Akhir pekan ini Joli Jolan bakal ikut berpartisipasi di Urban Social Forum (USF) nih! Kami akan hadir di hari kedua USF yakni pada Minggu 10 Desember 2023 di Lokananta. Dalam forum perkotaan yang sudah memasuki tahun kesepuluh ini, Joli Jolan akan bergabung di dua agenda.
Pertama adalah diskusi santai bertajuk Petak Rembuk yang akan digelar pukul 16.00-16.30 WIB. Bersama Kolektif Agora, Joli Jolan akan berbagi pengalaman soal membangun gerakan warga bantu warga hingga tetap bertahan sampai sekarang.
Joli Jolan juga bakal berpartisipasi di Gerai Komunitas. Selama setengah hari, tepatnya pukul 10.00-17.00 WIB, kami akan “memindahkan” galeri kami ke halaman Lokananta. Kawan bisa mendapatkan pakaian hingga buku-buku keren secara gratis, barter, atau dengan berdonasi.
Kami juga akan membawa merchandise eksklusif yakni kaus Joli Jolan dengan jumlah sangat terbatas. Kawan bisa mendapatkannya dengan berdonasi 100k. Seluruh donasi akan kami gunakan untuk membiayai gerakan ke depan.
Oh ya, Urban Social Forum digelar sejak Sabtu 9 Desember 2023 ya di SMPN 10 Surakarta. Banyak panel diskusi perkotaan menarik yang bisa kawan ikuti secara gratis. Yang penasaran bisa langsung cek Instagram @urbansocialforum atau website-nya di urbansocialforum.or.id. Sampai jumpa!
Kota lekat dengan momen-momen olahraga, tak terkecuali sepak bola. Pada sudut pandang tertentu, momen sepakbola dapat menggambarkan berbagai aspek perkotaan, khususnya transportasi. Ada dua sudut pandang yang dapat digunakan untuk membaca kaitan antara kota dan sepak bola. Orhan Pamuk, salah satu sastrawan besar Turki, memberikan penjabaran yang menarik dari dua sudut pandang tersebut melalui esainya yang berjudul Kebakaran dan Reruntuhan.
Sudut pandang pertama adalah mata turis yang melihat sebuah bangunan, monumen, jalan, atau segala hal terkait dengan infrastruktur. Sementara, sudut pandang kedua adalah mata orang dalam, yang merekam segala momen, mulai dari yang kecil hingga yang besar dengan berbekal ingatan.
Dinamika sepak bola di Kota Solo juga bisa dibaca lewat cara demikian. Sejauh ini, Kota Solo memiliki sejarah sepakbola yang cukup panjang, terutama yang berkaitan dengan eksistensi klub Persis Solo. Klub Persis Solo sudah berdiri sejak tahun 1923 di masa kolonial. Usai melewati berbagai fase perjalanan, kini Persis Solo berkompetisi di kasta teratas liga sepak bola Indonesia.
Perjalanan panjang Persis Solo ini membuat massa sepak bola Solo memiliki banyak momen. Acapkali momen itu terjadi di stadion maupun di jalan. Salah satu momen di jalan terjadi dalam perayaan ulang tahun ke-100 Persis Solo, Rabu (8/11) malam. Saat itu massa tumpah ruah memenuhi Jalan Slamet Riyadi. Setelah acara berakhir, konvoi motor terjadi.
“Suporter mulai berdatangan dari pukul 22.00 WIB dan semakin malam semakin ramai. Jalan Slamet Riyadi pun macet total karena banyaknya suporter yang datang,” demikian yang tertulis dalam berita Detik.com.
Keterkaitan antara momen sepak bola dan massa bermotor itu juga bukannya tanpa alasan. Sebab, sejak lama massa sepakbola di Kota Solo memang identik dengan rombongan bermotor. Misalnya saja untuk menuju Stadion Manahan kandang Persis Solo, transportasi pribadi seperti motor masih jadi andalan utama. Bahkan keberangkatan mereka beramai-ramai terbagi dalam sekian kelompok.
Massa bermotor itu juga tercermin dari fasilitas publik terdekat atau gang sekitar stadion yang menjadi tempat parkir dadakan saat ada pertandingan sepak bola. Terlebih lagi, tampak massa bermotor tidak hanya berasal dari Kota Solo. Banyak yang datang dari kota-kota di sekitar Solo seperti Klaten, Sragen, Sukoharjo, dan Boyolali.
Barangkali kultur bermotor massa sepak bola Tanah Air tidak hanya terjadi di Kota Solo saja, tetapi umum terjadi di kota-kota lainnya. Biasanya antara kota, momen, dan ruang publik masih ditandai dengan kehadiran kendaraan bermotor yang memadati jalan, belum transportasi umum.
Menengok Kultur Nonton Bola di Belanda
Hal berbeda terjadi di luar negeri, yakni Belanda. Wartawan olahraga senior, Sumohadi Marsis pernah menceritakan bagaimana ia mengalami momen sepak bola di negeri kincir angin melalui transportasi umum. Catatan itu terdokumentasi pada 1987 dengan judul Dari Rotterdam ke Kardono. Tulisan tersebut terkompilasi pada buku berjudul Catatan Ringan. Di tulisannya, Sumohadi memantau peristiwa sepak bola di Belanda melalui sudut pandang turis. Sebagai turis tentu ia terfokus pada fasilitas publik maupun bangunan-bangunan di sana.
Sumber: Pixabay.com
Pertama-tama ia menulis kesan kunjungannya terhadap kota yang ia tuju, Rotterdam. Baginya mungkin terasa aneh menyadari sebuah fakta bahwa Rotterdam berarti sepi, kurang menarik, tak punya pesona. Ia pun mulai mencatat tentang fasilitas publik yang ada di sana, salah satunya seperti stasiun kota. Ia juga mengungkapkan rencananya melihat pertandingan sepakbola dengan memanfaatkan konektivitas stasiun kereta api antarkota di Belanda.
