Categories
Sudut Joli Jolan

Redistribusi Joli Jolan ke Boyolali

Halo kawan-kawan! Akhir pekan ini tim Joli Jolan mau main ke Pengging, Boyolali, nih. Tentu bukan sekadar refreshing, kami berencana berbagi sejumlah pakaian dan piranti lain ke warga sekitar. Program ini menjadi bagian redistribusi yang belakangan rutin kami lakukan untuk mengurangi beban di galeri Kerten.

Tak hanya menstabilkan stok di ruang penyimpanan, kegiatan ini ingin mendorong agar penerima barang donasi dapat semakin merata dan meluas. Kami juga ingin berbagi ide dan inspirasi bersama warga Pengging terkait gerakan Joli Jolan.

Syukur-syukur, ke depan warga bisa memenuhi kebutuhan sandangnya dengan prinsip swakelola dan mengoptimalkan yang ada. Kawan-kawan yang ingin terlibat dalam kegiatan di Pengging atau sekadar ngobrol-ngobrol, boleh banget gabung.

šŸ”Lokasi: Slanggen, RT 7/RW 1 Ngaru-aru, Banyudono, Boyolali (rumah Pak Kenthut).
ā°Waktu: Sabtu, 6 Juli 2024 pukul 09.00-12.00 WIB.

Oh ya, galeri di Kerten Sabtu ini tetap buka ya. Silakan yang ingin berburu pakaian atau barang gratis. Kami belum dapat menerima donasi pakaian dan aksesorisnya. Sementara donasi yang diterima hanya perlengkapan sekolah (alat tulis, tas dan sepatu anak dll), mainan, boneka, buku, dan makanan/sembako.

Categories
Sudut Joli Jolan

Kado di Hari Buruh

Halo kawan-kawan! Ruang Solidaritas Joli Jolan baru saja mendapatkan penghargaan bergengsi nih berupa Anugerah Komunitas Penggerak Terdepan Kategori Penggerak Aksi Sosial Kolaboratif dalam ajang Detikjateng-jogja Awards 2024.

Penghargaan diserahkan langsung kepada salah satu inisiator Joli Jolan Septina Setyaningrum dalam puncak acara di Pandanaran Ballroom Padma Hotel Semarang, Selasa (30/4/2024) siang. Kategori ini diberikan kepada kelompok masyarakat yang mendedikasikan organisasinya untuk perbaikan kualitas hidup masyarakat luas.

Sementara, Detikjateng-jogja Awards merupakan apresiasi yang diberikan kepada 20 tokoh, institusi, dan komunitas yang inovatif serta memberikan dampak positif di Jawa Tengah dan Jogja. Lalu, bagaimana Joli Jolan bisa terpilih?

Para peraih penghargaan melewati serangkaian proses panjang penilaian dari Tim Asesmen. Penilaian itu dilakukan Tim Asesmen atas karya nyata yang menunjukkan sifat inspiratif, inovatif, kreatif serta berbagai prestasi yang berdampak positif terhadap masyarakat di wilayah Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta.

Bagi kami, penghargaan itu menjadi wujud apresiasi publik terhadap Joli Jolan selama ini. Award ini semakin istmewa karena diberikan menjelang Hari Buruh 1 Mei. Ya, mayoritas pengunjung maupun sukarelawan Joli Jolan adalah buruh atau pekerja upahan.

ā€œTrofi Kemanusiaanā€ ini kami tujukan setinggi-tingginya kepada para relawan, Joliers, dan para kolaborator yang membersamai sampai hari ini. Terima kasih untuk semua. Panjang umur upaya-upaya baik.šŸ”āœØ

Kredit foto: @detik_jateng

Categories
Komunitas Reportase

JJ goes to SMA Ursulin: Kontribusi Peserta Didik dalam Mengatasi Dampak Perubahan Iklim

Komunitas Joli Jolan diundang oleh SMA Ursulin pada Hari Selasa, 23 April 2024 untuk mengisi kegiatan Integrated Learning Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (IL P5) yang merupakan bagian dari pembelajaran kurikulum merdeka. Tema IL P5 kali ini adalah gaya hidup berkelanjutan bagi peserta didik kelas X. Adapun tujuan kegiatan mengundang narasumber Komunitas Joli Jolan adalah memantik peserta didik untuk bernalar kritis dan kreatif dalam mengatasi dampak climate change (perubahan iklim).

Climate change menurut definisi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengacu pada perubahan jangka panjang pada iklim bumi yang menyebabkan pemanasan atmosfer, lautan, dan daratan. Perubahan iklim mempengaruhi keseimbangan ekosistem yang mendukung kehidupan dan keanekaragaman hayati, serta berdampak pada kesehatan. Oleh karena itu, peserta didik kelas X SMA Ursulin dipantik untuk berkontribusi dalam mengatasi dampak climate change dengan cara kreatif dan mudah dilakukan dalam keseharian.

