruang publik untuk komunitas bisa berkumpul seperti ini. Salah satu tujuan Joli Jolan adalah untuk memenuhi kebutuhan tersebut
Pengunjung Joli Jolan yang datang untuk kali pertama rata-rata hanya melakukan satu mata kegiatannya saja; menyumbangkan barang kemudian pulang, atau mengambil barang kemudian pulang. Orang yang mengambil barang didata oleh tim Joli Jolan dengan syarat dan ketentuan yang berlaku. Sebaliknya, orang yang menyumbangkan barang rata-rata enggan untuk ikut mengambil.
Mbak Septi mengiyakan bahwa orang yang mengambil tidak harus mengijoli/ membarterkan barang pada hari itu juga dan dengan nilai barang yang sama. Tidak membarterkan barang sampai kapanpun juga tidak masalah, ia tetap boleh mengambil barang lagi.
Mbak Septi menceritakan hal menarikĀ tentang tukang becak yang datang lagi diĀ pekan berikutnya sembari membawa empatĀ butir telur, juga pedagang sayur membawa duaĀ nasi bungkusĀ untuk ditukar. Saya sedikit mbrebes mili mendengar cerita tersebut.Ā Sambil mengamini dalam hati “Ya, rasa seperti inilah yang harus terus dirawat dan ditumbuhkan dalam hati sanubari Bangsa Indonesia. Jangan bermental miskin: Tak mungkin tak ada yang bisa disumbangkan kepada orang lain, karena setidaknya orang yang sehat itu itu pasti punya pikiran, waktu, tenaga, dan kemampuan untuk orang lain.”
Tentang Joli Jolan
Tibalah saat-saat mendebarkan ketika saya berkesempatan ngobrol empat mata dengan Mbak Septi. Saya menanyakan beberapa hal.
“Mbak, apa sih sebenarnya tujuan didirikannya Joli Jolan?”
Mbak Septi menjawab bahwa Joli Jolan adalah gerakan untuk bisa berbagi dengan orang lain. Joli Jolan ingin menjadi ruang publik tempat orang-orang bisa berkumpul, komunitas boleh membagikan ceritanya. Orang-orang bisa menyumbangkan sesuai kemampuannya maupun mengambil barang-barang sesuai kebutuhan. “Budaya baik ini, apabila sudah mengakar kuat dalam masyarakat, akan berdampak positif apabila suatu saat nanti terjadi bencana/musibah di Surakarta: masyarakat kita sudah terbiasa mengatasi itu semua dengan berbagi dan bekerja sama, mau saling memperhatikan kebutuhan orang yang satu dengan yang lainnya,ā terangnya.
Kalau meminjam istilah Bu Risma Walikota Surabaya, barangkali inilah yang disebut gerakan membangun kota yang resilience. Resilience artinya sebuah kota yang masyarakatnya memiliki ketahanan. Kereeen buat Mbak Septi dan teman-teman pendiri Joli Jolan!
Joli Jolan ini adalah gerakan non-profit. Mereka tidak berharap menimbun banyak barang di tempat demi mendapat keuntungan ekonomi. Saya lebih suka berpendapat bahwa Gerakan Joli Jolan adalah sebuah pembelajaran untuk mengasah rasa; apakah saya benar-benar butuh, adakah orang lain yang lebih membutuhkan? Apakah saya memang belum mampu menyumbangkan sesuatu, atau apakah saya sudah mampu tetapi belum mau/ belum merelakannya?
Mengingat Maret adalah bulannya Dewa Perang Aries, saya ingin mendefinisikan Joli Jolan sebagai gerakan perang melawan gaya hidup konsumtif. Gerakan ini merupakan sebuah ajakan kemanusiaan. Melalui berbagi dan bekerja sama, idealnya tidak perlu ada lagi orang-orang yang menghalalkan segala cara untuk mencari uang demi memenuhi kebutuhan. Mari kita bersama-sama menciptakan ruang-ruang publik yang semua orang bisa datang untuk belajar lebih peduli dengan nasib sesama.
Nah, siapa di antara Teman-Teman Pembaca yang juga mau ikut terlibat dalam mengimplementasikan gerakan positif ini di Salatiga? Ditunggu kabarnya, ya.
Joli Jolan beroperasi dengan sistem sederhana. Pendataan masih manual. Pendataan ini memang masih perlu diperbaiki untuk kemudahan akses data dan meminimalisasi kecurangan. Dari operasional setahun, ada temuan tidak semua pengunjung mengambil barang di Joli Jolan karena butuh. Ada yang sering mengakali untuk mengambil barang lebih banyak. Padahal, pembatasan diterapkan untuk pemerataan akses barang untuk pengunjung lain. Ini pekerjaan rumah yang masih belum selesai.
