Tan Malaka, seorang pejuang kemerdekaan, menggambarkan betapa pentingnya buku sebagai asupan, melebihi sandang dan pangan. Ya, buku memang tak sekadar sumber ilmu, tapi juga sumber inspirasi dan gagasan. Kedua hal ini menjadi menjadi benang merah dalam Urban Social Forum (USF) 10 yang digelar di SMPN 10 Solo dan Lokananta akhir pekan lalu. Joli Jolan sendiri terlibat dalam USF di Lokananta pada hari Minggu, 10 Desember 2023.
Sebagai salah satu mitra di Gerai Komunitas, Joli Jolan membawa cukup banyak buku untuk dibagikan gratis di stan kami. Hal itu tak lepas dari segmen USF yang bakal menyedot animo banyak anak muda. Kami yakin generasi muda yang hadir di USF lebih tertarik dengan buku bacaan yang bagus ketimbang pakaian preloved bermerek.
Benar saja, sekitar 80% pengunjung stan Joli Jolan lebih memilih mengambil buku ketimbang pakaian. Ini berkebalikan 180 derajat dengan operasional di galeri Kerten, di mana mayoritas warga mencari pakaian dan asesorisnya. Jenis buku yang diambil pun beragam mulai novel, buku sosial, hingga bacaan ilmiah yang menunjang perkuliahan.
Sebagian merasa kaget ketika kami memberikan buku ini secara cuma-cuma. Masing-masing pengunjung bisa mengambil maksimal dua buku saat itu. “Beneran gratis? Ini buku terjemahan lho,” ujar seorang pengunjung perempuan sambil menimang sebuah novel yang cukup tebal.
Saking tingginya antusiasme, kami sempat mengambil stok buku tambahan dari galeri Kerten. Ketika anak muda saat ini banyak diasosiasikan sebagai tuna literasi, bukankah hal ini menjadi sebuah kabar baik? Melihat fenomena ini, kami pun berpikir. Jangan-jangan bukannya anak muda malas membaca, tetapi akses terhadap buku berkualitas yang belum memadai, terutama dari segi harga.
Kalau sudah begitu, apakah anak muda harus mengamini anjuran Tan Malaka untuk mengurangi duit untuk makanan dan baju? Mungkin tak perlu seekstrem itu. Dengan saling berbagi, kita bisa mengakses buku berkualitas dengan terjangkau, bahkan gratis. Yuk bikin inisiatif berbagi atau bertukar buku di lingkunganmu!
Minggu 10 Desember 2023, Joli Jolan mendapat kesempatan untuk sharing pengalaman dalam kegiatan Petak Rembuk Urban Social Forum (USF) 10 di pendopo Lokananta. Kegiatan yang diinisiasi Kolektif Agora ini menghadirkan dua sukarelawan Joli Jolan, Chrisna Chanis Cara dan Ika Yuniati. Mereka menceritakan sederet perjalanan Joli Jolan selama empat tahun dalam merajut solidaritas di Kota Solo.
Dalam salah satu penjelasannya, Chrisna menjelaskan perjalanan Joli Jolan selama empat tahun penuh dengan cerita menarik dan inspiratif. Antusiasme masyarakat saat mendonasikan barang layak menjadi inti yang mewarnai perjalanan Joli Jolan. Bahkan ada beragam pengalaman sentimental dari para donatur saat merelakan dan mendonasikan barang-barang kesayangan mereka. Mereka berharap barang-barang pemberian tersebut dapat dimanfaatkan orang lain yang lebih membutuhkan.
Salah satu pengalaman menarik lainnya terjadi saat pandemi Covid-19. Seperti komunitas-komunitas lain pada umumnya, Joli Jolan pun terdampak gelombang pandemi ketika galeri Joli Jolan baru dibuka empat bulan untuk umum. Kebijakan pemerintah dan pertimbangan kesehatan mengharuskan Joli Jolan menutup total galeri dari aktivitas publik.
Menariknya, pandemi malah menjadi momentum yang tepat dalam menghidupkan semangat solidaritas yang menjadi fondasi utama Joli Jolan. Joli Jolan berupaya untuk aktif mendukung ketahanan pangan melalui program dapur umum. Beberapa komunitas lain pun turut serta membantu penyediaan pangan untuk dibagikan ke masyarakat sekitar. Joli Jolan meyakini bahwa semangat warga bantu warga harus ditumbuhkan di masa krisis seperti itu.
Sesuatu yang Baik Harus Diupayakan dengan Baik
Bukan berarti perjalanan empat tahun senantiasa mulus. Ada beragam pengalaman kurang menarik dalam mengelola Joli Jolan. Salah satunya tentang bagaimana Joli Jolan sering dianggap sebagai tempat ‘pembuangan’ barang tidak layak pakai. Tidak hanya sekali dua kali Joli Jolan menerima barang-barang kurang pantas untuk didonasikan, seperti pakaian lusuh hingga pakaian dalam bekas. Siapa yang bersedia menerima barang seperti itu?
