Categories
Gagasan

Ziarah: Krisis dan Keterasingan

Indonesia, pada suatu masa sempat mengalami kemurungan: antara ingin segera meninggalkan masa lalu atau dihantui ketidakpastian masa depan. Kemurungan itu diikuti krisis dan keterasingan, di mana masyarakat terseret arus perubahan yang begitu deras tanpa kesadaran akan sejarah dan tujuan.

Pada masa 1960-an, krisis ekonomi melanda Indonesia buntut kebijakan politik mercusuar berbiaya besar di bawah kepemimpinan Presiden Soekarno. Kala itu, masyarakat Indonesia baru satu dekade menjalani pemulihan pascaperang kemerdekaan menuju pergolakan mengisi dan membangun.

Suasana krisis dan peralihan di Indonesia saat itu demikian terasa, sebab Indonesia masih muda dan sedang menjadi, tetapi ingin tampil gagah di antara bangsa-bangsa besar di dunia sembari mendayung di antara dua karang besar yang menjadi kiblat politik global. Presiden Soekarno menyebutnya sebagai tahun vivere pericoloso atau tahun penuh bahaya.

Di tahun penuh bahaya itulah, sastrawan angkatan 1966 Iwan Simatupang, menuntaskan pengerjaan novel pertamanya yang fenomenal berjudul Ziarah. Dalam bukunya berjudul Novel Baru Iwan Simatupang (1984) Dami N. Toda menjelaskan, Iwan mempersembahkan Ziarah untuk istri pertamanya, Corrine Imalda de Gaine, yang meninggal karena tifus pada tahun 1955.

Selesai ditulis pada akhir 1960, Ziarah baru terbit sembilan tahun kemudian. Begawan Sastra Indonesia, H.B Jassin pernah mendesak Penerbit Djambatan dalam sebuah surat agar lekas menerbitkan Ziarah. Kata Jassin, “Ceritera ini yang baru sama sekali dalam bahasa, dalam pengungkapan, dalam mendekati hidup dan permasalahan baru dalam kesusastraaan Indonesia.”

‘Kejutan’ di Kotapraja

Berlatar belakang di sebuah kota bernama Kotapraja, novel Ziarah mengisahkan keterasingan seorang protagonis laki-laki bernama Tokoh Kita yang batinnya terpukul karena istrinya meninggal dunia. Sekian lama terbenam dalam keterasingan sekaligus keputusasaan, Tokoh Kita akhirnya menginsyafi kesalahan dan memperbaiki diri.

Mengalami berbagai perenungan batin, Tokoh Kita memutuskan untuk membangun reputasi baru sebagai pengapur tembok yang andal berkat pengalaman dan keterampilannya melukis di masa lalu. Lambat laun, keahliannya menyebar ke seluruh penjuru Kotapraja, membuat seorang opseter pemakaman tertarik menggunakan jasanya.

Singkat cerita, opseter mulai dilanda cemas sejak tiga hari Tokoh Kita bekerja. Semula, opseter berniat mengamati perilaku ganjil Tokoh Kita saat mengapur tembok pemakaman Kotapraja. Perilaku ganjil yang dimaksud semacam gejala guncangan jiwa Tokoh Kita bila mengingat istrinya dimakamkan di tempat itu. Keinginan itu pupus karena Tokoh Kita malah menjalani rutinitas seperti orang pada umumnya. Ketika matahari terbenam, ia menyudahi pekerjaannya lalu pergi berjalan ke kedai arak sambil bersiul-siul santai. Kabar ini segera meluas ke seluruh penjuru Kotapraja, menjadi pemicu histeria warga kota.

“Perobahan tingkah pengapur ini mempengaruhi tingkah seluruh warga kota. Mereka tak dapat memahami perubahan itu. Mereka melihat pada perubahan itu hanya bertanda bakal datangnya satu perubahan tak baik dan menyamankan bagi mereka semuanya,” tulis Iwan.

Keganjilan Tokoh Kita bermula dari suatu hal yang seharusnya berjalan biasa saja. Namun, warga Kotapraja sudah lebih dulu beranggapan Tokoh Kita seharusnya berperilaku ganjil. Mereka seakan bersepakat, ukuran normal seseorang dinilai dari persepsi yang terpatri bersama di balik layar.

