Categories
Komunitas

Melukis Pot Galon Bersama Panti Asuhan Ihsan Sakeena

Minggu, 2 Maret 2025, bertepatan dengan hari kedua bulan Ramadan komunitas Involuntir Surakarta mengadakan acara bersama anak-anak Panti Asuhan Ihsan Sakeena di Latar Situ Joli Jolan, Kerten. Kegiatan yang dilaksanakan sembari menunggu waktu berbuka puasa ini tidak hanya menjadi momen silaturahmi bagi relawan Involuntir Surakarta dengan anak-anak Panti Asuhan Ihsan Sakeena, tetapi juga dengan relawan Joli Jolan.

Kegiatan dimulai setelah peserta yang terdiri dari relawan Involuntir, anak-anak panti asuhan, dan relawan Joli Jolan berkumpul membentuk lingkaran di pendapa. Satu per satu, anak-anak dari Panti Asuhan Ihsan Sakeena memperkenalkan diri dengan menyebutkan nama mereka masing-masing. Setiap nama yang disebutkan pun disambut dengan sapaan akrab oleh peserta lain sehingga mengawali suasana dengan akrab.

Setelah selesai perkenalan, kegiatan dilanjutkan dengan ice breaking. Setiap perserta diminta untuk saling mengoper boneka koala ke orang yang berada di samping mereka sambil diiringi musik. Ketika musik berhenti, peserta yang memegang boneka harus menjawab pertanyaan yang diberikan oleh pembaca acara. Permainan ini berhasil mencairkan suasana dan membuat semua peserta tertawa riang, siap untuk mengikuti inti acara.

Menuangkan Kreativitas dengan Menghias Pot Galon

Para peserta dibagi menjadi tujuh kelompok melalui permainan “Kapal Pecah.” Pembawa acara menyebutkan jumlah kapal yang pecah kemudian peserta diharuskan membentuk kelompok sesuai jumlah kapal tersebut. Proses mencari pasangan kelompok pun dipenuhi canda tawa, karena para peserta yang belum saling mengenal mau tidak mau harus berani untuk berkenalan.

Setelah kelompok terbentuk, para peserta diarahkan untuk menuju ke area Latar Situ. Setiap kelompok kemudian mendapatkan satu galon bekas, alat lukis, dan cat air. Tugas mereka adalah mengubah galon bekas tersebut menjadi pot tanaman yang kreatif dan penuh warna. Kegiatan ini tidak hanya melatih kreativitas, tetapi juga meningkatkan keakraban antarpeserta. Setiap anggota kelompok pun saling berdiskusi dan menuangkan ide mereka ke dalam lukisan. Hasilnya, berbagai gambar indah seperti taman bunga dan komposisi warna menghiasi galon-galon bekas tersebut.

Pot-pot tersebut kemudian diisi dengan media tanam dan bibit tanaman yang telah disiapkan. Proses ini dipandu langsung oleh relawan dan influencer berkebun, Mewalik. Melalui proses menanam ini, para peserta diajarkan bagaimana cara menanam dan merawat tanaman hingga tumbuh besar. Kegiatan ini diharapkan mampu menumbuhkan rasa tanggung jawab dan kecintaan terhadap alam, terutama terhadap tanaman.

Menjelang waktu berbuka puasa, para peserta kembali ke pendapa untuk mengikuti sesi terakhir, yakni menulis surat untuk kakak-kakak relawan Involuntir. Dengan penuh antusias, mereka pun menuliskan ungkapan terima kasih dan rasa syukur mereka atas kebersamaan pada sore hari itu. Salah satu perwakilan relawan kemudian membacakan surat tersebut, yang berhasil menyentuh hati semua orang dan menciptakan momen haru.

Kegiatan ditutup dengan berbuka puasa bersama dan menjalankan ibadah salat Maghrib berjamaah. Sebagai hadiah terakhir, para peserta dipersilakan memilih barang-barang dari galeri Joli Jolan yang disediakan secara gratis. Kegiatan ini diharapkan tidak hanya memberikan pengalaman berharga tentang kebersamaan dan kepedulian, tetapi juga menjadi stimulus inspirasi bagi peserta dalam memanfaatkan barang bekas secara kreatif. Sebuah penutup yang berkesan bagi relawan Involuntir Surakarta dan anak-anak Panti Asuhan Ihsan Sakeena.

