Dalam hierarki kebutuhan Maslow, kasih sayang merupakan salah satu wujud kebutuhan sosial. Sabtu, 18 Januari 2025, Ruang Solidaritas Joli Jolan terasa semakin hangat dengan kehadiran anak-anak balita hingga seusia SD. Mereka adalah anak-anak yang diasuh di Panti Asuhan Mizan Amanah, Solo.
Setiap Sabtu, anak-anak panti memang rutin refreshing dengan jalan-jalan di sekitar kota. Kami gembira ketika mereka berkenan mampir ke Joli Jolan untuk berakhir pekan. Ketika diajak masuk ke Pendapa Latar Situ Kerten, lokasi di mana Joli Jolan berada, senyum mereka langsung merekah.
Anak-anak antusias melihat banyak mainan, boneka, komik, alat tulis dan gambar hingga jajanan yang ditata di pendapa. Tak butuh waktu lama bagi mereka untuk memilih barang apa yang mereka suka. Barang-barang ini merupakan donasi kawan-kawan Joliers, yang telah kami kurasi sehingga dapat memberikan yang terbaik bagi para anak panti.
Kegiatan ini menjadi salah satu penanda Joli Jolan membuka pojok anak di awal tahun 2025. Setiap Sabtu, kami menyediakan sudut khusus bagi anak-anak untuk memilih mainan yang disukainya. Di sana, orangtua diminta tidak “cawe-cawe” memilihkan mainan untuk anaknya. Ini dilakukan agar anak memiliki inisiatif untuk memutuskan apa yang mereka inginkan, bukan apa yang dirasa baik buat mereka.
Selain itu, anak diajak saling berinteraksi dengan anak lain, saling berbagi mainan. Hal sederhana itu diharapkan memupuk kepedulian dan rasa solidaritas sejak dini. Orangtua dapat memberi arahan jika sang anak justru mengambil lebih banyak, enggan berbagi dengan sesama.
Kawan-kawan juga dapat berpartisipasi melestarikan pojok anak dengan donasi mainan yang bersih dan menarik. Kami juga menerima donasi buku anak, susu, atau snack sehat untuk mendukung perkembangan mereka. Yuk, bareng-bareng manfaatkan pojok anak Joli Jolan!
Joli Jolan merupakan komunitas yang menghimpun dan menyalurkan barang layak pakai dan berbagai barang manfaat lainnya. Keberadaan Joli Jolan sudah dikenal masyarakat yang menerima manfaat (dalam makna luas). Bagi donatur bisa kapan saja dapat menyalurkan barang yang ingin didonasikan. Informasi syarat dan ketentuan barang yang dapat didonasikan oleh donatur tertera jelas di sosial media Joli Jolan. Silahkan menghubungi nomor atau langsung datang ke Lapak Joli Jolan. Bagi donatur yang jauh, kapan saja bisa langsung kirim barang ke lapak Joli Jolan dengan konfirmasi kepada relawan terlebih dahulu.
Bagi calon donatur, perlu ingat sebuah prinsip tentang berbagi kepada masyarakat. Pepatah Jawa memiliki sebuah nasihat yang kemudian menjadi masyhur di tengah-tengah masyarakat kita saat ini, yakni “urip iku urup” (hidup itu menyala). Filosofi ini mengajarkan bahwa hidup tidak hanya sekedar mewujudkan eksistensi pribadi saja, tetapi menyadari keberadaan orang lain.
Layaknya cahaya yang menyala untuk menerangi kegelapan. Cahaya tersebut tidak sekadar memberikan penerangan bagi dirinya sendiri, tetapi juga bagi siapa saja yang berada di sekitar sumber cahaya. Falsafah yang menganjurkan seseorang untuk menjadi pribadi bermanfaat di tengah masyarakat itu pada dasarnya adalah semangat inti dalam berbagi atau menjadi seorang donatur.
Setelah rasa ingin berbagi tumbuh, kita perlu memikirkan kembali barang atau jasa yang akan diberikan dan apa tujuan dari upaya memberi tersebut, yang mana biasanya adalah berbagi kesenangan. Kemudian teringat dengan salah satu nasehat dalam bahasa Jawa, “nguwongke uwong, gawe legane uwong” (memanusiakan manusia dan membuat orang lain senang).
Memanusiakan manusia berarti menghormati orang lain karena kita adalah sesama manusia. Bukan sekadar menghormati seorang pejabat yang memiliki kekayaan dan pangkat tetapi tidak menghormati orang yang melarat dan tidak berpangkat. Melainkan, kita saling menghormati sesama ciptaan Tuhan.
Apabila kita sudah mengerti dan memahami hakikat kita sebagai manusia, sudah selayaknya kita lebih bijak dalam mendonasikan barang. Kita perlu mulai menyadari bahwa barang yang akan kita donasikan adalah barang yang nantinya akan dipakai oleh orang lain, sehingga barang tersebut harus pantas dan layak untuk difungsikan lagi. Tolok ukur barang masih layak dan pantas sangatlah sederhana, apabila barang tersebut diberikan kepada orang lain maka orang yang menerima barang tersebut mau menggunakannya.
Terakhir, ajaran suku, ras, atau agama mana pun akan sepakat dengan nasihat dalam bahasa Jawa yang satu ini, “ngundhuh wohing pakarti” (apa pun yang kita lakukan akan mendapatkan yang sepadan). Siapa yang menanam akan menuai.
Seringkali kita pernah mengalami atau mendengar kisah di masa sulit dan terimpit dalam menjalani hidup. Ada saja orang-orang yang entah datang dari mana, tanpa kita rencanakan dan di luar kuasa kita, datang untuk membantu kesulitan kita. Bisa jadi hal tersebut dapat diartikan sebagai bentuk lain dari balasan kebaikan yang pernah kita lakukan dalam membantu kesulitan orang lain. Jika tidak demikian, bisa jadi balasan tersebut diwujudkan dalam bentuk kesehatan, dilancarkan segala urusan, dilapangan rezekinya, dan masih banyak lagi.
Berdonasi Tidak Sama dengan Membuang Barang
Joli Jolan masih mendapati ada beberapa barang yang tidak layak didonasikan yang entah secara sengaja atau tidak dikirimkan ke Joli Jolan. Biasanya donatur yang seperti ini langsung mengirimkan barang (yang tidak memenuhi syarat dan ketentuan) ke alamat Joli Jolan melalui jasa ojek online tanpa melakukan konfirmasi terlebih dahulu kepada relawan. Hal ini bermaksud agar barang tersebut tidak diketahui siapa pengirimnya.
Barang yang dikirimkan tidak main-main jumlahnya, bahkan terkadang ada yang sampai satu karung besar ukuran 90 cm x 125 cm. Jumlah kecil sudah sering, bukan kepalang ampun banyaknya. Relawan mungkin juga tidak mengerti apa motifnya. Padahal setiap kali ada donatur yang demikian, relawan akan menginformasikan di media sosial agar hal tersebut tidak terulang. Namun, sayangnya fenomena itu masih saja sering terulang di tahun 2024 kemarin.
Tidak menyalahkan siapa pun, niat baik donatur perlu diapresiasi. Namun, alangkah baiknya juga cerdas untuk tidak melakukan hal demikian. Jika barang yang akan didonasikan tidak layak, alangkah baiknya di konsultasikan terlebih dahulu ke Joli Jolan. Barangkali ada alternatif lain yang direkomendasikan oleh Joli Jolan dalam menampung barang tidak layak pakai tersebut.
Kalaupun tidak ada solusi, setidaknya jangan sampai nekat mengirimkan barang tersebut ke lapak Joli Jolan. Pasalnya apabila barang tersebut terlanjur sampai di lapak Joli Jolan dan tidak masuk sortir, maka barang tersebut akan memakan ruang di ruang penyimpanan sehingga menjadikan relawan mengalokasikan waktu yang lebih banyak. Relawan tidak akan sampai hati memaksakan barang yang tidak layak pakai untuk disalurkan.
Tahun 2025, semoga menjadi awal yang baik bagi calon donatur untuk lebih memahami tiga nasihat pepatah Jawa sebelum berbagi. Tentu donatur tidak mau menerima barang yang tidak dapat difungsikan dan tidak layak kan? Jadi jangan menjadikan kegiatan berdonasi sebagai kesempatan untuk ‘membuang barang’ tidak layak pakai.
Selamat tahun baru, banyak harap yang sering terucap, semoga satu per satu datang menghadap. Tetap jaga asa untuk tetap manfaat. Sehat selalu Relawan dan donatur Joli Jolan.