Sesuatu yang baik tentu perlu diupayakan secara baik agar menghasilkan hasil yang optimal. Oleh karena itu, mendonasikan barang perlu diniati dengan niat yang juga baik. Sehingga, apa yang diberikan dapat memberikan manfaat yang tepat bagi penerima. Seperti yang sering diingatkan Ika Yuniati bahwa berdonasi itu berarti mendonasikan barang terbaik untuk kebahagiaan orang lain. Berdonasi harus menjadi upaya dua arah yang tidak hanya mengosongkan ruang penyimpatan donatur, tetapi juga memberikan dampak positif kepada orang lain.
Selama 45 menit, forum sharing Petak Rembuk ini menjadi sarana menebar nilai-nilai inspitarif dan pembelajaran terkait solidaritas. Ke depan Joli Jolan berharap keberadaan komunitas tersebut dapat menebar manfaat kepada lebih banyak orang. Tidak hanya di Kota Solo, tetapi juga kota-kota lain di Indonesia. Sehingga semangat solidaritas akan terus menginspirasi siapa pun, kapan pun, dan di mana pun.
Pandemi Covid-19 yang menghantam Indonesia beberapa waktu lalu memberikan pengalaman berharga bagi kita semua. Terlepas dari rentetan kabar duka, ada sisi positif yang mengemuka di sekeliling kita. Ya, rasa solidaritas dan semangat warga bantu warga sangat kental. Resiliensi ini berhasil membuat kita keluar dari masa sulit pandemi Covid-19.
Joli Jolan sendiri punya sederet cerita yang menunjukkan bahwa masyarakat bisa berdaya. Tak perlu menunggu pemerintah, inisiatif-inisiatif kecil yang konsisten nyatanya bisa diandalkan untuk sedikit menjadi solusi masalah.
Dalam Petak Rembuk yang diinisiasi oleh Kolektif Agora @kolektifagora di Urban Social Forum @urbansocialforum, dua sukarelawan kami yakni Chrisna Chanis Cara @chrisna_chanis dan Ika Yuniati @ikayun akan berbagi pengalaman soal bagaimana Joli Jolan melalui pandemi dan tetap merawat gerakannya hingga kini.
Acara dikonsep diskusi santai di Lokananta Bloc @lokanantabloc, Minggu 10 Desember 2023 pukul 16.00-16.30 WIB. Banyak juga diskusi lain yang tak kalah menarik yang digelar sejak Sabtu 9 Desember 2023 di SMPN 10 Solo. Sampai jumpa di Lokananta!
Akhir pekan ini Joli Jolan bakal ikut berpartisipasi di Urban Social Forum (USF) nih! Kami akan hadir di hari kedua USF yakni pada Minggu 10 Desember 2023 di Lokananta. Dalam forum perkotaan yang sudah memasuki tahun kesepuluh ini, Joli Jolan akan bergabung di dua agenda.
Pertama adalah diskusi santai bertajuk Petak Rembuk yang akan digelar pukul 16.00-16.30 WIB. Bersama Kolektif Agora, Joli Jolan akan berbagi pengalaman soal membangun gerakan warga bantu warga hingga tetap bertahan sampai sekarang.
Joli Jolan juga bakal berpartisipasi di Gerai Komunitas. Selama setengah hari, tepatnya pukul 10.00-17.00 WIB, kami akan “memindahkan” galeri kami ke halaman Lokananta. Kawan bisa mendapatkan pakaian hingga buku-buku keren secara gratis, barter, atau dengan berdonasi.
Kami juga akan membawa merchandise eksklusif yakni kaus Joli Jolan dengan jumlah sangat terbatas. Kawan bisa mendapatkannya dengan berdonasi 100k. Seluruh donasi akan kami gunakan untuk membiayai gerakan ke depan.
Oh ya, Urban Social Forum digelar sejak Sabtu 9 Desember 2023 ya di SMPN 10 Surakarta. Banyak panel diskusi perkotaan menarik yang bisa kawan ikuti secara gratis. Yang penasaran bisa langsung cek Instagram @urbansocialforum atau website-nya di urbansocialforum.or.id. Sampai jumpa!
Acap terdengar istilah fast fashion yang identik dengan merek fesyen terkenal dari Jepang, Swedia, dan Spanyol yang digemari oleh anak-anak muda Indonesia masa kini. Gerai produk fast fashion pun dapat dengan mudah dijumpai di berbagai pusat perbelanjaan di kota-kota besar di Indonesia.
Fast fashion menurut pengamatan dan pengalaman Joli Jolan adalah fesyen yang diproduksi secara cepat dan dalam jumlah banyak mengikuti tren yang berlaku di suatu wilayah atau mengikuti kebutuhan berdasarkan musim. Fast fashion mendorong pelanggan memutuskan untuk membeli dengan cepat karena harganya yang terjangkau dan proses distribusinya yang cepat sehingga mudah diperoleh. Masa pakainya pun juga cepat (pendek) karena kualitas bahannya yang rendah sehingga mendorong pembeli untuk kembali membeli model lainnya atau sesuai musim.