Dari sini, absurditas novel Ziarah mulai mendaki kompleksitasnya. Karena kenormalan Tokoh Kita, warga Kotapraja dikisahkan mengalami rentetan keganjilan sampai dengan krisis pemerintahan. Suatu hari, mereka merasa takut, curiga, serta bingung kepada sesama warga kota lainnya. Fenomena ini mengakibatkan histeria massal tak terduga hingga pemerintah Kotapraja hampir tak berdaya menghadapinya.

Para pejabat Kotapraja kesulitan mengurai masalah yang benar-benar baru pertama kali mereka temui. Wali kota akhirnya memutuskan turun tangan sendiri. Ia memutuskan memberhentikan opseter yang mempekerjakan Tokoh Kita. Merasa ganjil sekaligus buntu dengan keputusannya sendiri, wali kota malah bertambah frustasi dan memutuskan bunuh diri.

Kegagapan Menghadapi Perubahan

Histeria imbas perubahan perilaku Tokoh Kita menjadi simbolisme ketidaksiapan masyarakat menerima kecepatan perubahan. Cendekiawan dan mantan Rektor Universitas Perserikatan Bangsa-Bangsa Soedjatmoko, dalam esainya yang berjudul Umat Manusia Menghadapi Tantangan Bagi Kelangsungan Hidupnya (1991) berpendapat, kecepatan perubahan di berbagai negara telah memicu gejala stres dan keterasingan.

Penyebab perubahan itu, tulis Soedjatmoko, misalnya kerumitan proses politik, menajamnya perbedaan budaya, serta karakter individu yang makin beragam. Belum lagi, revolusi informasi datang dan melampaui kapasitas ekonomi nasional suatu negara. Maka, Ziarah mencerminkan keadaan demikian: kabar buruk dan histeria menyibak inkompetensi pemerintah.

“Kecepatan perubahan dalam berbagai negara telah menimbulkan salah arah, keterasingan kaum muda, dan kaum miskin, perilaku anomik, serta kekerasan tidak terduga. Ini adalah tanda-tanda suatu masyarakat sedang mengalami stres,” tulis Soedjatmoko.

Pandangan Soedjatmoko itu ditulis puluhan tahun silam, tetapi gaungnya masih terdengar sampai hari ini. Kita bisa menyaksikan sendiri, bagaimana di Indonesia percepatan informasi dan kebijakan salah kaprah menjurus pada vivere pericoloso. Akibatnya, bermunculan anomali sosial, ketidakpercayaan terhadap elite politik, dan berbagai bentuk aksi massa.

Sementara, seperti paniknya warga Kotapraja menghadapi perubahan perilaku Tokoh Kita, masyarakat Indonesia hari ini bergulat dengan perubahan sosial-politik yang datang bertubi-tubi. Refleksi pergulatan itu tercermin dari rentetan aksi demonstrasi belakangan waktu, serta kegagapan respons pemerintah menanggapi kritik dan aspirasi.

Selain didorong amplifikasi kabar di media sosial, rentetan aksi demonstrasi dilatarbelakangi oleh memburuknya situasi ekonomi dan politik. Ambil misal, terjadinya PHK massal di banyak tempat, melambungnya harga bahan pokok, kebijakan pemangkasan anggaran kementerian, hingga terseret pusaran perang dagang raksasa-raksasa dunia.

Krisis ekonomi dan politik juga terjadi dalam Ziarah. Pemerintah Kotapraja sampai melibatkan pemerintah pusat untuk mengatasi efek domino dari histeria massal. Pemerintah panik melihat jumlah orang yang menderita penyakit darah tinggi dan urat syaraf terganggu semakin meningkat. Kepala negara, kabinet, dan parlemen sibuk mengatasi potensi kelumpuhan kerja negara akibat penyakit syaraf.

“Dan yang lebih celaka lagi, menjadinya negara satu sanatorium raksasa bagi satu bangsa yang seluruhnya menderita penyakit jiwa dan urat syaraf,” tulis Iwan.

Categories
Komunitas

Sashiko, Seni Terapi untuk Jiwa yang Tenang

Hanya dengan melihat hasil sulam, Deenar Tan bisa menilai apakah seseorang sedang mengalami stres atau memiliki mood yang baik. Pada level ekstrem, seseorang yang emosional bahkan bisa mematahkan jarum sulamnya.

Teknik sulam sashiko memperlihatkan keindahan di dua sisi, yakni sisi luar yang menjadi pola utama dan sisi dalam yang menjadi tapak sulam. Acapkali hasil sulam terlihat indah dari luar, sedangkan di bagian dalamnya terlihat semrawut.