Categories
Sudut Joli Jolan

Refleksi 5 Tahun Joli Jolan: Pegang Solidaritas untuk Jangkauan Meluas

Tanggal 21 Desember 2024 lalu, Ruang Solidaritas Joli Jolan genap berusia lima tahun. Boleh dikatakan satu siklus hidup komunitas telah dilalui. Mengingat kembali kegelisahan yang dirasakan ketiga pendirinya, kegelisahan mengenai masalah khas perkotaan, yang warganya berjibaku dengan tantangan sosial, ekonomi. dan lingkungan.

Sebagai ruang non-profit yang dimotori masyarakat sipil, bisa merawat gerakan hingga setengah dasawarsa adalah pencapaian sekaligus pembuktian. Bukti bahwa konsistensi, meski dimulai dari hal sederhana, bakal menuntun sebuah gerakan ke tujuannya.

Konsistensi dan daya tahan hari-hari ini semakin menjadi tantangan, mengingat semakin banyaknya warga yang memanfaatkan layanan Joli Jolan. Entah itu berdonasi, barter atau mengambil barang secara gratis. Semakin dikenalnya Joli Jolan tak lepas dari warga, media, maupun influencer yang membantu menyebarluaskan gerakan.

Unggahan Mewalik Jaya, vlogger berkebun yang juga sukarelawan kami, juga beberapa kali viral. Hal ini membuat kami harus menata ulang sistem dan strategi demi keberlangsungan Joli Jolan. Selain pengelolaan donasi, salah satu pemikiran terdekat adalah menyehatkan pendanaan. Hal ini penting agar gerakan tetap lestari, independen dan menjangkau lebih luas.

Belum lama ini, kami me-rebranding Peken Joli Jolan menjadi Toko Joli Jolan sebagai lini usaha mandiri. Di toko yang punya nama lain KoCik (Koko Cicik) ini, kami menjual sejumlah merchandise seperti kaus, pouch, bordiran, stiker, dan beberapa barang upcycle. Donasi barang dari warga yang masih baru, alat elektronik, atau seken berkualitas tinggi, juga beberapa dipajang di Toko KoCik.

Harga yang dibanderol di toko jauh di bawah harga pasar, semata untuk membantu membiayai operasional. Selain itu, Joli Jolan memiliki akun Trakteer yang dapat dimanfaatkan warga untuk urun dana. Sejauh ini, pemasukan dari Trakteer kami gunakan untuk memperpanjang napas website jolijolan.org setiap tahun.

Kami juga masih membahas adanya biaya pengelolaan untuk warga yang berdonasi pakaian dalam jumlah besar (melebihi kilogram tertentu). Hasilnya dikembalikan untuk mengelola dan distribusi barang donasi ke daerah-daerah.

Pengenaan biaya pengelolaan juga penting, mengingat masih saja ada warga yang berdonasi berkarung-karung, sekadar untuk membersihkan rumah, tanpa mempedulikan pengelolaan setelahnya. Sering kali, donasi besar seperti ini justru berkualitas rendah. Kami lebih menghargai warga yang berdonasi secukupnya tapi menjaga kualitas pakaian/barang yang diberikan.

Upaya menghitung dampak gerakan terhadap lingkungan juga mulai kami realisasikan di usia lima tahun Joli Jolan. Setiap Sabtu, donasi pakaian/barang yang masuk kami timbang untuk mengetahui berapa potensi timbulan sampah yang bisa dikurangi.

Pada akhirnya, gerakan solidaritas hanya akan terus menggelinding apabila warga masih solid saling bantu untuk menghidupinya. Bukan pemerintah, parpol, korporasi, atau pemodal besar. Selaras dengan tagline ultahnya, Gangsal (Pegang Solidaritas), semoga Joli Jolan tetap memegang erat solidaritas agar semakin berdampak baik dan meluas. Dirgahayu kelima tahun Joli Jolan.

Categories
Sudut Joli Jolan

Belajar Kepedulian di Pojok Anak Joli Jolan

Dalam hierarki kebutuhan Maslow, kasih sayang merupakan salah satu wujud kebutuhan sosial. Sabtu, 18 Januari 2025, Ruang Solidaritas Joli Jolan terasa semakin hangat dengan kehadiran anak-anak balita hingga seusia SD. Mereka adalah anak-anak yang diasuh di Panti Asuhan Mizan Amanah, Solo.