“Dengan tubuh menggigil kedinginan, pagi-pagi saya sudah berada di stasiun kereta api-Amsterdam. Tujuan Tunggal: Rotterdam. Maksud menyaksikan pertandingan Sparta vs Groningen,” kata dia.
Tulisan itu mengesankan jarak antarkota tak merintangi alasannya melihat laga sepakbola. Sebab, hal itu bisa ditempuh secara fleksibel melalui fasilitas publik seperti kereta api. Namun sesampainya di lokasi, ia merasa kecewa. Ia urung melihat pertandingan karena pembatalan dengan dalih stadion diselimuti salju. Kendati begitu, ia masih sempat mengutarakan kekagumannya terhadap stasiun di Belanda sembari membandingkannya dengan stasiun di Indonesia.
“Stasiun Rotterdam, yang tentu saja lebih besar dan mewah dibanding stasiun Sudimara (Tangerang), ternyata sepi-sepi saja,” kata Sumohadi.
Tak berhenti sampai di situ, Sumohadi kembali menceritakan pengalamannya menggunakan transportasi umum demi melihat pertandingan sepakbola. Namun bukan lagi kereta api, ia memilih memakai trem dalam kota Amsterdam.
“Lanjutan cerita berikut ini bisa lebih menjelaskan. Tak lama setelah tiba kembali di Amsterdam, saya berangkat lagi. Kali ini naik trem, karena tujuan perjalanan hanya di dalam kota. Yakni ke kandang Ajax, menyaksikan pertandingan klub kenamaan itu melawan Den Bosch,” ujarnya.
Sekian amatan Sumohadi Marsis dalam catatan itu memperlihatkan konektivitas antarkota, bahkan antarfasilitas publik. Ada kereta api, ada trem. Mungkin juga terdapat bis, kendati belum tertulis dalam catatan itu. Dengan konektivitas itu, mobilitas warga untuk menyaksikan laga sepak bola jadi kian mudah. Maka di kalangan suporter Eropa muncul kultur berjalan kaki yang disebut corteo. Mereka inilah yang datang ke stadion memanfaatkan moda transportasi umum dan disambung berjalan kaki.
Konektivitas publik jadi krusial. Melalui itu sepak bola menjadi cerminan kota seutuhnya, bukan hanya direpresentasikan oleh pendukungnya saja. Kota dan sepak bola pun melebur dan menyatu, mulai dari fasilitas hingga mentalitas.
Air merupakan unsur dasar dalam kehidupan manusia di Bumi. Oleh karena itu, penting bagi manusia untuk selalu menghargai peran air dalam menjaga eksistensi dan kesejahteraan manusia, flora, dan fauna. Akan tetapi badai El Nino yang terjadi pada tahun 2023 telah menjadi faktor pemicu periode panas yang berkepanjangan. Salah satu dampak yang paling mencolok dari badai El Nino adalah periode kekeringan yang panjang dan parah. Curah hujan di berbagai tempat di Indonesia juga berkurang sehingga pasokan air bagi masyarakat di wilayah-wilayah tertentu menjadi bermasalah. Pada saat seperti ini, kebutuhan akan air untuk konsumsi manusia, pertanian, serta industri menjadi sangat mendesak. Ketersediaan air bersih menjadi kritikal ketika sumber-sumber air alami mengering.
Dalam upaya untuk memberikan bantuan dan dukungan kepada masyarakat yang membutuhkan, Perusahaan Otobus (PO) Mata Trans berkolaborasi dengan LAZISMU Kota Surakarta berupaya memberikan bantuan kepada masyarakat yang paling membutuhkan selama badai El Nino berlangsung. Pada hari Jum’at, 20 Oktober 2023, program Mata Trans Berbagi telah menyalurkan 11 tangki air bersih di Dusun Ngaliyan, Kawengen, Bakalan, Kembangsari Desa Mriyan Kecamatan Tamansari, Kabupaten Boyolali. Kolaborasi ini merupakan ikhtiar perusahaan dalam memperluas manfaat kepada masyarakat melalui Corporate Social Responsibility (CSR).
Aris Purwanto sebagai koordinator kegiatan menyatakan bahwa “Mata Trans adalah perusahaan yang bergerak dalam usaha Persewaan Armada Transportasi Pariwisata dan tersebar di Solo, Jogja, Jakarta serta Bali, kami selalu memegang teguh prinsip kesetaraan, kesimbangan serta keberlanjutan. Program CSR ini merupakan langkah kongkrit perusahaan dalam proses implementasi corporate value di tengah masyarakat”.
Acap terdengar istilah fast fashion yang identik dengan merek fesyen terkenal dari Jepang, Swedia, dan Spanyol yang digemari oleh anak-anak muda Indonesia masa kini. Gerai produk fast fashion pun dapat dengan mudah dijumpai di berbagai pusat perbelanjaan di kota-kota besar di Indonesia.
Fast fashion menurut pengamatan dan pengalaman Joli Jolan adalah fesyen yang diproduksi secara cepat dan dalam jumlah banyak mengikuti tren yang berlaku di suatu wilayah atau mengikuti kebutuhan berdasarkan musim. Fast fashion mendorong pelanggan memutuskan untuk membeli dengan cepat karena harganya yang terjangkau dan proses distribusinya yang cepat sehingga mudah diperoleh. Masa pakainya pun juga cepat (pendek) karena kualitas bahannya yang rendah sehingga mendorong pembeli untuk kembali membeli model lainnya atau sesuai musim.