“Dari luar sangat bagus, tetapi begitu dibalik, nah ketahuan. Ibarat pribadi, hasil sulam sashiko harus terlihat indah dari luar maupun dari dalam,” kata Deenar Tan, founder InnerChild, seraya menunjukkan hasil sulamnya pada tote bag berbahan canvas.

Prasyarat menyulam sashiko adalah harus melakukannya dengan tenang karena keindahan teknik ini berorientasi pada detail. Setiap tusukan jarum harus memiliki jarak yang sama dan kekuatan tarikan yang sama pula. “Menarik benangnya pun harus pakai hati. Kalau terlalu kuat bisa putus, kalau terlalu lemah kurang rapat,” sambung dia kepada belasan peserta workshop “Mindful Consumption with Sashiko” bersama Deenar Tan dan Psikolog Klinis RS Indriati Boyolali, Xavera Adis, di Santee Kopi, Kadipiro, Kota Solo, Kamis (1/5/2025).

Banyak orang memanfaatkan sashiko sebagai seni terapi untuk membangun jiwa yang tenang. Sebab, teknik ini mengajarkan kehadiran diri dan jiwa secara penuh saat menyulam, bukan sekadar mengisi waktu kosong. Proses ini terlihat saat menusukkan jarum, mengatur jarak, dan menarik benang.

Sashiko juga mengajarkan bahwa sumber daya seperti benang adalah berharga. Saat sulaman berujung kusut, seseorang dianjurkan mengurainya dengan sabar alih-alih menggunting begitu saja dan memulai dari nol. “Sashiko membantu mindful consumption dengan mengajarkan kita untuk lebih menghargai barang yang kita miliki. Proses dalam sulam sashiko mengajarkan kita untuk memanfaatkan secara bijak dan memaksimalkan nilai guna barang dengan kesadaran penuh untuk memakai ulang atau mendonasikannya saat tak lagi membutuhkan,” terang Deenar.

Dikutip dari Instagram @innerchild.ink, Sashiko sendiri merupakan teknik sulam tradisional dari Jepang yang popular pada masa Edo (1603-1868). Metode ini kerap dipakai untuk menghias atau memperbaiki pakaian atau kain yang rusak. Sashiko diambil dari kata “sasu” yang berarti menusuk dan “ko” yang berarti lubang. Secara etimologis, sashiko dimaknai sebagai “menusuk dengan jarum.”

Ada beberapa pola khas sashiko yang jamak ditemui, meliputi asanoha dengan pola daun rami yang melambangkan pertumbuhan dan perlindungan; kikko dengan pola kura-kura yang merepresentasikan umur panjang dan perlindungan; serta seigaha atau gelombang laut yang memberi makna kedamaian dan keberuntungan.

Categories
Gaya Hidup

Cara Bijak Mengonsumsi Barang

Setiap individu harus memiliki kesadaran penuh saat mengonsumsi barang atau memutuskan membeli sesuatu. Sebab, di dalamnya termuat tanggung jawab pribadi kepada sosial dan lingkungan. Alih-alih memenuhi kebutuhan dasar hidup, konsumsi yang didorong emosi demi memuaskan ego sesaat hanya akan berujung pada penyesalan.

“Saya suka membeli brand tertentu. Kalau muncul model baru, saya beli lagi. Bahkan, saya mau PO (purchase order) juga dan menunggu beberapa pekan. Bahkan, terkadang saya sampai lupa pernah membeli ini,” ujar seorang peserta menceritakan pengalamannya mengoleksi tas idamannya.

Seorang peserta lain menceritakan pengalamannya berbelanja bahan makanan untuk stok memasak di rumah selama 3-7 hari ke depan. Begitu sampai di rumah, dia menyimpannya di kulkas. Namun, rencana memasak hanya berujung sekadar rencana.

“Saya suka merasa bersalah setelah membeli. Tapi (merasa) bersalahnya sama suami. Ibu-ibu kadang mau cepat-cepat (mengumpulkan bahan makanan) tetapi lama-lama enggak jadi (memasak),” tutur dia, dalam sebuah Workshop Art Therapy bertajuk “Mindful Consumption with Sashiko” Bersama Psikolog Klinis RS Indriati Boyolali, Xavera Adis, dan founder InnerChild, Deenar Tan, hasil kolaborasi dengan Ruang Solidaritas Joli Jolan di Santee Kopi, Kamis (1/5/2025).

