Categories
Gaya Hidup

Mewarnai, Kegiatan Asyik yang Memiliki Banyak Manfaat

Mewarnai menurut KBBI memiliki arti memberi warna, mengecat, dan sebagainya. Kegiatan ini umumnya dilakukan oleh anak-anak usia dini hingga sekolah dasar. Namun, beberapa tahun belakangan, mewarnai juga menjadi tren di kalangan orang dewasa, lho. Ternyata, kegiatan ini tidak bisa dianggap sepele karena memiliki manfaat. Apa saja sih manfaat mewarnai? Berikut ini manfaat mewarnai untuk orang dewasa:

1. Membawa Ketenangan

Carl Jung, seorang psikolog dan tokoh psikolog analitis (1875-1961), telah menerapkan terapi dengan mewarnai untuk pasien yang memiliki masalah psikologis. Tujuannya untuk ketenangan dan kefokusan pasien.

2. Memberi Ruang Bersosialisasi

Kegiatan mewarnai membawa kita bertemu dengan komunitas atau orang-orang yang memiliki hobi yang sama. Seniman Lisa Congdon berteori tentang aspek sosial mewarnai. “Ini adalah cara lain untuk bersosialisasi dan memiliki aktivitas yang dilakukan bersama orang lain. Kamu tak perlu berkonsentrasi penuh ketika mewarnai, kamu dapat sambil mengobrol, dan minum segelas anggur,” tutur Congdon.

3. Mengurangi Rasa Takut dan Cemas

Psikolog Dr. Ben Michaelis menerangkan bahwa mewarnai bisa mengaktifkan logika pada otak dan menciptakan pola pikir yang lebih kreatif. “Karena merupakan aktivitas yang terpusat, amygdala (bagian otak yang merespon rasa takut) bisa beristirahat sedikit demi sedikit. Semakin lama, efeknya bisa sangat menenangkan,” kata Dr. Ben. Saat mewarnai, orang dewasa akan merasa seperti anak-anak lagi. Sehingga mereka merasa bisa merasakan kehidupan yang bebas dari tekanan dan rasa khawatir untuk beberapa waktu.

4. Menjadi Diri Sendiri

Mewarnai membawamu menjadi diri sendiri. Tidak ada aturan gambar tersebut harus diberi warna-warna tertentu. Kamu bebas berekspresi.


5. Melatih Keterampilan Motorik Halus dan Penglihatan

“Aktivitas ini melibatkan dua logika, yakni pola warna dan kreativitas ketika mencampur dan mencocokkan warna. Sehingga pada gilirannya aktivitas mewarnai menggabungkan bagian celebral cortex yang melibatkan kemampuan penglihatan dan motorik halus,” ujar Gloria Martínez Ayala, seorang psikolog.

Wah … Ternyata, manfaat mewarnai beragam, ya. Jangan takut dianggap seperti anak kecil! Yuk, mewarnai dan temukan kesenanganmu!

Daftar Pustaka
  1. Wahyuningsih, Agustin. 2015. Mewarnai Tidak Hanya Dunia Anak-Anak Saja. Mewarnai Juga Bisa Memberikan Manfaat bagi Orang Dewasa. https://www.brilio.net/life/ini-manfaat-mewarnai-bagi-orang-dewasa-kamu-wajib-coba-sekarang-juga-151207y.html (Diakses tanggal 9 Maret 2022)
  2. Hestianingsih. 2015. Tak Sekadar Usir Bosan, Ini Manfaat Mewarnai untuk Orang Dewasa. https://wolipop.detik.com/health-and-diet/d-3031017/tak-sekadar-usir-bosan-ini-manfaat-mewarnai-untuk-orang-dewasa (Diakses tanggal 9 Maret 2022)
Categories
Sudut Joli Jolan

Joli Jolan Sambut Ramadan

Tak terasa sebentar lagi kita bertemu dengan bulan Ramadan. Bagi umat Islam, bulan itu menjadi momen yang sangat ditunggu karena berlimpah kebaikan. Ramadan tahun ini pun seperti penantian untuk bisa beribadah lebih leluasa menyusul pandemi Covid-19 yang melanda sejak tahun 2020.

Biasanya sebagian umat membeli perlengkapan ibadah baru seperti sarung, sajadah atau mukena untuk menyambut Ramadan. Padahal, peralatan ibadah yang dimiliki sebelumnya masih bagus dan layak pakai. Hal ini tentu memicu kemubaziran yang justru ditentang dalam ajaran agama. Solusinya bagaimana? Salah satunya adalah solidaritas berbagi.

Menjelang bulan puasa tahun ini, kami membikin program Joli Jolan Sambut Ramadan untuk mewadahi kawan-kawan yang ingin menyumbangkan perlengkapan ibadahnya sebagai berikut: mukena, sarung, baju koko, sajadah, peci, tasbih, perlengkapan ibadah lain (kecuali jilbab). Periode pengumpulan mulai dari tanggal 8 Maret 2022 hingga tanggal 19 Maret 2022.