Jumat, 22 September 2023, bertempat di SMAN 7 Surakarta, Joli Jolan diundang untuk menjadi salah satu narasumber dalam kegiatan YACT (Youth Agriculture) Goes to School yang diselenggarakan oleh IAAS LC UNS (International Association of Students in Agricultural and Related Sciences Universitas Sebelas Maret). Peserta YACT Goes to School ini adalah peserta didik yang mewakili kelas masing-masing.
Para peserta didik terlihat sangat antusias mendengarkan pemaparan tentang problematika fast fashion dari narasumber. Bahkan ada pertanyaan menarik dari salah satu peserta didik yang bisa jadi merupakan kegelisahan semua peserta, “Apakah penggunaan fast fashion harus ditentang?” Menurut Kak Septi yang mewakili Komunitas Joli Jolan sebagai narasumber, yang harus disikapi dalam penggunaan fesyen adalah apabila dalam proses produksinya mengakibatkan dampak buruk bagi lingkungan.
Lalu, bagaimana cara menyikapi fast fashion dari sisi masyarakat? Jawabannya adalah dengan membeli fesyen yang menggunakan bahan baku ramah lingkungan, seperti yang sedang dikenakan Kak Septi, yaitu eco-print. Bisa juga seperti yang dilakukan Kak Atikah salah satu relawan Joli Jolan yang memanfaatkan kembali kain batik tulis peninggalan ibu dengan cara upcycle, yakni mengubah bentuk dan manfaat dari selembar kain batik menjadi model dress. Atau bisa juga seperti yang dilakukan oleh Kak Lala dan Kak Damai, relawan Joli Jolan lainnya, dengan memperpanjang manfaat baju dari galeri Joli Jolan untuk dikenakan sesuai kebutuhan.
Upaya Joli Jolan dalam Menyikapi Fast Fashion
Berangkat dari kegelisahan para pendiri Joli Jolan atas konsumerisme yang terjadi di masyarakat, terutama di perkotaan, gerakan Joli Jolan menjawab pertanyaan dalam menyikapi fast fashion. Sebenarnya prinsip pengelolaan ruang solidaritas Joli Jolan seperti pengelolaan sampah, yaitu 3R (Reduce, Reuse and Recycle) atau dalam bahasa Jawa disebut 3 Ng, Ngelongi, Nggunakke, Ngolah. Dari ketiga prinsip tersebut, kegiatan utama lebih banyak pada Reuse atau Nggunakke. Dalam Komunitas Joli Jolan biasanya menggunakan istilah redistribusi kepemilikan barang.
Gerakan Joli Jolan bukanlah gerakan charity, hanya sekali berkegiatan pemberian barang kepada yang membutuhkan tanpa keberlanjutan. Sampai dengan saat ini anggota Joli Jolan terus bertambah dengan jumlah keanggotaan mencapai sekitar 2.000 orang. Joli Jolan sendiri adalah ruang pertemuan antara orang yang membutuhkan barang dengan orang yang sudah tidak membutuhkan barangnya lagi, sehingga barang yang ada dalam galeri Joli Jolan dapat diperpanjang masa manfaatnya. Memperpanjang masa manfaat atau meredistribusi kepemilikan berarti barang tidak lekas menjadi sampah karena kehilangan manfaatnya.
Semakin cepat perputaran barang di galeri Joli Jolan maka semakin berkelanjutan gerakan ini karena mencegah barang yang sudah tidak dimanfaatkan untuk tidak lekas masuk ke TPA (Tempat Pemrosesan Akhir). Barang-barang yang masuk ke galeri Joli Jolan seharusnya berakhir di tempat sampah oleh pemilik sebelumnya. Namun, Galeri Joli Jolan berupaya untuk memperlambat bahkan mengurangi beban bumi dalam mengurai sampah, seperti sampah fesyen yang sampai dengan saat ini belum bisa dikelola atau dimanfaatkan kembali dengan nilai ekonomis layaknya sampah plastik.
Oleh karena itu, sikap yang paling bijak dalam menghadapi fast fashion adalah mengelola barang pribadi secukupnya. Sebab, siklus fast fashion menurut Kak Septi terbagi dalam 3 tahapan, yaitu:
Saat proses produksi. Untuk mengejar skala ekonomi maka produksinya dibuat massal dengan menggunakan bahan-bahan kimia. Proses pascaproduksinya pun menyisakan air limbah yang tidak diolah terlebih dahulu sebelum dibuang ke sungai. Hal inilah yang dinamakan tidak berkelanjutan (unsustainable) karena merusak lingkungan dengan mencemari ekosistem sungai dan tanah.
Saat pemanfaatan produk. Pergantian musim, cara berpakaian para influencer atau public figure, tren fesyen, bahkan rasa ingin bernostalgia mendorong masyarakat untuk membeli produk fast fashion yang harganya terjangkau. Masa pemanfaatan fesyen ini pun biasanya sangat pendek, bisa sekali atau dua kali pakai. Bahkan apabila dipakai terus-menerus, dalam waktu 3 bulan fesyen ini pun sudah tidak lagi layak pakai. Masa pemanfaatan yang pendek ini akan mengakibatkan laju timbulan sampah yang semakin besar. Hal ini tidak berkelanjutan, karena pengelolaan sampah fesyen masih terkendala dalam proses recycle atau ngolah. Agar memiliki nilai ekonomis, diperlukan proses pengolahan kembali yang akan memakan waktu panjang agar layak jual, sehingga ada keengganan untuk mengolah. Hal ini tentunya tidak berkelanjutan jika dilihat dari sudut pandang sirkular ekonomi.