Komunitas Joli Jolan

Diawali dengan penjelasan singkat oleh Kakak Asa mengenai komunitas Ruang Solidaritas Joli Jolan atau akrab dengan sapaan singkat ijol-ijolan, maka interaksi terjadi dari berbagai arah yang merupakan ciri merdeka belajar.

Ruang Solidaritas Joli Jolan merupakan ruang publik untuk berbagi barang layak pakai. Siapa pun dapat mendonasikan barang di Joli Jolan dan mengambil barang yang tersedia secara gratis. Joli Jolan mengajak untuk hidup bersahaja dengan mengelola barang secukupnya. Joli Jolan mengawali kegiatan pertamanya pada tanggal 19 Desember 2019, sekaligus dijadikan penanda hari lahir komunitas.

Nama Joli Jolan terinspirasi dari istilah Jawa ā€œIjol-ijolanā€ yang berarti tukar menukar. Filosofi sederhana ini sebagai pendorong sejumlah relawan untuk membentuk ruang solidaritas melalui barter dan berbagi barang secara gratis dengan masyarakat.

Lokasi Joli Jolan berada di Kompleks Latar Situ yang terletak di Jalan Siwalan No.1, Kerten, Surakarta. Anggota Komunitas Joli Jolan sangat heterogen, mulai dari aktivis kota, mahasiswa, jurnalis, dosen, editor buku, peneliti, ibu rumah tangga, pegawai terminal, hingga pecinta hewan. Masing-masing pihak berkontribusi sesuai keahlian dan kemampuannya masing-masing untuk mewujudkan Ruang Solidaritas Joli Jolan.

Kegiatan Seru bersama Kelas X SMA Ursulin

Keseruan bertambah lagi saat para peserta didik kelas XA sampai XJ melakukan instruksi yang diberikan oleh Pak Dedi sebagai guru selaku koordinator kegiatan ini. Sehari sebelumnya, para peserta didik diminta untuk mempersiapkan barang-barang yang sudah tidak dimanfaatkan lagi. Kami menyebutnya pre-loved. Bendahara kelas juga diminta menyiapkan umplung atau kotak untuk diisi uang seikhlasnya.

Peserta didik terlihat sangat antusias dalam menata barang-barang preloved di masing-masing kelasnya, demikian pula relawan Joli Jolan membawa barang preloved untuk diberikan di beberapa kelas. Mereka terlihat sangat tidak sabar untuk saling berkunjung ke kelas lainnya untuk melihat barang apa yang dibawa oleh temannya yang dapat mereka tukarkan. Semua gembira dan tertawa bersama para guru pendamping ketika mendapatkan barang yang dibutuhkan dan yang diinginkan. Hanya dalam hitungan menit, barang preloved menemukan tuannya yang baru untuk diperpanjang masa manfaatnya.

Ada salah satu peserta didik laki-laki yang digandeng oleh Pak Guru berjalan berkeliling dengan mengenakan pakaian perempuan merangkapi baju seragam sekolah. Semua yang dilewati tertawa, bukan untuk merundung. Rupanya peserta didik tadi mengambil barang untuk pacarnya, padahal dalam kegiatan seru ini mengadop filosofi Joli Jolan, yaitu berikan sesuai kemampuanmu, ambil sesuai kebutuhanmu.

Class Creative Fundraising and Climate Change

Sesi refleksi tiba, peserta didik kembali ke kelas masing-masing. Bapak ibu guru kembali memandu kegiatan ini dengan merefleksikan apa yang telah dilakukan bersama. Alex dan Maria mengungkapkan bahwa mereka tersadar ternyata perilaku konsumtif sangat lekat dengan keseharian mereka. Acapkali membeli barang bukan karena kebutuhan, melainkan dorongan keinginan semata. Saat simulasi kegiatan bertukar barang preloved dilaksanakan, masih banyak murid yang mengambil barang bukan karena kebutuhan, tetapi karena keinginan untuk memiliki barang yang dianggap masih bagus tanpa berpikir apakah barang tersebut nantinya akan bermanfaat atau tidak.

