Tak terasa sebentar lagi kita bertemu dengan bulan Ramadan. Bagi umat Islam, bulan itu menjadi momen yang sangat ditunggu karena berlimpah kebaikan. Ramadan tahun ini pun seperti penantian untuk bisa beribadah lebih leluasa menyusul pandemi Covid-19 yang melanda sejak tahun 2020.
Biasanya sebagian umat membeli perlengkapan ibadah baru seperti sarung, sajadah atau mukena untuk menyambut Ramadan. Padahal, peralatan ibadah yang dimiliki sebelumnya masih bagus dan layak pakai. Hal ini tentu memicu kemubaziran yang justru ditentang dalam ajaran agama. Solusinya bagaimana? Salah satunya adalah solidaritas berbagi.
Menjelang bulan puasa tahun ini, kami membikin program Joli Jolan Sambut Ramadan untuk mewadahi kawan-kawan yang ingin menyumbangkan perlengkapan ibadahnya sebagai berikut: mukena, sarung, baju koko, sajadah, peci, tasbih, perlengkapan ibadah lain (kecuali jilbab). Periode pengumpulan mulai dari tanggal 8 Maret 2022 hingga tanggal 19 Maret 2022.
🏡Drop Box:
Ruang Solidaritas Joli Jolan, Jalan Siwalan No.1 Kerten Laweyan Solo. CP Damai (088232117938), Novia (085290340291).
Jalan Ahmad Yani No.294 Gondang Banjarsari Solo. CP Pondra (089622763978).
Rumah Cak Sarif, Jalan Langenharjo Grogol Sukoharjo (samping Alfamart Langenharjo). CP Khoirus (081937385878).
Rumah Anton Wijaya, Perum Gading Permai, Jalan Raya Gading Permai 2 Blok AT 04 Grogol Sukoharjo. CP Santi (087733691119).
Seluruh perlengkapan ibadah yang didonasikan wajib masih bagus/layak pakai ya, syukur-syukur perlengkapan baru. Untuk piranti seken, disarankan dilaundry terlebih dulu untuk menjaga kebersihannya.
Dengan konsep berbagi atau barter, kita bisa memeroleh barang yang diinginkan tanpa harus mengeluarkan biaya. Kita juga bisa membantu kalangan yang belum beruntung untuk mendapatkan perlengkapan ibadah terbaik. Yuk, ikut berbagi!
Warga beraktivitas di sebuah bank pangan di Glasgow, Skotlandia.
SOLO—Kota Solo telah dideklarasikan sebagai Kota Cerdas Pangan sejak akhir 2020. Predikat tersebut mendorong Kota Bengawan membenahi sistem produksi, distribusi, dan konsumsi yang adil serta menjamin hak warga atas pangan. Salah satu gagasan pemerataan distribusi makanan salah satunya adalah penyediaan food bank (bank pangan) di penjuru Kota Solo.
Bank pangan adalah wadah penyaluran kelebihan makanan dari warga maupun pelaku usaha kuliner untuk didistribusikan kembali pada warga yang membutuhkan. Aktivis bank pangan juga mengumpulkan makanan berlebih dari restoran, katering, hotel, hingga acara pernikahan, dan donasi individu untuk disalurkan, tentunya dengan sejumlah uji kelayakan.
Sejauh ini inisiatif tersebut sudah muncul dari beberapa komunitas maupun individu. Namun upaya itu masih sebatas mencakup tataran RT, RW, atau kampung. Perlu sinergi dari pemerintah maupun kalangan usaha untuk mewujudkan bank pangan yang berkelanjutan. Yayasan Gita Pertiwi menjadi salah satu elemen yang konsisten mendorong terwujudnya bank pangan di Kota Bengawan. Sejauh ini Gita Pertiwi telah mendirikan bank pangan yang dinamai Etalase Berbagi di sejumlah lokasi di Soloraya, bekerjasama dengan Rikolto dan Carefood.
Bank Pangan Gita Pertiwi. Warga mengambil makanan gratis di bank pangan yang disediakan Gita Pertiwi, Rikolto dan Carefood di Kota Solo beberapa waktu lalu.
Direktur Program Gita Pertiwi, Titik Eka Sasanti, mengatakan bank pangan menjadi solusi alternatif untuk mengatasi problem kelebihan dan kekurangan makanan di masyarakat. Solo dinilai punya potensi besar untuk menginisiasi bank pangan karena memiliki banyak usaha kuliner yang beragam. Menurut Titik, toko atau restoran biasanya memiliki makanan layak konsumsi tapi tidak lolos uji untuk dijual atau makanan yang mendekati kedaluwarsa. “Daripada dibuang, makanan itu bisa didistribusikan ke food bank,” ujar Titik dalam diskusi Refleksi 30 Tahun Gita Pertiwi, Satu Tahun Surakarta Cerdas Pangan di Sala View belum lama ini.