Pengalaman-pengalaman di atas jamak dialami semua manusia. Keputusan membeli suatu barang kerap terjadi hanya dengan melihat bentuknya yang lucu, unik, stoknya yang makin sedikit atau sekadar angan-angan suatu hari akan membutuhkan produk tersebut.

Model konsumsi ini seringkali didorong oleh emosi, misalnya saat seseorang stres lalu memutuskan berbelanja sebagai bentuk coping. Selain itu, rasa bosan yang diisi dengan scroll-scroll lokapasar daring seringkali berakhir dengan check out produk-produk karena ketertarikan sesaat. Serangkaian proses itu berdampak pada sebuah penyesalan, penumpukan barang, dan risiko finansial. Tanpa disadari, pola ini membawa seseorang pada perilaku konsumtif.

“Proses pembelian barang ini seringkali didominasi oleh FOMO (fear of missing out) dan pemenuhan ego. Ada tren karena takut ketinggalan, pengaruh influencer, dan media sosial yang mendorong budaya konsumsi. Pemenuhan ego berpengaruh pada tujuan citra diri dan validasi sosial,” kata Adis, panggilan akrabnya.

Berbelanja dengan Penuh Kesadaran

Untuk mencegah praktik konsumerisme, Adis mengajak setiap orang untuk mengajukan beberapa pertanyaan reflektif terlebih dahulu sebelum memutuskan berbelanja: apakah aku membeli karena butuh atau hanya karena ingin? Apakah aku sadar saat membeli atau membeli tanpa keputusan matang? Apakah ada alternatif lain untuk mendapatkan barang yang sama?

Pertanyaan ini penting dan relevan karena aktivitas konsumsi manusia sedikitnya terbagi ke dalam tiga kelompok yakni: kebutuhan (needs), keinginan (wants), dan hasrat (desires). Needs bersifat memenuhi kebutuhan esensial untuk menjalankan fungsi dasar hidup. Seseorang membutuhkan jaket saat naik ke puncak gunung. Sebab, tanpa jaket dia bisa mati kedinginan.

Sebaliknya, keinginan hanya bersifat tambahan yang membuat seseorang merasa hidup nyaman. Pemenuhan pada kelompok ini sejatinya tidaklah esensial atau utama. Misalnya, seseorang harus memiliki sepatu dengan brand tertentu. Fungsi sepatu tetap sebagai alas kaki, tetapi brand tertentu ini hanyalah keinginan.

“Terakhir, yang paling berbahaya, desires. Karena dorongan emosional, yang membeli jadi puas. Padahal, puas tidak pernah selesai. Dia akan naik terus,” imbuh Adis.

Untuk mengatasi pola konsumsi yang emosioanl ini, Adis menganjurkan agar menyiapkan catatan sebelum bepergian ke suatu tempat. Hal ini untuk mencegah keinginan-keinginan yang mendadak muncul saat tiba di tujuan. Menyiapkan catatan ini penting sebab seringkali orang-orang bepergian tanpa tujuan yang jelas.

Tip sederhana lain untuk membangun kebiasan mengonsumsi dengan kesadaran penuh adalah dengan mempraktikan SMART yang terdiri atas: stop and think, mindful questions, assess alternative, review what you have, dan take your time.

“Saat mau membeli, seseorang harus mempertimbangkan kebutuhan, nilai apakah ini sesuai dengan diri sendiri dan orang lain serta tanggung jawab terhadap sosial dan lingkungan,” imbau Adis.

Categories
Komunitas

Berkesadaran dengan Sashiko

Konsumsi berlebihan sudah menjadi pola hidup sebagian masyarakat, yang tentunya berdampak terhadap lingkungan. Efeknya turut mempengaruhi kesehatan mental, bisa berupa kecemasan, stres, hingga kepuasan hidup yang palsu.

Menjaga keseimbangan antara kebutuhan dan keinginan hari-hari ini tampaknya semakin penting. Tak hanya untuk mengenali diri, tetapi juga untuk membantu meringankan beban bumi. Art therapy melalui metode sashiko pun hadir menjadi alternatif menuju konsumsi berkesadaran, mengurangi stres, sekaligus menghasilkan karya estetik.