Kelas XJ kemudian mengajukan pertanyaan, ā€œApa yang menjadi dorongan utama dalam mendirikan Komunitas Ruang Solidaritas Joli Jolan?ā€

ā€œDidirikannya Joli Jolan berangkat dari rasa keprihatinan karena konsumerisme menjadi budaya. Apalagi di daerah perkotaan, di mana belanja online sangat mudah dilakukan. Banyak barang yang akhirnya tidak terpakai karena tidak sesuai dengan yang ditawarkan di platform belanja online, baik secara bentuk, fungsi, maupun ukuran. Kebiasaaan untuk memakai dresscode atau membuat baju seragam dalam berbagai kesempatan, yang pada akhirnya hanya dipakai sekali dua kali kemudian disimpan seterusnya di dalam lemari, juga menjadi salah satu ancaman konsumerisme yang jarang disadari.ā€

Bisa dibilang akar permasalahan pengelolaan sampah, terutama di perkotaan adalah konsumerisme. Muara dari akhir perjalanan sampah setelah melewati tahapan pengelolaan sejak dari sumber, pengumpulan, pemindahan/pengangkutan, pengolahan dan pembuangan adalah Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Sampah. Tumpukan sampah yang dipadatkan di berbagai TPA di Pulau Jawa yang mencapai puluhan bahkan ratusan meter itulah merupakan penyumbang global warming. Gunungan sampah menghasilkan gas metana yang disebabkan oleh bakteri yang kekurangan oksigen untuk proses penguraian sampah organik.

Saat musim kering, beberapa TPA yang sudah melebihi daya tampung mengalami kebakaran. Hal ini dipantik oleh gas metana yang tersulut karena cuaca panas. Sulitnya pemadaman menimbulkan dampak berat, yaitu dampak kesehatan berupa Infeksi Pernafasan Akut (ISPA) dan dampak lingkungan berupa polutan yang dilepaskan ke atmosfer, sehingga mencemari udara dan tanah, serta mengancam kehidupan manusia.

Kegiatan interaktif yang dilakukan oleh peserta didik bersama Komunitas Joli Jolan selama 30 menit tersebut mampu mengurangi dampak lingkungan yang akan berkontribusi terhadap kenaikan suhu bumi yang mengakibatkan perubahan iklim. Bagaimana bisa kegiatan tersebut diklaim mengurangi dampak perubahan iklim? Dihitung prorata, bahwa setiap kelas membawa 10 kg barang yang dikalikan 10 kelas. Hasilnya adalah 100 kg barang yang seharusnya sudah berakhir di TPA ternyata mampu diperpanjang usia manfaatnya oleh peserta didik sendiri. Andai kegiatan ini dilakukan secara reguler, niscaya gerakan sederhana ini dapat menjadi kontribusi dalam mereduksi pemanasan global.

Dari pengalaman berkegiatan yang merupakan mini refleksi Joli Jolan, masing-masing kelas berhasil mengumpulkan sejumlah uang yang didapatkan dari para peserta didik sendiri yang saling barter. Mereka menjadi lebih percaya diri dan tidak ragu dalam mengelola barang preloved yang sebenarnya sudah tidak dimanfaatkan oleh pemilik sebelumnya. Bahkan pengelolaan tersebut pun dapat menghasilkan keuntungan, yakni penambahan uang kas kelas yang siap digunakan dalam berkegiatan di sekolah.

Pada akhirnya perlawanan terhadap konsumerisme tidak sekadar memberikan manfaat di bidang ekonomi tanpa menambah beban bumi karena proses produksi yang seringkali mengabaikan lingkungan. Hal kecil yang telah dilakukan bersama SMA Ursulin ini berkontribusi penting dalam mereduksi dampak perubahan iklim.

Categories
Sudut Joli Jolan

Ngabuburit Bareng Joli Jolan: Ramadan di Jerman

Jerman adalah salah satu negara dengan populasi pemeluk agama Islam terbesar di Eropa. Pada 2022, jumlah umat Muslim di Negeri Panzer itu tercatat 4,95 juta jiwa atau 6,1% dari jumlah penduduk. Angka itu hanya di bawah Rusia dan Prancis.

Hal itu membuat Jerman menjadi negara di Eropa yang menyambut Ramadan dengan suka cita. Sukma Larastiti, salah satu inisiator Joli Jolan, bakal membagikan pengalaman pertamanya menjalankan puasa di luar negeri dalam Ngabuburit Bareng Joli Jolan: Ramadan di Jerman, Selasa, 2 April 2024, pukul 16.00-17.00 WIB.

Awal tahun ini, Lala, sapaan akrabnya, terpilih menjadi fellow Alexander von Humboldt International Climate Protection 2024/2025. Fellowship tersebut menjadi salah satu beasiswa ilmuwan prestisius di Jerman. Selama setahun, Lala bakal menimba ilmu bersama peraih fellow lain di Universitas Kassel.

Selain membahas ritual Ramadan, kawan akan diajak mengetahui budaya toleransi dan solidaritas di Jerman. Lala juga akan berbagi pengalaman seputar pengelolaan sampah, ekonomi sirkular, transisi energi, hingga isu perubahan iklim yang menjadi perhatian warga di sana.