Joli Jolan adalah ruang yang egaliter bagi semua kalangan. Semua bisa memanfaatkan Joli Jolan untuk memenuhi kebutuhan, entah itu dengan cara mengambil barang gratis, barter, atau berdonasi.
Namun ada ketentuan yang perlu diperhatikan saat berkunjung. Hal ini untuk memastikan semua pengunjung nyaman berinteraksi di Joli Jolan. Apa saja itu? Yuk simak panduan singkatnya!
Masuk Galeri dengan Tertib
Berdesak-desakan, apalagi “lomba lari” saat masuk galeri tidak disarankan. Hal itu bisa membahayakan pengunjung anak, lansia maupun kalangan rentan lain saat berkunjung ke galeri. Tenang saja, barang gratis di Joli Jolan tidak akan habis dalam satu jam. Jadi tidak perlu buru-buru ya!
Dilarang Merokok
Joli Jolan adalah ruang publik ramah anak sehingga bebas asap rokok. Jadi untuk mas-mas, bapak-bapak atau siapapun, silakan merokok di luar galeri. Sukarelawan kami tidak akan segan mengingatkan pengunjung yang ngeyel merokok saat kegiatan.
Mengambil Pakaian/Barang Diam-diam
Menyediakan pakaian/barang secara gratis yang bisa rutin diakses ternyata tak menjamin barang di galeri bebas dari tangan jahil. Ya, masih saja ada orang yang mengambil pakaian secara diam-diam meski dapat mengambil maksimal tiga item barang gratis di setiap kunjungan.
Hal ini tidak sesuai dengan nilai Joli Jolan yang ingin mendorong warga mengonsumsi barang secukupnya atau sesuai kebutuhan. Jika menuruti keinginan tentu tidak ada batasnya. Perilaku ini juga secara tidak langsung mengambil hak orang lain, jauh dari makna solidaritas.
Memakai Kartu Orang Lain
Setiap pengunjung Joli Jolan wajib memakai kartu anggotanya sendiri untuk mengakses layanan. Kenapa demikian? Ini karena Joli Jolan punya aturan main bahwa pengunjung baru bisa mengambil pakaian/barang gratis paling cepat dua pekan setelah pengambilan sebelumnya.
Jadi, memakai kartu orang lain agar bisa mengambil setiap pekan adalah sebuah kecurangan. Memiliki kartu ganda dengan tujuan serupa juga adalah pelanggaran. Tidak ada ruang di Joli Jolan bagi pengunjung yang hendak memanfaatkan gerakan untuk kepentingannya sendiri.
Rebutan Barang
Joli Jolan bukanlah ajang bansos atau pasar murah yang warga harus berebut mendapatkannya. Semua mendapatkan akses yang sama. Jadi tak perlu berebut, apalagi antarsesama warga. Mendahulukan pengunjung lain yang benar-benar membutuhkan pakaian/barang tertentu akan lebih baik.
Mengambil Pakaian/Barang di Luar Ketentuan
Tidak semua item donasi di Joli Jolan berjumlah melimpah. Ada pula yang jumlahnya terbatas seperti sepatu, tas, boneka, mainan, celana jins, jaket dan sejenisnya. Untuk item-item ini, pengunjung hanya boleh mengambil maksimal satu buah untuk pemerataan.
Contoh, tidak bisa mengambil tiga item semuanya sepatu. Yang boleh yakni satu sepatu dan dua pakaian/buku/item lain yang jumlahnya banyak di galeri.
Buang Sampah Sembarangan
Galeri Joli Jolan bukan tempat pembuangan sampah yaa. Jadi mari tertib untuk buang sampah di tempat yang disediakan.
Perdebatan soal kenaikan tarif PPN dari 11 persen menjadi 12 persen terus bergulir. Pemerintah sepertinya akan tetap bersikukuh menjalankan kebijakan tersebut di awal tahun. Kenaikan ini dianggap terkait amanah UU Omnibus Law Harmonisasi Peraturan Perpajakan (UU HPP).
Hal penting yang jadi pertanyaan adalah, kenapa pemerintah tetap ngotot untuk menaikkan tarif PPN menjadi 12 persen? Padahal kondisi ekonomi masyarakat pada umumnya sedang dalam masa sulit? Kenapa amanat UU itu dianggap sebagai semacam kitab suci yang harus dan wajib dilaksanakan? Kenapa pemerintah tidak mau mendengarkan aspirasi masyarakat yang masif menolak kenaikan tarif pajak ini? Ada apa sebenarnya?
Pajak memang lembaga yang sudah tua, seusia dengan sistem kekuasaan. Pemerintah memerlukan dana dalam bentuk pajak untuk menunjang kegiatan pemerintahannya. Umumnya hal itu dilaksanakan dengan menggunakan kekuasaan yang setengah “memaksa”. Namun perlu diingat, revolusi di Amerika, misalnya, diawali oleh perlawanan terhadap Pajak Teh (Boston Tea Party), semacam pajak atas PPN termasuk teh. Ketika itu Amerika merupakan salah satu wilayah jajahan Inggris.
Salah satu tujuan penting dari pajak di negara demokrasi adalah untuk keadilan. Jika hal ini dilupakan, maka esensi dari pajak itu telah kehilangan maknanya. Pajak yang adil itu harus memenuhi dua unsur penting, baik adil dalam pemungutanya maupun dalam alokasinya.
Dalam konteks pemungutan yang adil, maka salah satunya berlaku sistem keadilan vertikal. Artinya pemungutan pajak yang adil itu harus mempertimbangkan kemampuan bayar (ability to pay) dari subyek pajak. Semakin besar kemampuan bayar subyek pajak, maka semakin besar mereka musti dikenai pajak. Bukan justru sebaliknya. Bebas pajak (tax holiday) untuk elit kaya dan pajak untuk rakyat biasa.
Kalau pemerintah itu adil, maka orang super kaya yang mustinya dipajaki lebih banyak. Dalam simulasi sederhana saja, target 75 triliun rupiah dari asumsi kenaikan tarif pajak PPN dari 11 persen menjadi 12 persen itu sesungguhnya cukup ditutup dengan memajaki harta bersih 5000-an orang superkaya di Indonesia dengan harta di atas 144 miliar rupiah. Ini selain lebih adil juga lebih jelas dampaknya bagi masyarakat kecil.
Pajak harta (wealth tax) adalah pajak yang dikenakan atas aset pribadi seperti uang tunai, properti, deposito, saham, dan kepemilikan bisnis setelah dikurangi utang. Pajak harta ini lebih mencerminkan prinsip keadilan karena disasarkan kepada mereka yang benar-benar memiliki kemampuan membayar.
Pajak harta ini juga lazim dijalankan di negara lain. Sudah ada 36 negara yang menerapkan sistem pajak harta ini. Sebut saja misalnya Norwegia, Spanyol, Swiss dan lain lain. Tarifnya juga cukup bervariasi dari angka 0,5 persen hingga 3,75 persen. Negara negara ini justru menjadikan kemakmuran merata dan ini dapat dilihat dari rasio gini pendapatan maupun kekayaan mereka yang rendah.
Semestinya, ketika ekonomi rakyat sedang lesu, di mana daya beli rakyat kelas menengah dan bawah sedang terus mengalami penurunan itu maka pemerintah harusnya justru memberikan banyak insentif agar roda ekonomi segera membaik. Bukan justru membebaninya dengan pajak yang semakin tinggi. Kebijakan untuk menaikkan tarif PPN adalah jelas tindakan sewenang-wenang terhadap rakyat sebagai pemegang kekuasaan negara.
Kita paham bahwa beban fiskal pemerintah saat ini sudah dalam kondisi berdarah-darah. Di mana untuk menutup defisit fiskal itu kondisinya sudah bukan lagi gali lobang tutup lobang, tetapi sudah dalam posisi gali lobang membuat jurang. Hal ini dapat dilihat dari angsuran dan bunga dari utang yang ada itu dalam tahun fiskal harus ditutup dengan utang bari sehingga utang negara tiap tahun terus meningkat.
Melihat kondisi ekonomi rakyat yang sedang menburuk justru harusnya pemerintah itu menjadi semakin rasional. Selain perlu kebijakan pengeluaran ketat juga semestinya dicari alternatif untuk mencari solusi jangka pendek yang mungkin, seperti misalnya mencegah kebocoran anggaran pemerintah yang selama ini dijadikan kampanye Presiden, selain menggenjot program hilirisasi yang sudah dijadikan janji politik pemerintah. Jangan sampai hal ini juga menguap jadi janji manis belaka.