Gerakan Global
Bank pangan adalah gerakan global. Inisiatif tersebut berawal di Amerika Serikat medio tahun 1967. Saat itu lahir St. Mary’s Food Bank yang beroperasi di Phoenix, Arizona. Di Negeri Paman Sam, bank pangan biasa berbagi makanan gratis menjelang liburan Thanksgiving. Makanan merupakan hasil donasi toko serba ada maupun masyarakat. Lambat laun gerakan pemerataan pangan itu tumbuh di banyak negara, termasuk Indonesia. Tahun 2015, Indonesia memiliki Foodbank of Indonesia (FoI) yang mencakup 39 daerah di Jawa dan luar Jawa. Selain FoI, ada food bank yang telah berkembang besar bernama Garda Pangan. Hingga Januari 2022, bank pangan yang beralamat di Surabaya itu telah menyalurkan 347.290 porsi makanan untuk 136.068 penerima manfaat, dilansir gardapangan.org.
Di Solo, Gita Pertiwi menyebut cukup banyak pelaku usaha yang telah memiliki kesadaran untuk berbagi makanan. Ada sebuah toko roti yang sanggup menyediakan 150 roti per hari untuk dibagi gratis ke masyarakat. Beberapa usaha hotel dan katering juga mulai mengelola makanan sisa kegiatan yang masih layak untuk dibagikan. “Sebenarnya banyak perusahaan atau donatur yang mau membantu. Namun kami punya keterbatasan sumber daya,” imbuh Titik. Gita Pertiwi terus mendorong Pemkot untuk turut membantu mewujudkan bank pangan di wilayah kota. Menurut Titik, Pemkot memiliki akses dan kewenangan lebih untuk mengenalkan model bank pangan di masyarakat. “Keberadaan food bank juga mendukung Solo Kota Cerdas Pangan karena mengurangi food waste [limbah makanan],” kata dia.
Ribuan bank pangan di penjuru dunia tidak menggunakan model serupa dalam gerakannya. Sejumlah model food bank yang populer adalah model “garis depan” dan “gudang”. Bank pangan dengan model garis depan menyalurkan langsung makanan mereka ke orang-orang yang membutuhkan. Sementara bank makanan dengan model gudang menyuplai makanan melalui perantara, seperti komunitas maupun organisasi nirlaba. Model lain yang cukup populer adalah model amal dan serikat pekerja. Bank makanan dengan model amal menyumbangkan makanan dengan maksud menyelamatkan makanan sisa agar tidak menjadi limbah. Sementara itu, bank pangan serikat pekerja turut memberikan edukasi seputar hak asasi manusia dan pekerjaan.
Ruang Solidaritas Joli Jolan menjadi komunitas yang memiliki bank pangan model garis depan. Mereka mengelola donasi makanan maupun sembako untuk disalurkan langsung di halaman Joli Jolan setiap hari Sabtu. Kadang bank pangan Joli Jolan (Food not Bombs) juga mendistribusikan makanan di hari lain, tergantung kiriman donasi dari masyarakat. Saat awal pandemi tahun 2020 lalu, bank pangan Joli Jolan intens menyalurkan makanan siap santap dan sembako bagi warga terdampak. Mereka menamai gerakan itu Lumbung Pangan. Sebuah ruang kosong di kompleks Joli Jolan saat itu disulap menjadi etalase sembako dan dapur umum yang mengepul setiap hari.
Joli Jolan. Bank pangan di Ruang Solidaritas Joli Jolan membagikan paket nasi, mie instan, sayur, hingga buah-buahan gratis belum lama ini.
Vice President Programs at The Global FoodBanking Network, Douglas L. O’Brien, mengatakan pandemi Covid-19 membuka fakta betapa rapuhnya sistem ketahanan pangan di dunia. Douglas menyebut bahan makanan yang tersedia sebenarnya cukup. Namun problem distribusi dan pemerataan pangan tetap saja muncul. Bank pangan pun menjadi krusial di saat jutaan orang kesulitan mengakses bantuan. “Di Indonesia dan seluruh dunia, kami berkomitmen menjaga gudang food bank terjaga, truk tetap berjalan, dan makanan bernutrisi tersedia untuk populasi paling terdampak di dunia,” ujar Douglas dalam Webinar “Foodcycle World Food Day”, 9 Oktober 2020.