Jumat, 22 September 2023, bertempat di SMAN 7 Surakarta, Joli Jolan diundang untuk menjadi salah satu narasumber dalam kegiatan YACT (Youth Agriculture) Goes to School yang diselenggarakan oleh IAAS LC UNS (International Association of Students in Agricultural and Related Sciences Universitas Sebelas Maret). Peserta YACT Goes to School ini adalah peserta didik yang mewakili kelas masing-masing.
Para peserta didik terlihat sangat antusias mendengarkan pemaparan tentang problematika fast fashion dari narasumber. Bahkan ada pertanyaan menarik dari salah satu peserta didik yang bisa jadi merupakan kegelisahan semua peserta, “Apakah penggunaan fast fashion harus ditentang?” Menurut Kak Septi yang mewakili Komunitas Joli Jolan sebagai narasumber, yang harus disikapi dalam penggunaan fesyen adalah apabila dalam proses produksinya mengakibatkan dampak buruk bagi lingkungan.
Lalu, bagaimana cara menyikapi fast fashion dari sisi masyarakat? Jawabannya adalah dengan membeli fesyen yang menggunakan bahan baku ramah lingkungan, seperti yang sedang dikenakan Kak Septi, yaitu eco-print. Bisa juga seperti yang dilakukan Kak Atikah salah satu relawan Joli Jolan yang memanfaatkan kembali kain batik tulis peninggalan ibu dengan cara upcycle, yakni mengubah bentuk dan manfaat dari selembar kain batik menjadi model dress. Atau bisa juga seperti yang dilakukan oleh Kak Lala dan Kak Damai, relawan Joli Jolan lainnya, dengan memperpanjang manfaat baju dari galeri Joli Jolan untuk dikenakan sesuai kebutuhan.
Upaya Joli Jolan dalam Menyikapi Fast Fashion
Berangkat dari kegelisahan para pendiri Joli Jolan atas konsumerisme yang terjadi di masyarakat, terutama di perkotaan, gerakan Joli Jolan menjawab pertanyaan dalam menyikapi fast fashion. Sebenarnya prinsip pengelolaan ruang solidaritas Joli Jolan seperti pengelolaan sampah, yaitu 3R (Reduce, Reuse and Recycle) atau dalam bahasa Jawa disebut 3 Ng, Ngelongi, Nggunakke, Ngolah. Dari ketiga prinsip tersebut, kegiatan utama lebih banyak pada Reuse atau Nggunakke. Dalam Komunitas Joli Jolan biasanya menggunakan istilah redistribusi kepemilikan barang.
Gerakan Joli Jolan bukanlah gerakan charity, hanya sekali berkegiatan pemberian barang kepada yang membutuhkan tanpa keberlanjutan. Sampai dengan saat ini anggota Joli Jolan terus bertambah dengan jumlah keanggotaan mencapai sekitar 2.000 orang. Joli Jolan sendiri adalah ruang pertemuan antara orang yang membutuhkan barang dengan orang yang sudah tidak membutuhkan barangnya lagi, sehingga barang yang ada dalam galeri Joli Jolan dapat diperpanjang masa manfaatnya. Memperpanjang masa manfaat atau meredistribusi kepemilikan berarti barang tidak lekas menjadi sampah karena kehilangan manfaatnya.
Semakin cepat perputaran barang di galeri Joli Jolan maka semakin berkelanjutan gerakan ini karena mencegah barang yang sudah tidak dimanfaatkan untuk tidak lekas masuk ke TPA (Tempat Pemrosesan Akhir). Barang-barang yang masuk ke galeri Joli Jolan seharusnya berakhir di tempat sampah oleh pemilik sebelumnya. Namun, Galeri Joli Jolan berupaya untuk memperlambat bahkan mengurangi beban bumi dalam mengurai sampah, seperti sampah fesyen yang sampai dengan saat ini belum bisa dikelola atau dimanfaatkan kembali dengan nilai ekonomis layaknya sampah plastik.
Oleh karena itu, sikap yang paling bijak dalam menghadapi fast fashion adalah mengelola barang pribadi secukupnya. Sebab, siklus fast fashion menurut Kak Septi terbagi dalam 3 tahapan, yaitu:
Saat proses produksi. Untuk mengejar skala ekonomi maka produksinya dibuat massal dengan menggunakan bahan-bahan kimia. Proses pascaproduksinya pun menyisakan air limbah yang tidak diolah terlebih dahulu sebelum dibuang ke sungai. Hal inilah yang dinamakan tidak berkelanjutan (unsustainable) karena merusak lingkungan dengan mencemari ekosistem sungai dan tanah.
Saat pemanfaatan produk. Pergantian musim, cara berpakaian para influencer atau public figure, tren fesyen, bahkan rasa ingin bernostalgia mendorong masyarakat untuk membeli produk fast fashion yang harganya terjangkau. Masa pemanfaatan fesyen ini pun biasanya sangat pendek, bisa sekali atau dua kali pakai. Bahkan apabila dipakai terus-menerus, dalam waktu 3 bulan fesyen ini pun sudah tidak lagi layak pakai. Masa pemanfaatan yang pendek ini akan mengakibatkan laju timbulan sampah yang semakin besar. Hal ini tidak berkelanjutan, karena pengelolaan sampah fesyen masih terkendala dalam proses recycle atau ngolah. Agar memiliki nilai ekonomis, diperlukan proses pengolahan kembali yang akan memakan waktu panjang agar layak jual, sehingga ada keengganan untuk mengolah. Hal ini tentunya tidak berkelanjutan jika dilihat dari sudut pandang sirkular ekonomi.