Sashiko adalah teknik menjahit tradisional Jepang yang awalnya dibuat untuk memperbaiki kain sobek. Namun sashiko bukan hanya tentang kain dan menyulam. Ada filosofi mendalam bahwa sesuatu yang pernah rusak bisa jadi lebih indah saat dirajut kembali dengan cinta dan kesabaran.

Dalam workshop kali ini, InnerChild bakal mengajak bereksperimen sashiko dengan media celana jin denim yang disediakan oleh Joli Jolan. Setiap prosesnya akan kita maknai bersama sebagai upaya membangun diri yang pernah retak, tentang menerima masa lalu, dan memulainya kembali dengan lebih kuat.

Sebelum menyelami diri bersama sashiko, psikolog klinis RS Indriati Boyolali, Xavera Adis, akan menyampaikan insight tentang mindful consumption. Praktik konsumsi secukupnya dan manfaatnya terhadap kesehatan mental juga akan dieksplorasi secara mendalam.

Segera daftarkan diri kalian ya kawan-kawan, kuota terbatas. Sampai jumpa 1 Mei!

Pendaftaran: bit.ly/MindfulwithSashiko
Informasi: Damai (088232117938)

Categories
Sudut Joli Jolan

Kejutan dan Kehangatan Usai Lebaran

Sabtu kemarin menjadi hari yang spesial bagi Joli Jolan. Usai libur dua pekan, akhirnya kami bisa bersua kembali dengan kawan-kawan. Seperti yang kami duga, pengunjung tumpah ruah, mulai dari warga yang hendak berburu pakaian/barang, maupun warga yang berdonasi. Beberapa pengunjung bahkan sudah menanti pagar Joli Jolan dibuka sejak pukul 09.30 WIB, setengah jam sebelum operasional dimulai.

Antusiasme yang semakin meningkat inilah yang kami lihat di ruang ini dari waktu ke waktu. Untuk menjaga kenyamanan semua yang berkunjung, kami perlu membikin sejumlah terobosan atau pembenahan. Bagi yang hadir kemarin mungkin kaget ketika kami memberlakukan nomor antrean untuk masuk ke Joli Jolan.

Ya, sistem ini mulai kami ujicoba untuk mengurai padatnya pengunjung, terutama di jam 10 pagi. Belakangan kami melihat warga cenderung berdesakan/tidak mau kalah untuk masuk duluan ke Joli Jolan. Istilah kata, sudah mirip start lomba lari. Hal ini tentu membahayakan pengunjung rentan seperti anak, lansia, atau ibu hamil.

Tak hanya itu, kenyamanan memilih pakaian juga berkurang karena semua langsung tumplek blek di awal. Adanya nomor antrean membuat pengunjung masuk bertahap, sehingga diharapkan menjaga kenyamanan semua pihak. Kami akui masih banyak kekurangan di awal penerapannya. Sejumlah masukan sudah kami catat dan evaluasi. Tentu kami juga berharap masukan dari pengunjung.

Kegembiraan Sabtu kemarin semakin lengkap karena sukarelawan berkumpul untuk makan bareng dan halalbihalal. Salah satu sukarelawan awal kami yang kini tinggal di Bandung, Zen Al Ansory, juga mampir ke Kerten untuk melepas kangen. Terima kasih untuk video pendek ini ya!

Ada pula sejumlah tamu mulai dari komunitas Innerchild, psikolog Xavera Adis hingga mahasiswa FISIP UNS. Mereka menawarkan kolaborasi keren bareng Joli Jolan, yang pastinya segera akan kami kabarkan. Kami ucapkan terima kasih pada semuanya yang tak lelah saling bantu. Panjang umur solidaritas.

Categories
Sudut Joli Jolan

Bakdan di Joli Jolan, Berhemat Uang

Belakangan ini berita buruk seperti tak ada habisnya menghampiri masyarakat. Mulai dari BBM oplosan, PHK ribuan pekerja pabrik, pengangkatan CPNS yang mundur hingga kisruh minyak yang tak sesuai takaran. Jika dicermati, semua masalah itu berdampak langsung pada ekonomi masyarakat.

Belum soal harga bahan pokok yang cenderung melejit pada bulan Ramadan dan Idulfitri. Kondisi ini tentu membuat sebagian orang berpikir ulang dalam membeli keperluan Lebaran seperti baju baru. Inisiatif saling bantu pada akhirnya bisa menjadi salah satu alternatif agar warga mendapatkan kebutuhannya tersebut secara terjangkau, bahkan gratis.