Akhir pekan lalu Joli Jolan diajak main ke Hoz, rumah salah satu sukarelawan kami yang juga sineas muda, Zen Al Ansory. Sebuah undangan yang istimewa dan menyenangkan. Kami berkesempatan mengeksplor Hoz yang dibangun dengan pendekatan arsitektur lingkungan yang kental. Sumur lawas dan pohon-pohon besar masih dipertahankan usai pembangunan. Rumah berkonsep industrial itu pun punya banyak bukaan sehingga mengurangi penggunaan energi.
Yang tak kalah istimewa pagi itu adalah pertemuan kami dengan Subo Family. Subo Family adalah keluarga yang punya listeningbar di kawasan Cipete, Jakarta Selatan. Pengunjung yang telah reservasi dapat menikmati koleksi piringan hitam plus sajian makanan di basement rumah mereka. Hari itu, mereka menginap di Hoz di sela ekspedisi Jeda Wastra yang mereka jalani sejak awal Januari.
Namun Subo ternyata tak hanya tentang seni dan gastronomi. Keluarga yang terdiri dari Aria Anggadwipa (ayah), Intan Anggita Pratiwie (ibu) dan Irama Lautan Teduh (anak) ini juga pecinta lingkungan. Intan bersama musisi Andien mendirikan Setali Indonesia, yayasan yang bergerak di bidang fesyen berkelanjutan.
Perbincangan pun mengalir ke pengelolaan limbah fesyen yang belakangan banyak jadi perhatian. Kami belajar bagaimana mereka mampu meningkatkan nilai sampah fesyen lewat upcycle. Intan bersama Setali banyak menciptakan barang dengan bahan kain bekas seperti tas, celemek, atasan, vest, dan lain sebagainya. Untuk mengelola komunitas agar berkelanjutan, mereka menerapkan tarif sekian rupiah bagi mereka yang berdonasi pakaian. Mereka menghitungnya dengan satuan kilogram.
Sudah donasi tapi masih diminta membayar pula, apa banyak yang mau? Pikir kami saat itu. Intan dan Aria kompak menyatakan bahwa pengelolaan sampah itu tak mudah. Butuh waktu, tenaga, dan biaya yang tak sedikit. Kami pun merenung sejenak. Selama ini Joli Jolan serba swadaya untuk menyortir, me-laundry, hingga membersihkan gudang penyimpanan. Kami pun masih mengirim pakaian tak layak ke Sukoharjo untuk dikelola menjadi bahan bantal. Meski lokasinya cukup jauh, hal itu kami lakukan agar pakaian tak menjadi beban bumi jika dibuang ke tempat sampah. Ya, kami masih sering menerima donasi pakaian tak layak pakai dari pengunjung. “Soal biaya pengelolaan sampah fesyen itu sebenarnya tinggal edukasi. Banyak kok sekarang yang sudah sadar dan ikut membantu gerakan kami,” ujar Aria.
Hari beranjak siang. Kami giliran dipertemukan dengan pegiat upcycle lain yang tak kalah keren, Ache Andini (Achebong). Kak Ache ini hobi bikin kolase dan mengelola kertas bekas untuk dijadikan notebook atau hiasan cantik. Bekas wadah susu UHT yang tak laku dijual di bank sampah pun bisa dia sulap jadi barang bernilai. Kami pun antusias dan menawarkan beberapa kolaborasi di masa mendatang. Rasanya hari itu ada chemical reaction yang mempertemukan kami dengan para pegiat ekonomi sirkular. Berawal dari obrolan ringan, siapa tahu ada hal besar menunggu di ujung jalan.
Cara terbaik mengenal sebuah kota adalah berjalan kaki dan naik angkutan umum. Itulah yang ingin kami kenalkan dari kegiatan kami, Walking Tour Joli Jolan dan Transportologi ke Bekonang naik Batik Solo Trans (BST) koridor 5, yang baru saja diluncurkan bulan lalu, Sabtu kemarin (8/1).
Walking tour ini masih punya relasi erat dengan upaya Joli Jolan mengampanyekan lingkungan yang lebih lestari. Jika biasanya masih bergulat dengan sampah, kali ini kami ingin mengajak sesama relawan dan jejaring gerakan untuk naik angkutan umum yang semakin membaik di Solo.
Berjalan kaki bermanfaat tak hanya untuk alam karena menghasilkan nol emisi, tapi juga untuk kesehatan. Orang-orang yang biasanya naik kendaraan bermotor kami ajak kembali untuk menikmati aktivitas jalan kaki. Menyayangi kembali bagian tubuhnya yang lama tidak diajak untuk bergerak.
Naik angkutan umum juga bermanfaat untuk lingkungan karena menghasilkan emisi yang lebih rendah ketimbang kendaraan pribadi. Di dalam angkutan umum, kami kembali berbaur sebagai warga kota yang setara. Tidak ada perbedaan status. Tidak ada sekat kelas.