Setiap Sabtu, anak-anak panti memang rutin refreshing dengan jalan-jalan di sekitar kota. Kami gembira ketika mereka berkenan mampir ke Joli Jolan untuk berakhir pekan. Ketika diajak masuk ke Pendapa Latar Situ Kerten, lokasi di mana Joli Jolan berada, senyum mereka langsung merekah.

Anak-anak antusias melihat banyak mainan, boneka, komik, alat tulis dan gambar hingga jajanan yang ditata di pendapa. Tak butuh waktu lama bagi mereka untuk memilih barang apa yang mereka suka. Barang-barang ini merupakan donasi kawan-kawan Joliers, yang telah kami kurasi sehingga dapat memberikan yang terbaik bagi para anak panti.

Kegiatan ini menjadi salah satu penanda Joli Jolan membuka pojok anak di awal tahun 2025. Setiap Sabtu, kami menyediakan sudut khusus bagi anak-anak untuk memilih mainan yang disukainya. Di sana, orangtua diminta tidak “cawe-cawe” memilihkan mainan untuk anaknya. Ini dilakukan agar anak memiliki inisiatif untuk memutuskan apa yang mereka inginkan, bukan apa yang dirasa baik buat mereka.

Selain itu, anak diajak saling berinteraksi dengan anak lain, saling berbagi mainan. Hal sederhana itu diharapkan memupuk kepedulian dan rasa solidaritas sejak dini. Orangtua dapat memberi arahan jika sang anak justru mengambil lebih banyak, enggan berbagi dengan sesama.

Kawan-kawan juga dapat berpartisipasi melestarikan pojok anak dengan donasi mainan yang bersih dan menarik. Kami juga menerima donasi buku anak, susu, atau snack sehat untuk mendukung perkembangan mereka. Yuk, bareng-bareng manfaatkan pojok anak Joli Jolan!

Categories
Sudut Joli Jolan

7 Panduan Mengakses Layanan di Joli Jolan

Joli Jolan adalah ruang yang egaliter bagi semua kalangan. Semua bisa memanfaatkan Joli Jolan untuk memenuhi kebutuhan, entah itu dengan cara mengambil barang gratis, barter, atau berdonasi.

Namun ada ketentuan yang perlu diperhatikan saat berkunjung. Hal ini untuk memastikan semua pengunjung nyaman berinteraksi di Joli Jolan. Apa saja itu? Yuk simak panduan singkatnya!

Masuk Galeri dengan Tertib

Berdesak-desakan, apalagi “lomba lari” saat masuk galeri tidak disarankan. Hal itu bisa membahayakan pengunjung anak, lansia maupun kalangan rentan lain saat berkunjung ke galeri. Tenang saja, barang gratis di Joli Jolan tidak akan habis dalam satu jam. Jadi tidak perlu buru-buru ya!

Dilarang Merokok

Joli Jolan adalah ruang publik ramah anak sehingga bebas asap rokok. Jadi untuk mas-mas, bapak-bapak atau siapapun, silakan merokok di luar galeri. Sukarelawan kami tidak akan segan mengingatkan pengunjung yang ngeyel merokok saat kegiatan.

Mengambil Pakaian/Barang Diam-diam

Menyediakan pakaian/barang secara gratis yang bisa rutin diakses ternyata tak menjamin barang di galeri bebas dari tangan jahil. Ya, masih saja ada orang yang mengambil pakaian secara diam-diam meski dapat mengambil maksimal tiga item barang gratis di setiap kunjungan.

Hal ini tidak sesuai dengan nilai Joli Jolan yang ingin mendorong warga mengonsumsi barang secukupnya atau sesuai kebutuhan. Jika menuruti keinginan tentu tidak ada batasnya. Perilaku ini juga secara tidak langsung mengambil hak orang lain, jauh dari makna solidaritas.

Memakai Kartu Orang Lain

Setiap pengunjung Joli Jolan wajib memakai kartu anggotanya sendiri untuk mengakses layanan. Kenapa demikian? Ini karena Joli Jolan punya aturan main bahwa pengunjung baru bisa mengambil pakaian/barang gratis paling cepat dua pekan setelah pengambilan sebelumnya.