Tahun ini Joli Jolan kembali mendistribusikan pakaian preloved berkualitas untuk berhari raya secara cuma-cuma. Kalau beruntung, kawan bisa mendapatkan sandang berkondisi baru. Pokoknya koleksi terbaik Joli Jolan akan dibagikan menyambut Lebaran.

Semua boleh mengakses tanpa kecuali karena tujuannya untuk mengurangi konsumerisme, bukan charity. Kami menyediakan kotak atau umplung bagi kawan yang ingin berdonasi guna mendukung gerakan Joli Jolan sehingga gerakan ini dapat terus berlanjut dan berkembang.

Toko Joli Jolan juga akan hadir dengan merchandise dan koleksi terbaiknya. Tentu saja, harganya akan jauh lebih murah ketimbang barang-barang yang dijual di mal atau pusat perbelanjaan. Donasi nantinya akan kami gunakan untuk kebutuhan operasional ruang (kebersihan, listrik, peralatan galeri), distribusi pakaian ke daerah, hingga program berbagi makanan.

Layanan ini kami buka pada tanggal 15 Maret dan 22 Maret 2025 pukul 10.00-12.00 WIB di Jalan Siwalan No. 1 Kerten, Laweyan, Solo (Google Map Joli Jolan).

Daripada mengeluarkan kocek lebih dalam dan berdesak-desakan di pusat perbelanjaan, tidak ada salahnya mencari pakaian di @joli_jolan. Uang belanja pakaian pun bisa disimpan untuk berbagi di kampung halaman. Yuk, ikutan Berburu Baju Lebaran di Joli Jolan!

Categories
Komunitas

Open Donation Formadgata

Hal teman-teman semua. Kami FORMADGATA ingin mengajak kalian untuk berpartisipasi dalam program kerja Formadgata Charity! Program kerja ini bertujuan untuk membantu teman-teman yang membutuhkan. Donasi yang terkumpul akan disalurkan kepada mereka yang benar benar memerlukannya.

Kami percaya bahwa dengan dukungan kalian, kita dapat membantu banyak orang. Kami juga sangat menghargai setiap donasi, baik besar maupun kecil, karena setiap bantuan memiliki arti yang besar.

Donasi dapat disalurkan melalui:
Bank BRI 695701053887535 a.n. Nesa Herlina
Bank Jateng 3011037852 an. Najwa Nafisah Aulia Wardhani
Bank Mandiri 1380022730035 a.n Muhammad Bintang Asyrofa

Contact Person:
☎️ +6285641704300 (Briyan Agam)
☎️ +6281326864548 (Aurora Chandra)

Terima kasih atas dukungan kalian! Mari kita saling membantu pada saudara kita yang membutuhkan.

———————————————————
DIVISI SOSIAL MASYARAKAT
KABINET BARGAWA ABHIPRAYA
FORMADGATA 2025

Categories
Komunitas

Melukis Pot Galon Bersama Panti Asuhan Ihsan Sakeena

Minggu, 2 Maret 2025, bertepatan dengan hari kedua bulan Ramadan komunitas Involuntir Surakarta mengadakan acara bersama anak-anak Panti Asuhan Ihsan Sakeena di Latar Situ Joli Jolan, Kerten. Kegiatan yang dilaksanakan sembari menunggu waktu berbuka puasa ini tidak hanya menjadi momen silaturahmi bagi relawan Involuntir Surakarta dengan anak-anak Panti Asuhan Ihsan Sakeena, tetapi juga dengan relawan Joli Jolan.

Kegiatan dimulai setelah peserta yang terdiri dari relawan Involuntir, anak-anak panti asuhan, dan relawan Joli Jolan berkumpul membentuk lingkaran di pendapa. Satu per satu, anak-anak dari Panti Asuhan Ihsan Sakeena memperkenalkan diri dengan menyebutkan nama mereka masing-masing. Setiap nama yang disebutkan pun disambut dengan sapaan akrab oleh peserta lain sehingga mengawali suasana dengan akrab.

Setelah selesai perkenalan, kegiatan dilanjutkan dengan ice breaking. Setiap perserta diminta untuk saling mengoper boneka koala ke orang yang berada di samping mereka sambil diiringi musik. Ketika musik berhenti, peserta yang memegang boneka harus menjawab pertanyaan yang diberikan oleh pembaca acara. Permainan ini berhasil mencairkan suasana dan membuat semua peserta tertawa riang, siap untuk mengikuti inti acara.