Pasca-pemanfaatan. Saat fesyen sudah tidak digunakan lagi maka tindakan yang biasanya dipilih masyarakat adalah dengan memberikannya kepada orang lain apabila masih layak atau membuangnya. Ternyata sampah fesyen banyak ditemukan di aliran sungai.
Sebenarnya tidak ada masalah dengan istilah fast fashion sepanjang proses produksi, pemanfaatan, hingga masa pasca-pemanfaatan tidak menimbulkan dampak buruk terhadap lingkungan dan tidak mengeksploitasi secara berlebihan terhadap pekerja yang terlibat dalam industri ini. Beberapa peserta didik menyatakan memiliki baju dengan merk internasional yang tergolong fast fashion karena menurut mereka bahannya adem, awet, nyaman dipakai, dan harganya yang terjangkau.
Referensi Crumbie, A. (2021) What is fast fashion and why is it a problem? | Ethical Consumer. Available at: https://www.ethicalconsumer.org/fashion-clothing/what-fast-fashion-why-it-problem (Accessed: 23 September 2023).
Ketika akan membahas tentang kriteria hunian yang layak, pasti pembahasan tersebut akan sangat panjang dan butuh pemikiran banyak pihak. Oleh karena itu, artikel ini akan lebih mengedepankan pembahasan tentang bagaimana lingkungan yang layak ditinjau dari aksesibilitas kelompok berisiko.
Mungkin kita sudah sangat sering mendengar kata-kata aksesibilitas dalam bermacam sektor di kehidupan bermasyarakat, terutama dalam pembangunan fasilitas umum. Namun, kata aksesibilitas sering diidentikkan dengan salah satu ragam dari kelompok berisiko yaitu penyandang disabilitas atau difabel. Dalam kebermanfaatannya, apakah fasilitas tersebut hanya dirasakan oleh difabel saja? Mari kita tafakur bersama.
Ketika kita berbicara lebih gamblang lagi tentang aksesibilitas, maka pengertian yang baku adalah kemampuan atau keadaan di mana suatu produk, layanan, fasilitas, atau lingkungan dapat diakses, digunakan, atau dimanfaatkan oleh semua orang. Semua orang yang saya maksud termasuk mereka yang memiliki keterbatasan fisik, sensorik, atau kognitif.
Konsep aksesibilitas bertujuan untuk memastikan tidak ada individu yang dikesampingkan atau dihalangi dalam mengakses informasi, tempat, atau layanan yang mereka butuhkan. Definisi singkat dan pemberian gambaran tentang lingkungan yang aksesibel untuk semua akan memberikan kita selentingan pertanyaan kecil semisal, apakah hanya kursi roda yang membutuhkan akses ram, apakah hanya lansia yang akan menggunakan alat bantu seperti kursi roda?
Pertanyaan selanjutnya adalah apakah kebermanfaatan aksesibilitas tersebut akan dimanfaatkan oleh pengguna yang berkepentingan saja? Ternyata tidak teman-teman. Apabila dalam satu kondisi kita dihadapkan dalam dua pilihan, antara melewati jalan berundak, dengan jalan yang landai, manakah lintasan yang akan kita pilih untuk berjalan? Pastinya lintasan yang nyaman dan terasa aman di kaki kita yang akan kita gunakan.
Aksesibilitas tersebut harusnya ada dalam semua lini kehidupan kita, termasuk lingkungan permukiman. Misalnya dimulai dari memberikan tanda seperti tulisan atau gambar sebagai tanda dan edukasi terhadap pengguna fasilitas lingkungan. Tanda tersebut bisa soal kesehatan maupun imbauan soal keamanan lingkungan. Dengan memanfaatkan momen tersebut, dalam hal sosial akan terjalin sosialisasi interaktif antarmasyarakat di lingkungan tempat tinggal.
Selanjutnya adalah tentang aksesibilitas sarana dan prasarana seperti jalan akses lingkungan, pemberian marka, dan penyediaan fasilitas sanitasi. Soal sanitasi tersebut di antarannya ketersediaan area cuci tangan, area air minum untuk masyarakat, dan pembuangan limbah rumah tangga.
Akses Informasi yang Ramah
Aksesibilitas mencakup berbagai aspek, seperti aksesibilitas fisik, aksesibilitas informasi, aksesibilitas komunikasi, dan aksesibilitas teknologi. Aksesibilitas fisik berfokus pada keberlanjutan dan kemudahan penggunaan bagi individu dengan keterbatasan fisik, seperti aksesibilitas bagi kursi roda, ramah lansia, atau jalur pejalan kaki yang aman.
Aksesibilitas informasi mencakup penyediaan informasi yang mudah dipahami dan diakses oleh individu dengan keterbatasan sensorik atau kognitif. Aksesibilitas komunikasi melibatkan penyediaan saluran komunikasi yang efektif untuk individu dengan keterbatasan pendengaran atau penglihatan.
Sementara aksesibilitas teknologi berfokus pada memastikan produk dan layanan teknologi dapat digunakan oleh semua orang, termasuk mereka dengan keterbatasan dalam penggunaan teknologi.
Aksesibilitas penting dalam membangun masyarakat inklusif dan menghormati hak asasi manusia. Dengan memastikan aksesibilitas yang baik, kita dapat menciptakan lingkungan yang setara dan adil bagi semua individu, tanpa memandang perbedaan mereka. Ini melibatkan perencanaan yang bijaksana, desain yang inklusif, dan kesadaran akan kebutuhan dan hak individu yang beragam.
Layak, kata tersebut merupakan impian dan dambaan bagi setiap orang yang menginginkan kesuksesan dalam kehidupannya. Konotasi layak, sering disandingkan dengan unsur kehidupan seperti penghasilan, pendidikan, dan terkhusus tempat tinggal yang layak.