Mengenal Kota dengan Lebih Dekat
Selama berjalan kaki dan naik angkutan umum, kami belajar kembali mengenal kota dan sekitarnya dengan lebih dekat dan perlahan. Kendaraan bermotor dengan kecepatannya yang tinggi tidak memungkinkan manusia mengamati daun yang berguguran, bunga-bunga yang bermekaran, hingga jalan tanah dengan batu kerikil yang sering digunakan pejalan kaki. Sulitnya menyeberang di tengah lalu lintas yang abai pejalan kaki, tantangan untuk menemukan rambu halte di tepi jalan, warung mie ayam sedap, hingga pura mungil yang bersembunyi dalam keramaian juga kami temukan dalam perjalanan. Kendaraan bermotor hanya melintas sesaat, menciptakan jarak antara manusia dan realitas alam dan kehidupan warga.
Selama perjalanan, aku melihat wajah-wajah girang mereka yang kembali menikmati angkutan umum dan kehidupan warga dari dekat. Ada yang bilang ingin kembali naik angkutan umum, tapi masih merasa kesulitan karena aksesibilitas buruk. Ada yang bercerita kesulitan keluar rumah dengan hilangnya angkutan umum sedangkan ia tak bisa mengendarai kendaraan bermotor. Setiap warga punya cerita, punya memori, dan punya harapan untuk kembali naik angkutan umum.
Dari status kecil naik BST kemarin, aku menerima pertanyaan-pertanyaan kecil dari mereka yang penasaran naik angkutan umum pada masa kini. Bagaimana cara pembayarannya, di mana bisa naik. Ada yang berharap koridor angkutan umum dibuka menuju tempat tinggalnya.
Setiap kali aku mendengar harapan, aku hanya bisa membantunya berdoa. Semoga terkabul. Seperti harapanku dulu berdoa agar koridor 5 segera dibuka. Dulu, pada 2016. Ternyata, butuh waktu 6 tahun agar harapan itu terkabul. Ketika akhir tahun lalu koridor ini diluncurkan, aku sudah tidak berumah di sepanjang rute koridor 5.
Sepanjang perjalanan kemarin, kami jadi kelompok yang terlampau gembira. Aku berharap kegembiraan itu jadi awal memori baik kami semua naik angkutan umum. Memori ini adalah awal untuk kami semua kembali naik angkutan umum, mengenali kota kami dengan lebih baik, dan berbagi ruang jalan untuk sesama.
Beberapa kali kami mendapatkan pertanyaan yang sama saat mengobrol dengan warga atau komunitas lain tentang Ruang Solidaritas Joli Jolan. Ke depan Joli Jolan mau sebesar apa? Mau buka cabang di mana aja? Pertanyaan ini tidak salah. Bahkan mengandung harapan agar gerakan ini semakin tersebar di daerah-daerah lain. Yang menarik, jawabannya bisa beragam antarsesama sukarelawan. Ya, kami memang belum punya masterplan atau rencana jangka panjang. Jangankan masterplan, bisa rutin buka setiap akhir pekan dengan sukarelawan yang memadai pun sudah pencapaian luar biasa. Hahaha
Namun kami punya satu hal yang hingga kini menyatukan kami di Joli Jolan. Kami punya pemahaman bahwa gerakan yang sukses dan berdampak tak harus dikenal dan berkibar seantero Nusantara. Cendikiawan dan ahli ekonomi, E.F. Schumacher, pernah mengkritik kecenderungan untuk membangun sebuah struktur serba besar dan njelimet dalam tatanan kehidupan. Sistem itu nyatanya seringkali membuat manusia kehilangan pribadinya.
Schumacher lantas melontarkan ide “Small is Beautiful” dalam bukunya. Sebuah hal yang kecil tak selalu minim nilai. Kecil justru bebas, efisien, penuh daya cipta, nikmat, dan lestari. Hal itu kami yakini hingga membawa Joli Jolan ke usia keduanya, 21 Desember 2021. Meski kecil, Joli Jolan telah menginspirasi warga atau komunitas lain membuat gerakan serupa yakni barter dan berbagi barang gratis. Di Salatiga ada Gestimba Karangalit, ada pula Gentosan di Jogja. Kawan dari Anak Kasih Indonesia kabarnya juga akan membuat gerakan serupa di pendoponya.
Namun bukan berarti kami puas dengan gerakan kami sekarang. Seperti desain logo khusus HUT kedua Joli Jolan yang futuristik, kami ingin lebih adaptif dengan teknologi. Digitalisasi pendataan hingga pembuatan aplikasi barter (kooperasi) menjadi impian agar Joli Jolan tetap kekinian. Kami juga punya mimpi membikin bulk store dan bank sampah untuk menunjang swadaya pendanaan. Pengembangan jolijolan.org sebagai kanal jurnalisme publik pun terus kami matangkan.