Pasca-pemanfaatan. Saat fesyen sudah tidak digunakan lagi maka tindakan yang biasanya dipilih masyarakat adalah dengan memberikannya kepada orang lain apabila masih layak atau membuangnya. Ternyata sampah fesyen banyak ditemukan di aliran sungai.
Sebenarnya tidak ada masalah dengan istilah fast fashion sepanjang proses produksi, pemanfaatan, hingga masa pasca-pemanfaatan tidak menimbulkan dampak buruk terhadap lingkungan dan tidak mengeksploitasi secara berlebihan terhadap pekerja yang terlibat dalam industri ini. Beberapa peserta didik menyatakan memiliki baju dengan merk internasional yang tergolong fast fashion karena menurut mereka bahannya adem, awet, nyaman dipakai, dan harganya yang terjangkau.
Referensi Crumbie, A. (2021) What is fast fashion and why is it a problem? | Ethical Consumer. Available at: https://www.ethicalconsumer.org/fashion-clothing/what-fast-fashion-why-it-problem (Accessed: 23 September 2023).
Kabar bertumbangannya satu per satu toko buku besar di Indonesia memunculkan sejumlah asumsi terkait perkembangan literasi di Indonesia. Tuduhan bahwa minat literasi Indonesia rendah kembali dilontarkan, bersamaan dengan persaingan buku cetak dengan buku elektronik, dan juga pembajakan yang tak kunjung berhasil diatasi.
Pada saat kabar itu terdengar dan menjadi pembahasan panas di media sosial, patjarmerah, Pasar Buku dan Festival Kecil Literasi Keliling Nusantara justru mengumumkan mereka akan bergerak menuju Solo. Toko buku mereka pun buka di Pos Bloc Jakarta dan Fabriek Bloc Padang. Mengapa pada saat toko buku-toko buku besar banyak yang gulung tikar, patjarmerah justru tetap bisa berkeliling dan berkembang?
“Karena kami dirawat oleh semangat kolaborasi dan gotong royong literasi,” kata Windy Ariestanty, pendiri dan penggagas patjarmerah. Kesadaran bahwa buku harus dipercakapkan dan harus menciptakan ruang interaksi inklusif adalah salah satu alasan yang mendorong kelahiran patjarmerah. “Kami masih berpegang pada semangat itu. Itu juga masih menjadi DNA kami.” Kolaborasi dan gotong royong membuat apa-apa yang terasa tidak mungkin menjadi mungkin untuk diwujudkan. Membuat pasar buku dan festival secara berkeliling untuk mendekatkan akses literasi membutuhkan banyak pertaruhan. Beruntungnya, di setiap tempat kami selalu mendapati kawan-kawan yang punya semangat sama, di Solo salah satunya.
Literasi Pendorong Revitalisasi Tradisi
Solo memiliki rekam jejak yang panjang, tidak hanya dalam dunia pergerakan, tetapi juga literasi. Di mata Akhmad Ramdhon, dosen Universitas Sebelas Maret dan juga pegiat literasi Solo, jejak panjang literasi yang membentuk Solo adalah hasil perpaduan keberadaan tradisi Kasunanan dan Mangkunegaran. Kesadaran akan pentingnya kekuatan literasi ini juga turut membingkai perubahan dan modernisasi kota, salah satunya lewat pers lokal. Patahan kondisi masa lalu dan masa depan ini jugalah yang menjadi kerja-kerja strategis warga kota: pemerintah, pendidikan, dan komunitas.
“Rekam jejak patjarmerah di tiap titiknya menunjukkan mereka punya kemampuan merangkul para tiang sanggah dari ekosistem literasi, mempertemukan mereka dalam satu arena serta berkolaborasi,” kata Ramdhon. Keberadaan patjarmerah di Solo jadi terasa penting karena gerakan yang digawangi anak-anak muda ini bisa jadi pendorong, penggerak, juga pengingat bahwa sebuah tempat tanpa pondasi literasi akan kehilangan identitasnya. Revitalisasi tradisi selalu dimulai dari literasi.
Ini jugalah yang dilihat oleh Mufti Rahardjo, Sekretaris Dinas Arsip dan Perpustakaan Daerah (Dispersipda) Solo. Dinas Arsip dan Perpustakaan Daerah Solo, sehingga mendukung patjarmerah Solo. Sebagai salah satu kebutuhan dasar yang kodrati, kata Mufti, literasi membuat kita mendapatkan bagian dari pemenuhan jawaban kognitif (cipta), afektif (rasa), dan psikomotoris (karsa). Bagi Mufti kehadiran patjarmerah dengan segala portofolio dan beragam aktivitasnya memberi ruang yang segar bagi masyarakat Solo dan sekitarnya.