Kali ini, guratan romantika digital, akan berusaha membuat kita tafakur, atau minimal membuat diri kita bimbang, tentang bagaimanakah pemukiman, atau tempat tinggal yang proposional ramah untuk semua.
Layak merupakan cita-cita bagi setiap orang tua kepada kehidupan anaknya, tetapi sudahkah kita mengenal betul tentang penjabaran dari kata layak itu? Atau masihkah kita membatasi kata layak itu dengan sesuatu yang mewah, glamor, bahkan moderen?
Yaps, sepertinya kita butuh merenung bersama tentang kata “layak”. Menurutmu, apa arti dari kata layak? Jika kita mencari kata “layak” dalam kamus besar bahasa Indonesia (KBBI), kata “layak”, berarti pantas, patut bahkan sampai kepada mulya. Penjabaran singkat tentang kata “layak” tersebut memberikan kita gambaran sehingga menjadi kebiasaan. Ketika kita mempunyai hunian, atau lingkungan, yang notabene cukup membuat diri kita nyaman, perasaan kita cenderung menganggap hal seperti itu sudah layak.
Berdasarkan Undang-undang No. 1 Tahun 2011 tentang Perumahan dan Permukiman, pengertian perumahan yang layak adalah kumpulan rumah sebagai bagian dari perumahan, baik perkotaan maupun perdesaan yang dilengkapi dengan prasarana, sarana, dan utilitas umum sebagai upaya pemerintah dalam memenuhi kriteria rumah layak huni. Rumah yang secara fisik berfungsi sebagai tempat tinggal yang layak huni, sarana pembinaan keluarga, cerminan harkat dan martabat penghuninya serta aset bagi pemiliknya.
Sedangkan perumahan adalah bagian dari lingkungan hunian yang terdiri atas lebih dari satu satuan perumahan yang mempunyai prasarana, sarana, utilitas umum serta mempunyai penunjang kegiatan fungsi lain di kawasan perkotaan atau kawasan pedesaan (Wijaya, 2015).
Ketahanan Keluarga
Pembangunan dan pengembangan kawasan lingkungan perumahan pada dasarnya memiliki dua fungsi yang saling berkaitan satu dengan yang lain. Pertama, fungsi pasif dalam artian penyediaan sarana dan prasarana fisik. Kemudian, fungsi aktif yakni penciptaan lingkungan yang sesuai dengan kehidupan penghuni.
Secara mental, memenuhi rasa kenyamanan dan secara sosial dapat menjaga privasi setiap anggota keluarga, menjadi media bagi pelaksanaan bimbingan serta pendidikan keluarga. Dengan terpenuhinya salah satu kebutuhan dasar berupa rumah yang layak huni, diharapkan tercapai ketahanan keluarga.
Pada kenyataannya, untuk mewujudkan rumah yang memenuhi persyaratan tersebut bukanlah hal yang mudah. Ketidakberdayaan mereka memenuhi kebutuhan rumah yang layak huni berbanding lurus dengan pendapatan dan pengetahuan tentang fungsi rumah itu sendiri. Pemberdayaan fakir miskin juga mencakup upaya Rehabilitasi Sosial Rumah Tidak Layak Huni (RSTLH).
Demikian juga persoalan sarana prasarana lingkungan yang kurang memadai dapat menghambat tercapainya kesejahteraan suatu komunitas. Lingkungan yang kumuh atau sarana prasarana lingkungan yang minim dapat menyebabkan masalah. Permasalahan rumah tidak layak huni yang dihuni atau dimiliki oleh kelompok fakir miskin memiliki multidimensional permasalahan.
Oleh sebab itu, kepedulian untuk menangani masalah tersebut diharapkan terus ditingkatkan dengan melibatkan seluruh komponen masyarakat (stakeholder) baik pemerintah pusat maupun daerah, dunia usaha, masyarakat, LSM, dan elemen lainnya.
Keterlibatan seluruh elemen pemerintah dan masyarakat tersebut diwujudkan dengan kontribusi nyata dalam mendesain permukiman yang layak untuk semua. Dimulai dari keruntutan pembuatan kebijakan seperti perizinan, maupun batas kepemilikan tanah dan peraturan baku sistem dalam masyarakat di permukiman. Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dan pemerhati hunian, dapat memberikan gambaran tentang kondisi yang menjadi tantangan dan peluang dalam permukiman.
Mereka yang paham harus memberikan rekomendasi dalam tata kelola lingkungan yang aman dari konflik dan penyakit, serta sistem deteksi dini. Jika dikaitkan dengan dunia usaha, permukiman merupakan salah satu lokasi sentra usaha masarakat yang bersifat mikro berkembang.
Dalam hal tata kelola permukiman yang layak, tentunya harus tersedia bimbingan dan arahan supaya sentra kerajinan mikro yang dikelola oleh masyarakat tidak menimbulkan permasalahan baru dalam lingkungan. Sentra kerajinan yang layak harus bisa menjadi sumber penghidupan mulai keamanan bahan baku yang digunakan, produk yang dihasilkan mempermudah akses perekonomian masyarakat sekitar, dan pengelolaan limbah yang aman.
Kabar bertumbangannya satu per satu toko buku besar di Indonesia memunculkan sejumlah asumsi terkait perkembangan literasi di Indonesia. Tuduhan bahwa minat literasi Indonesia rendah kembali dilontarkan, bersamaan dengan persaingan buku cetak dengan buku elektronik, dan juga pembajakan yang tak kunjung berhasil diatasi.