Dalam urusan pajak ini berlaku hukum yang sifatnya aksiomatik, jangan kuliti kulit dan daging dombanya jika ingin mendapatkan bulunya. Lebih penting lagi, jangan buat penderitaan rakyat kalau hanya untuk tujuan memberikan kenikmatan bagi segelintir elit politik dan elit kaya. Ini adalah negara demokrasi, di mana pemerintah adalah mereka yang dipilih rakyat untuk diperintah bukan memaksa dan bertindak sewenang-wenang terhadap rakyat.
Tujuan pembangunan yang terpenting adalah bukan untuk mempertinggi pendapatan negara, tetapi bagaimana menciptakan kue ekonomi yang semakin besar dan dinikmati secara adil oleh rakyat. Agar pembangunan berjalan secara berkelanjutan serta mampu meningkatkan kesejahteraan sosial masyarakatnya. Dorong rakyat untuk memiliki kemampuan mengkreasi pendapatan bukan justru memampatkanya dengan pajak.
Upaya bersama untuk menjaga dan mencintai alam bisa datang dari berbagai lini. Salah satunya melaui bidang musik. Musik dianggap sebagai medium yang cukup dekat dengan masyarakat sehingga layak digunakan sebagai kampanye berbagai isu penting. Salah satunya adalah isu alam dan lingkungan.
Di Indonesia, ada beberapa grup musik yang concern pada kampanye penyelamatan lingkungan. Melalui rilis kepada media, grup musik asal Solo, Down for Life (DFL), turut mengampanyekan isu lingkungan melalui musik cadas mereka.
DFL merilis video musik menarik pada nomor andalan Prahara Jenggala melalui akun YouTube Prahara Jenggala. Mereka mengusung kisah nyata perjuangan Suku Dayak Kualan Hilir di Kalimantan Barat melawan penghancuran hutan adat mereka oleh perusahaan bernama PT Mayawana Persada. Dalam rentang waktu tiga tahun, 33.000 hektare hutan alam (7,5 x luas wilayah Solo Raya) telah dibabat habis oleh perusahaan.
Hutan tersebut merupakan habitat bagi orang utan, rangkong, dan banyak satwa endemik lainnya. Hutan juga menjadi sumber penghidupan masyarakat Dayak Kualan turun-temurun antargenerasi. Masyarakat kini bersatu melawan perenggut hutan mereka.
Meskipun sempat didera intimidasi dan kriminalisasi, api perlawanan tak pernah padam. Mereka percaya mempertahankan hutan adat adalah pertempuran yang melampaui batas ruang dan waktu; sebuah pengorbanan untuk menjaga warisan sejarah dan masa depan kehidupan; sebuah perlawanan untuk memelihara praktik hidup yang luhur, yang menghargai keselarasan antara manusia dan alam.
Perjuangan masyarakat adat Kualan Hilir sejatinya tak hanya untuk kelompok mereka sendiri, juga bagi kelangsungan makhluk hidup secara keseluruhan. Prahara Jenggala bakal menjadi salah satu single terbaru DFL dalam album terbaru Kalatidha yang akan dirilis pada 2025 oleh Blackandje Records.
Kolaborasi dalam musik perlawanan ini didukung penuh Trend Asia, Blackandje Records bersama dengan kelompok musisi yang terhimpun dalam Music Declares Emergency. Tak hanya merilis video klip, mereka juga mengajak semua orang untuk bergabung dalam gerakan #NoMusicOnADeadPlanet.
Mengenal lapak Joli Jolan menjadi anugerah tersendiri bagi beberapa orang yang merasakan kebermanfaatannya. Manusia sebagai makhluk sosial dibantu dengan media sosial, berlomba-lomba menyampaikan informasi kebermanfaatan itu kepada sesamanya yang berjalan begitu masif. Sehingga, berdampak dengan lebih banyaknya masyarakat yang turut berkontribusi. Informasi dari media sosial menggelinding sampai obrolan darat, dijadikannya bahan diskusi di tongkrongan.
Beberapa waktu lalu, informasi kebermanfaatan dari lapak Joli Jolan dibawa dan diperdengarkan di tongkrongan yang berisi lima orang, termasuk si Informan. Si Informan adalah salah satu orang yang merasakan kebermanfaatan dari lapak Joli Jolan tersebut. Dia menemukan sisi humanis di tengah kerasnya perkotaan yang mana sifat individualnya begitu kentara. Dia merasakan segarnya air di tengah dahaga. Orang-orang gotong-royong saling berbagi dan membantu kepada sesamanya yang membutuhkan. Si Informan merasa berkewajiban mendiskusikan lapak Joli Jolan ke mereka. Menurut penilaiannya, empat temannya ini memiliki karakter jarang bergaul dan rutinitas monoton. Hidupnya berjalan normal dan berkecukupan, tetapi sering kali mengeluhkan banyak hal, seperti kurangnya rasa syukur.
Semua peserta diskusi antusias mendengarkan. Tak lama berselang, keluh kesah di antara mereka pun satu per satu saling bersautan, tidak jauh dari perasaan bosan dengan rutinitas yang dijalankan dan perasaan selalu ada yang kurang dalam hidup. Sehingga, informasi yang didengar dan didiskusikan menjadi menarik dan panjang. Mereka pun penasaran untuk berkunjung ke lapak Joli Jolan.
Malam hari, sepekan sebelum lapak Joli Jolan digelar pada setiap hari Sabtu, si Informan bersama teman-temannya berkumpul, mengkonfirmasi kembali keinginan mereka. Salah satu di antara mereka mengusulkan iuran untuk membawa bingkisan makanan berupa nasi bungkus. Teman-teman yang lain menyepakati usulan tersebut dan bersepakat untuk iuran. Selanjutnya, muncul pertanyaan, siapa saja yang ikut ke lapak Joli Jolan? Mereka saling bertatapan, menyampaikan ada agenda lain. Hanya ada satu orang yang bisa ke lapak Joli Jolan, yakni Natasha. Teman-teman yang berhalangan bersedia hanya menerima laporan. Nantinya, Natasha ditemani si Informan.
Tiba di hari Sabtu, hari yang ditentukan, lapak Joli Jolan buka dari jam 10 pagi hingga jam 1 siang. Natasha sudah bersiap sejak pukul 8 pagi untuk mengingatkan teman-temannya kembali. Barangkali ada yang berubah pikiran untuk ikut. Namun, tetap saja, Natasha dan si Informan yang akan ke lapak.
Natasha sangat bersemangat, antusias dan tidak sabar untuk sampai di lokasi. Semalam, dia hanya tidur 2-3 jam saja. Seringkali terbangun, takut melewatkan kesempatan berharga ini. Sekitar jam 9 pagi, Natasha sudah di depan rumah si Informan dengan membawa nasi bungkus yang terbungkus rapi. Senyumnya nyengir kegirangan saat si Informan keluar dari rumah menemuinya. Setelah bersiap, menggunakan motor sendiri-sendiri, mereka berdua berangkat ke Jl. Siwalan No. 1, Kerten, Kota Surakarta, alamat lokasi lapak Joli Jolan.
Di lapak Joli Jolan, Natasha dan si Informan menyapa dan berkenalan dengan founder Joli Jolan dan teman-teman relawan, berbincang sebentar sembari bergegas bersiap-siap menyiapkan lapak. Mereka turut serta membantu mengangkat barang-barang yang perlu disiapkan bersama relawan. Menerima dan memindahkan barang dari donatur yang baru datang. Di sudut yang lain, orang-orang yang ingin mendapatkan manfaat dari Joli Jolan, beberapa sudah menunggu, beberapa yang lain baru datang, sekitar lapak sudah mulai ramai.
Tak terasa waktu sudah menunjukkan jam 10, sudah saatnya lapak Joli Jolan dibuka. Koordinator relawan menyambut hangat melalui mikrofon sekaligus memberikan arahan. Penerima manfaat pun dengan saksama mendengarkan. Setelah selesai memberi arahan, penerima manfaat dipersilahkan masuk. Mereka berduyun-duyun dengan tertib menuju display barang-barang yang telah dipajang dengan rapi.
Pada pekan itu, penerima manfaat disambut dengan mahasiswa dari Universitas Sebelas Maret (UNS) jurusan Fisipol. Mereka membagikan susu kotak dan alat tulis di pintu masuk lapak untuk anak-anak. Ada wartawan dan beberapa mahasiswa jurusan yang sama berkeliling mendokumentasikan, termasuk teman si Informan, Natasha.