“Seharusnyalah literasi menjadi denyut dari setiap tempat,” katanya. “Dan itu harus diupayakan bersama-sama, beramai-ramai, bergotong royong.”
Selain keterlibatan Dinas Arsip dan Perpustakaan Daerah (Dispersipda) Solo dan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Solo, sejumlah penulis, penerbit, pegiat literasi, pekerja kreatif berbagai bidang, dan komunitas-komunitas kreatif di Solo juga turut terlibat. Mereka berkolaborasi dengan penulis, pegiat literasi, pekerja kreatif berbagai bidang, dan komunitas dari luar Solo. Ada satu juta buku terbitan lebih dari 100 penerbit di Indonesia, juga lebih dari 100 pembicara pilihan mengisi festival literasi patjarmerah di Solo.
“Selain ada Ratih Kumala, Joko Pinurbo, Reda Gaudiamo, Yusi Avianto Pareanom, Ivan Lanin, Martin Suryajaya, Felix K. Nessi, para penulis dan kawan-kawan Solo dari berbagai bidang kreatif pun hadir,” kata Ringgana Wandy Wiguna, salah satu relawan patjarmerah Solo yang bertugas di Divisi Komunikasi. Ia menyebut nama Indah Darmastuti, Yudhi Herwibowo, Panji Sukma, Jungkat-Jungkit, Fanny Chotimah, dan lain-lain. Informasi lengkap terkait acara festival ini bisa dilihat di patjarmerah.com/solo.
patjarmerah Solo akan diadakan pada 1-9 Juli 2023 di Ndalem Djojokoesoeman, Gajahan, Pasar Kliwon, Solo. Bangunan ini adalah salah satu cagar budaya yang penting bagi Solo karena merupakan bagian dari sejarah perkembangan Kota Surakarta sebagai Kota Kerajaan Masa Mataram Islam.
Patjarmerah, Pasar Buku dan Festival Kecil Literasi Keliling Nusantara yang dijuluki oleh para pencinta buku dan media sebagai sirkus literasi keliling memutuskan singgah di Solo. Gerbang Ndalem Djojokoesoeman di Gajahan, Pasar Kliwon, Solo yang menjadi arena pasar buku dan festival literasi ini akan dibuka pada 1-9 Juli 2023 mulai pukul 09.00 hingga 22.00 WIB.
Kekayaan narasi dan sejarah panjang Surakarta membuat patjamerah memilih untuk mengawali denyutnya pada tahun 2023 di kota ini. “Selain sebelum Pandemi kami memang sempat berencana membuat patjarmerah di Solo. Itu sekitar April 2020,” cerita Windy Ariestanty, pendiri dan penggagas patjarmerah.
Solo adalah tempat yang sangat kental dengan budaya literasi dan sangat banyak merekam sejarah terkait jejak penulisan masa lampau. Karya-karya klasik lahir dari Keraton Kasunanan dan Pura Mangkunegaran. Di antaranya Yosodipuro yang menulis Serat Wulang Reh, Paku Buwono IV dan Serat Wulang Sunu, Mangkunegara IV menulis Serat Wedhatama, Paku Buwono V menulis Serat Centhini, dan ada juga pujangga legendaris dari Kota Solo, yaitu Ki Padmasusastra dan Ronggowarsito. Selain itu, majalah dan surat kabar pertama di Indonesia pun lahir di Solo.
“Solo dengan semua ciri khas dan kedenyutannya menjadi titik tepat untuk mengawali patjarmerah 2023. Dari titik yang menjadi arena pergerakan inilah, patjarmerah akan bergerak,” sambung Windy dalam keterangan persnya. Banyak tokoh penting yang menggencarkan pergerakan datang dari Surakarta. Sebutlah Tjokroaminoto, H. Samanhudi, dan Marco Kartodikromo. Mereka mengandalkan kemampuan tulis-menulisnya di surat kabar dan berbagai macam aksi protes yang digelar dalam rangka ”menuntut persamaan hak bumiputera”. Ada pula Tjipto Mangunkusumo yang mengkritisi sistem feodal. Sarekat Islam dan gerakan Bumi Putera.
Denyut Literasi dan Identitas Tempat
Denyut dipilih menjadi tema patjarmerah selama 2023. Kata ini menyimbolkan hidup dan upaya untuk terus hidup, termasuk di dunia literasi. Ini jugalah yang dilihat oleh Mufti Rahardjo, Sekretaris Dinas Arsip dan Perpustakaan Daerah (Dispersipda) Solo. Sebagai salah satu kebutuhan dasar yang kodrati, literasi membuat kita mendapatkan bagian dari pemenuhan jawaban kognitif (cipta), afektif (rasa), dan psikomotoris (karsa). “Seharusnyalah literasi menjadi denyut dari setiap tempat.” Bagi Mufti kehadiran patjarmerah dengan segala portofolio dan beragam aktivitasnya memberi ruang yang segar bagi masyarakat Solo dan sekitarnya.