Pada saat kabar itu terdengar dan menjadi pembahasan panas di media sosial, patjarmerah, Pasar Buku dan Festival Kecil Literasi Keliling Nusantara justru mengumumkan mereka akan bergerak menuju Solo. Toko buku mereka pun buka di Pos Bloc Jakarta dan Fabriek Bloc Padang. Mengapa pada saat toko buku-toko buku besar banyak yang gulung tikar, patjarmerah justru tetap bisa berkeliling dan berkembang?
“Karena kami dirawat oleh semangat kolaborasi dan gotong royong literasi,” kata Windy Ariestanty, pendiri dan penggagas patjarmerah. Kesadaran bahwa buku harus dipercakapkan dan harus menciptakan ruang interaksi inklusif adalah salah satu alasan yang mendorong kelahiran patjarmerah. “Kami masih berpegang pada semangat itu. Itu juga masih menjadi DNA kami.” Kolaborasi dan gotong royong membuat apa-apa yang terasa tidak mungkin menjadi mungkin untuk diwujudkan. Membuat pasar buku dan festival secara berkeliling untuk mendekatkan akses literasi membutuhkan banyak pertaruhan. Beruntungnya, di setiap tempat kami selalu mendapati kawan-kawan yang punya semangat sama, di Solo salah satunya.
Literasi Pendorong Revitalisasi Tradisi
Solo memiliki rekam jejak yang panjang, tidak hanya dalam dunia pergerakan, tetapi juga literasi. Di mata Akhmad Ramdhon, dosen Universitas Sebelas Maret dan juga pegiat literasi Solo, jejak panjang literasi yang membentuk Solo adalah hasil perpaduan keberadaan tradisi Kasunanan dan Mangkunegaran. Kesadaran akan pentingnya kekuatan literasi ini juga turut membingkai perubahan dan modernisasi kota, salah satunya lewat pers lokal. Patahan kondisi masa lalu dan masa depan ini jugalah yang menjadi kerja-kerja strategis warga kota: pemerintah, pendidikan, dan komunitas.
“Rekam jejak patjarmerah di tiap titiknya menunjukkan mereka punya kemampuan merangkul para tiang sanggah dari ekosistem literasi, mempertemukan mereka dalam satu arena serta berkolaborasi,” kata Ramdhon. Keberadaan patjarmerah di Solo jadi terasa penting karena gerakan yang digawangi anak-anak muda ini bisa jadi pendorong, penggerak, juga pengingat bahwa sebuah tempat tanpa pondasi literasi akan kehilangan identitasnya. Revitalisasi tradisi selalu dimulai dari literasi.
Ini jugalah yang dilihat oleh Mufti Rahardjo, Sekretaris Dinas Arsip dan Perpustakaan Daerah (Dispersipda) Solo. Dinas Arsip dan Perpustakaan Daerah Solo, sehingga mendukung patjarmerah Solo. Sebagai salah satu kebutuhan dasar yang kodrati, kata Mufti, literasi membuat kita mendapatkan bagian dari pemenuhan jawaban kognitif (cipta), afektif (rasa), dan psikomotoris (karsa). Bagi Mufti kehadiran patjarmerah dengan segala portofolio dan beragam aktivitasnya memberi ruang yang segar bagi masyarakat Solo dan sekitarnya.
“Seharusnyalah literasi menjadi denyut dari setiap tempat,” katanya. “Dan itu harus diupayakan bersama-sama, beramai-ramai, bergotong royong.”
Selain keterlibatan Dinas Arsip dan Perpustakaan Daerah (Dispersipda) Solo dan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Solo, sejumlah penulis, penerbit, pegiat literasi, pekerja kreatif berbagai bidang, dan komunitas-komunitas kreatif di Solo juga turut terlibat. Mereka berkolaborasi dengan penulis, pegiat literasi, pekerja kreatif berbagai bidang, dan komunitas dari luar Solo. Ada satu juta buku terbitan lebih dari 100 penerbit di Indonesia, juga lebih dari 100 pembicara pilihan mengisi festival literasi patjarmerah di Solo.
“Selain ada Ratih Kumala, Joko Pinurbo, Reda Gaudiamo, Yusi Avianto Pareanom, Ivan Lanin, Martin Suryajaya, Felix K. Nessi, para penulis dan kawan-kawan Solo dari berbagai bidang kreatif pun hadir,” kata Ringgana Wandy Wiguna, salah satu relawan patjarmerah Solo yang bertugas di Divisi Komunikasi. Ia menyebut nama Indah Darmastuti, Yudhi Herwibowo, Panji Sukma, Jungkat-Jungkit, Fanny Chotimah, dan lain-lain. Informasi lengkap terkait acara festival ini bisa dilihat di patjarmerah.com/solo.
patjarmerah Solo akan diadakan pada 1-9 Juli 2023 di Ndalem Djojokoesoeman, Gajahan, Pasar Kliwon, Solo. Bangunan ini adalah salah satu cagar budaya yang penting bagi Solo karena merupakan bagian dari sejarah perkembangan Kota Surakarta sebagai Kota Kerajaan Masa Mataram Islam.
Air bersih bukanlah komoditas melainkan common goods (barang bersama) yang bisa diakses dan terdistribusikan ke semua kalangan. Namun seringkali dalam praktiknya, hanya beberapa kelompok tertentu yang memiliki akses terhadap air dan sanitasi yang bersih. Masih terdapat beberapa komunitas masyarakat lain yang hidup di tengah kekeringan air dan kualitas air yang tidak aman untuk dikonsumsi.
Keadaan ini tergambarkan dari perjalanan saya pada tanggal 25 Juni 2023, saat mengikuti agenda susur kampung di bantaran anak sungai Bengawan Solo di kota Surakarta. Kegiatan ini diselenggarakan oleh kolaborasi @joli_jolan dengan @airsanitasi.