🏡Drop Box:

  • Ruang Solidaritas Joli Jolan, Jalan Siwalan No.1 Kerten Laweyan Solo. CP Damai (088232117938), Novia (085290340291).
  • Jalan Grogolan RT 02/RW 02 Ketelan Banjarsari, Solo. CP Faisal (081246002883).
  • Jalan Ahmad Yani No.294 Gondang Banjarsari Solo. CP Pondra (089622763978).
  • Rumah Cak Sarif, Jalan Langenharjo Grogol Sukoharjo (samping Alfamart Langenharjo). CP Khoirus (081937385878).
  • Rumah Anton Wijaya, Perum Gading Permai, Jalan Raya Gading Permai 2 Blok AT 04 Grogol Sukoharjo. CP Santi (087733691119).

Seluruh perlengkapan ibadah yang didonasikan wajib masih bagus/layak pakai ya, syukur-syukur perlengkapan baru. Untuk piranti seken, disarankan dilaundry terlebih dulu untuk menjaga kebersihannya.

Dengan konsep berbagi atau barter, kita bisa memeroleh barang yang diinginkan tanpa harus mengeluarkan biaya. Kita juga bisa membantu kalangan yang belum beruntung untuk mendapatkan perlengkapan ibadah terbaik. Yuk, ikut berbagi!

Categories
Reportase

Webinar “Di Balik Thrifting”

SOLO – Komunitas Joli Jolan menyelenggarakan webinar bertema “Di Balik Thrifting: Antara Tren Fesyen dan Kesadaran Lingkungan” pada Selasa (15/2) pukul 19.00-21.00 WIB. Webinar tersebut menghadirkan tiga pembicara yang konsen terhadap isu kesadaran lingkungan. Ketiganya yakni, Risa Vibia yang merupakan sustainable fashion enthusiast dan founder Pasar Wiguna, Septina Setyaningrum selaku Provincial Advisor Green Infrastructure Development, dan Chrisna Chanis Cara sebagai salah satu inisiator Ruang Solidaritas Joli Jolan.

Webinar dihadiri puluhan peserta dari berbagai wilayah dengan beragam latar belakang profesi. Melalui Webinar tersebut, para narasumber ingin mengajak agar masyarakat umum semakin sadar terhadap permasalahan sampah fesyen yang semakin hari semakin bertambah jumlahnya. Selain itu, mereka juga memberikan tips untuk mengurangi sampah fesyen dan memanfaatkannya melalui gerakan ekonomi sirkular.

Saat memaparkan materinya tentang sustainable fashion, Risa Vibia menyebut, serat kain limbah tekstil bisa mencemari laut. Hal itu melatarbelakangi lahirnya Fashion Siput untuk mengkritisi fast fashion di mal-mal yang selalu berganti setiap musim. Berdasarkan data The Sustainable Fashion Forum, konsumsi pakaian jadi diperkirakan akan meningkat 63 persen dari 62 juta ton hari ini menjadi 102 juta ton pada tahun 2030. Rata-rata perempuan hanya memakai pakaian sampai tujuh kali, bahkan ada yang sama sekali belum dipakai sejak pertama dibeli.

“Ketika mau membeli barang, harus dipikirkan masak-masak apakah mau merawat, hobi atau koleksi, atau benar-benar butuh, atau barang yang hanya sebagai pemuas visual sehingga berakhir di pajangan,” kata Risa.

Oleh sebab itu, dia mengajak agar masyarakat menjadi konsumen yang sadar dan lebih bijak, serta tidak terlalu latah terhadap fashion season hari raya. Agar pakaian tidak menumpuk di lemari, Risa membagikan tips ketika membeli satu pakaian, maka satu pakaian dikeluarkan. Sehingga, jumlah pakaian yang ada di lemari tetap sama.

Tips lainnya berupa sanding-sandang, yakni repair atau perbaiki pakaian yang masih bisa diperbaiki, tukar pakaian, serta dijual, atau membeli pakaian bekas (thrifting).

Risa juga menerapkan hidup secukupnya, dengan hanya memelihara barang yang membuat senang. Ketika sebuah barang sudah tidak berarti atau sudah tidak dibutuhkan, maka waktunya untuk melepas.

Terkait thrifting, Risa menilai fenomena thrifting di anak muda sudah berubah menjadi bisnis. Dulu, thrifting hanya lifestyle untuk orang-orang yang ingin memperpanjang usia barang dan sadar lingkungan.

Sampah Pakaian

Di Indonesia bisnis thrifting menerima sampah pakaian dari negara luar. “Yang jadi masalah, ambil bal-balan dari impor, ada yang tidak lolos quality control mereka buang tidak tahu di mana. Makin banyak bisnis thrifting tidak jadi solusi. Akhirnya kita terus menangkap sampah-sampah dari negara lain,” ungkapnya.

Padahal, tidak semua bahan pakaian bisa didaur ulang. Kebanyakan pakaian impor berbahan polyester, nylon, atau bahan lainnya dari plastik.

Masalah lainnya, ketika thrifting justru menjadikan konsumen atau reseller impulsive buying lantaran harga murah yang ditawarkan. Setelah itu, barang belum tentu dipakai, sehingga hanya jadi penimbun.