Setelah berkeliling, Dia mengambil tempat duduk di sudut lapak di samping si Informan, merasakan aura yang berbeda dengan kebiasaan yang dijalaninya. Apa yang dilihatnya menjadi pemandangan yang berharga. Mempertanyakan mengapa dulu saat menjadi mahasiswa dia tidak seperti mahasiswa yang dilihatnya di lapak. Mereka dengan sesamanya melakukan kegiatan berbagi. Meskipun dengan barang yang terlihat “murah” atau barang yang tidak baru namun masih bisa bermanfaat.
Mengapa dia tidak mendapatkan ekosistem yang sebaik mereka. Dia pada saat itu mahasiswa kupu-kupu (kuliah-pulang, kuliah-pulang). Atau jika berkumpul dengan temannya, hanya menguntungkan kebahagiaan dirinya dan teman-temannya saja yang tidak berimbas pada kemanfaatan orang banyak. Tak heran jika, di rumahnya tergeletak banyak sekai barang hasil healing bersama teman-temannya yang sudah tidak terpakai.
Matanya menyapu sekitar, terhenti saat melihat bapak-bapak memilah-milah mainan anak, yang mungkin akan diberikan kepada anak laki-lakinya. Ibu-ibu memilih baju anak, dari gantungan baju satu ke satunya, memilih dengan saksama. Sepertinya Ibu itu ingin memberikan baju yang terbaik untuk anak perempuannya. Dia pun tiba-tiba teringat saat dirinya masih kecil dulu. Seringkali dia menangis dan melempar barang apa saja yang ada di dekatnya, mengurung diri di kamar sembari memaki orang tuanya jahat dan tidak sayang kepada dirinya apabila apa yang diinginkannya tidak kunjung dibelikan oleh orang tuanya.
Tubuhnya duduk di kursi, tetapi pikirannya melayang jauh. Hatinya dikoyak dengan pemandangan yang ada di lapak. Mulutnya bercerita menguraikan “dosa dan penyesalan” kepada si Informan. Si Informan mendengarkan dengan saksama, hanya sesekali menimpali. Sebelum akhirnya berpamitan pulang, Natasha mengucapkan sumpah pada dirinya untuk datang lagi dan menjadi si Informan selanjutnya untuk memperluas kebermanfaatan Ruang Solidaritas Joli Jolan.
Belum lama ini kami mendapatkan kiriman video dari seorang warga Grobogan. Video pendek itu langsung menarik perhatian kami. Bagaimana tidak, terlihat di sana berjejer sepatu, sandal, dan tas yang masih berkondisi sangat bagus. Ada pula deretan pakaian yang dipajang layaknya toko sandang.
Tak hanya itu, teh serta tepung-tepungan seperti tepung beras dan tapioka juga ditata berjejer. Semuanya bisa diambil gratis oleh warga secukupnya. Gerakan ini muncul di Wirosari, Grobogan. Lokasinya tak jauh dari Bledug Kuwu.
Meski kawasan mereka tak jauh dari objek wisata, tak sedikit warganya yang masih hidup marginal. Hal ini membuat seorang pemilik toko di daerah itu tergerak. Pertemuannya via media sosial dengan Joli Jolan membuatnya membulatkan tekad untuk ikut membuat wadah saling bantu.
Cik Susy, nama pemilik toko itu, kemudian berkontak dengan salah satu sukarelawan kami untuk merealisasikan gerakan serupa di daerahnya. Kami salut karena tak butuh waktu lama Cik Susy dkk. untuk mengeksekusi niatnya.
Beberapa kardus berisi pakaian pun kami kirim dari Solo sebagai “modal” kegiatan. Lalu bagaimana dengan sepatu, sandal hingga tepung yang ada di sana? Ya, itu semua dari donasi warga sekitar. Keren ya? Mereka dengan berkesadaran saling bantu untuk menguatkan kehidupan sesama warga.
Pada 7 Desember 2024 nanti, kawan-kawan di Grobogan akan kembali berkegiatan. Kami berdoa semoga gerakan di Grobogan dapat rutin berjalan, setidaknya sebulan sekali seperti yang telah diinisiasi warga Banyudono, Boyolali, dan Jaten, Karanganyar. Bagi kawan yang berdomisili di Grobogan dan sekitarnya, ini kesempatan untuk berkolaborasi.
Cik Susy dkk. bilang yang hendak berdonasi bisa diantar ke tokonya di Toko Mulia Wirosari. Donasi apa pun wajib dalam kondisi baik ya! Saat ini mereka juga membutuhkan sukarelawan agar kegiatan saling bantu dapat berkelanjutan. Jika ada yang membutuhkan kontak Cik Susy, silakan kontak kami. Panjang umur solidaritas!
by Nurdiyansah Dalidjo, Project Multatuli November 21, 2024
Merenungkan tentang “merawat” (to care) membuat saya berpikir. Merawat sesungguhnya adalah keniscayaan untuk menghubungkannya pada keberlangsungan hidup. Dan bicara soal itu, saya dan mungkin banyak dari kita terlintas pada kenangan masa kecil.
Saya teringat ibu saya dan menyadari bahwa saya adalah anak yang dibesarkan secara kolektif. Maksudnya, bukan eksklusif hanya oleh orang tua, melainkan komunitas tempat saya pernah tinggal.
Ibu saya perempuan berpendidikan dan berkarier. Ia guru. Ia selalu bangun tidur paling pertama setiap hari. Ia menyiapkan sarapan dan membenahi rumah sebelum pergi kerja di luar rumah. Terkadang, saya ikut dibawanya mengajar di kelas, tapi biasanya saya lebih sering dititipkan ke tetangga.
Pepatah “it takes a village to raise a child” benar-benar nyata kami alami. Sebab, mana mungkin ibu saya mampu membayar pengasuh dengan gaji guru pegawai negeri di bawah upah minimum? Dan para tetangga kami, khususnya ibu-ibu, menawarkan diri agar saya dititipkan saja pada mereka yang sudah punya anak-anak remaja. Tentu mereka berpengalaman mengurus anak.
Maka, saya tumbuh menjadi anak yang berpindah-pindah dari satu tetangga ke tetangga lain. Di kesempatan berbeda, ibu saya membantu mereka saat ada hajatan. Kelak, ketika saya besar dan tidak tinggal di permukiman yang sama, ibu menasihati agar sesekali saya berkunjung ke rumah-rumah tetangga lama kami itu.
“Merawat silaturahmi,” kata ibu agar saya jangan lupa pada kepedulian dan kebaikan mereka. Dan, meski tak ada hubungan keluarga, persaudaraan kami terjalin panjang, bahkan hingga kini. Saya pun baru menyadari bahwa kerja perawatan itu penting, dibutuhkan, dan berdampak panjang.
Saya menulis kenangan kecil itu bukan bermaksud untuk meromantisasi bagaimana saya kecil dirawat ibu-ibu di perumahan tentara di era Orde Baru. Belakangan saya paham itulah bentuk kasih atau kepedulian kolektif (collective care). Dan, di masa kaum perempuan didomestikasi dengan ideologi ibuisme sebagai pendamping ayah dan pengayom keluarga, istri-istri prajurit rendahan punya caranya sendiri untuk tumbuh bersama, membangun solidaritas dan perlawanan dalam lingkup kecil.
Tetapi, sayangnya, harus saya akui, itu tak selalu kita hargai, bahkan tidak kita pahami kehadirannya.
Kerja perawatan (care work) kerap dilekatkan sebagai hal yang sudah semestinya atau dianggap remeh (taken for granted). Kita sering gagap atau gagal menyadari karena kita terbiasa melabeli kerja-kerja perawatan sebagai ranah domestik selayaknya prototipe keluarga. Terutama di kalangan keluarga yang secara tradisional heteronormatif, pekerjaan-pekerjaan itu dilakukan perempuan: nenek, ibu, kakak perempuan, pekerja rumah tangga (PRT), dan transpuan.
Pekerjaan perawatan adalah pekerjaan yang selama ini tidak berbayar (seperti pelekatan pada pekerjaan istri atau ibu rumah tangga atau peran menjadi ibu yang seolah sepatutnya mengurus anak dan rumah); atau berupah murah (seperti PRT atau buruh perempuan); atau tidak berupah sama sekali (seperti banyak dilakukan transpuan dan kawan-kawan queer lain kepada sesama komunitas queer yang diabaikan keluarga).