Poin penting yang saya catat dari penelusuran tersebut adalah masih adanya ketimpangan akses terhadap air di lokasi tersebut. Walaupun masyarakat memiliki sumber air dari air tanah, tetapi kualitas airnya terindikasi tercemar. Hal ini lantaran lokasi sumur berdekatan dengan anak sungai Bengawan Solo yang dicemari oleh limbah domestik dan industri.
Keadaan ini diperparah dengan sistem sanitasi masyarakat yang langsung dialirkan ke sungai. Saya menyaksikan sendiri bagaimana sungai tersebut berubah warna menjadi cokelat akibat limbah-limbah yang ada. Bahkan sebagian masyarakat yang memiliki uang lebih lebih memilih membeli air gallon untuk digunakan memasak dibandingkan mengambil dari air sumur tersebut.
Masalah ini berimplikasi pada kualitas kesehatan masyarakat di daerah tersebut. Saya mendengar cerita dari pak RT setempat bahwa terdapat beberapa anak yang mengalami stunting. Beberapa penelitian membuktikan bahwa air dan sanitasi yang tidak aman menjadi salah satu pemicu terjadinya stunting.
Air Adalah Hak Dasar Manusi
Air adalah hak dasar manusia yang wajib terpenuhi, sehingga hak asasi manusia tidak akan tercapai tanpa hak atas akses air yang bersih. Pada tahun 2002, definisi hak atas air telah dinyatakan secara jelas dalam General Comment No. 15 PBB tentang hak atas air oleh Committee on Economic, Social and Cultural Rights (CESCR).
“Hak asasi manusia atas air memberikan hak kepada setiap orang atas air yang cukup, aman, dapat diakses secara fisik, dan terjangkau untuk penggunaan pribadi dan rumah tangga. Air bersih dalam jumlah yang memadai diperlukan untuk mencegah kematian akibat dehidrasi, mengurangi risiko penyakit yang berhubungan dengan air dan menyediakan kebutuhan konsumsi, memasak, kebersihan pribadi, dan rumah tangga” (Komentar Umum PBB (PBB) No. 15)”.
Saya percaya bahwa pemenuhan hak masyarakat atas air ini membutuhkan kolaborasi besar antarstakeholders untuk saling bahu-membahu menyelesaikan permasalahan yang kompleks tersebut, mulai dari proses sosialisasi, advokasi, implementasi hingga operasionalnya nanti. Diharapkan upaya ini mampu menjaga ketersediaan, kelestarian, dan akses air bersih hingga ke depan.
Air adalah hal yang krusial dalam kehidupan manusia. Air menjadi sumber kehidupan dan kebutuhan dasar bagi kehidupan. Kebutuhan dasar tersebut harus dipenuhi dengan sistem penyediaan air minum yang berkualitas dan sehat serta terintegrasi kepada sektor sanitasi. Apabila kebutuhan ini terpenuhi maka manusia dapat hidup sehat dan produktif.
Minggu, tanggal 25 Mei 2023 Ruang Solidaritas Joli Jolan bersama USAID IUWASH Tangguh mengadakan kegiatan susur kampung dan workshop menulis dengan tema “Mengenal akses air minum dan sanitasi warga surakarta”. Kegiatan susur kampung ini dilaksanakan di kampung Gilingan, Banjarsari, sebuah area perkampungan padat penduduk yang berada di bantaran kali Anyar, anak sungai Bengawan Solo.
Menurut informasi yang kami terima dari pemaparan ketua RT dan warga setempat, ternyata kebutuhan air bersih yang layak masih sangat dibutuhkan di kawasan tersebut. Dari sekitar 90 rumah untuk 1 kawasan RT, hanya terdapat 7 rumah yang memiliki sumur dan 2 titik fasilitas MCK umum/bersama. Dari 7 rumah tersebut, tidak semua kebutuhan air minum warga diambil dari air sumur karena kualitas air terindikasi tercemar. Bau air yang kadang tidak sedap dan rasa air yang tidak layak minum menjadi alasan yang kuat untuk tidak mengonsumsi air tersebut. Akhirnya warga pun memilih untuk membeli air isi ulang untuk memenuhi kebutuhan minum warga.
Kualitas air yang kurang baik di kawasan kampung tersebut berbanding lurus dengan kondisi kesehatan warga, baik dewasa maupun anak-anak. Salah satu yang cukup kentara adalah beberapa kasus stunting di kampung Gilingan. Hal ini tentunya menjadi masalah yang cukup serius, mengingat kawasan ini berada di lingkungan kota Surakarta yang secara administratif memiliki akses kesehatan yang memadai.
Warga sangat berharap adanya akses air dan sanitasi layak yang merata bagi seluruh warga. Apalagi lokasi tersebut tidak jauh dari pusat kota Surakarta. Akan sangat miris apabila masih menemukan ketimpangan-ketimpangan kebutuhan dasar seperti itu.
Bisa jadi hal ini bukan sepenuhnya tanggung jawab pemerintah kota setempat, melainkan menjadi tugas kita bersama sebagai manusia. Minimal dengan terus-menerus memberikan kesadaran tentang pentingnya kebutuhan dan akses air serta sanitasi yang layak. Menyadari bahwa masih ada wilayah-wilayah yang “belum” terlihat oleh para pemangku kepentingan.
Salah satu Tujuan Pembangunan Berkelanjutan adalah ketersediaan akses untuk air minum bersih dan sanitasi yang aman. Namun, bagaimana jadinya bila ada perkampungan di salah sudut kota Solo yang berdekatan dengan Kawasan wisata baru Masjid Al Zayed yang ternyata tidak memiliki jamban untuk mandi, cuci, dan kakus (MCK)? Cukup miris tentunya.