“Tantangan thrifting, bagaimana kita tidak cuma jadi seller tapi producer. Akan menjahit ulang, mendesain ulang jadi barang baru. Baju-baju yang sobek masih bisa dimanfaatkan untuk tas, dan sebagainya. Sehingga akan lebih bernilai dan membuat berpikir kreatif,” tandasnya.

Selanjutnya, Septina Setyaningrum membahas mengenai ekonomi sirkular. Tahun 2019, pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5 persen, tapi untuk industri tekstil tumbuh sekitar 15 persen.

Dia menyebut, perusahaan-perusahaan tekstil itu dari awal sudah mencemari dari limbah cair, meskipun sudah memiliki instalasi pengolahan air limbah. Sehingga, satu lembar pakaian yang kita kenakan memiliki jejak karbon dari limbah yang dikeluarkan pabrik tekstil. Selain itu, limbah yang dihasilkan setiap kali mencuci pakaian di rumah juga mencemari lingkungan.

Melalui ekonomi sirkular, barang yang kita miliki tetap bernilai tambah meskipun sudah berubah bentuk. Misalnya, pakaian yang sudah tidak dipakai dikreasikan menjadi dompet atau tas.

“Ekonomi sirkular dari awal mula bahan material dibentuk kemudian sampai proses penjualan, kita pakai kemudian using, kita kelola lagi, akhirnya bisa berubah wujud menjadi apa pun itu tetap memiliki nilai ekonomi. Barang yang kita anggap sampah itu masih memiliki nilai ekonomi,” jelas Septina.

Ekonomi sirkular akan membantu mengurangi sampai fashion yang diperkirakan mencapai jutaan ton pada 2030. Septina menerangkan, aplikasi ekonomi sirkular untuk fashion bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Tahapannya mulai dari reduce, hemat bahan dengan menjahit kain yang polanya memungkinkan kain lebih sedikit terbuang. Kemudian repair, permak pakaian lalu dipakai atau dijual sebagai pakaian bekas layak pakai dengan tidak mengubah fungsi sehingga tidak berakhir menjadi sampah.

Selanjutnya, reuse atau alih fungsi. Ketika pakaian sudah sulit diperbaiki, kainnya dipakai lagi untuk lap tanpa mengubah bentuk. Serta recovery atau upcycle, yakni diolah kembali menjadi barang lain yang bernilai ekonomis seperti tas, bantal, atau kerajinan tangan.

“Ekonomi sirkular akan menjadi tren dan kebutuhan ke depannya. Bagaimana kita mengolah atau mendayagunakan bahan-bahan supaya terus bernilai ekonomi, sampai di titik terakhir ke tempat pemrosesan akhir (TPA),” imbuhnya.

Septina juga memberikan tips apa saja yang bisa kita perbuat sebagai kontribusi untuk ekonomi sirkular. Pertama, selalu menghabiskan makanan, karena sisa makanan akan membahayakan lingkungan. Kedua, berbagi kepada sesama, tidak hanya hari tertentu. Kemudian, berbagi kepada binatang, dan membuat kompos di rumah. Dengan beberapa langkah itu, maka akan mengurangi sampah yang dibuang ke TPA.

“Mari mulai sirkular ekonomi, mulai dari kita, pilah sampah dari rumah. Sirkular ekonomi punya potensi Rp600 triliun setahun. Bisa dengan thrifting, tapi jangan asal thrifting,” pungkas Septina.

Bukan Gudang Pembuangan Barang

Sementara itu, Chrisna Chanis Cara memaparkan mengenai gerakan solidaritas Joli Jolan yang mulai beroperasi pada 21 Desember 2019. Gerakan ini terinspirasi dari aksi serupa di Yunani yang bernama Scoros. Selama ini, banyak sekali pakaian masih layak pakai yang didonasikan, di sisi lain masih banyak orang yang tidak punya pakaian untuk dikenakan. Keduanya saling memberikan manfaat melalui Joli Jolan.

Selain pakaian, Joli Jolan menerima donasi buku, peralatan rumah tangga, sepatu, dan lainnya yang masih bias digunakan dan layak pakai.

“Saat ini, barang yang didonasikan 80 persen pakaian dan mayoritas pakaian perempuan. Kami kekurangan pakaian laki-laki,” ucap Chrisna.

Barang yang didonasikan tersebut semuanya melalui tahapan sortir. Sebagian barang masuk kategori tidak layak, sekitar 20 persen dari total yang didonasikan selama ini.

“Sebenarnya sudah kami tekankan kepada pendonasi, sortir dilakukan pendonasi. Jangan sampai barang-barang yang sudah tidak layak pakai didonasikan ke Joli Jolan, kami bukan gudang pembuangan barang,” ujarnya.

Dari tahapan sortir itu, pakaian yang tidak layak kemudian disalurkan ke pabrik pembuatan bantal di Sukoharjo. Namun, lokasinya cukup jauh, sehingga butuh biaya dan tenaga untuk menyalurkannya. Sedangkan pakaian layak pakai dengan model lama didonasikan ke wilayah pedesaan yang membutuhkan.