Di satu sisi, kita melihat kerja perawatan sebagai bentuk kebaikan dan kepedulian (kindness and caring) seperti mungkin banyak dari kita (ketika kecil) pernah merasakan diurus ibu dan punya keluarga sebagai tempat bernaung. Namun, di sisi lain, kita menyadari bahwa dalam kapitalisme (dan “pembangunan”), kerja-kerja perawatan itu bisa punya makna berbeda yang terhubung pada penindasan terhadap kelompok tertentu.
Pertama, aktivitas perawatan langsung, personal, dan relasional, seperti orang tua mengasuh bayinya atau pasangan merawat pasangannya yang sakit. Kedua, aktivitas perawatan tidak langsung seperti memasak, membersihkan, dan merapikan. Dari situ, kita dapat meneruskannya dengan melihat pemisahan kategori untuk pekerjaan perawatan tak berbayar (tanpa imbalan uang) dan pekerjaan perawatan yang berbayar (umumnya juga berupah murah) seperti guru dan perawat.
Selain itu, ada perawatan yang berbasis pada hubungan keluarga (maksudnya ikatan darah) dan bukan keluarga. Ibu rumah tangga dan PRT adalah bagian dari tenaga kerja perawatan yang mengaburkan kategori pekerjaan perawatan karena keduanya memberikan perawatan langsung dan tak langsung di ruang domestik. Tetapi, ibu rumah tangga tak berupah, sedangkan PRT berupah sangat rendah, bahkan belum diakui penuh sebagai pekerja. (Sampai sekarang, lebih dari 20 tahun, Rancangan Undang-Undang Perlindungan PRT masih mangkrak di DPR.)
Menurut ILO, mayoritas pekerja perawatan di seluruh dunia dilakukan oleh pengasuh tak berbayar; kebanyakan pekerjanya adalah perempuan dan anak perempuan dari kelompok dengan keterbatasan akses sosial, budaya, lingkungan, dan ekonomi.
Dalam kacamata lebih besar, kita sadar bahwa pekerja perawatan, untuk berbagai kategori, didominasi oleh perempuan yang bekerja di bawah kondisi memprihatinkan (tidak layak) dan mendapatkan upah atau penghargaan rendah.
Ironisnya, para pekerja perempuan itulah yang mendominasi perekonomian informal kita. Tidak sulit bagi kita melihat keterhubungan itu semua dengan ketimpangan gender dalam segala lini di dunia yang patriarki, cis-heteronormatif, dan binerisme.
Namun, kita menyadari bahwa dunia yang kita tinggali memang didesain untuk tidak mempedulikan kerja perawatan. Atau, setidaknya, mengondisikan kita enggan membuka mata dan telinga pada pentingnya merawat. Sebab, dengan begitulah kita sesungguhnya sedang dilemahkan.
Kita terbawa pada jargon “kemandirian” (independensi) yang memiliki tendensi pada keutamaan individualitas (kemampuan melakukan segala hal sendirian) sebagai corak utama dari kultur kapitalisme dan neoliberalisme, bukan pada makna kemandirian sebagai sesuatu yang terhubung pada kebebasan (lepas dari keterikatan atau berdiri di atas kaki sendiri) dalam konteks dekolonisasi dan dekolonialisasi. Pada kenyataannya, kita tidak pernah benar-benar bisa melakukan semua hal sendirian!
Coba bayangkan, apakah eksekutif urban atau pejabat perusahaan atau pemerintah selalu mencuci dan menyetrika baju sendiri? Siapa yang diberikan beban ganda untuk merawat anak dan rumah ketika lelaki berkeluarga punya karier cemerlang? Apakah mungkin keluarga (orang tua dan anak-anak) yang sukses di profesi dan pendidikan tetap dapat berfungsi secara optimal tanpa PRT?
Apakah tuan tanah dapat mempertahankan privilese dan kekayaannya tanpa buruh tani yang merawat tanah mereka? Apakah aksi demonstrasi mahasiswa dapat bertahan berhari-hari tanpa ada kelompok yang menyuplai makanan atau membuka dapur umum dan merawat yang terluka?
Kerja perawatan dibutuhkan dan kita tidak dapat berjalan sendiri tanpa orang-orang yang berkorban untuk mengambil peran dalam merawat. Sampai sini, saya ingin bilang bahwa pilihan terhadap siapa saja yang mengambil peran perawatan sebetulnya telah berani melawan dan menegaskan tindakan revolusioner.
Buku The Care Manifesto yang ditulis The Care Collective (Andreas Chatzidakis, Jamie Hakim, Jo Littler, Catherine Rottenberg, dan Lynne Segal) menyatakan bahwa “ketergantungan pada perawatan telah dianggap patologis, alih-alih diakui sebagai bagian dari kondisi manusiawi kita.”
Sehingga, dengan bertahan merawat kerja perawatan secara kolektif di mana pun dalam kehidupan kita, kita telah menormalisasi bahwa benar kita memiliki kebutuhan pada perawatan. Dan, dengan tetap membawa praktik keperawatan sebagai bagian dari gerakan sosial kita, adalah upaya mengakui dan merawat kesalingtergantungan (interdependensi) di antara sesama.
Dengan begitu, kita dapat lebih terfokus pada saling menjaga, peduli, dan bersolidaritas ketimbang mengorbankan kelompok tertentu (biasanya lagi-lagi perempuan atau kelompok minoritas lain) untuk mengalami kelelahan dan beban ganda dalam kerja perawatan yang tak diakui, tak dihargai, dan seringkali dianggap tak penting.
Pada banyak situasi, pengabaian itu menjelma pada pembiaran terhadap kerja (dan pekerja) perawatan pada kondisi kerja yang tidak menguntungkan serta kelelahan fisik dan mental (burnout) tanpa dukungan apa-apa.
Refleksi dari Gerakan Perempuan dan Minoritas
Gerakan sosial secara umum sepatutnya terus melihat kerja-kerja perawatan sebagai pondasi gerakan. Saya meyakini gerakan sosial yang solid, efektif, dan berumur panjang mensyaratkan dukungan yang nyata dan kuat dalam membangun kerja perawatan, terutama perawatan kolektif.
Berbeda dengan self-care yang meningkatkan kualitas kehidupan kita sebagai individu, perawatan kolektif mendesak kita untuk membangun keterhubungan: melihat kerja perawatan sebagai perihal yang diupayakan sekaligus tanggung jawab bersama komunitas/organisasi/gerakan, termasuk kesehatan mental.
Tentu saja, ia bukan perkara mudah, meski jangan kita katakan sebagai sesuatu yang terlampau sulit dan tak mungkin. Sebab, dengan begitu, kita berbagi beban dan tanggung jawab untuk merasa tidak sendirian (teralienasi) di suatu ruang. Dan, kita tak lagi punya alasan untuk meremehkan apalagi mendudukkan perawatan bakal datang dengan sendirinya.
Kerja perawatan perlu dibangun dan dirawat. Dalam aktivisme, upaya itu adalah politis karena berkontribusi pada kelangsungan napas kerja gerakan. Jadi, ketika kita mengupayakan membangun gerakan sosial yang solid, efektif, dan berumur panjang, kita perlu merefleksikan diri bersama dan kritis bertanya: bagaimana orang-orang di dalam organisasi/gerakan hendak mengakui, menghargai, dan memberikan dukungan pada kerja perawatan maupun yang merawat?
Perhatian pada perawatan itu bukan sesuatu yang mengada-ada atau utopis. Sejarah gerakan sosial kita, khususnya gerakan sosial berbasis identitas minoritas dan seringkali secara kuantitas relatif kecil, kaya akan pengalaman kerja-kerja perawatan. Meski kecil, bukan berarti tak penting atau tak bermakna.
Kartini, pemikir dan tokoh Jawa yang kemudian berpredikat Pahlawan Nasional Indonesia, sebetulnya telah menyadarkan kita pada pentingnya kerja perawatan sebagai sesuatu yang politis dan perjuangan revolusioner yang nyata di era kolonialisme. Ia tidak hanya menulis esai dalam bentuk surat, tapi juga membangun sekolah untuk mendidik anak-anak dan orang dewasa agar melek huruf. Ia bahkan menjadi guru untuk itu.
Kelak, ketika Indonesia merdeka, Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani) turut melanjutkan salah satu warisan Kartini itu lewat program pemberantasan buta huruf dan pembangunan Taman Kanak-kanak Melati. Para anggota organisasi perempuan yang berdiri tahun 1950 itu pergi ke desa-desa dalam memberikan pelayanan mengajar baca tulis.