Jadi, memakai kartu orang lain agar bisa mengambil setiap pekan adalah sebuah kecurangan. Memiliki kartu ganda dengan tujuan serupa juga adalah pelanggaran. Tidak ada ruang di Joli Jolan bagi pengunjung yang hendak memanfaatkan gerakan untuk kepentingannya sendiri.

Rebutan Barang

Joli Jolan bukanlah ajang bansos atau pasar murah yang warga harus berebut mendapatkannya. Semua mendapatkan akses yang sama. Jadi tak perlu berebut, apalagi antarsesama warga. Mendahulukan pengunjung lain yang benar-benar membutuhkan pakaian/barang tertentu akan lebih baik.

Mengambil Pakaian/Barang di Luar Ketentuan

Tidak semua item donasi di Joli Jolan berjumlah melimpah. Ada pula yang jumlahnya terbatas seperti sepatu, tas, boneka, mainan, celana jins, jaket dan sejenisnya. Untuk item-item ini, pengunjung hanya boleh mengambil maksimal satu buah untuk pemerataan.

Contoh, tidak bisa mengambil tiga item semuanya sepatu. Yang boleh yakni satu sepatu dan dua pakaian/buku/item lain yang jumlahnya banyak di galeri.

Buang Sampah Sembarangan

Galeri Joli Jolan bukan tempat pembuangan sampah yaa. Jadi mari tertib untuk buang sampah di tempat yang disediakan.

Categories
Sudut Joli Jolan

Gara-gara Si Informan, Natasha Kenal Joli Jolan

Mengenal lapak Joli Jolan menjadi anugerah tersendiri bagi beberapa orang yang merasakan kebermanfaatannya. Manusia sebagai makhluk sosial dibantu dengan media sosial, berlomba-lomba menyampaikan informasi kebermanfaatan itu kepada sesamanya yang berjalan begitu masif. Sehingga, berdampak dengan lebih banyaknya masyarakat yang turut berkontribusi. Informasi dari media sosial menggelinding sampai obrolan darat, dijadikannya bahan diskusi di tongkrongan.

Beberapa waktu lalu, informasi kebermanfaatan dari lapak Joli Jolan dibawa dan diperdengarkan di tongkrongan yang berisi lima orang, termasuk si Informan. Si Informan adalah salah satu orang yang merasakan kebermanfaatan dari lapak Joli Jolan tersebut. Dia menemukan sisi humanis di tengah kerasnya perkotaan yang mana sifat individualnya begitu kentara. Dia merasakan segarnya air di tengah dahaga. Orang-orang gotong-royong saling berbagi dan membantu kepada sesamanya yang membutuhkan. Si Informan merasa berkewajiban mendiskusikan lapak Joli Jolan ke mereka. Menurut penilaiannya, empat temannya ini memiliki karakter jarang bergaul dan rutinitas monoton. Hidupnya berjalan normal dan berkecukupan, tetapi sering kali mengeluhkan banyak hal, seperti kurangnya rasa syukur.

Semua peserta diskusi antusias mendengarkan. Tak lama berselang, keluh kesah di antara mereka pun satu per satu saling bersautan, tidak jauh dari perasaan bosan dengan rutinitas yang dijalankan dan perasaan selalu ada yang kurang dalam hidup. Sehingga, informasi yang didengar dan didiskusikan menjadi menarik dan panjang. Mereka pun penasaran untuk berkunjung ke lapak Joli Jolan.

Malam hari, sepekan sebelum lapak Joli Jolan digelar pada setiap hari Sabtu, si Informan bersama teman-temannya berkumpul, mengkonfirmasi kembali keinginan mereka. Salah satu di antara mereka mengusulkan iuran untuk membawa bingkisan makanan berupa nasi bungkus. Teman-teman yang lain menyepakati usulan tersebut dan bersepakat untuk iuran. Selanjutnya, muncul pertanyaan, siapa saja yang ikut ke lapak Joli Jolan? Mereka saling bertatapan, menyampaikan ada agenda lain. Hanya ada satu orang yang bisa ke lapak Joli Jolan, yakni Natasha. Teman-teman yang berhalangan bersedia hanya menerima laporan. Nantinya, Natasha ditemani si Informan.

Tiba di hari Sabtu, hari yang ditentukan, lapak Joli Jolan buka dari jam 10 pagi hingga jam 1 siang. Natasha sudah bersiap sejak pukul 8 pagi untuk mengingatkan teman-temannya kembali. Barangkali ada yang berubah pikiran untuk ikut. Namun, tetap saja, Natasha dan si Informan yang akan ke lapak.