Chrisna menambahkan, selama ini pengelolaan barang donasi membutuhkan biaya, di mana pendonasi belum dibebankan biaya. Ke depannya Joli Jolan punya wacana membuka donasi sukarela untuk pengelolaan barang donasi. Sehingga, warga turut berperan aktif untuk pengelolaan Joli Jolan. Gagasan lainnya, Joli Jolan ingin mendorong sukarelawan di kota lain membuat gerakan serupa dan siap membantu memberikan donasi barang untuk mengawalinya. Saat ini, sudah ada kota yang menginisiasi gerakan serupa seperti Salatiga dan Yogyakarta.

Categories
Sudut Joli Jolan

Webinar: Di Balik Thrifting: Antara Tren Fesyen dan Kesadaran Lingkungan

Aktivitas belanja pakaian bekas atau thrifting belakangan menjadi tren di berbagai kota di Indonesia, termasuk Solo. Tak sekadar melapak di lokapasar (marketplace), para pelaku bisnis thrifting “bergerilya” lewat sejumlah festival atau pameran. Jual-beli pakaian bekas menjadi medium perlawanan terhadap fast fashion yang cenderung kurang ramah lingkungan dan bermasalah dalam upah pekerjanya.

Namun ada kecenderungan gerakan thrifting masa kini lupa dengan “misi mulia”-nya yakni memperpanjang usia produk atau pakaian. Sejumlah toko thrift justru membeli pakaian bekas dari luar negeri untuk dijual lagi dengan iming-iming keuntungan tinggi. Konsep thrifting yang mestinya mendukung kampanye zero waste malah berpotensi menimbulkan sampah fesyen baru apabila produk impor tersebut tak terserap pasar. Itu belum termasuk pertimbangan kesehatan dan regulasi yang hingga kini masih jadi perdebatan.

Konsumen pun belum sepenuhnya teredukasi ihwal tujuan sejati thrifting. Tak sedikit yang justru nge-thrift secara impulsif karena harga murah atau termakan brand, meski sebetulnya tidak benar-benar mereka butuhkan. Lantas bagaimana model thrifting yang ideal di era kekinian? Bagaimana pola konsumsi fesyen yang berkelanjutan? Yuk, kita obrolin bareng dalam Webinar Joli Jolan bertema Di Balik Thrifting: Antara Tren Fesyen dan Kesadaran Lingkungan pada:

🗓 Selasa, 15 Februari 2022
⏰ 19.00-21.00 WIB
🍭 Live via zoom

Narasumber:
Risa Vibia (Sustainable fashion enthusiast, founder Pasar Wiguna)
Septina Setyaningrum (Provincial Advisor Green Infrastructure Development)
Chrisna Chanis Cara (Inisiator Ruang Solidaritas Joli Jolan)

Moderator:
Ika Yuniati (Jurnalis Solopos)

Kegiatan webinar gratis, terbuka untuk umum.
Fasilitas: E-certificate & souvenir Joli Jolan (bagi peserta terpilih).

Ketentuan Pendaftaran:
-Follow Instagram @joli_jolan & @pekenjolijolan
-Registrasi: https://bit.ly/WebinarThrifting (link di bio)

Narahubung:
Faisal (081226674883)

Categories
Reportase

Mendamba Bank Pangan yang Berkelanjutan

SOLO—Kota Solo telah dideklarasikan sebagai Kota Cerdas Pangan sejak akhir 2020. Predikat tersebut mendorong Kota Bengawan membenahi sistem produksi, distribusi, dan konsumsi yang adil serta menjamin hak warga atas pangan. Salah satu gagasan pemerataan distribusi makanan salah satunya adalah penyediaan food bank (bank pangan) di penjuru Kota Solo.

Bank pangan adalah wadah penyaluran kelebihan makanan dari warga maupun pelaku usaha kuliner untuk didistribusikan kembali pada warga yang membutuhkan. Aktivis bank pangan juga mengumpulkan makanan berlebih dari restoran, katering, hotel, hingga acara pernikahan, dan donasi individu untuk disalurkan, tentunya dengan sejumlah uji kelayakan.

Sejauh ini inisiatif tersebut sudah muncul dari beberapa komunitas maupun individu. Namun upaya itu masih sebatas mencakup tataran RT, RW, atau kampung. Perlu sinergi dari pemerintah maupun kalangan usaha untuk mewujudkan bank pangan yang berkelanjutan. Yayasan Gita Pertiwi menjadi salah satu elemen yang konsisten mendorong terwujudnya bank pangan di Kota Bengawan. Sejauh ini Gita Pertiwi telah mendirikan bank pangan yang dinamai Etalase Berbagi di sejumlah lokasi di Soloraya, bekerjasama dengan Rikolto dan Carefood.

Bank Pangan Gita Pertiwi. Warga mengambil makanan gratis di bank pangan yang disediakan Gita Pertiwi, Rikolto dan Carefood di Kota Solo beberapa waktu lalu.

Direktur Program Gita Pertiwi, Titik Eka Sasanti, mengatakan bank pangan menjadi solusi alternatif untuk mengatasi problem kelebihan dan kekurangan makanan di masyarakat. Solo dinilai punya potensi besar untuk menginisiasi bank pangan karena memiliki banyak usaha kuliner yang beragam. Menurut Titik, toko atau restoran biasanya memiliki makanan layak konsumsi tapi tidak lolos uji untuk dijual atau makanan yang mendekati kedaluwarsa. “Daripada dibuang, makanan itu bisa didistribusikan ke food bank,” ujar Titik dalam diskusi Refleksi 30 Tahun Gita Pertiwi, Satu Tahun Surakarta Cerdas Pangan di Sala View belum lama ini.