Begitu juga gerakan LGBTIQ+ yang dimulai komunitas transpuan pada akhir 1960-an dan berkembang pada dekade selanjutnya. Perjuangan yang diawali oleh organisasi-organisasi pelopor transpuan, seperti Jajasan Wadam DCI-Djaja (JWD), Himpunan Wadam Djakarta (Hiwad), dan Persatuan Waria Kota Surabaya (Perwakos), membangun wadah yang bercorak keanggotaan dan keutamaan merawat komunitas yang mengalami stigma, diskriminasi, dan kekerasan, termasuk oleh aparat.
Secara umum, komunitas LGBTIQ+ yang “terbuang” dari tatanan keluarga dan tak sedikit yang hidup di jalanan, membangun kerja berbasis perawatan dengan memaknai ulang arti/fungsi “keluarga” sebagai unit sosial yang menyediakan kerja perawatan langsung, personal, dan relasional. Namun, merawat itu dilandaskan pada ketertindasan dan solidaritas identitas queer, bukan hubungan darah (sebagian mengistilahkannya dengan pembangunan chosen family).
Pun ketika krisis AIDS melanda. Pengabaian dan peminggiran orang-orang queer (terutama transpuan dan gay) dalam sistem pelayanan kesehatan, akhirnya mengorbankan komunitas queer dalam epidemi HIV/AIDS pada 1980-an dan 1990-an. Kerja-kerja perawatan dilakukan lewat pengadaan layanan konsultasi hotline, tempat tinggal, pendampingan dan perawatan orang dengan HIV positif (ODHIV), serta kampanye dan advokasi yang mendesak inklusivitas perawatan, khususnya kesehatan medis.
Kita juga bisa belajar dari salah satu benih pokok dalam gerakan Reformasi 1998.
Suara Ibu Peduli, sebuah gerakan politik yang sebagian besar dimotori kelompok aktivis perempuan, menjadikan momentum kelangkaan dan mahalnya harga susu sebagai usaha subversif untuk menjatuhkan rezim Orde Baru. Puncaknya, kita bersama-sama berhasil menyelenggarakan demonstrasi di Bundaran HI pada 23 Februari 1998. Aksi ini, dalam ungkapan Gadis Arivia di makalahnya pada peringatan sembilan tahun Reformasi dengan judul “Politik Representasi Suara Ibu Peduli, sebagai “aksi feminis”.
Dan, kerja-kerja perawatan itu, yang seringkali luput dalam narasi seputar demonstrasi besar mahasiswa ‘98 yang berujung pada pemunduran diri Sang Diktator, adalah dukungan berupa dapur umum dan “nasi bungkus Reformasi” bagi para demonstran yang dipelopori kaum ibu atas dasar kepedulian untuk merawat.
Dalam gerakan sosial, kerja-kerja perawatan memang jarang menghasilkan potret favorit yang heroik, semacam lelaki muda maskulin yang berteriak merdeka sambil angkat senjata di medan perang atau mahasiswa yang merobohkan pagar simbol tirani. Pada situasi tertentu, kita memang perlu aksi anarki atau radikal.
Tetapi, bukan berarti itu mengabaikan peran penting dari orang-orang yang merawat dan kerap dilekatkan pada aspek feminin yang dianggap subordinat. Membuka dapur umum, menyediakan layanan pertolongan pertama (paramedis), mendampingi yang ditangkap, dan mengobati yang terluka secara fisik dan mental, dapat dilakukan oleh siapa pun.
Pembelajaran tentang community care dari gerakan perempuan dan gerakan LGBTIQ+ menegaskan konteks dan wujud nyata dari interdependensi dalam hal perawatan. Ia jelas tak mungkin dipisahkan dari makna solidaritas dan cita-cita perubahan sosial yang lebih baik.
Tentu saja, hal sama sudah dilakukan dalam gerakan nelayan, tani, miskin kota, masyarakat adat, disabilitas, PRT, dan kelompok minoritas lain. Kita juga sudah belajar dari bagaimana kita melewati pandemi COVID-19, yang minim kehadiran perlindungan negara, secara sadar kita didesak pada pilihan untuk harus saling rawat (dirawat dan merawat) agar bisa bertahan hidup dalam krisis. Pengalaman itu telah kita praktikkan dan lalui bersama!
Membersihkan Piring Kotor
Sementara di sektor pembangunan, yang dekat dengan gerakan sosial maupun aktivisme, kerja-kerja perawatan kerap luput atau seringkali dianggap tidak perlu didukung.
Secara spesifik, pada konteks kemitraan dengan lembaga donor, dukungan anggaran atau hibah (grant) dibatasi pada usulan proyek soal advokasi kebijakan, kampanye, pemberdayaan, publikasi, dan lain-lain dalam kategori “aktivitas”. Ia menyisakan biaya-biaya atas dukungan kantor (overhead) yang tak lebih dari 10-30 persen, bahkan sama sekali tak ada jika itu bukan core funding (dukungan finansial yang menutupi biaya dasar inti organisasi).
Di sini, ranah domestik organisasi diposisikan seakan minor padahal ia tulang punggung bagi kelangsungan kesejahteraan (welfare and well-being) staf dan kerja organisasi di ranah publik. Ini termasuk urusan penggajian dan fasilitas lain yang dibutuhkan untuk merawat organisasi dan orang-orang di dalamnya.
Kerja perawatan pun seringkali dilihat sebagai bagian dari “service delivery” sehingga dinilai tidak perlu mendapatkan dukungan. Padahal, kerja-kerja merawat tata kelola proyek pembangunan memicu dampak kesehatan mental pekerja.
Praktiknya, ada kebutuhan konseling, misalnya, tapi tidak selalu bisa dipenuhi oleh organisasi. Karena ketergantungan organisasi pada lembaga donor, yang mengabaikan kerja perawatan, maka organisasi itu sangat terbatas atau bahkan tidak punya sumber daya dalam mendukung perawatan kolektif.
Dengan demikian, ketiadaan dukungan pada perawatan dianggap normal. Ia menjadi risiko ditanggung sendiri. Jika bukan karena alasan independensi individu untuk mengurus diri sendiri, ada dalih bahwa ya begitulah kerja gerakan sebagai labor of love.
Padahal, sesungguhnya, lewat merawat itulah cinta dan kasih dapat tumbuh dengan subur, sehingga membuat orang-orang dan organisasi/gerakan bisa saling membutuhkan sekaligus berkembang beriringan.
Kenyataannya, kita sadar bahwa tak ada pesta (untuk menyebutnya sebagai aksi massa besar atau keberhasilan proyek pembangunan) yang tidak meninggalkan piring kotor. Dan pernahkah kita termenung bagaimana atau siapa yang membersihkan dan merapikan piring kotor?
Membangun Ekosistem Perawatan
Sampai sini saya ingin menegaskan kembali bahwa orang-orang yang telah mengambil peran merawat adalah orang-orang yang sesungguhnya aktif melawan dan bertindak revolusioner.
Itu bukan sekadar karena merawat tidak mudah, melainkan dengan merawat kita telah melakukan lompatan besar untuk mendobrak banyak hal.
Maka dari itu, ruang domestik sama berharganya dengan ruang publik; bahwa kita sadar perempuan dan kelompok minoritas punya lapis ketertindasan dari kerja perawatan yang dilakukan dan diabaikan oleh banyak pihak atau sistem (negara); bahwa merawat dapat menempatkan kita untuk tidak tercatat dalam sejarah; bahwa merawat menaruh kemanusiaan sebagai keutamaan (human being as a center); bahwa merawat membuat cinta kasih dan empati menjadi terbuka dan mudah diakses (to make love more accessible); bahwa merawat menjaga keberlanjutan yang melampaui berbagai tantangan.
Kita perlu melihat perawatan sebagai perspektif, pendekatan, dan infrastruktur yang melengkapi kelangsungan daya hidup. Perawatan harus menjadi hal universal di berbagai ranah dan diarusutamakan sebagai perihal pokok untuk dibangun dan dirawat sebagai serangkaian elemen dan jejaring yang saling dibutuhkan (interdependen), terkait, dan beraturan (dalam komunitas/organisasi/gerakan).
Ujungnya, ia membentuk dan menyediakan satu kesatuan utuh dalam merawat secara bersama. Dalam konteks ini, kita dapat menyebutnya ekosistem perawatan (ecosystem of care) yang mencakup ragam sektor dan dimensi, mulai dari fisik, mental, intelektual, sosial, spiritual, hingga emosional.