Pekerjaan rumah yang tak kalah penting adalah membuat Joli Jolan menjadi komunitas yang lestari. Ada atau tidak ada inisiatornya, dia harus jalan. Joli Jolan harus punya sumber pendanaan mandiri. Joli Jolan, selain membantu sesama, harus bisa membantu dirinya sendiri. Dengan begitu, ia tidak akan mandeg. Ada banyak pekerjaan rumah, ada banyak rencana yang terlambat untuk direalisasikan hingga Joli Jolan berusia setahun. Aku sendiri juga urun banyak untuk keterlambatan itu. Maafkan aku, kawan-kawan.
Aku merasa kawan-kawan Joli Jolan sangat hebat. Tidak mudah menyediakan waktu luang untuk menerima kiriman, menyortir baju, memajangnya setiap hari buka, mendata barang masuk-keluar dan anggota yang bergabung. Belum lagi perlu manajemen sosial media, membuat pamflet dan banner, membuat kaos, mengurus food not bombs, mendistribusikan sembako, mengirimkan logistik, dan lainnya. Ada banyak orang yang bekerja di balik Joli Jolan.
Selama setahun ini, tepat 21 Desember 2020, Joli Jolan memberiku kesempatan bertemu dengan orang-orang hebat, memberi pelajaran hidup, dan akses baru ke dunia yang menarik. Satu hal terpenting yang aku dapatkan darinya: membantu tak melulu harus dengan uang. Selamat ulang tahun Joli Jolan!
Beberapa dekade lalu generasi Y memperlakukan kebutuhan dasar berupa sandang sebagai kebutuhan untuk mendapatkan pengakuan dari lingkungannya. Kamera polaroid menjadi sarana untuk mengabadikan kebanggaan bersandang. Zaman ini, generasi milenial dilahirkan di dunia serba digital. Mereka telah bersentuhan langsung dengan berbagai perangkat teknologi. Bahkan mulai dari bayi dalam kandungan hingga dilahirkan, manusia kecil ini sudah eksis di jejaring media sosial yang bisa diakses siapa saja.
Hal ini berbanding lurus dengan dorongan konsumerisme luar biasa karena kebutuhan penampilan. Di satu sisi, ini mendorong pertumbuhan ekonomi. Di sisi lain, muncul permasalahan sampah yang semakin kompleks. Permasalahan tersebut adalah sampah fashion. Sampah fashion tidak hanya identik dengan baju, tapi termasuk segala pernak-pernik dan barang penunjang penampilan. Biasanya pengguna media sosial pada setiap unggahannya menyadari bahwa penunjang penampilan harus diperhatikan. Hal inilah yang mendorong konsumerisme produk fashion dan turunannya.
Tanpa sadar, lemari sudah tidak muat dan kamar terasa bertambah sesak dengan berbagai koleksi model baju, tas, sepatu, aksesoris dan kosmetik. Berbagai barang tersebut tentu memiliki masa pakai. Ketika hanya ditimbun atau disimpan tentu akan rusak. Hasilnya, timbulan sampah baru semakin tidak terkendali. Timbulan sampah bukan hanya sekadar sampah rumah tangga yang identik dengan proses konsumsi makanan. Apabila tidak segera ada aturan dari hulu ke hilir yang mengikuti perkembangan zaman, kompleksitas sampah merupakan keniscayaan.
Berangkat dari keprihatinan terhadap konsumerisme dan dampak sampah, Ruang Solidaritas Joli Jolan terbentuk pada 21 Desember 2019. Gerakan ini dimulai dari sebuah bangunan kecil dengan halaman lapang di Jalan Siwalan 1 Kerten Laweyan Solo. Beberapa orang telah memulai upaya menekan konsumerisme dan laju sampah di Joli Jolan.Nama Joli Jolan terinspirasi dari istilah Jawa āijol ijolanāyang artinya saling bertukar. Filosofi sederhana ini mendorong pembentukan ruang saling berbagi agar memperpanjang umur barang.
Siapapun bisa menjadi anggota Joli Jolan. Setiap anggota dapat mengambil barang yang dibutuhkan tanpa membayar dengan menukarkan barang miliknya yang masih bisa dimanfaatkan. Meski masih seumur jagung, antusiasme warga terhadap Joli Jolan cukup besar. Sebelum pandemi Covid-19, Joli Jolan pernah disambangi 200 pengunjung pada akhir pekan. Padahal Joli Jolan kala itu hanya buka tujuh jam.
Kami berharap Ruang Solidaritas Joli Jolan menginspirasi komunitas di kota-kota lain untuk melakukan hal yang sama sebagai gerakan perlawanan masyarakat terhadap konsumerisme. Peran masyarakat dalam pembangunan berkelanjutan yang memperhatikan aspek sosial dan lingkungan harus dijalankan. Tidak hanya sekadar wacana belaka. Dukungan pemerintah juga tak kalah penting untuk menciptakan regulasi yang pro zero waste atau menekan residu sampah hingga nol. Tak lupa peran swasta selaku produsen yang wajib mendesain produknya agar ramah lingkungan. Mencegah lebih baik daripada mengobati bumi yang sakit.
Septina Setyaningrum, salah satu pendiri Joli Jolan