Gerakan Global

Bank pangan adalah gerakan global. Inisiatif tersebut berawal di Amerika Serikat medio tahun 1967. Saat itu lahir St. Mary’s Food Bank yang beroperasi di Phoenix, Arizona. Di Negeri Paman Sam, bank pangan biasa berbagi makanan gratis menjelang liburan Thanksgiving. Makanan merupakan hasil donasi toko serba ada maupun masyarakat. Lambat laun gerakan pemerataan pangan itu tumbuh di banyak negara, termasuk Indonesia. Tahun 2015, Indonesia memiliki Foodbank of Indonesia (FoI) yang mencakup 39 daerah di Jawa dan luar Jawa. Selain FoI, ada food bank yang telah berkembang besar bernama Garda Pangan. Hingga Januari 2022, bank pangan yang beralamat di Surabaya itu telah menyalurkan 347.290 porsi makanan untuk 136.068 penerima manfaat, dilansir gardapangan.org.

Di Solo, Gita Pertiwi menyebut cukup banyak pelaku usaha yang telah memiliki kesadaran untuk berbagi makanan. Ada sebuah toko roti yang sanggup menyediakan 150 roti per hari untuk dibagi gratis ke masyarakat. Beberapa usaha hotel dan katering juga mulai mengelola makanan sisa kegiatan yang masih layak untuk dibagikan. “Sebenarnya banyak perusahaan atau donatur yang mau membantu. Namun kami punya keterbatasan sumber daya,” imbuh Titik. Gita Pertiwi terus mendorong Pemkot untuk turut membantu mewujudkan bank pangan di wilayah kota. Menurut Titik, Pemkot memiliki akses dan kewenangan lebih untuk mengenalkan model bank pangan di masyarakat. “Keberadaan food bank juga mendukung Solo Kota Cerdas Pangan karena mengurangi food waste [limbah makanan],” kata dia.

Ribuan bank pangan di penjuru dunia tidak menggunakan model serupa dalam gerakannya. Sejumlah model food bank yang populer adalah model “garis depan” dan “gudang”. Bank pangan dengan model garis depan menyalurkan langsung makanan mereka ke orang-orang yang membutuhkan. Sementara bank makanan dengan model gudang menyuplai makanan melalui perantara, seperti komunitas maupun organisasi nirlaba. Model lain yang cukup populer adalah model amal dan serikat pekerja. Bank makanan dengan model amal menyumbangkan makanan dengan maksud menyelamatkan makanan sisa agar tidak menjadi limbah. Sementara itu, bank pangan serikat pekerja turut memberikan edukasi seputar hak asasi manusia dan pekerjaan.

Ruang Solidaritas Joli Jolan menjadi komunitas yang memiliki bank pangan model garis depan. Mereka mengelola donasi makanan maupun sembako untuk disalurkan langsung di halaman Joli Jolan setiap hari Sabtu. Kadang bank pangan Joli Jolan (Food not Bombs) juga mendistribusikan makanan di hari lain, tergantung kiriman donasi dari masyarakat. Saat awal pandemi tahun 2020 lalu, bank pangan Joli Jolan intens menyalurkan makanan siap santap dan sembako bagi warga terdampak. Mereka menamai gerakan itu Lumbung Pangan. Sebuah ruang kosong di kompleks Joli Jolan saat itu disulap menjadi etalase sembako dan dapur umum yang mengepul setiap hari.

Joli Jolan. Bank pangan di Ruang Solidaritas Joli Jolan membagikan paket nasi, mie instan, sayur, hingga buah-buahan gratis belum lama ini.

Vice President Programs at The Global FoodBanking Network, Douglas L. O’Brien, mengatakan pandemi Covid-19 membuka fakta betapa rapuhnya sistem ketahanan pangan di dunia. Douglas menyebut bahan makanan yang tersedia sebenarnya cukup. Namun problem distribusi dan pemerataan pangan tetap saja muncul. Bank pangan pun menjadi krusial di saat jutaan orang kesulitan mengakses bantuan. “Di Indonesia dan seluruh dunia, kami berkomitmen menjaga gudang food bank terjaga, truk tetap berjalan, dan makanan bernutrisi tersedia untuk populasi paling terdampak di dunia,” ujar Douglas dalam Webinar “Foodcycle World Food Day”, 9 Oktober 2020.

Categories
Gagasan

Berbagi untuk Kesehatan Jiwa

Semakin banyak orang yang gemar mengumpulkan barang yang sesuai dengan minatnya. Tentu barang yang dimaksud bukanlah sekadar memenuhi kebutuhan dasar manusia. Hasrat mengoleksi ini tidak muncul begitu saja melainkan ada juga pemicunya. Banyaknya item yang dapat diproduksi massal berdampak pada semakin murahnya harga barang tersebut. Dari kalangan menengah ke atas, kemapanan finansial tentu saja sangat mendukung. Dari kalangan menengah ke bawah, munculnya marketplace yang ‘membakar uang’ membuka jalan untuk semakin mudah memiliki benda-benda idaman mereka, meski dalam skala lebih terbatas.