Obrolan nanti akan dipandu sukarelawan Joli Jolan yang juga jurnalis Solopos, Ika Yuniati. Catat waktunya, jangan sampai ketinggalan ya!

Categories
Komunitas

Menjaga Kelestarian Lingkungan dari Kerajinan Sederhana

Sebagai salah satu upaya Ruang Solidaritas Joli Jolan dalam mewujudkan ruang edukasi, Joli Jolan sekali lagi mengadakan workshop kreatif bertema Menyulap Kaus Bekas dan Plastik Menjadi Produk Estetik. Workshop yang diadakan pada hari Sabtu, 30 Maret 2024 ini dimentori langsung oleh pegiat crafting dari Bandung dan pengelola @lovya.handmade, Kak Meilisa. Melalui workshop yang berlangsung dari pukul 16.00-17.30 ini, para peserta diperkenalkan teknik sederhana mengolah plastik dan kain sisa baju untuk menghasilkan produk yang bermanfaat, seperti tatakan ataupun tempat pensil.

Diketahui kaus bekas dan plastik merupakan bahan-bahan yang seringkali menjadi penyumbang terbesar sampah di lingkungan. Dalam workshop ini, peserta diajak untuk melihat nilai manfaat yang bisa didapatkan dari kaus bekas dan plastik yang tidak lagi terpakai. Dengan kreativitas dan ketelatenan, kedua bahan tersebut dapat dimanfaatkan menjadi sesuatu yang berguna.

Pertama-tama, kaus yang telah dipotong panjang dan tipis digunakan untuk melilit kantong plastik yang telah diulir panjang layaknya tali. Plastik yang telah terlilit kain tersebut kemudian diikat menggunakan benang wol dengan teknik pengikatan khusus. Hasil ikatan tersebut menjadi fondasi bertekstur estetik dan menarik yang dapat dibentuk sebagai tatakan meja, tempat pensil, atau produk lain sesuai kreativitas.

Para peserta antusias mempraktikkan langkah demi langkah membuat hasil ikatan yang rapi sembari menanti berbuka puasa. Untuk semakin menyemarakkan suasana, Joli Jolan telah menyediakan beragam sajian buka puasa seperti kolak, pizza, dan nugget bagi para peserta workshop.

Membangun Ekosistem yang Saling Mendukung dan Peduli Lingkungan

Kegiatan kolaboratif Joli Jolan bersama pegiat kreatif dan masyarakat umum seperti ini menjadi pemantik inspirasi bagi siapa saja yang terlibat di dalamnya. Ekosistem yang saling mendukung dalam pemberdayaan masyarakat serta kepedulian terhadap lingkungan diharapkan semakin terbentuk. Setiap peserta yang mengikuti kegiatan pun tidak sekadar pulang dengan membawa hasil karya, tetapi juga perasaan positif karena mendapatkan pengetahuan baru dalam berkontribusi menjaga lingkungan dengan cara yang kreatif.

Workshop semacam ini pada akhirnya tidak sekadar menjadi sarana edukasi dalam menghasilkan ide karya-karya sirkular, tetapi mengajak peserta untuk menyadari dan mengapresiasi kontribusi mereka dalam menjaga kelestarian lingkungan. Dengan pola pikir yang tepat dan praktik kreatif dalam megelola sampah, peserta diharapkan menjadi agen perubahan yang membawa dampak positif bagi lingkungan di sekitar mereka masing-masing.

Categories
Reportase

SINDIKASI Desak Pemberi Kerja untuk Membayarkan THR secara Penuh

Serikat Pekerja Media dan Industri Kreatif untuk Demokrasi (SINDIKASI) mendesak pengusaha dan pemberi kerja untuk membayarkan Tunjangan Hari Raya (THR) secara penuh dan tepat waktu kepada pekerja media dan industri kreatif, termasuk bagi pekerja lepas (freelancer).

Hal ini sesuai Peraturan Menteri Ketenagakerjaan Nomor 6 Tahun 2016 tentang Tunjangan Hari Raya (THR) Keagamaan yang dipertegas melalui Surat Edaran (SE) Nomor M/2/HK.04/III/2024 tentang Pelaksanaan Pemberian Tunjangan Hari Raya Keagamaan 2024 Bagi Pekerja/Buruh di Perusahaan.

Ketua Umum SINDIKASI Ikhsan Raharjo menekankan pentingnya pemberi kerja mematuhi Peraturan Menteri Ketenagakerjaan Nomor 6 Tahun 2016 yang menjamin semua pekerja termasuk freelancer mendapatkan THR sepanjang ia sudah bekerja dengan masa kerja satu bulan secara terus-menerus atau lebih.