Terima kasih untuk para Joliers yang sudah mendukung Joli Jolan sejauh ini. Sebagai gerakan #rakyatbanturakyat, kami sangat menanti masukan atau kritik dari kawan-kawan. Kami juga terbuka bagi kawan yang ingin menjadi sukarelawan. Panjang umur solidaritas!
Gentosan merupakan kegiatan solidaritas untuk saling bertukar barang yang masih layak pakai. Nama Gentosan diambil dari bahasa Jawa yang berarti bergantian. Sesuai dengan namanya, moto dari kegiatan ini adalah nggentosaken barang kagem ngrembakaaken raos pasederekan wonten mongso pandemi. Artinya kurang lebih seperti ini, menukarkan barang untuk menyuburkan (memupuk) rasa persaudaraan di masa pandemi.
Kegiatan ini diinisiasi oleh seorang ibu dari 3 orang anak, Erni Ika Nurhayati. Beliau adalah seorang Pegawai Negeri Sipil di Lingkungan Kementerian Keuangan RI. Gentosan pada awalnya terinspirasi dari Joli Jolan saat dia berkunjung ke Solo. Karena merasa tertarik dengan konsep Joli Jolan, beliau pun berupaya menerapkannya di Yogyakarta dengan memanfaatkan halaman rumahnya di Jalan Sawit Sari II Kusumanegara.
“Terpikir setelah main ke Joli Jolan saat ada acara kerja sama beberapa waktu lalu. Daripada direncanakan terus lebih baik langsung dimulai saja,” kata beliau.
Melalui Gentosan, masyarakat dapat memberikan barang yang masih layak pakai untuk ditukarkan dengan barang lainnya. Barang yang dapat diberikan pun beragam, mulai dari buku, mainan, boneka, peralatan sekolah, peralatan rumah tangga, peralatan ibadah, barang elektronik, sembako, pakaian, dan sebagainya. Syarat utama barang yang dapat ditukarkan adalah barang-barang tersebut sudah dicuci bersih terlebih dahulu.
Dalam sehari masyarakat hanya diperbolehkan melakukan 1 kali penukaran dengan maksimal pengambilan barang sebanyak 3 buah. Pembatasan ini dilakukan guna meminimalkan risiko pengambilan barang yang berlebihan. Erni berharap kegiatan ini dapat bertahan dan semakin dikenal oleh masyarakat, terutama masyarakat Yogyakarta. Beliau juga berharap ke depannya beliau bertemu dengan orang-orang sefrekuensi yang dapat bersama-sama mengembangkan gerakan saling berbagi ini.
Manusia sejatinya hidup atas perannya di dunia ini. Entah apa pun itu. Biasanya dalam bentuk pekerjaan atau kegiatan. Ia akan memilih jalannya sendiri untuk mengarungi kehidupan. Banyak faktor manusia akan mengambil peran tersebut, salah satunya adalah berkeinginan untuk memberikan kebermanfaatan bagi makhluk ciptaan Tuhan. Dalam konteks yang lebih jauh, agar saat Tuhan menagih pertanggungjawaban atas kehidupan yang diberikan kepada manusia, manusia bisa selamat dalam proses peradilan di mahkamah akhirat. Menjabarkan peranan kebermanfaatan tersebut dihadapan Tuhan yang menjadi hakimnya sendiri.
Hal ini mengingat manusia juga memerlukan rasa aman dan damai, baik secara fisik maupun psikis. Sebab, ia akan bersinggungan dengan makhluk yang lain. Manusia memiliki sifat dasar yaitu peduli. Sifat inilah yang menunjang untuk memberikan kedamaian secara psikis. Artinya apabila manusia bisa membantu mempermudah urusan makhluk lain maka hatinya akan damai. Dengan kesadaran itu, banyak sekali manusia berlomba-lomba melakukan kebaikan kepada sesama makhluk Tuhan, baik dalam wadah organisasi, komunitas, maupun perseorangan. Romansa hal baik senantiasa digaungkan, di jalanan, tempat tongkrongan, rumah ke rumah, dan media sosial. Bak suara guntur, ia menggema luar biasa.
Di Solo sendiri banyak sekali organisasi, komunitas, maupun perseorangan yang bergerak di bidang sosial, ekonomi, dan pendidikan. Kepedulian mereka tidak hanya untuk manusia saja, melainkan mereka curahkan juga untuk hewan, tumbuhan, dan alam. Misalnya ada komunitas yang memberikan makan kucing liar, menanam dan membagikan bibit pohon, bersih-bersih sungai, dan masih banyak lagi varian serta inovasi yang dilakukan.