Kata kunci interdependensi, keterhubungan, dan keteraturan mensyaratkan kita untuk menjalin relasi. Sehingga terbangun kebutuhan, kesepahaman, dan keterlibatan dalam proses identifikasi dan respons terhadapnya. Misalnya, apa sistem yang sudah ada dan perlu dibangun, siapa yang membutuhkan apa, siapa yang bisa melakukan apa (termasuk menyadari yang terabaikan/marginal).
Dan, situasi yang menantang adalah memaknai dan mengkontekstualisasikan care dalam komunitas/organisasi/gerakan. Kita menyadari bahwa kesadaran pada nilai dan perilaku terhadap perawatan muncul dari bagaimana kita memahami komunitas/organisasi/gerakan lewat “bahasa” atau cara kita mengenalinya sebagai ruang, perasaan, dan koneksi. Di sana, kita berkumpul, bergembira, berbincang, dan berpartisipasi (berkolaborasi) secara bermakna dan bersama-sama.
Sebuah ekosistem perawatan mungkin tampak dari luar sebagai hutan tak berpenghuni. Pohon-pohon besar menjulang tinggi dan berakar kokoh, menaungi beragam tanaman kecil dan satwa. Tanah-tanah subur dilapisi dedaunan kering yang mengembalikan nutrisi. Ada sungai jernih mengalir sepanjang tahun. Tapi, di sanalah masyarakat adat hidup bersama hutan adatnya. Mereka membangun relasi saling membutuhkan dan menguntungkan.
Hutan menyediakan makanan dan segala kebutuhan, begitu pun masyarakat adat menjaga dan merawatnya dari pengrusakan dan eksploitasi.
Ecosystem of care, seperti halnya hutan, bukan ruang hampa dan tak berpenghuni. Kelestariannya, seperti juga keberlangsungan komunitas/organisasi/gerakan, ditentukan oleh makhluk hidup yang ada di dalamnya untuk aktif berpartisipasi saling menjaga interdependensi, keterhubungan, dan keteraturan untuk merawat bersama dan menjadikannya sebagai praktik keseharian.
Apa yang sudah dilakukan para aktivis perempuan dengan Sekolah Pemikiran Perempuan (SPP), misalnya, secara kolektif merawat eksistensi dan pengembangan warisan intelektualitas perempuan di masa lalu dan menumbuhkembangkannya. Ada juga Queer Indonesia Archive (QIA) yang merawat arsip sejarah dan tokoh-tokoh penting gerakan LGBTIQ+ di Indonesia yang dilakukan oleh komunitas queer. Begitu pun gerakan masyarakat adat yang menjadikan kolektivitas merawat sesama komunitas dan wilayah adat sambil memperjuangkan hak kolektif.
Sementara dalam gerakan jurnalisme publik, Project Multatuli–tempat saya bekerja sebagai katakanlah yang membersihkan piring kotor—terus mencoba merawat kerja-kerja jurnalistik sebagai pilar demokrasi dan melayani suara-suara yang dipinggirkan bersama publik untuk keberlanjutannya melalui program membershipKawan M.
Selain itu, kita tahu ada banyak bentuk gerakan, kolektif, atau organisasi non-profit yang memilih kerja-kerja perawatan dalam beragam wujud sebagai fokus kerja, mulai dari rumah singgah, pendampingan korban kekerasan seksual, layanan konseling, penitipan anak (daycare), hingga media mungil dan independen berkepentingan publik.
Pada akhirnya dan harapan saya, kerja perawatan dapat melatih kita membangun kesadaran atas penindasan secara nyata dari dalam diri dan lingkungan sekitar. Juga memupuk kepedulian, empati, dan ruang untuk kita bergerak bersama yang semoga bisa bernapas panjang. Kita harus mengakui, menghargai, dan berpartisipasi pada kerja perawatan itu sendiri.
Terima kasih untuk terus merawat!
Artikel ini pertama terbit di Project Multatuli dan direpublikasi di sini menggunakan lisensi Creative Commons.
Selama tinggal di Jerman beberapa bulan terakhir, saya kembali belajar untuk menjadi manusia yang lebih baik, misalnya dengan sadar mengelola sampah pribadi sampai hidup lebih sehat. Saya tiba di Bonn, Jerman, pada akhir Desember 2023, setelah natal dan tepat sebelum tahun baru. Saya pergi ke Jerman dalam rangka mengerjakan penelitian saya di bawah beasiswa Alexander von Humboldt International Climate Protection fellowship selama satu tahun. Di sini, saya tidak hanya belajar dan mengerjakan riset, tetapi juga belajar tentang budaya dan kehidupan bermasyarakat di Jerman, yang jauh berbeda dari Indonesia.
Saya dulu mengenal Jerman dari klub sepak bolanya dan juga nama besar negaranya sebagai salah satu jujugan pelajar dari Indonesia. Negara yang berada di sisi utara-tengah Eropa dan berbatasan dengan pegunungan Alpen di sisi Selatan ini dari dulu terkenal sebagai salah satu negara dengan kemajuan ilmu pengetahuan yang pesat. Saya sebetulnya tidak pernah sekalipun memimpikan untuk bisa menempuh pendidikan di sini, mengingat betapa sulitnya tembus belajar di negeri ini.
Akan tetapi, pada akhirnya, takdir membawa saya sampai ke negeri ini. Sejujurnya, ada rasa khawatir yang berulang kali muncul dan tenggelam dalam diri saya saat saya dalam perjalanan menuju ke Jerman. Apakah saya bisa beradaptasi dengan baik saat berada di sini dan sejauh mana saya akan berubah saat beradaptasi dengan kehidupan bermasyarakat yang baru?
Selama saya berada di sini, saya belajar mengenal Jerman dan hal-hal baru yang menarik dari kehidupan bermasyarakat di sini. Secara umum, masyarakat Jerman menjunjung tinggi nilai keteraturan, kedisiplinan, ketepatan waktu, aktivitas fisik di luar rumah, dan kecintaan terhadap alam. Semua ini direfleksikan oleh kegiatan masyarakat Jerman sehari-hari.
Ada beragam hal, yang pada akhirnya, ikut memengaruhi terbentuknya kebiasaan baru saya sehari-hari. Lalu, apa saja itu? Berikut ini merupakan beberapa poin terpenting yang mengubah kebiasaan saya.
Memilah Sampah
Di sini, sampah yang berasal dari kegiatan konsumsi kita perlu dipilah dari tingkat rumah tangga. Sampah itu dipilah sesuai jenisnya, yaitu sampah kemasan ringan untuk kemasan dari plastik, styrofoam, dan kaleng, sampah kemasan dari kertas atau karton, sampah organik, dan sampah residu. Sampah kemasan ringan biasanya ditandai dengan warna kuning. Sampah dari kertas dan karton ditandai warna biru. Sampah organik ditandai warna cokelat. Sampah residu ditandai warna abu-abu.
Selain sampah tersebut, ada pula sampah lainnya yang lokasi pembuangan khususnya juga telah disediakan, seperti sampah dari gelas, baju bekas, dan barang elektronik. Sampah dari gelas masih dibagi lagi berdasarkan warnanya, yaitu gelas bening, gelas hijau, dan gelas cokelat. Warga perlu membuang sampah sesuai ketentuan dan tiap jenis sampah akan diambil oleh petugas sampah sesuai jadwal pada setiap kota. Sampah-sampah yang masih dapat digunakan kemudian akan digunakan kembali (seperti baju bekas) dan didaur ulang.
Hidup Sehat
Sisi lain yang positif dari tinggal di Jerman adalah hidup dengan lebih sehat. Orang Jerman sangat sehat dan bugar. Mayoritas menyukai berolahraga, seperti jalan pagi, bersepeda, lari, hiking, atau berolahraga di pusat kebugaran. Orang Jerman sangat suka berolahraga dalam cuaca apa pun, baik itu hujan atau suhu dingin saat musim dingin. Mereka memiliki pepatah: “Es gibt kein schlechtes Wetter, es gibt nur falsche Kleidung (tidak ada yang namanya cuaca buruk, adanya baju yang salah)”.
Selain gemar berolahraga, makanan di Jerman juga terbilang lebih sehat (apalagi bila dibandingkan di Indonesia). Sayuran seringkali dimakan dalam kondisi segar baik untuk makanan pembuka atau makanan pendamping. Makanan di Jerman juga tidak berlebihan dalam menggunakan garam dan gula. Walaupun begitu, rasa makanan ini akan terasa hambar untuk lidah orang Indonesia yang sering makan makanan yang kaya rasa dan rempah.