ā€œJadi, diatur atau tidak diatur dalam kontrak kerja, pekerja, termasuk freelancer, yang sudah bekerja dengan masa kerja satu bulan secara terus-menerus atau lebih berhak untuk menerima THR,ā€ ujar Ketua Umum SINDIKASI Ikhsan Raharjo. SINDIKASI memberikan penekanan mengingat laju pertumbuhan jumlah pekerja lepas di sektor media dan industri kreatif semakin meningkat.

Koordinator Divisi Advokasi SINDIKASI Guruh Riyanto menambahkan pekerja lepas tergolong dalam perjanjian kerja waktu tertentu. Oleh karena itu, perhitungan besaran THR merujuk pada pasal 3 mesti sesuai dengan masa kerja dan besaran upah rata-rata yang diterima selama sebulan.

ā€œPekerja/buruh yang bermasa kerja minimal 1 bulan secara terus-menerus tetapi kurang dari 12 bulan, diberikan THR secara proporsional, dengan menghitung jumlah masa kerja dibagi 12 bulan dikali satu bulan upah,ā€ ujar Guruh.

Sementara bagi pekerja dan buruh yang telah memiliki masa kerja selama 12 bulan secara terus-menerus atau lebih berhak mendapat THR sebesar satu bulan upah. Guruh pun mengingatkan agar perusahaan atau pemberi kerja wajib membayarkan THR kepada pekerja selambat-lambatnya 7 hari sebelum Hari Raya Idul Fitri.

ā€œPemerintah juga harus punya komitmen yang tegas untuk mengawasi dan menindak, serta memberikan sanksi perusahaan yang tidak menunaikan kewajibannya memberikan THR kepada pekerja sesuai dengan aturan yang berlaku,ā€ tegas Ikhsan.

Lebih lanjut, Guruh juga mengajak seluruh pekerja, termasuk freelancer untuk berani memperjuangkan hak THR terlebih hal itu telah diatur dalam regulasi yang kuat.

Untuk Anggota SINDIKASI yang mengalami masalah ketenagakerjaan, khususnya THR juga bisa mengirimkan aduan ke Divisi Advokasi SINDIKASI Wilayah yang saat ini sudah terbentuk di Jabodetabek dan Jogjakarta.

Categories
Sudut Joli Jolan

Bakdan Hemat di Joli Jolan

Kebutuhan harian biasanya meningkat jelang Lebaran. Beli bahan pokok, makanan kecil hingga belanja pakaian membuat pusat perbelanjaan penuh sesak. Keinginan konsumtif ini kadang secara tak sadar menguras kocek yang lumayan dalam.

Kondisi tersebut semakin mengimpit karena belakangan ini harga sembako mulai melangit. Namun, inisiatif saling bantu bisa menjadi alternatif agar warga mendapatkan kebutuhannya secara terjangkau, bahkan gratis.

Tahun ini Joli Jolan kembali mendistribusikan pakaian preloved berkualitas untuk berhari raya secara cuma-cuma. Kalau beruntung, kawan juga bisa mendapatkan sandang yang baru. Pokoknya koleksi terbaik Joli Jolan akan dibagikan menyambut Lebaran.

Semua boleh mengakses tanpa kecuali karena tujuannya untuk mengurangi konsumerisme, bukan charity. Kami menyediakan kotak atau umplung bagi kawan yang ingin berdonasi dalam mendukung gerakan Joli Jolan, sehingga dapat terus berkelanjutan dalam menebar manfaat.

Donasi nantinya akan kami gunakan untuk operasional ruang (kebersihan, listrik, peralatan galeri) hingga program berbagi makanan. Layanan ini kami buka pada 23 Maret (10.00-13.00 WIB) dan 30 Maret (11.00-14.00 WIB) di Jalan Siwalan No.1 Kerten Laweyan Solo (Google map Joli Jolan).

Daripada mengeluarkan kocek dan berdesak-desakan di pusat perbelanjaan, lebih baik cari pakaian di Joli Jolan. Uangnya bisa disimpan untuk berbagi di kampung halaman. Yuk, ikutan Berburu Baju Lebaran di Joli Jolan!šŸ”āœØ

#lebaran2024
#pakaiangratis
#rakyatbanturakyat
#berbagibaju
#mutualaid
#jolijolan

Categories
Komunitas Uncategorized

Yuk, Daftar Workshop Sulap Kaus Bekas dan Kantong Plastik Jadi Produk Estetik

Bingung mau ngabuburit yang berfaedah? Atau mau menambah ilmu dan keahlian mengelola barang bekas? Workshop Joli Jolan kali ini bakal cocok nih buat kalian! Workshop Do It Yourself bertema Sulap Kaus Bekas dan Kantong Plastik Jadi Produk Estetik bakal membuat kawan-kawan semakin kreatif sekaligus eco-friendly.