Kegigihan dan konsistensi mereka tentu akan berbalas kepada yang melakukan untuk menjunjung tinggi kepedulian. Terutama kedamaian dan rasa aman. Manusia dengan makhluk Tuhan yang lain layaknya satu tubuh. Apabila merasakan sakit di salah satu tubuh maka akan berpengaruh pada tubuh yang lain. Dengan demikian manusia yang memiliki rasa peduli, ia masih di-”cap” sebagai manusia. Sebab, manusia akan merasa terusik apabila ada ketimpangan dan ketidakadilan yang terjadi. Itulah sifat dasar manusia.
Pada hari keempat social distancing akibat pandemi Covid-19 ini, saya ingin berbagi cerita mengenai komunitas baru di kota tetangga yakni Solo yang diberi nama Joli Jolan.
Ya, kata Joli Jolan ini diambil dari Bahasa Jawa jol-ijolan yang artinya adalah tukar-menukar. TaglineAmbil sesuai kebutuhanmu, Sumbangkan sesuai kemampuanmu adalah kalimat sederhana yang membuat saya tertarik untuk mempelajari lebih lanjut tentang gerakan yang berdiri tanggal Desember 2019 ini. Faktor menarik lain adalah karena salah satu pendiri Joli Jolan merupakan seorang dosen komunitas kami di bidang transportasi yakni Mbak Septi.
Dilansir dari akun resmi @Joli_Jolan, barang-barang yang bisa saling ditukar antara lain; pakaian, buku bacaan, perlengkapan rumah tangga, peralatan sekolah, perkakas/ hiasan rumah, makanan, keperluan hewan peliharaan, dan memorabilia/ barang koleksi.
Pada 15 Februari 2020 lalu, setelah event Edukasi #1 Aman Berlalu Lintas di Alun-alun Pancasila, Anelis (Komunitas Ijo Lumut) dan saya mencoba memperkenalkan terminologi Joli Jolan kepada masyarakat Kota Salatiga. Caranya yakni dengan giveawaymainan daur ulang dari galeri Ijo Lumut. Ya, galeri edukasi dan kreasi daur ulang ini memang cukup produktif dalam menghasilkan berbagai mainan anak-anak.
Saya menilai tak ada salahnya membagikan mainan-mainan ini. Ada dua alasan utama;
Cek ombak, apakah mainan anak-anak bisa diterima masyarakat, apakah bisa dimasukkan sebagai komoditas Joli Jolan.
Memberikan edukasi kepada seniman-seniman cilik Ijo Lumut bahwa tangan di atas memang akan selalu lebih baik daripada tangan di bawah.
Sayangnya pada hari itu hampir semua anak dan orang tua mengambil mainan, tetapi tidak ada satu pun yang ikut menyumbang. Well, ada dua kemungkinan alasan menurut saya.
Gerakan ini memang baru dilakukan sekali sehingga banyak yang masih belum tahu dan tidak prepare mainan untuk ikut disumbangkan.
Tak bisa dipungkiri bahwa masyarakat kita lebih suka mengambil barang secara gratisan dan lupa bahwa ia pun sebenarnya telah mampu menyumbangkan barang juga.
GKJ Sidomukti Salatiga ikut tertarik mengimplementasikan gerakan Joli Jolan ini di Salatiga. Hal tersebut membuat saya semangat meluangkan waktu untuk datang ke markas Joli Jolan di Jajar, Kerten, Solo, 7 Maret 2020 lalu. Saya mengamati dan belajar dari para pakar di komunitas ini secara langsung.
Sampainya di markas Joli Jolan, saya langsung disuguhi makan siang sambil ngobrol dengan teman-teman. Relawannya berasal dari berbagai kalangan; mulai dari anak sekolah, kuliahan, pekerja formal, dan nonformal. Sambil asyik ngobrol, saya melakukan pengamatan dan observasi terhadap suasana Joli Jolan yang ada di sana.
Saya mempelajari ada beberapa poin penting;
Anak-anak yang datang ke Joli Jolan diberi konsumsi susu kotak. Supaya ada effort sedikit untuk mendapatkannya, si anak perlu melewati permainan melewati karpet dengan gambar telapak tangan atau telapak kaki.