Di sisi lain, masalah perawatan dan pemberdayaan kepemilikan pribadi ini menjadi hal yang vital. Konsekuensi jika seseorang mengoleksi benda, maka dia membutuhkan ruang, waktu, biaya, dan tenaga untuk menjaga kondisinya. Sebagai contoh, ratusan buku membutuhkan banyak rak dan waktu untuk menatanya. Koleksi pakaian mungkin lebih ribet karena harus mengecek kebersihan dan kondisi setiap sisinya. Jika kita dapat me-manage koleksi tersebut, maka akan menjadi sebuah hiburan tersendiri atau bahkan akan mendatangkan keuntungan finansial. Sebagai contoh adalah dengan menciptakan konten video, fotografi, atau daya tarik wisata museum replika.

Hanya saja, tidak semua pengumpul barang ini pandai dalam memberdayakan koleksinya. Justru banyak yang hanya puas dengan sekadar membeli tetapi tidak mau atau tidak mampu meraih manfaat sebenarnya. Parahnya, kalangan ini masih saja terus berambisi menumpuk barang baru yang dianggapnya “siapa tahu besok berguna”. Di sisi lain, dia enggan untuk mengurangi kepemilikan karena juga menganggap “siapa tahu masih berguna” walaupun efeknya akan dijelaskan di paragraf berikut.

Menurut dr. Sara Elise Wijono M.Res yang dilansir di https://www.klikdokter.com/, fenomena yang disebut hoarding merupakan kesulitan untuk berpisah atau membuang barang kepunyaan, tanpa peduli nilai barang tersebut. Hoarding selanjutnya menjadi dapat mengganggu kondisi kejiwaan pelakunya karena dia tidak mau berpisah dengan sesuatu yang bisa jadi hanya akan menjadi sampah, bahkan merasa terganggu bila orang lain mencoba merapikannya. Kualitas lingkungannya pun akan memburuk dengan timbunan barang yang berpotensi mengganggu kenyamanan gerak, mengurangi sirkulasi udara, dan bahkan mengundang bibit penyakit yang bersarang di sana.

Alangkah baiknya jika sejak dini, kita membiasakan mengerti masa atau kadar manfaat sebuah barang sehingga tidak membuat kita terkungkung benda-benda milik kita sendiri. Pikirkanlah misalnya, tidak semua baju yang kita miliki, benar-benar kita butuhkan. Banyak cara untuk mengatasi surplus tersebut. Yang paling mudah adalah menyerahkannya ke tukang loak. Namun, jika kelebihan tersebut masih dirasa memberi manfaat yang signifikan, alangkah baiknya jika kita berikan kepada orang lain yang membutuhkan. Mungkin kita tidak sadar bahwa orang yang mendapatkan manfaat tersebut akan bisa menabung lebih banyak demi pendidikan anak mereka, membeli makanan bergizi, memperbaiki tempat tinggal, atau memenuhi kebutuhan primer lainnya. Dengan berbagi, kita bisa menata kondisi kesehatan jiwa pribadi sekaligus membantu orang lain meningkatkan kualitas hidup mereka.

Categories
Gaya Hidup

Dari Rumah, Piringan Hitam Sampai Fesyen Berkelanjutan

Akhir pekan lalu Joli Jolan diajak main ke Hoz, rumah salah satu sukarelawan kami yang juga sineas muda, Zen Al Ansory. Sebuah undangan yang istimewa dan menyenangkan. Kami berkesempatan mengeksplor Hoz yang dibangun dengan pendekatan arsitektur lingkungan yang kental. Sumur lawas dan pohon-pohon besar masih dipertahankan usai pembangunan. Rumah berkonsep industrial itu pun punya banyak bukaan sehingga mengurangi penggunaan energi.

Yang tak kalah istimewa pagi itu adalah pertemuan kami dengan Subo Family. Subo Family adalah keluarga yang punya listening bar di kawasan Cipete, Jakarta Selatan. Pengunjung yang telah reservasi dapat menikmati koleksi piringan hitam plus sajian makanan di basement rumah mereka. Hari itu, mereka menginap di Hoz di sela ekspedisi Jeda Wastra yang mereka jalani sejak awal Januari.

Namun Subo ternyata tak hanya tentang seni dan gastronomi. Keluarga yang terdiri dari Aria Anggadwipa (ayah), Intan Anggita Pratiwie (ibu) dan Irama Lautan Teduh (anak) ini juga pecinta lingkungan. Intan bersama musisi Andien mendirikan Setali Indonesia, yayasan yang bergerak di bidang fesyen berkelanjutan.

Perbincangan pun mengalir ke pengelolaan limbah fesyen yang belakangan banyak jadi perhatian. Kami belajar bagaimana mereka mampu meningkatkan nilai sampah fesyen lewat upcycle. Intan bersama Setali banyak menciptakan barang dengan bahan kain bekas seperti tas, celemek, atasan, vest, dan lain sebagainya. Untuk mengelola komunitas agar berkelanjutan, mereka menerapkan tarif sekian rupiah bagi mereka yang berdonasi pakaian. Mereka menghitungnya dengan satuan kilogram.