Kawan akan diajak merangkai kaus bekas serta tas kresek menjadi prakarya seperti coaster (tatakan gelas), wadah alat tulis, dan lain sebagainya. Tertarik bergabung? Berikut informasi kegiatannya.

  • Waktu: Sabtu, 30 Maret 2024 pukul 15.00-17.00 WIB
  • Lokasi: Ruang Solidaritas Joli Jolan, Jalan Siwalan No.1 Kerten, Laweyan, Solo (google map Joli Jolan).
  • Mentor: Meilisa (Crafter @lovya.handmade Bandung)
  • Fasilitas: Workshop kit, stiker, souvenir Joli Jolan
  • Kontribusi: 40k (peserta terbatas)

Segera daftarkan diri di bit.ly/workshopjolijolan atau scan barcode di poster. Pendaftaran ditutup apabila kuota sudah terpenuhi. Info lebih lanjut bisa langsung menghubungi nomor berikut ini 085808339523

Categories
Gagasan

Melawan dengan Koperasi

Farid Gaban, jurnalis kawakan ini sebelum berangkat untuk jalankan Ekspedisi Indonesia Baru, ekspedisi keliling Indonesia naik motor selama 420 hari datangi flat saya di Cawang, Jakarta. Dengan singkat dia katakan bahwa seluruh hasil ekspedisi yang berupa jutaan tera bites film, foto, dan artikel yang akan dihasilkan bersama Dandhy Laksono dan dua rekan muda Yusuf Priambodo dan Benaya Harobu akan dikelola oleh koperasi. Namanya Koperasi Indonesia Baru.

Dia katakan bahwa koperasi bukan hanya akan dijadikan sebagai kelembagaan penting untuk mengelola hasil ekspedisi, tetapi juga sebagai jawaban atas masalah yang dihadapi oleh masyarakat atas perangai korporasi kapitalis yang dia lihat dalam ekspedisi perjalanan selama satu tahun pertamanya dalam Ekspedisi Khatulistiwa.

Di perjalanan menuju akhir Ekspedisi, saya juga sempat menemui Farid Gaban ketika sampai di Jakarta sebelum ke Wonosobo. Saya sempat bertanya, apa yang dia lihat di lapangan dalam Ekspedisi Indonesia Baru dan bagaimana perbandingan kondisi di lokasi yang sama yang dikunjungi sebelumnya dalam Ekspedisi Khatulistiwa. Dia jawab bahwa kondisinya mengalami kerusakan yang eskalatif dan lebih parah, baik dari sisi lingkungan maupun kemanusiaan.

Setelah selesai ekspedisi, saya punya kesempatan hadiri acara pemutaran salah satu film hasil ekspedisi yang diselenggarakan bersama organisasi Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) di Jakarta. Judulnya adalah “Barang Panas”. Berisi tentang perlawanan masyarakat di daerah atas proyek Geo Thermal (Gas Bumi).

Dalam akhir cerita film “Barang Panas”, oleh redaksi, yang kebetulan dinarasikan oleh Dandhy Laksono, disimpulkan bahwa proyek transisi menuju energi bersih itu harus dilakukan dengan cara yang baik. Lalu dia tambahkan masyarakat setempat harus dibiarkan memutuskan. Ditambahkan lagi, sebaiknya dimulai dengan skala kecil dulu dan masyarakat disiapkan menjadi ahli untuk mengelola. Masyarakat sebagai salah satu perwakilan di luar investor dan pemerintah juga turut terlibat yang diwakili dalam bentuk koperasi.

Dalam kesimpulan di atas, saya sepenuhnya setuju. Menurut saya, kesimpulan di atas sangat komprehensif. Merupakan jawaban bijaksana ditinjau dalam multiperspektif. Baik dari sisi pemenuhan kebutuhan energi, keterlibatan pengambilan keputusan atas proyek, dan juga tata kelola proyek.

Jawaban di atas juga sesungguhnya sesuai dengan apa yang mendasari pemikiran Farid Gaban ketika mengatakan bahwa koperasi itu menjadi solusi atas persoalan masyarakat seperti yang dia ungkapkan kepada saya sebelum berangkat.

Koperasi sebagai Gerakan Sosial

Koperasi, adalah organisasi yang lahir pertama kali di Rochdale, Inggris tahun 1844. Koperasi adalah sebagai jawaban atas persoalan serius eksploitasi kemanusiaan yang dilakukan oleh korporasi kapitalis. Mereka lahirkan gerakan koperasi karena di perusahaan tempat mereka bekerja, para buruh itu, tidak diberikan haknya untuk turut memutuskan hal menyangkut kepentingan hidup mereka.