Natasha sangat bersemangat, antusias dan tidak sabar untuk sampai di lokasi. Semalam, dia hanya tidur 2-3 jam saja. Seringkali terbangun, takut melewatkan kesempatan berharga ini. Sekitar jam 9 pagi, Natasha sudah di depan rumah si Informan dengan membawa nasi bungkus yang terbungkus rapi. Senyumnya nyengir kegirangan saat si Informan keluar dari rumah menemuinya. Setelah bersiap, menggunakan motor sendiri-sendiri, mereka berdua berangkat ke Jl. Siwalan No. 1, Kerten, Kota Surakarta, alamat lokasi lapak Joli Jolan.

Di lapak Joli Jolan, Natasha dan si Informan menyapa dan berkenalan dengan founder Joli Jolan dan teman-teman relawan, berbincang sebentar sembari bergegas bersiap-siap menyiapkan lapak. Mereka turut serta membantu mengangkat barang-barang yang perlu disiapkan bersama relawan. Menerima dan memindahkan barang dari donatur yang baru datang. Di sudut yang lain, orang-orang yang ingin mendapatkan manfaat dari Joli Jolan, beberapa sudah menunggu, beberapa yang lain baru datang, sekitar lapak sudah mulai ramai.

Tak terasa waktu sudah menunjukkan jam 10, sudah saatnya lapak Joli Jolan dibuka. Koordinator relawan menyambut hangat melalui mikrofon sekaligus memberikan arahan. Penerima manfaat pun dengan saksama mendengarkan. Setelah selesai memberi arahan, penerima manfaat dipersilahkan masuk. Mereka berduyun-duyun dengan tertib menuju display barang-barang yang telah dipajang dengan rapi.

Pada pekan itu, penerima manfaat disambut dengan mahasiswa dari Universitas Sebelas Maret (UNS) jurusan Fisipol. Mereka membagikan susu kotak dan alat tulis di pintu masuk lapak untuk anak-anak. Ada wartawan dan beberapa mahasiswa jurusan yang sama berkeliling mendokumentasikan, termasuk teman si Informan, Natasha.

Setelah berkeliling, Dia mengambil tempat duduk di sudut lapak di samping si Informan, merasakan aura yang berbeda dengan kebiasaan yang dijalaninya. Apa yang dilihatnya menjadi pemandangan yang berharga. Mempertanyakan mengapa dulu saat menjadi mahasiswa dia tidak seperti mahasiswa yang dilihatnya di lapak. Mereka dengan sesamanya melakukan kegiatan berbagi. Meskipun dengan barang yang terlihat “murah” atau barang yang tidak baru namun masih bisa bermanfaat.

Mengapa dia tidak mendapatkan ekosistem yang sebaik mereka. Dia pada saat itu mahasiswa kupu-kupu (kuliah-pulang, kuliah-pulang). Atau jika berkumpul dengan temannya, hanya menguntungkan kebahagiaan dirinya dan teman-temannya saja yang tidak berimbas pada kemanfaatan orang banyak. Tak heran jika, di rumahnya tergeletak banyak sekai barang hasil healing bersama teman-temannya yang sudah tidak terpakai.

Matanya menyapu sekitar, terhenti saat melihat bapak-bapak memilah-milah mainan anak, yang mungkin akan diberikan kepada anak laki-lakinya. Ibu-ibu memilih baju anak, dari gantungan baju satu ke satunya, memilih dengan saksama. Sepertinya Ibu itu ingin memberikan baju yang terbaik untuk anak perempuannya. Dia pun tiba-tiba teringat saat dirinya masih kecil dulu. Seringkali dia menangis dan melempar barang apa saja yang ada di dekatnya, mengurung diri di kamar sembari memaki orang tuanya jahat dan tidak sayang kepada dirinya apabila apa yang diinginkannya tidak kunjung dibelikan oleh orang tuanya.

Tubuhnya duduk di kursi, tetapi pikirannya melayang jauh. Hatinya dikoyak dengan pemandangan yang ada di lapak. Mulutnya bercerita menguraikan “dosa dan penyesalan” kepada si Informan. Si Informan mendengarkan dengan saksama, hanya sesekali menimpali. Sebelum akhirnya berpamitan pulang, Natasha mengucapkan sumpah pada dirinya untuk datang lagi dan menjadi si Informan selanjutnya untuk memperluas kebermanfaatan Ruang Solidaritas Joli Jolan.