Berjalan Kaki, Bersepeda, dan Naik Angkutan Umum
Di Jerman, orang-orang lebih banyak yang berjalan kaki, bersepeda, dan naik angkutan umum. Kendati negeri ini menjadi salah satu produsen mobil di dunia dan mobil menjadi bagian yang sulit dilepaskan dari kehidupan penduduk, aktivitas berjalan kaki, dan naik angkutan umum sudah menjadi bagian sehari-hari di sini. Orang-orang juga semakin banyak yang memilih menggunakan sepeda karena menyadari pentingnya kelestarian alam.
Selama beberapa waktu di sini, saya seringkali berjalan kaki dengan teman-teman yang memilih rute berjalan kaki kendati ada rute naik angkutan umum ke tujuan, baik dengan bus dan tram, apabila jaraknya masih bisa ditempuh dengan berjalan kaki selama 30 menit. Waktu 30 menit ini adalah waktu tempuh dengan kecepatan berjalan kaki orang Jerman, bukan orang Indonesia yang jarang berjalan kaki.
Di Jerman, saya biasa mencapai target berjalan kaki 5.000-10.000 langkah per hari hanya dengan berjalan kaki untuk keperluan sehari-hari. Jarak tersebut adalah jarak berjalan kaki harian rata-rata yang dibutuhkan manusia agar tetap sehat. Artinya, selama di Jerman, saya berjalan kaki untuk mobilitas sekaligus olahraga. Hal ini membuat badan saya lebih sehat secara tidak langsung.
Teratur dan Disiplin
Kehidupan di Jerman teratur. Orang-orang secara umum mengikuti aturan yang berlaku dan disepakati bersama, misalnya mengikuti aturan lalu lintas atau datang tepat waktu. Orang yang berjalan kaki akan diberikan prioritas oleh pengendara mobil saat menyeberang. Mereka akan berhenti saat melihat orang yang akan menyeberang jalan berdiri di tepi jalan dan menunggu sampai orang tersebut selesai menyeberang.
Di sini, orang-orang pada umumnya bekerja lima hari kerja, dari Senin hingga Jumat. Pada hari Sabtu, mereka bisa beristirahat atau berekreasi dengan keluarga atau teman. Hari Minggu adalah hari libur di Jerman. Jalanan hari Minggu umumnya sangat sepi. Hari Minggu di Jerman disebut juga sebagai “Ruhetag” atau hari beristirahat atau hari tenang. Pada hari ini, orang-orang diharapkan mengurangi aktivitas dan kebisingan dari aktivitas mereka. Mayoritas supermarket, restaurant, atau pertokoan banyak yang tutup pada hari ini. Jadi, kita harus menyelesaikan seluruh aktivitas belanja kita pada hari Sabtu.
Mencintai Alam
Orang Jerman rata-rata menyukai aktivitas di luar rumah untuk duduk menikmati matahari, jalan kaki, lari, berenang di sungai atau hiking. Seluruh aktivitas ini umumnya dilakukan di taman atau ruang terbuka di alam. Oleh karena itu, di sini kita mudah menemukan lokasi-lokasi di alam yang terawat, tidak dikotori sampah atau berpolusi, yang bisa kita datangi dan kita gunakan sebagai rute untuk aktivitas di luar ruangan.
Pepohonan masih rindang, sungai dan danau sangatlah jernih sehingga dapat digunakan berenang. Bahkan terlihat pula hewan-hewan liar yang beragam, seperti bebek, angsa, elang, kelinci, rakun, rubah, dan sebagainya. Semuanya mudah ditemukan di alam dan bisa dilihat langsung dari dekat.
Kelima hal itu mempengaruhi hidup saya secara pribadi, hidup saya dalam masyarakat, dan juga relasi saya dengan alam. Saya melihat bahwa kehidupan manusia yang modern dan maju tidak berarti mengubah manusia menjadi sangat berkuasa atas manusia lain dan alam.
Belakangan ini saya justru khawatir saat harus memikirkan kembali pulang. Bagaimana saya harus beradaptasi kembali dengan situasi yang semrawut, dengan ketidakjelasan budaya pengelolaan sampah, lemahnya kedisiplinan dan minimnya keteraturan hidup, ketiadaan angkutan umum yang memadai, atau alam yang kehilangan keanekaragamannya karena habis diburu dan lahannya berubah? Saya cuma bisa berharap hal-hal yang baik di sini suatu saat menjadi bagian dalam membentuk Indonesia modern dan lebih maju.
Bulan Oktober segera berakhir, namun cuaca di Solo masih saja kurang bersahabat. Beberapa hari belakangan ini pun suhu telah mencapai angka 390 Celcius saat siang. Maklum, matahari bersinar sangat terik dan menyengat. Banyak kawan mengeluhkan hal tersebut, demikian pula saya yang sering berkegiatan di luar ruang.
Bagaimana mengatasi hal ini agar semua kegiatan tidak terhenti karena harus berkegiatan di bawah teriknya cuaca? Salah satunya adalah menjaga tubuh supaya selalu terhidrasi atau lembab. Saya selalu membawa botol air minum yang bisa menjaga suhu air awet sesuai yang diinginkan atau insulated bottle, biasanya juga disebut tumbler.
Tumbler saya isi dengan air lemon dingin. Resepnya sederhana, hanya membutuhkan lemon 1 buah dan air mineral dingin 750 ml. Boleh dicampur madu 1 sendok makan atau sesuai selera. Lemonnya dibelah menjadi 2, separuh diiris dan separuhnya diperas untuk semuanya dimasukkan ke dalam tumbler.
Saya menyukai suhu air minum sekitar 100 Celcius, yang saya dapatkan dari menuang air yang sudah didinginkan di kulkas. Jadi ketika tubuh sudah mulai terasa dehidrasi atau haus, maka saya teguk perlahan air lemon dingin dari tumbler untuk menjaga badan tetap lembab dan nyaman.
Viralnya Joli Jolan
Di tengah panasnya Kota Solo, ada hal yang mendadak menjadi penyejuk hati selain segelas lemon. Sungguh tidak menyangka kegiatan sederhana kami di Joli Jolan dilihat jutaan pemirsa melalui berbagai platform media sosial. Sekaligus telah diforward (diteruskan) ribuan kali, baik langsung dari media sosial maupun dari grup Whatsapp (WAG) ke WAG lain.
Ya, hal itu tak lepas dari unggahan Youtuber yang juga sukarelawan Joli Jolan, Mas Daniel, atau yang akrab dikenal dengan Mewalik. Videonya tentang Joli Jolan viral di Instagram dan TikTok yang membuat sukarelawan Joli Jolan harus menggelar “pertemuan darurat” hari Kamis, 17 Oktober 2024 lalu.
Bahagia? Bangga? Atau biasa saja? Entahlah, setiap relawan memaknai viralnya Joli Jolan dengan sikap dan caranya masing-masing. Saya menyerah untuk membaca komentar yang jumlahnya ribuan. Apabila itu doa-doa baik, maka doa tersebut sudah menembus langit.
Apabila itu cacian dan kecurigaan akan menjadi penghapus dosa-dosa relawan dan semua pihak yang membersamai ruang solidaritas Joli Jolan. Bahkan ada yang disangkut-pautkan dengan urusan politik, jauhlah. Kami ada bukan karena kepentingan pragmatis sesaat.
Pesan melalui WA dan telepon berdering dari handai taulan yang lama tak bersua. Antara senang karena diperhatikan dan menjawab segala pertanyaan yang sama. Antara lain, siapa pemilik Joli Jolan? Jawabannya: milik semua orang.
Sedari awal, kami bersepakat bahwa tidak ada kepemilikan aset. Siapa pun yang menaruh manekin, gantungan baju, hanger, lemari, etalase kaca dsb tidak dicatat dalam administrasi Joli Jolan. Setiap saat jika dibutuhkan oleh pemiliknya, boleh diambil kembali.
Juga ada pertanyaan tentang bagaimana gerakan ini menghidupi dirinya padahal komunitas tanpa uang ini akan mencapai usia lima tahun pada Tanggal 21 Desember 2024. Lalu, ada yang berempati untuk berbagi dengan bentuk uang. Saat ini kami menggunakan akun Trakteer sebagai satu-satunya akses jika ada warga yang ingin urun dana di Joli Jolan.
Hanya dengan segelas es lemon tea yang berharga Rp5.000, warga sudah bisa berkontribusi merawat gerakan Joli Jolan. Setiap dana yang terkumpul via Trakteer akan kami gunakan untuk menunjang operasional gerakan serta pengelolaan website. Yuk ikut merasakan segarnya solidaritas dengan segelas es lemon tea!