Pemandangan pemukiman yang berjejal, rumah-rumah yang berderetan di gang sempit, satu rumah yang dihuni lebih dari 3 kepala keluarga merupakan fenomena yang jamak kita lihat saat berada di kelurahan Gilingan. Pak Andri Prasetyo selaku ketua RT 04 RW 15 kelurahan Gilingan, Kecamatan Banjarsari, Kota Surakarta, menuturkan bahwa kebanyakan warga di tempat tinggalnya tidak memiliki sanitasi yang layak. Tercatat hanya ada 7 rumah dari sekitar 60 rumah yang memiliki septic tank. Bu Jamal, salah satu warga yang memiliki septic tank di rumahnya, mengaku bahwa dari awal sejak memiliki rumah tersebut hingga sekarang sudah 23 tahun belum pernah sekalipun melakukan sedot WC. Padahal sedot WC sebaiknya wajib dilakukan setiap 2 sampai 3 tahun sekali.
Kelurahan Gilingan berada di tepi Kali Pepe. Kali Pepe berada di tengah kota Surakarta yang membentang dari Gilingan-Bendung Karet Tirtonadi- Balapan-Pasar Legi-Pasar Gedhe dan berakhir di Demangan. Di Kali Pepe terdapat tujuh sampai sembilan segmen yang bisa dijadikan tempat pengolahan sumber air bagi warga. Namun, apakah akses sanitasi dan air minum yang mereka gunakan sudah termasuk aman?
Pada hari minggu tanggal 25 Juni 2023 yang lalu, saya dan rombongan peserta yang terdiri dari komunitas, pembuat konten, dan jurnalis mengikuti susur kampung dan workshop menulis yang diadakan oleh USAID IUWASH Tangguh dan Joli Jolan. Dalam kegiatan ini, saya berkesempatan untuk melihat lebih dekat kondisi riil tentang pengelolaan sumber daya air, air minum sanitasi, dan perilaku hygiene masyarakat kelurahan Gilingan.
Menurut penuturan Pak Andri, banyak warganya yang menggunakan 2 sumber air. Air dari sumur digunakan untuk mandi dan mencuci, sedangkan kebutuhan minum dan memasak didapat dengan membeli air isi ulang. Tentu setiap bulan pengeluaran untuk kebutuhan tersebut mencapai ratusan ribu rupiah, tergantung kebutuhan rumah tangganya. Padahal kebanyakan penghasilan mereka tidak seberapa besar, tetapi mereka tetap harus membeli air karena air merupakan kebutuhan vital.
Salah satu rumah warga yang dihuni 6 kepala keluarga dalam satu rumah.
Risiko Stunting Akibat Sanitasi Buruk
Salah satu dampak yang terjadi akibat sanitasi buruk adalah stunting. Sebanyak 1.103 keluarga atau lebih dari 50% dari total 2.085 keluarga di Kelurahan Gilingan, Banjarsari, Solo, berisiko stunting. Stunting adalah kondisi gagal tumbuh akibat kekurangan gizi pada 1.000 hari pertama kehidupan anak yang bisa mempengaruhi kondisinya saat dewasa nanti (Sumber: https://soloraya.solopos.com/waduh-50-keluarga-di-gilingan-solo-berisiko-stunting-kenapa-ya-1326800)
Penyebab stunting antara lain kurangnya pengetahuan si ibu mengenai gizi sebelum hamil, saat hamil, dan setelah melahirkan. Hal ini semakin diperburuk dengan terbatasnya akses pelayanan kesehatan termasuk layanan kehamilan, kurangnya akses air bersih dan sanitasi, serta masih kurangnya akses makanan bergizi karena tergolong mahal.
Puskesmas Gilingan pernah melakukan penelitian terhadap air sumur yang berada di kawasan ini, hasilnya ada yang layak untuk digunakan dan ada yang tidak layak. Padahal sumber air yang diteliti jaraknya berdekatan. Berdasarkan penelitian pada tahun 2016 jumlah penduduk Kota Surakarta sebanyak 514,171 jiwa dan prediksi jumlah penduduk pada tahun 2022 sebanyak 524,483 jiwa, serta prediksi kebutuhan air pada tahun 2016 sebesar 1,163,428 liter per detik dan pada tahun 2022 sebesar 1.186,763 liter per detik.
Pemerintah Kota Surakarta membutuhkan pasokan air dalam jumlah yang besar untuk memenuhi kebutuhan air minum penduduk yang kian bertambah. Penurunan kuantitas air baku menjadi salah satu isu yang dihadapi Perumda Air Minum dalam meningkatkan produksinya. Selain itu, sumber air baku yang digunakan berpotensi terkontaminasi akibat praktik pembuangan air limbah yang tidak aman.
Untuk memperoleh air bersih, kita juga harus memperhatikan sanitasi yang layak. Air bersih dan sanitasi yang layak dapat mencegah terjadinya infeksi berulang, mencegah diare, mencegah penyakit yang disebabkan oleh racun tinja serta dapat mencegah kekurangan nutrisi dan stunting. Perlu kerjasama dengan berbagai pihak untuk terus melakukan perilaku penggunaan air bersih dan sanitasi yang layak.
Upaya tersebut dapat dilakukan dengan mensosialisasikan kepada masyarakat agar membuang air besar dan kecil di toilet/WC, mencuci tangan dengan sabun, pengelolaan air minum dan makanan rumah tangga, pengelolaan sampah (limbah padat) rumah tangga dan pengelolaan limbah cair rumah tangga (membangun IPAL Komunal). Penyediaan dan pengelolaan air bersih di rumah tangga dapat dilakukan dengan selalu mengolah air sebelum dikonsumsi. Setelah itu, air minum yang telah diolah kemudian disimpan di dalam wadah yang tertutup serta dibersihkan secara rutin.