Categories
Komunitas

Kejutan dari Grobogan

Belum lama ini kami mendapatkan kiriman video dari seorang warga Grobogan. Video pendek itu langsung menarik perhatian kami. Bagaimana tidak, terlihat di sana berjejer sepatu, sandal, dan tas yang masih berkondisi sangat bagus. Ada pula deretan pakaian yang dipajang layaknya toko sandang.

Tak hanya itu, teh serta tepung-tepungan seperti tepung beras dan tapioka juga ditata berjejer. Semuanya bisa diambil gratis oleh warga secukupnya. Gerakan ini muncul di Wirosari, Grobogan. Lokasinya tak jauh dari Bledug Kuwu.

Meski kawasan mereka tak jauh dari objek wisata, tak sedikit warganya yang masih hidup marginal. Hal ini membuat seorang pemilik toko di daerah itu tergerak. Pertemuannya via media sosial dengan Joli Jolan membuatnya membulatkan tekad untuk ikut membuat wadah saling bantu.

Cik Susy, nama pemilik toko itu, kemudian berkontak dengan salah satu sukarelawan kami untuk merealisasikan gerakan serupa di daerahnya. Kami salut karena tak butuh waktu lama Cik Susy dkk. untuk mengeksekusi niatnya.

Beberapa kardus berisi pakaian pun kami kirim dari Solo sebagai “modal” kegiatan. Lalu bagaimana dengan sepatu, sandal hingga tepung yang ada di sana? Ya, itu semua dari donasi warga sekitar. Keren ya? Mereka dengan berkesadaran saling bantu untuk menguatkan kehidupan sesama warga.

Pada 7 Desember 2024 nanti, kawan-kawan di Grobogan akan kembali berkegiatan. Kami berdoa semoga gerakan di Grobogan dapat rutin berjalan, setidaknya sebulan sekali seperti yang telah diinisiasi warga Banyudono, Boyolali, dan Jaten, Karanganyar. Bagi kawan yang berdomisili di Grobogan dan sekitarnya, ini kesempatan untuk berkolaborasi.

Cik Susy dkk. bilang yang hendak berdonasi bisa diantar ke tokonya di Toko Mulia Wirosari. Donasi apa pun wajib dalam kondisi baik ya! Saat ini mereka juga membutuhkan sukarelawan agar kegiatan saling bantu dapat berkelanjutan. Jika ada yang membutuhkan kontak Cik Susy, silakan kontak kami. Panjang umur solidaritas!

Categories
Komunitas

Bisnis Tinja (Site Visit with IUWASH TANGGUH)

Hari Habitat Sedunia (World Habitat Day) diperingati setiap Hari Senin pertama di bulan Oktober yang diakui oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa atau yang disingkat PBB. Peringatan ini merefleksikan kondisi kota-kota besar dan kecil, serta hak dasar setiap orang untuk mendapatkan tempat tinggal yang layak termasuk layanan sanitasi. Tema Hari Habitat Sedunia tahun 2024 adalah melibatkan kaum muda untuk menciptakan masa depan perkotaan yang lebih baik.

USAID IUWASH Tangguh mengadakan pre-event Hari Habitat Sedunia pada Hari Selasa, 8 Oktober 2024 dengan mengajak jurnalis, komunitas, Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) dan influencer dari Soloraya dan Kota Salatiga untuk mengunjungi Instalasi Pengelolaan Lumpur Tinja (IPLT) Ngronggo di Kota Salatiga.

Joli Jolan sebagai komunitas yang bergerak dalam bidang sosial dan lingkungan diundang berpartisipasi dalam pra-event Hari Habitat Sedunia oleh USAID IUWASH Tangguh.

Dalam pra-event tersebut, kami diajak untuk berdiskusi tentang pengelolaan lumpur tinja bersama Kepala Dinas PUPR Kota Salatiga, Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Dinas PUPR sebagai pengelola IPLT, beserta komunitas sanitasi aman Salatiga. Saat kunjungan lapangan, kami juga diajak untuk melihat langsung bagaimana proses pengolahan lumpur tinja di IPLT Ngronggo.