Pembiayaan untuk membeli susu itu didapatkan dari kotak kardus bertuliskan Donasi Parkir untuk Membeli Susu Kotak. Kotak tersebut diisi oleh para pengunjung Joli Jolan yang membawa kendaraan. Selain itu, tentu saja Joli Jolan menerima sumbangan susu kotak dari masyarakat
Pengurus Joli Jolan memiliki mindset terbuka terhadap segala sesuatu. Joli Jolan tidak hanya jadi tempat untuk berbagi, tetapi juga telah menjadi ruang publik tempat bertemunya antar komunitas. Mbak Septi pun mengamini bahwa Kota Solo sudah sangat padat sampai tak memiliki ruang publik untuk komunitas bisa berkumpul seperti ini. Salah satu tujuan Joli Jolan adalah untuk memenuhi kebutuhan tersebut
Pengunjung Joli Jolan yang datang untuk kali pertama rata-rata hanya melakukan satu mata kegiatannya saja; menyumbangkan barang kemudian pulang, atau mengambil barang kemudian pulang. Orang yang mengambil barang didata oleh tim Joli Jolan dengan syarat dan ketentuan yang berlaku. Sebaliknya, orang yang menyumbangkan barang rata-rata enggan untuk ikut mengambil.
Mbak Septi mengiyakan bahwa orang yang mengambil tidak harus mengijoli/ membarterkan barang pada hari itu juga dan dengan nilai barang yang sama. Tidak membarterkan barang sampai kapanpun juga tidak masalah, ia tetap boleh mengambil barang lagi.
Mbak Septi menceritakan hal menarik tentang tukang becak yang datang lagi di pekan berikutnya sembari membawa empat butir telur, juga pedagang sayur membawa dua nasi bungkus untuk ditukar. Saya sedikit mbrebes mili mendengar cerita tersebut. Sambil mengamini dalam hati “Ya, rasa seperti inilah yang harus terus dirawat dan ditumbuhkan dalam hati sanubari Bangsa Indonesia. Jangan bermental miskin: Tak mungkin tak ada yang bisa disumbangkan kepada orang lain, karena setidaknya orang yang sehat itu itu pasti punya pikiran, waktu, tenaga, dan kemampuan untuk orang lain.”
Tentang Joli Jolan
Tibalah saat-saat mendebarkan ketika saya berkesempatan ngobrol empat mata dengan Mbak Septi. Saya menanyakan beberapa hal.
“Mbak, apa sih sebenarnya tujuan didirikannya Joli Jolan?”
Mbak Septi menjawab bahwa Joli Jolan adalah gerakan untuk bisa berbagi dengan orang lain. Joli Jolan ingin menjadi ruang publik tempat orang-orang bisa berkumpul, komunitas boleh membagikan ceritanya. Orang-orang bisa menyumbangkan sesuai kemampuannya maupun mengambil barang-barang sesuai kebutuhan. “Budaya baik ini, apabila sudah mengakar kuat dalam masyarakat, akan berdampak positif apabila suatu saat nanti terjadi bencana/musibah di Surakarta: masyarakat kita sudah terbiasa mengatasi itu semua dengan berbagi dan bekerja sama, mau saling memperhatikan kebutuhan orang yang satu dengan yang lainnya,” terangnya.
Kalau meminjam istilah Bu Risma Walikota Surabaya, barangkali inilah yang disebut gerakan membangun kota yang resilience. Resilience artinya sebuah kota yang masyarakatnya memiliki ketahanan. Kereeen buat Mbak Septi dan teman-teman pendiri Joli Jolan!
Joli Jolan ini adalah gerakan non-profit. Mereka tidak berharap menimbun banyak barang di tempat demi mendapat keuntungan ekonomi. Saya lebih suka berpendapat bahwa Gerakan Joli Jolan adalah sebuah pembelajaran untuk mengasah rasa; apakah saya benar-benar butuh, adakah orang lain yang lebih membutuhkan? Apakah saya memang belum mampu menyumbangkan sesuatu, atau apakah saya sudah mampu tetapi belum mau/ belum merelakannya?
Mengingat Maret adalah bulannya Dewa Perang Aries, saya ingin mendefinisikan Joli Jolan sebagai gerakan perang melawan gaya hidup konsumtif. Gerakan ini merupakan sebuah ajakan kemanusiaan. Melalui berbagi dan bekerja sama, idealnya tidak perlu ada lagi orang-orang yang menghalalkan segala cara untuk mencari uang demi memenuhi kebutuhan. Mari kita bersama-sama menciptakan ruang-ruang publik yang semua orang bisa datang untuk belajar lebih peduli dengan nasib sesama.
Nah, siapa di antara Teman-Teman Pembaca yang juga mau ikut terlibat dalam mengimplementasikan gerakan positif ini di Salatiga? Ditunggu kabarnya, ya.
Joli Jolan beroperasi dengan sistem sederhana. Pendataan masih manual. Pendataan ini memang masih perlu diperbaiki untuk kemudahan akses data dan meminimalisasi kecurangan. Dari operasional setahun, ada temuan tidak semua pengunjung mengambil barang di Joli Jolan karena butuh. Ada yang sering mengakali untuk mengambil barang lebih banyak. Padahal, pembatasan diterapkan untuk pemerataan akses barang untuk pengunjung lain. Ini pekerjaan rumah yang masih belum selesai.