Menuangkan Kreativitas dengan Menghias Pot Galon

Para peserta dibagi menjadi tujuh kelompok melalui permainan “Kapal Pecah.” Pembawa acara menyebutkan jumlah kapal yang pecah kemudian peserta diharuskan membentuk kelompok sesuai jumlah kapal tersebut. Proses mencari pasangan kelompok pun dipenuhi canda tawa, karena para peserta yang belum saling mengenal mau tidak mau harus berani untuk berkenalan.

Setelah kelompok terbentuk, para peserta diarahkan untuk menuju ke area Latar Situ. Setiap kelompok kemudian mendapatkan satu galon bekas, alat lukis, dan cat air. Tugas mereka adalah mengubah galon bekas tersebut menjadi pot tanaman yang kreatif dan penuh warna. Kegiatan ini tidak hanya melatih kreativitas, tetapi juga meningkatkan keakraban antarpeserta. Setiap anggota kelompok pun saling berdiskusi dan menuangkan ide mereka ke dalam lukisan. Hasilnya, berbagai gambar indah seperti taman bunga dan komposisi warna menghiasi galon-galon bekas tersebut.

Pot-pot tersebut kemudian diisi dengan media tanam dan bibit tanaman yang telah disiapkan. Proses ini dipandu langsung oleh relawan dan influencer berkebun, Mewalik. Melalui proses menanam ini, para peserta diajarkan bagaimana cara menanam dan merawat tanaman hingga tumbuh besar. Kegiatan ini diharapkan mampu menumbuhkan rasa tanggung jawab dan kecintaan terhadap alam, terutama terhadap tanaman.

Menjelang waktu berbuka puasa, para peserta kembali ke pendapa untuk mengikuti sesi terakhir, yakni menulis surat untuk kakak-kakak relawan Involuntir. Dengan penuh antusias, mereka pun menuliskan ungkapan terima kasih dan rasa syukur mereka atas kebersamaan pada sore hari itu. Salah satu perwakilan relawan kemudian membacakan surat tersebut, yang berhasil menyentuh hati semua orang dan menciptakan momen haru.

Kegiatan ditutup dengan berbuka puasa bersama dan menjalankan ibadah salat Maghrib berjamaah. Sebagai hadiah terakhir, para peserta dipersilakan memilih barang-barang dari galeri Joli Jolan yang disediakan secara gratis. Kegiatan ini diharapkan tidak hanya memberikan pengalaman berharga tentang kebersamaan dan kepedulian, tetapi juga menjadi stimulus inspirasi bagi peserta dalam memanfaatkan barang bekas secara kreatif. Sebuah penutup yang berkesan bagi relawan Involuntir Surakarta dan anak-anak Panti Asuhan Ihsan Sakeena.

Categories
Gagasan

Merawat Solidaritas Mulai dari Tetangga

Bagaimana sebuah gerakan dapat berkembang dan berkelanjutan? Salah satu hal yang penting adalah jaringan. Dengan berjejaring, langkah gerakan bakal lebih ringan dan berdampak luas. Itulah yang membuat kami intens berkolaborasi dengan komunitas hingga warga akar rumput hingga sekarang.

Beberapa kelompok warga akhirnya terinspirasi membuat gerakan berbagi seperti di Jaten, Karanganyar, Pengging, Boyolali, Grobogan, dan yang terkini warga Rusunawa Putri Cempo Solo. Namun yang mungkin belum banyak diketahui, Joli Jolan juga intens melibatkan tetangga kampung untuk saling bantu.

Beberapa sukarelawan kami adalah tetangga. Ada pula tetangga pengusaha yang rutin memberi teh kesehatan gratis setiap akhir pekan. Dokter yang membuka praktik di dekat Joli Jolan juga memberikan jasa cek kesehatan secara cuma-cuma. Tak kalah seru, kami turut berkolaborasi dengan Masjid Al Huda, Kerten, sebuah masjid yang berlokasi hanya sepelemparan batu dengan Joli Jolan.

Ya, seusai Joli Jolan tutup Sabtu siang, kami langsung memilah sejumlah pakaian dan barang lain untuk diberikan ke pengelola masjid. Barang donasi itu nantinya akan dibagi pada warga masjid seusai salat Subuh setiap hari Minggu. Biasanya, masjid turut menyediakan sayuran yang juga dapat diambil gratis. Kegiatan ini pun secara tak langsung menambah motivasi warga sekitar untuk subuhan berjemaah.