Di mata Akhmad Ramdhon, dosen Universitas Sebelas Maret dan juga pegiat literasi Solo, jejak panjang literasi yang membentuk Solo adalah hasil perpaduan keberadaan tradisi Kasunanan dan Mangkunegaran. Kesadaran akan pentingnya kekuatan literasi ini juga turut membingkai perubahan dan modernisasi kota, salah satunya lewat pers lokal. Patahan kondisi masa lalu dan masa depan ini jugalah yang menjadi kerja-kerja strategis warga kota: pemerintah, pendidikan, dan komunitas.
“Rekam jejak patjarmerah di tiap titiknya menunjukkan mereka punya kemampuan merangkul para tiang sanggah dari ekosistem literasi, mempertemukan mereka dalam satu arena serta berkolaborasi,” kata Ramdhon. Keberadaan patjarmerah di Solo jadi terasa penting karena gerakan yang digawangi anak-anak muda ini bisa jadi pendorong, penggerak, juga pengingat bahwa sebuah tempat tanpa fondasi literasi akan kehilangan identitasnya. Revitalisasi tradisi selalu dimulai dari literasi.
Patjarmerah Solo di Ndalem Djojokoesoeman
Semangat kolaborasi dan gotong royong literasi pun masih diusung patjarmerah. Di Solo, selain menggandeng Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Surakarta dan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Surakarta, patjarmerah juga berkolaborasi dengan para pegiat literasi dan komunitas lintas bidang kreatif, di antaranya Difalitera, Sastra Pawon, Kamar Kata, Kembang Gula, Lokananta, termasuk Persis. Komunitas ini akan berkolaborasi dengan jenama-jenama internasional dan nasional, seperti Netflix, Tik Tok, Bioskop Online, Facebook, dan juga para penerbit. Para penulis dan seniman atau pekerja kreatif berbagai bidang juga turut diajak. Di antaranya Jungkat-Jungkit, Soloensis, Soerakarta Walking Tour, Solo Societeit, dan Titi Laras.
Pada salah satu sesi, Ngudhar Rasa: Meracik Masa Depan Kuliner Indonesia Lewat Tradisi Pangan, Pura Mangkunegaran bersama Lakoat.Kujawas dari Nusa Tenggara Timur, Bhumi Bhuvana dari Jogja, dan Titi Laras dari Solo akan bertukar rasa dan berbagi cerita. Penulis-penulis Solo–Sanie Kuncoro, Indah Darmastuti, Panji Kusuma, Beri Hanna. Peri Sandi Huizche pun hadir mengisi sesi-sesi di festival, berkolaborasi dengan pembicara-pembicara pilihan lainnya, seperti Joko Pinurbo, Ratih Kumala, Felix, K. Nessi, Yusi Avianto Pareanom, Martin Suryajaya, Reda Gaudiamo, Alexander Thian, Adimas Immanuel, Syahid Muhammad, Andina Dwi Fatma, dan lainnya. Tak ketinggalan penampilan istimewa dari Papermoon Puppet Theatre.
Akan ada 1 juta buku dan lebih dari 100 pembicara pilihan hadir di patjarmerah Solo. Ndalem Djojokoesoeman dipilih menjadi arena literasi karena sejarah panjangnya. Bangunan cagar budaya yang berdiri pada 1849 merupakan salah satu ndalem pangeran masih utuh di Solo. Bangunan ini dulunya menjadi kediaman raja pada masa Kesunanan Surakarta, khususnya keturunan Paku Buwono X dan Paku Buwono IX.
Tren penggunaan angkutan umum yang didukung Program Teman Bus sukses membuka 13 koridor di Kota Solo. Meski demikian, hal ini perlu diimbangi ketersediaan halte, ruang jalan yang berkeselamatan hingga trotoar yang memadai.
Sayangnya pembangunan trotoar selama ini kerap terpinggirkan. Kebijakan transportasi di Tanah Air yang berfokus pada kendaraan bermotor membuat trotoar dibuat ala kadarnya, asal ada. Trotoar didesain dengan lebar yang minim dan tanpa peneduh. Lebih sial lagi, tak sedikit trotoar yang jadi ruang parkir atau tempat mangkal PKL.
Namun wajah apik trotoar Kota Solo masih dapat dilihat di sejumlah lokasi yang selesai direvitalisasi seperti Jl. Slamet Riyadi (sisi selatan), Jl. Kyai Mojo, Jl. Juanda, Jl. Gatot Subroto, dan Jl. Sudirman. Di luar itu, masih banyak trotoar yang belum terjamah pembangunan. Kondisinya gelap pada malam hari, rusak, dan terputus oleh perubahan tata ruang.