Pekerjaan rumah yang tak kalah penting adalah membuat Joli Jolan menjadi komunitas yang lestari. Ada atau tidak ada inisiatornya, dia harus jalan. Joli Jolan harus punya sumber pendanaan mandiri. Joli Jolan, selain membantu sesama, harus bisa membantu dirinya sendiri. Dengan begitu, ia tidak akan mandeg. Ada banyak pekerjaan rumah, ada banyak rencana yang terlambat untuk direalisasikan hingga Joli Jolan berusia setahun. Aku sendiri juga urun banyak untuk keterlambatan itu. Maafkan aku, kawan-kawan.
Aku merasa kawan-kawan Joli Jolan sangat hebat. Tidak mudah menyediakan waktu luang untuk menerima kiriman, menyortir baju, memajangnya setiap hari buka, mendata barang masuk-keluar dan anggota yang bergabung. Belum lagi perlu manajemen sosial media, membuat pamflet dan banner, membuat kaos, mengurus food not bombs, mendistribusikan sembako, mengirimkan logistik, dan lainnya. Ada banyak orang yang bekerja di balik Joli Jolan.
Selama setahun ini, tepat 21 Desember 2020, Joli Jolan memberiku kesempatan bertemu dengan orang-orang hebat, memberi pelajaran hidup, dan akses baru ke dunia yang menarik. Satu hal terpenting yang aku dapatkan darinya: membantu tak melulu harus dengan uang. Selamat ulang tahun Joli Jolan!
“Sudah Krisis, Saatnya Makan Gratis.” Ungkapan itu didengungkan para pegiat Food Not Bombs (FnB), gerakan berbagi bahan pangan secara cuma-cuma, ketika pandemi Covid-19 mewabah di Indonesia sejak Maret lalu. Ruang Solidaritas Joli Jolan menjadi salah satu yang rutin mengampanyekan gerakan itu lewat kegiatan FnB yang digelar setiap akhir pekan.
Solidaritas berbagi makanan menjadi penting ketika pandemi meruntuhkan sendi ekonomi sebagian masyarakat. Turunnya penghasilan membuat masyarakat bahkan kesulitan mengakses bahan pangan yang pokok. Di titik tertentu, mereka sampai harus bergantung pada bantuan pemerintah untuk menyambung hidup.
Tentu kita tak bisa berdiam diri melihat ketahanan pangan digerogoti sedikit demi sedikit oleh pandemi. Inisiatif saling bantu antar warga perlu terus dijalin alih-alih hanya mengandalkan kucuran bantuan pemerintah. Belum lama ini kami sangat antusias dengan munculnya inisiatif-inisiatif kolaborasi dari komunitas pertanian urban di Solo dan sekitarnya.
Komunitas Hidroponik Soloraya beberapa kali menyalurkan sayuran untuk dibagi setiap Sabtu di Joli Jolan. Mereka bahkan sempat membawa tiga keranjang besar berisi seratusan sawi segar. Sekelompok aktivis dari @hopekidssalatiga sebelumnya juga membawa banyak sayuran dari lereng Gunung Merbabu.
Sayuran-sayuran fresh ini mendampingi nasi liwet dan ayam geprek hasil sumbangan warga yang ditaruh di booth FnB. Meski beberapa daunnya bolong dimakan belalang, sawi-sawi dari Komunitas Hidroponik memiliki nutrisi yang sama dengan yang dijual di pasaran. Hanya sawi seperti itu memang kurang layak apabila dilego di supermarket, pasar atau sejenisnya. Daripada dijual murah dan menjadi limbah apabila tak terserap, kawan dari komunitas hidroponik memilih mendistribusikannya secara gratis dan rutin di Joli Jolan. Keren ya!
Secara tidak langsung, berbagi sayuran gratis ini membantu menjaga keseimbangan sistem permintaan dan suplai bahan pangan. Masyarakat pun bisa menghemat uang belanjanya untuk dialokasikan ke kebutuhan lain. Hari ini kami giliran kedatangan Komunitas Anggur Soloraya. Mereka membawa beberapa bibit anggur sekaligus berbagi ilmu soal menanam tanaman buah itu. Rencananya, beberapa bibit akan kami tanam di pekarangan Joli Jolan untuk penghijauan. Kalau sudah tumbuh besar, tentu buahnya bisa diambil gratis oleh pengunjung dan warga sekitar.
Pada akhirnya, kerja sama di setiap tingkatan sosial untuk menjaga sistem ketahanan pangan adalah kunci untuk menghadapi Covid-19. Mari, siapa mau ikut berbagi?