Dua puluh delapan buruh itu mendeklarasikan diri sebagai pioner dalam mempraktikkan kesetaraan dalam mengambil keputusan di suatu perusahaan. Mereka tidak hanya mengangan-angankan perubahan, tetapi juga langsung mempraktikanya dengan mendirikan perusahaan. Mereka membangun toko yang dimodali, ditujukan untuk memenuhi kebutuhan mereka sendiri dan dikelola secara demokratis.

Mereka melawan cara kerja sistem korporasi kapitalis yang keputusan perusahaannya sepenuhnya ada di tangan pemilik modal finansial semata secara mutlak. Koperasi mereka bangun dengan sistem berikan kesempatan setara bagi semua yang terlibat di perusahaan. Mereka terapkan sistem pengambilan keputusan di perusahaan yang mereka bangun dengan berikan hak bagi setiap orang baik itu pemodal, pekerja maupun konsumennya semua sama, satu orang satu suara.

Mereka juga mengganti rezim korporasi kapitalis yang hanya mengeruk keuntungan (profit oriented) dan menumpuk kekayaan untuk investornya dengan sistem yang berlawanan dalam tujuan. Koperasi yang mereka bentuk ditujukan untuk mengejar manfaat (benefit oriented) bagi semua yang terlibat di perusahaan baik itu pemodal, pekerja, dan bahkan konsumennya.

Gerakan koperasi pertama itu dikembangkan sebagai gerakan perubahan sosial yang mendasar. Menawarkan cara untuk mengakhiri pemerasan manusia atas manusia. Mereka membuat perlawanan serius terhadap konsep pembagian manfaat yang tidak adil dalam sistem korporasi kapitalis yang berarti juga melawan dan mengakhiri sistem kapitalisme.

Ide koperasi di atas kemudian berkembang ke seluruh pelosok dunia dalam berbagai model kelembagaan. Dari model koperasi konsumen yang berikan kesempatan kepemilikan perusahaan kepada semua konsumenya seperti yang diterapkan Pionner Rochdale di atas, hingga ke model lainya seperti model Koperasi Pekerja Mondragon, Basque, Spanyol yang menerapkan model kepemilikan bagi para pekerja di perusahaaan dengan hak pengambilan keputusan yang sama bagi setiap pekerja di perusahaan.

Di berbagai belahan dunia saat ini juga telah berkembang model kepemilikan demokratis koperasi yang terapkan model koperasi multipihak (multistakeholder co-operative). Model ini terapkan sistem kepemilikkan perusahaan dari para produsen, pemodal, pekerja, dan konsumennya. Sebut saja misalnya koperasi multipihak I COOP di Korea Selatan yang mana kepemilikkanya itu meliputi para konsumen, pekerja, produsen, dan pemodal dari koperasi ini.

Saran redaktur Dandhy Laksono di narasi film “Barang Panas” sepertinya memberikan saran agar pengelolaan dari koperasi Geo Thermal itu mengikuti sistem koperasi multipihak. Di mana ada kelompok investor, pekerja, dan juga masyarakat daerah proyek yang diharapkan berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah dalam mengambil keputusan.

Mewujudkan Koperasi Berdaya Saing di Indonesia

Soal koperasi multipihak ini saya jadi teringat seorang teman, Dr. Nao Tanaka dari Jepang. Satu setengah tahun lalu dia temui saya untuk berkonsultasi soal pendirian koperasi di Indonesia. Kendala yang dia baca adalah ketika dia ingin investasi melalui suatu badan hukum koperasi itu ternyata dilarang oleh UU Penanaman Modal karena diwajibkan berbadan hukum Perseroan Kapitalis.

Dia sangat kecewa karena dia bukan hanya ingin investasi dan mendapat untung, tetapi dia ingin membangun perusahaan untuk tiga tujuan utama, yaitu perangi kesenjangan ekonomi, hapuskan dehumanisasi atau eksploitasi kemanusiaan, dan juga ingin selamatkan lingkungan. Dia bilang kalau badan hukum Perseroan Kapitalis itu tidak cocok dengan tujuan pendirian perusahaan yang dia maksudkan. Dia perlihatkan pada saya pasal-pasalnya.

Lalu saya temukan celahnya, di UU Penanaman Modal itu disebutkan bahwa hal tersebut tidak berlaku jika diatur oleh UU lainnya. Nah, saya sarankan gunakan UU Perkoperasian sebagai dasar eksepsi/pengecualian. Di UU Perkoperasian masih boleh menjadi anggota luar biasa dari satu koperasi. Walaupun tetap dibatasi untuk haknya seperti tidak boleh jadi pengurus dan lain sebagainya.