Padahal di zaman dulu Solo sempat memiliki jalur yang mengintegrasikan banyak moda transportasi seperti bus, delman, pesepeda hingga kereta api dengan trotoar ideal untuk pejalan kaki. Perkembangan trotoar di Kota Solo bakal dikupas dengan fun dalam Jalan-jalan Solo: Trotoar Masa Lalu, Masa Kini, dan Masa Depan pada:
Waktu: Minggu, 7 Mei 2023 pukul 09.00-12.00 WIB
Titik Kumpul: Ruang Solidaritas Joli Jolan, Jalan Siwalan No.1 Kerten, Laweyan, Solo
Titik Akhir: Kulonowun Kopi, Koridor Ngarsopuro (sebagian perjalanan via BST, cek grafis rute)
Fasilitas: Minuman dari Kulonuwun Kopi, stiker, doorprize buku hingga kaus
Kontribusi: 40k (kuota peserta maksimal 20 orang)
Jalan-jalan Solo merupakan bagian dari program Jane’s Walk hasil koalisi Women on The Move dan Women in Transport Leadership. Acara ini terselenggara hasil kerja sama Lingkar Studi Transportasi Transportologi, Ruang Solidaritas Joli Jolan dan Pedestrian Jogja.
Segera daftarkan diri ya kawan. Kami akan menutup pendaftaran apabila kuota peserta sudah terpenuhi.
Gentosan merupakan kegiatan solidaritas untuk saling bertukar barang yang masih layak pakai. Nama Gentosan diambil dari bahasa Jawa yang berarti bergantian. Sesuai dengan namanya, moto dari kegiatan ini adalah nggentosaken barang kagem ngrembakaaken raos pasederekan wonten mongso pandemi. Artinya kurang lebih seperti ini, menukarkan barang untuk menyuburkan (memupuk) rasa persaudaraan di masa pandemi.
Kegiatan ini diinisiasi oleh seorang ibu dari 3 orang anak, Erni Ika Nurhayati. Beliau adalah seorang Pegawai Negeri Sipil di Lingkungan Kementerian Keuangan RI. Gentosan pada awalnya terinspirasi dari Joli Jolan saat dia berkunjung ke Solo. Karena merasa tertarik dengan konsep Joli Jolan, beliau pun berupaya menerapkannya di Yogyakarta dengan memanfaatkan halaman rumahnya di Jalan Sawit Sari II Kusumanegara.
“Terpikir setelah main ke Joli Jolan saat ada acara kerja sama beberapa waktu lalu. Daripada direncanakan terus lebih baik langsung dimulai saja,” kata beliau.
Melalui Gentosan, masyarakat dapat memberikan barang yang masih layak pakai untuk ditukarkan dengan barang lainnya. Barang yang dapat diberikan pun beragam, mulai dari buku, mainan, boneka, peralatan sekolah, peralatan rumah tangga, peralatan ibadah, barang elektronik, sembako, pakaian, dan sebagainya. Syarat utama barang yang dapat ditukarkan adalah barang-barang tersebut sudah dicuci bersih terlebih dahulu.
Dalam sehari masyarakat hanya diperbolehkan melakukan 1 kali penukaran dengan maksimal pengambilan barang sebanyak 3 buah. Pembatasan ini dilakukan guna meminimalkan risiko pengambilan barang yang berlebihan. Erni berharap kegiatan ini dapat bertahan dan semakin dikenal oleh masyarakat, terutama masyarakat Yogyakarta. Beliau juga berharap ke depannya beliau bertemu dengan orang-orang sefrekuensi yang dapat bersama-sama mengembangkan gerakan saling berbagi ini.
Dari kebun kecil 8 meter persegi di balkon, kami menemukan persilangan budaya dan peradaban manusia. Di sini pula, kami belajar untuk jadi lebih tangguh dan berdaulat pangan. Pengalaman kecil merawat kebun di balkon ini, pada akhirnya, meneguhkan hati kami kenapa perlu merawat bumi kita.
Kami mulai berkebun ketika pandemi Covid-19 menyerang dunia tahun lalu. Ada banyak faktor yang saling berkelindan dan kebetulan yang membuat kami menanam. Tahun lalu, kami mendadak merasa hampa berada di rumah yang baru kami tinggali lagi setelah bertahun-tahun dibiarkan kosong. Balkon dan teras rumah yang menghadap arah barat sangat gersang, minim tanaman yang menyegarkan mata.
Pindahan dari kota kecil ke desa juga menimbulkan culture shock kepada kami. Ada berbagai sayur dan kudapan yang umum di kota kini tak bisa kami akses begitu saja dari desa, seperti sayur selada beraneka ragam, pizza, dan lainnya. Sulit bagi kami mengubah kebiasaan. Satu-satunya cara untuk tetap memeroleh produk yang kami sukai hanya satu: menanam bahan bakunya.
Kebetulan, pada saat yang sama, Ruang Solidaritas Joli Jolan kala itu sedang menggiatkan kegiatan yang berhubungan dengan berkebun di ruang urban. Saat itu, kami merasa tertarik menanam. Namun, kami masih ragu-ragu. Kami khawatir gagal.
Lalu, pandemi yang memburuk memaksa kami mengurangi perjalanan. Kami jadi memiliki banyak waktu di rumah dan memutuskan untuk mulai menanam.
Kami belajar menanam dari nol. Saya dan suami tak punya banyak pengalaman mengurus kebun. Saya sendiri nol pengalaman. Sementara, terakhir kali suami memegang ladang belasan tahun lalu, saat ia hidup di kampung halamannya. Ia pernah berkebun sebentar dan membantu panen di sawah ketika masa senggang menunggu ujian universitas.