Sudah donasi tapi masih diminta membayar pula, apa banyak yang mau? Pikir kami saat itu. Intan dan Aria kompak menyatakan bahwa pengelolaan sampah itu tak mudah. Butuh waktu, tenaga, dan biaya yang tak sedikit. Kami pun merenung sejenak. Selama ini Joli Jolan serba swadaya untuk menyortir, me-laundry, hingga membersihkan gudang penyimpanan. Kami pun masih mengirim pakaian tak layak ke Sukoharjo untuk dikelola menjadi bahan bantal. Meski lokasinya cukup jauh, hal itu kami lakukan agar pakaian tak menjadi beban bumi jika dibuang ke tempat sampah. Ya, kami masih sering menerima donasi pakaian tak layak pakai dari pengunjung. “Soal biaya pengelolaan sampah fesyen itu sebenarnya tinggal edukasi. Banyak kok sekarang yang sudah sadar dan ikut membantu gerakan kami,” ujar Aria.

Hari beranjak siang. Kami giliran dipertemukan dengan pegiat upcycle lain yang tak kalah keren, Ache Andini (Achebong). Kak Ache ini hobi bikin kolase dan mengelola kertas bekas untuk dijadikan notebook atau hiasan cantik. Bekas wadah susu UHT yang tak laku dijual di bank sampah pun bisa dia sulap jadi barang bernilai. Kami pun antusias dan menawarkan beberapa kolaborasi di masa mendatang. Rasanya hari itu ada chemical reaction yang mempertemukan kami dengan para pegiat ekonomi sirkular. Berawal dari obrolan ringan, siapa tahu ada hal besar menunggu di ujung jalan.

Categories
Gaya Hidup

Menjadi Setara di Bus Kota

Cara terbaik mengenal sebuah kota adalah berjalan kaki dan naik angkutan umum. Itulah yang ingin kami kenalkan dari kegiatan kami, Walking Tour Joli Jolan dan Transportologi ke Bekonang naik Batik Solo Trans (BST) koridor 5, yang baru saja diluncurkan bulan lalu, Sabtu kemarin (8/1).

Walking tour ini masih punya relasi erat dengan upaya Joli Jolan mengampanyekan lingkungan yang lebih lestari. Jika biasanya masih bergulat dengan sampah, kali ini kami ingin mengajak sesama relawan dan jejaring gerakan untuk naik angkutan umum yang semakin membaik di Solo.

Berjalan kaki bermanfaat tak hanya untuk alam karena menghasilkan nol emisi, tapi juga untuk kesehatan. Orang-orang yang biasanya naik kendaraan bermotor kami ajak kembali untuk menikmati aktivitas jalan kaki. Menyayangi kembali bagian tubuhnya yang lama tidak diajak untuk bergerak.

Naik angkutan umum juga bermanfaat untuk lingkungan karena menghasilkan emisi yang lebih rendah ketimbang kendaraan pribadi. Di dalam angkutan umum, kami kembali berbaur sebagai warga kota yang setara. Tidak ada perbedaan status. Tidak ada sekat kelas.

Mengenal Kota dengan Lebih Dekat

Selama berjalan kaki dan naik angkutan umum, kami belajar kembali mengenal kota dan sekitarnya dengan lebih dekat dan perlahan. Kendaraan bermotor dengan kecepatannya yang tinggi tidak memungkinkan manusia mengamati daun yang berguguran, bunga-bunga yang bermekaran, hingga jalan tanah dengan batu kerikil yang sering digunakan pejalan kaki. Sulitnya menyeberang di tengah lalu lintas yang abai pejalan kaki, tantangan untuk menemukan rambu halte di tepi jalan, warung mie ayam sedap, hingga pura mungil yang bersembunyi dalam keramaian juga kami temukan dalam perjalanan. Kendaraan bermotor hanya melintas sesaat, menciptakan jarak antara manusia dan realitas alam dan kehidupan warga.

Selama perjalanan, aku melihat wajah-wajah girang mereka yang kembali menikmati angkutan umum dan kehidupan warga dari dekat. Ada yang bilang ingin kembali naik angkutan umum, tapi masih merasa kesulitan karena aksesibilitas buruk. Ada yang bercerita kesulitan keluar rumah dengan hilangnya angkutan umum sedangkan ia tak bisa mengendarai kendaraan bermotor. Setiap warga punya cerita, punya memori, dan punya harapan untuk kembali naik angkutan umum.

Dari status kecil naik BST kemarin, aku menerima pertanyaan-pertanyaan kecil dari mereka yang penasaran naik angkutan umum pada masa kini. Bagaimana cara pembayarannya, di mana bisa naik. Ada yang berharap koridor angkutan umum dibuka menuju tempat tinggalnya.

Setiap kali aku mendengar harapan, aku hanya bisa membantunya berdoa. Semoga terkabul. Seperti harapanku dulu berdoa agar koridor 5 segera dibuka. Dulu, pada 2016. Ternyata, butuh waktu 6 tahun agar harapan itu terkabul. Ketika akhir tahun lalu koridor ini diluncurkan, aku sudah tidak berumah di sepanjang rute koridor 5.