Peserta mendapatkan penjelasan yang komprehensif mengenai sanitasi aman, termasuk bahaya kebocoran septic tank terhadap lingkungan. Septic tank adalah tempat penampungan tinja di rumah. Septic tank yang bocor bisa mencemari sumber air warga seperti sumur. Hal ini membuat sumur terkontaminasi bakteri e-coli yang berbahaya bagi kesehatan.

Kunjungan lapangan di kawasan IPLT Ngronggo diawali dengan menyaksikan proses pengolahan lumpur tinja yang dimulai sejak diturunkannya lumpur tinja dari truk pengangkut lumpur tinja ke dalam kolam penampungan.

Truk pengangkut lumpur tinja ini bekerja dalam program Layanan Lumpur Tinja Terjadwal (L2T2) yang menyedot tinja dari septic tank warga untuk diproses di IPLT. Lalu, lumpur tinja dialirkan ke bak penampungan untuk dipisahkan antara air dan padatan.

Proses pemisahan antara air dan padatan dilakukan dengan cara konvensional, yaitu menggunakan metode drying bed. Cairan lumpur tinja dialirkan dengan memanfaatkan gaya gravitasi melalui media yang dapat menyerap cairan atau gas dalam bak penampungan.

Hasil dari proses pemisahan itu adalah air yang dimurnikan dan padatan yang diolah menjadi pupuk yang siap digunakan untuk tanaman hias ataupun tanaman keras. Sedangkan air yang sudah dimurnikan dialirkan ke badan-badan air atau sungai terdekat sehingga tidak mencemari tanah dan sungai.

Pengelolaan lumpur tinja ini bisa dijadikan ladang bisnis komersial karena hasil dari olahan padatan lumpur tinja dapat dimanfaatkan sebagai pupuk, di samping bisnis L2T2 atau yang jamak disebut sedot tinja. L2T2 juga turut berkontribusi terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Salatiga.

Sayangnya, layanan ini belum dimanfaatkan secara maksimal oleh masyarakat. Padahal, ini penting untuk meningkatkan kesehatan keluarga dan masyarakat di sekitarnya. Sedot tinja juga sebaiknya tidak dilakukan hanya saat wc mampat, tetapi harus secara berkala 3-5 tahun sekali. Jadi, sudahkan kamu mendaftar L2T2 di kotamu?

A short summary oleh Maheswari Damai
Relawan Ruang Solidaritas Joli Jolan
Solo, 3 Oktober 2024

Categories
Reportase

Menyelami Kebahagiaan Publik di Tilikan Fest

“Terima kasih, sangat bermanfaat.” “Terima kasih sudah berbagi.” “Semoga ada terus”. Deretan kalimat itu tertulis dalam kolom pesan di daftar pengunjung Joli Jolan di Tilikan Fest 2024. Ya, silih berganti pengunjung, mayoritas anak muda, menyambangi stan Joli Jolan dalam acara yang digelar di Lokananta Bloc, akhir pekan lalu.

Seperti perkiraan, pengunjung stan Joli Jolan lebih antusias dengan deretan buku gratis ketimbang pakaian. Hal ini seperti saat kami berpartisipasi di acara Urban Social Forum di Lokananta beberapa waktu lalu. Joli Jolan tentu tak hendak menyaingi bazar buku yang juga menjadi acara di Tilikan Fest. Kami hanya menjadi alternatif bagi pengunjung kegiatan yang ingin menambah literasi, tetapi kantong sedang tak bersahabat.

Beberapa kali pengunjung tak percaya ketika kami memberikan barang secara cuma-cuma. “Serius ini gratis?,” tanya seorang perempuan muda seraya menutup mulutnya. Saat itu dia tertarik dengan sebuah tas jinjing yang masih berplastik. Karena sungkan mengambilnya secara gratis, dia pun memasukkan sejumlah uang ke kotak donasi.

Donasi seikhlasnya itu nantinya dipakai untuk menunjang operasional Joli Jolan. Sebuncah kebahagiaan pun muncul dari praktik berbagi sederhana. Pengalaman yang kami dapatkan di Tilikan Fest tampaknya membuktikan hasil riset World Happiness Report pada 2022. Dalam penelitian itu, bukan perilaku hedon, konsumerisme atau pamer barang mewah yang menentukan kebahagiaan sejati seseorang.