Meski sederhana, Masjid Al Huda telah menjalankan fungsi sebenarnya dari pemberdayaan umat. Bagi kami, sudah sewajarnya tempat ibadah tak hanya menjadi ruang untuk beritual, tetapi juga menjadi ruang yang memberikan manfaat sosial-ekonomi secara langsung bagi jemaahnya. Tidak perlu menunggu siapa-siapa, mari kita inisiasi gerakan serupa bersama tetangga. Berani memulai, kawan?

Categories
Sudut Joli Jolan

Refleksi 5 Tahun Joli Jolan: Pegang Solidaritas untuk Jangkauan Meluas

Tanggal 21 Desember 2024 lalu, Ruang Solidaritas Joli Jolan genap berusia lima tahun. Boleh dikatakan satu siklus hidup komunitas telah dilalui. Mengingat kembali kegelisahan yang dirasakan ketiga pendirinya, kegelisahan mengenai masalah khas perkotaan, yang warganya berjibaku dengan tantangan sosial, ekonomi. dan lingkungan.

Sebagai ruang non-profit yang dimotori masyarakat sipil, bisa merawat gerakan hingga setengah dasawarsa adalah pencapaian sekaligus pembuktian. Bukti bahwa konsistensi, meski dimulai dari hal sederhana, bakal menuntun sebuah gerakan ke tujuannya.

Konsistensi dan daya tahan hari-hari ini semakin menjadi tantangan, mengingat semakin banyaknya warga yang memanfaatkan layanan Joli Jolan. Entah itu berdonasi, barter atau mengambil barang secara gratis. Semakin dikenalnya Joli Jolan tak lepas dari warga, media, maupun influencer yang membantu menyebarluaskan gerakan.

Unggahan Mewalik Jaya, vlogger berkebun yang juga sukarelawan kami, juga beberapa kali viral. Hal ini membuat kami harus menata ulang sistem dan strategi demi keberlangsungan Joli Jolan. Selain pengelolaan donasi, salah satu pemikiran terdekat adalah menyehatkan pendanaan. Hal ini penting agar gerakan tetap lestari, independen dan menjangkau lebih luas.

Belum lama ini, kami me-rebranding Peken Joli Jolan menjadi Toko Joli Jolan sebagai lini usaha mandiri. Di toko yang punya nama lain KoCik (Koko Cicik) ini, kami menjual sejumlah merchandise seperti kaus, pouch, bordiran, stiker, dan beberapa barang upcycle. Donasi barang dari warga yang masih baru, alat elektronik, atau seken berkualitas tinggi, juga beberapa dipajang di Toko KoCik.

Harga yang dibanderol di toko jauh di bawah harga pasar, semata untuk membantu membiayai operasional. Selain itu, Joli Jolan memiliki akun Trakteer yang dapat dimanfaatkan warga untuk urun dana. Sejauh ini, pemasukan dari Trakteer kami gunakan untuk memperpanjang napas website jolijolan.org setiap tahun.

Kami juga masih membahas adanya biaya pengelolaan untuk warga yang berdonasi pakaian dalam jumlah besar (melebihi kilogram tertentu). Hasilnya dikembalikan untuk mengelola dan distribusi barang donasi ke daerah-daerah.

Pengenaan biaya pengelolaan juga penting, mengingat masih saja ada warga yang berdonasi berkarung-karung, sekadar untuk membersihkan rumah, tanpa mempedulikan pengelolaan setelahnya. Sering kali, donasi besar seperti ini justru berkualitas rendah. Kami lebih menghargai warga yang berdonasi secukupnya tapi menjaga kualitas pakaian/barang yang diberikan.

Upaya menghitung dampak gerakan terhadap lingkungan juga mulai kami realisasikan di usia lima tahun Joli Jolan. Setiap Sabtu, donasi pakaian/barang yang masuk kami timbang untuk mengetahui berapa potensi timbulan sampah yang bisa dikurangi.

Pada akhirnya, gerakan solidaritas hanya akan terus menggelinding apabila warga masih solid saling bantu untuk menghidupinya. Bukan pemerintah, parpol, korporasi, atau pemodal besar. Selaras dengan tagline ultahnya, Gangsal (Pegang Solidaritas), semoga Joli Jolan tetap memegang erat solidaritas agar semakin berdampak baik dan meluas. Dirgahayu kelima tahun Joli Jolan.