Bulan lalu Dr. Tanaka ketemu saya dan dia laporkan bahwa koperasinya sudah jalan selama 6 bulan dan beroperasi di Jogja. Sudah terkumpul modal sebesar 241 juta rupiah dari kolega koleganya di Jepang. Sudah dapat proyek pengelolaan sampah dan sudah menghasilkan keuntungan dan libatkan 28 orang anggota sebagai enginer dan pemasar.

Semua cita-cita yang dia inginkan itu dia coba terapkan. Penghapusan kesenjangan dia terapkan dengan sistem pembagian yang adil dalam keutungan (Sisa Hasil Usaha/SHU). Bahkan dia hitung secara rigid dalam suatu kertas kerja yang hitung komponen pembagi keuntungan itu berdasarkan kontribusi keuangan dan nonkeuangan seperti misalnya soal komitmen, kedisiplinan, kehadiran, dan keaktifan dalam rapat dan lain-lain yang dalam penilaianya itu juga dilakukan dengan libatkan evaluasi oleh anggota independen.

Dia tak hanya ingin wujudkan keadilan dalam pembagian manfaat bagi semua, tetapi juga concern bisnisnya juga difokuskan pada pengolahan limbah untuk perbaiki kerusakan lingkungan.

Pada intinya, Koperasi Indonesia Baru, koperasi pengelola film yang didirikan Farid Gaban, Dandhy dkk, lalu Koperasi yang didirikan oleh Dr. Nao Tanaka dan juga koperasi di seluruh dunia itu adalah dapat menjadi jawaban atas kerusakan dunia yang dicengkeram oleh rezim korporat kapitalis yang hanya keruk untung dan rusak lingkungan dan hancurkan sendi sendi kemanusiaan.

Tetapi melihat kenyataan di Indonesia itu kekuatan korporasi kapitalisnya sudah sangat kuat tumpuk kekayaan, monopoli di mana-mana, pengaruhi elit politik, dan bahkan sudah sebabkan kerusakan lingkungan masif, gencet dan gusur warga, serta peras buruh dengan semena-mena maka tentu tak dapat kita lawan hanya dengan bangunan koperasi-koperasi kecil dan juga advokasi kasus oleh Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Memang bisa, tetapi dengan gencetan kekuatan modal dan kemampuan pengaruhi elit politiknya yang sudah sangat kuat maka akan sulit diharapkan terjadi perubahan.

Kita harus melawanya dengan lebih keras, selain tetap bangun kooperasi genuine, kita harus advokasi agar aset negara dalam bentuk Badan Usaha Milik Negara (BUMN) itu kita tuntut untuk kita koperasikan. Sebab melihat praktiknya saat ini BUMN atau perusahaan kita ini justru diarahkan untuk diprivatisasi alias digeser kepemilikkannya jadi korporasi persero kapitalis yang mudah dikuasai oleh kekuatan pemilik modal kapital besar. Penindasan korporasi kapitalis besar hanya bisa kita lawan dengan perusahaan. Perusahaan yang masih sah milik kita itu adalah BUMN. Ayo, kita tuntut koperasikan BUMN! Kembalikan aset ini ke tangan kita, rakyat Indonesia. Kita selamatkan hidup kita dan masa depan anak cucu kita dari cengkeram kapitalisme.

Categories
Reportase

Galeri Mini di Car Free Day

Joli Jolan membuka ā€œgaleri miniā€ di Car Free Day Colomadu, Minggu, 3 Maret 2024. Kegiatan yang berada tepat di depan pabrik Gula Colomadu ini turut didukung teman-teman dari komunitas ‘Dari Kita’, sebuah komunitas saling berbagi yang diinisiasi oleh mahasiswa UNS Solo. Mereka menemukan visi dan misi yang sama dengan Joli Jolan dalam upaya berbagi dan menyebarkan semangat kebaikan.

Dari pukul 06.00 pagi, relawan Ruang Solidaritas Joli Jolan dan komunitas ‘Dari Kita’ mempersiapkan lapak barang-barang preloved yang dapat diambil secara gratis. Di luar dugaan, lapak tersebut menjadi daya tarik tersendiri bagi para pejalan kaki yang sedang lewat. Dengan penasaran, mereka mampir dan memilih berbagai macam barang untuk diambil, mulai dari tas, pakaian, hingga sepatu.

Kegiatan tersebut merupakan salah satu upaya Ruang Solidaritas Joli Jolan mengkampanyekan secara langsung kepada masyarakat umum aksi memperpanjang usia barang bekas. Para pengunjung yang berinteraksi dengan relawan Joli Jolan pun merasa senang dan terbantu dengan adanya kegiatan tersebut. Mereka berharap Joli Jolan senantiasa rutin menggelar kegiatan serupa di Car Free Day selanjutnya.