Justru perilaku prososial, mendermakan harta untuk amal, berbagi pada orang asing, dan kerelawanan yang lebih dominan membentuk tingkat kebahagiaan. Hal lain yang melegakan kami saat join di Tilikan Fest adalah bisa bertemu kawan lama sekaligus kawan baru. Beberapa pengunjung, panitia, maupun awak komunitas di acara ini sudah kami kenal baik.

Acara kemarin menjadi wadah kami bertukar cerita tentang apa pun. Kami juga jadi bisa berkenalan dengan komunitas dan kawan baru, lantas menjajaki peluang berkegiatan bareng ke depan. Modal sosial ini menjadi kebahagiaan tersendiri bagi Joli Jolan, yang sejak awal bergerak kolektif bersama warga.

Kami jadi ingat ujaran seorang ilmuwan politik bernama Robert Lane. Dia bilang kebahagiaan hanya dapat ditemukan dalam hal-hal yang mendahului uang. Hal itu seperti keluarga, teman, atau komunitas yang secara alamiah menjadi sumber makna dan tujuan hidup. Sekali lagi, terima kasih Tilikan Fest. Semoga bisa berjumpa kembali di kesempatan berikutnya. Panjang umur solidaritas.

Categories
Sudut Joli Jolan

Tilikan Fest 2024: Joli Jolan Ramaikan Skena Distribusi

Akhir pekan ini Joli Jolan akan ikut berpartisipasi di Festival Literasi Seni Solo, TILIKAN FEST. Acara ini akan digelar selama tiga hari, Jumat-Minggu (20-22/9/2024) di Lokananta Bloc. Ada banyak pertunjukan, diskusi, workshop, dan komunitas-komunitas keren yang bisa kawan temukan di acara ini.

Joli Jolan sendiri bakal berpartisipasi di kegiatan Koleb Konek, wadah yang mempertemukan komunitas independen di Solo dan sekitarnya. Masuk di skena distribusi, Joli Jolan akan membawa beberapa barang yang bisa diakses secara gratis ataupun barter seperti pakaian, bahan bacaan, tas, sepatu, dan aksesoris lain.

Selain itu, kami akan membawa sejumlah merch seperti kaus, pouch stiker, bordir yang bisa kawan beli untuk mendukung gerakan Joli Jolan. Di Tilikan Fest, Joli Jolan juga bakal memperkenalkan produk upcycle terbaru. Belum lama ini, kami bekerja sama dengan sebuah usaha mikro untuk mengolah donasi pakaian tak layak menjadi produk keset.

Jadi jangan sampai terlewatkan acaranya ya! Sila mampir dan memanfaatkan ruang distribusi kami, atau sekadar diskusi untuk membuka peluang-peluang kolaborasi di masa depan. Untuk galeri Kerten, Sabtu pekan ini kami izin tutup dulu. Layanan di Kerten akan kembali seperti biasa mulai Sabtu, 28 September 2024.

Panjang umur solidaritas!

Categories
Komunitas

Inisiasi Ruang Solidaritas di Karanganyar

Halo kawan-kawan! Ada kabar baik nih buat kalian yang berdomisili di Karanganyar dan sekitarnya. Mulai akhir pekan ini, gerakan barter dan berbagi pakaian/barang gratis bakal hadir di Jaten. Tepatnya di Jalan Josroyo Timur Nomor 26-28 RT 1 RW 14 Jaten (belakang Kantor Kecamatan Jaten).

Gerakan ini diinisiasi oleh seorang guru SMA Ursulin yang terinspirasi dengan @joli_jolan. Rencananya, kegiatan di Jaten akan buka sebulan sekali. Galeri di Jaten akan dibuka perdana besok Minggu, 25 Agustus 2024 pukul 09.00-12.00 WIB.

Untuk Joliers yang berdomisili di Jaten dan sekitarnya, silakan merapat ya! Untuk sementara galeri di Jaten hanya melayani kegiatan berbagi pakaian/barang gratis. Bagi yang hendak berdonasi bisa melalui @joli_jolan maupun drop box yang disediakan (dengan menghubungi CP terlebih dulu).

Kalian juga bisa berkontribusi menjadi sukarelawan lho di galeri Jaten. Jika berminat, sila langsung mampir hari Minggu. Panjang umur solidaritas!