Sepanjang perjalanan kemarin, kami jadi kelompok yang terlampau gembira. Aku berharap kegembiraan itu jadi awal memori baik kami semua naik angkutan umum. Memori ini adalah awal untuk kami semua kembali naik angkutan umum, mengenali kota kami dengan lebih baik, dan berbagi ruang jalan untuk sesama.

Categories
Gagasan

Kecil Itu Indah

Beberapa kali kami mendapatkan pertanyaan yang sama saat mengobrol dengan warga atau komunitas lain tentang Ruang Solidaritas Joli Jolan. Ke depan Joli Jolan mau sebesar apa? Mau buka cabang di mana aja? Pertanyaan ini tidak salah. Bahkan mengandung harapan agar gerakan ini semakin tersebar di daerah-daerah lain. Yang menarik, jawabannya bisa beragam antarsesama sukarelawan. Ya, kami memang belum punya masterplan atau rencana jangka panjang. Jangankan masterplan, bisa rutin buka setiap akhir pekan dengan sukarelawan yang memadai pun sudah pencapaian luar biasa. Hahaha

Namun kami punya satu hal yang hingga kini menyatukan kami di Joli Jolan. Kami punya pemahaman bahwa gerakan yang sukses dan berdampak tak harus dikenal dan berkibar seantero Nusantara. Cendikiawan dan ahli ekonomi, E.F. Schumacher, pernah mengkritik kecenderungan untuk membangun sebuah struktur serba besar dan njelimet dalam tatanan kehidupan. Sistem itu nyatanya seringkali membuat manusia kehilangan pribadinya.

Schumacher lantas melontarkan ide “Small is Beautiful” dalam bukunya. Sebuah hal yang kecil tak selalu minim nilai. Kecil justru bebas, efisien, penuh daya cipta, nikmat, dan lestari. Hal itu kami yakini hingga membawa Joli Jolan ke usia keduanya, 21 Desember 2021. Meski kecil, Joli Jolan telah menginspirasi warga atau komunitas lain membuat gerakan serupa yakni barter dan berbagi barang gratis. Di Salatiga ada Gestimba Karangalit, ada pula Gentosan di Jogja. Kawan dari Anak Kasih Indonesia kabarnya juga akan membuat gerakan serupa di pendoponya.

Namun bukan berarti kami puas dengan gerakan kami sekarang. Seperti desain logo khusus HUT kedua Joli Jolan yang futuristik, kami ingin lebih adaptif dengan teknologi. Digitalisasi pendataan hingga pembuatan aplikasi barter (kooperasi) menjadi impian agar Joli Jolan tetap kekinian. Kami juga punya mimpi membikin bulk store dan bank sampah untuk menunjang swadaya pendanaan. Pengembangan jolijolan.org sebagai kanal jurnalisme publik pun terus kami matangkan.

Terima kasih untuk para Joliers yang sudah mendukung Joli Jolan sejauh ini. Sebagai gerakan #rakyatbanturakyat, kami sangat menanti masukan atau kritik dari kawan-kawan. Kami juga terbuka bagi kawan yang ingin menjadi sukarelawan. Panjang umur solidaritas!

Categories
Gagasan

Perubahan Cuaca dan Serangan Hama

Beberapa hari lalu, World Meteorological Organization (WMO) menerbitkan rilis bahwa bumi kemungkinan mengalami kemunculan kembali kondisi La Niña (40%). Dunia, khususnya Asia Tenggara, perlu bersiap menghadapi potensi curah hujan di atas normal.

Selama beberapa hari terakhir, Solo dan Boyolali mengalami mendung dan hujan. Cuaca berubah cepat, dari yang tadinya stabil panas, lalu dingin dan lembab.

Selama berkebun, kami mengamati bahwa perubahan cuaca dan perubahan musim akan mengundang perubahan pola kembang biak hama. Yang tadinya stabil, tiba-tiba menyeruak dan muncul dengan cepat. Saat cuaca stabil, hama juga stabil. Kami masih mampu mengatasinya tanpa harus memikirkan semprotan pesnab massal.

Laporan IPCC Climate Change and Land memberikan catatan kemungkinan peningkatan ledakan hama akibat perubahan iklim (high confidence). Wilayah tropis juga diberi catatan khusus bahwa ada potensi dampak perubahan iklim yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Beberapa hari ini rombongan ulat bisa dibilang ada pada setiap tanaman pokchoy. Padahal biasanya serangan ulat hanya terjadi pada 3-4 tanaman. Kami tidak tahu, apakah ini masih dalam kondisi yang “wajar” atau tidak.

Berkebun membuat kami memikirkan banyak hal berulang kali. Berkebun mengubah segalanya karena kini kami melihat dan merasakan langsung bagaimana kebun bekerja bersama kekuatan semesta. Iklim ikut menentukan ketangguhan kebun.

Ketika petang menjelang, kami sering berpikir, apakah kami akan masih tetap sanggup kuat menghadapi perubahan iklim yang mulai mengubah segalanya? Seberapa tangguh sebetulnya kebun dan pertanian kita? Seiring berjalannya waktulah kami akan menemukan jawabannya.