Kangkung, Bayam, dan Sawi
Kami belajar menanam dengan metode hidroponik. Metode ini kami pilih karena rumah kami minim lahan. Lokasi yang dapat ditanami adalah balkon mungil dengan lantai keramik dan teras bawah yang sempit. Sebagai awalan, kami menanam kangkung, bayam, dan sawi. Tiga jenis sayuran yang direkomendasikan untuk ditanam oleh pemula. Kami mulai menanam dengan memanfaatkan styrofoam bekas di toko buah.
Kangkung, bayam, dan sawi mudah ditanam, cepat dipanen, dan jarang diganggu hama. Sungguh jenis sayur yang tepat bagi pemula karena tingkat keberhasilannya yang tinggi mampu memacu keinginan menanam lagi setelah penanaman pertama. Dari kangkung, bayam, dan sawi, kami beranjak belajar menanam tanaman yang lain yang lebih menantang karena memiliki tingkat kesulitan yang lebih tinggi.
Kami mencoba menanam tanaman yang menghasilkan buah, seperti tomat, terong, pare belut, dan timun. Tidak semuanya mulus bisa panen dengan baik. Sekali belum berhasil, kami mencoba lagi. Tanaman buah lebih menantang dibandingkan tanaman sayur hijau karena tanaman yang berbuah membutuhkan asupan nutrisi yang lebih dan sinar matahari yang lebih banyak.
Selain tanaman buah, kami juga mencoba menanam bunga dan tanaman herbal. Beberapa bunga dan herbal bisa tumbuh di balkon kami yang minim cahaya, tapi ada pula yang kesulitan menyesuaikan diri. Kami masih memelajari cara merawat pada situasi ekstrem di balkon kami.
Saya dan suami tak selalu satu kata dalam merawat tanaman. Awalnya, ia hanya ingin menanam hidroponik. Tapi, saya bersikukuh menambah tanaman dengan cara tanam konvensional. Saya ingin tanaman kebun lebih beragam. Keragaman tanaman sangat penting untuk ekosistem tanaman dan daya tahannya terhadap hama. Saya ingin sekali mengurangi penggunaan pestisida maupun jebakan hama dalam pengelolaan kebun.
Butuh waktu tidak sebentar untuk meyakinkan suami bahwa cara itu bisa mengurangi beban hama yang muncul di tanaman. Akhirnya, kami membagi peran kami. Perawatan hidroponik dilakukan oleh suami, sementara saya merawat tanaman dengan cara tanam konvensional. Terkadang, saat ia senggang, ia membantu juga mengaduk media tanam karena pekerjaan itu memang tidak mudah. Apalagi ruang balkon kami sempit untuk mengaduk media tanam dalam jumlah besar.
Berdaulat Pangan
Sejak menanam, kami mengurangi ketergantungan konsumsi rumah tangga kami terhadap pasokan pasar. Tanaman di rumah juga mulai beragam, dari tanaman annual, biennial, hingga parenial. Kami memilih sendiri apa yang ingin kami konsumsi. Kami berdaulat atas pangan kami. Dengan menanam sendiri, kami juga tahu segala macam bentuk perawatan tanaman yang menjamin kualitas pangan kami.
Manfaat tak kalah luar biasa dari menanam yaitu keuangan rumah tangga kami tidak terpengaruh dengan inflasi harga pangan. Kebutuhan sayur sudah terpenuhi dari kebun sendiri. Kebun pangan di rumah kami membuat kami memiliki ketangguhan pangan. Kebun kami banyak menyelamatkan keuangan rumah tangga ketika pandemi menghempaskan sebagian besar pendapatan keluarga kami.
Selain mendapatkan banyak manfaat dari menanam, kami banyak belajar tentang bumi ini. Krisis iklim yang sering dibicarakan lebih terasa dampaknya ketika berkebun dengan melihat respon tanaman menghadapi perubahan cuaca dan musim.
Situasi masa kini sudah banyak berubah dibandingkan beberapa puluh tahun lalu. Boyolali, kota kecil yang kami tinggali sekarang, dulu jauh lebih dingin. Pada masa lalu, hujan es berukuran kecil biasa terjadi. Kini, panasnya menyengat untuk ukuran kota di kaki gunung.
Cuaca panas jadi tantangan berat untuk tanaman karena mereka bisa dehidrasi pada siang hari yang terik. Pada cara tanam hidroponik, air jadi cepat panas. Jadi, tanaman tak hanya layu karena cuaca panas, tapi juga layu karena airnya menghangat-panas. Selada, misalnya, adalah tanaman yang bisa berubah cita rasanya apabila cuaca dan airnya terlampau panas.
Pelajaran itu menyadarkan kami bahwa hasil kebun yang berkualitas dan berkelanjutan mensyaratkan bumi yang sehat untuk ditinggali. Kedaulatan dan ketangguhan pangan tidak akan ada apabila lingkungan dan bumi kita rusak.