Categories
Komunitas

Gentosan, Komunitas Berbagi di Yogyakarta

Gentosan merupakan kegiatan solidaritas untuk saling bertukar barang yang masih layak pakai. Nama Gentosan diambil dari bahasa Jawa yang berarti bergantian. Sesuai dengan namanya, moto dari kegiatan ini adalah nggentosaken barang kagem ngrembakaaken raos pasederekan wonten mongso pandemi. Artinya kurang lebih seperti ini, menukarkan barang untuk menyuburkan (memupuk) rasa persaudaraan di masa pandemi.

Kegiatan ini diinisiasi oleh seorang ibu dari 3 orang anak, Erni Ika Nurhayati. Beliau adalah seorang Pegawai Negeri Sipil di Lingkungan Kementerian Keuangan RI. Gentosan pada awalnya terinspirasi dari Joli Jolan saat dia berkunjung ke Solo. Karena merasa tertarik dengan konsep Joli Jolan, beliau pun berupaya menerapkannya di Yogyakarta dengan memanfaatkan halaman rumahnya di Jalan Sawit Sari II Kusumanegara.

“Terpikir setelah main ke Joli Jolan saat ada acara kerja sama beberapa waktu lalu. Daripada direncanakan terus lebih baik langsung dimulai saja,” kata beliau.

Melalui Gentosan, masyarakat dapat memberikan barang yang masih layak pakai untuk ditukarkan dengan barang lainnya. Barang yang dapat diberikan pun beragam, mulai dari buku, mainan, boneka, peralatan sekolah, peralatan rumah tangga, peralatan ibadah, barang elektronik, sembako, pakaian, dan sebagainya. Syarat utama barang yang dapat ditukarkan adalah barang-barang tersebut sudah dicuci bersih terlebih dahulu.

Dalam sehari masyarakat hanya diperbolehkan melakukan 1 kali penukaran dengan maksimal pengambilan barang sebanyak 3 buah. Pembatasan ini dilakukan guna meminimalkan risiko pengambilan barang yang berlebihan. Erni berharap kegiatan ini dapat bertahan dan semakin dikenal oleh masyarakat, terutama masyarakat Yogyakarta. Beliau juga berharap ke depannya beliau bertemu dengan orang-orang sefrekuensi yang dapat bersama-sama mengembangkan gerakan saling berbagi ini.

Categories
Gagasan

Jajan sebagai Upaya Redistribusi Kekayaan

Saya termasuk orang yang gemar sekali jajan makanan, baik langsung dari pelapak atau layanan online. Alasannya karena makanan yang dijual di luar rumah jauh lebih beragam. Apalagi racikan bumbunya biasanya lebih banyak dan berani. Rasa yang dihasilkan pun menjadi jauh lebih terasa dibandingkan makanan rumahan. Itu menurut pendapat saya pribadi.

Karena kebiasaan jajan tersebut, saya terkesan menjadi orang yang boros dan ‘ceroboh’ dalam membelanjakan uang, meskipun tidak sampai level overspender kronis. Saya menyadari hal tersebut, bahkan sesekali ada perasaan menyesal saat mengetahui bahwa uang yang saya dapatkan hanya habis untuk jajan.

Jika dilihat dari sudut pandang penghematan uang, kebiasaan saya bisa dikatakan boros. Namun, lain halnya ketika sudut pandang yang dipakai untuk mengukur kebiasaan saya adalah kesempatan dalam mendistribusikan kekayaan. Jajan bisa jadi upaya dalam membagikan kekayaan yang dimiliki untuk orang lain. Pembagiannya tidak dilakukan secara cuma-cuma, tetapi dengan membayar barang dagangan atau jasanya. Dengan kata lain, melarisi dagangan orang lain berarti memberikan sedikit kekayaan yang kita miliki untuk orang lain.

Ada dua hal yang berubah setelah saya memilih menggunakan sudut pandang kedua dalam melihat kegemaran jajan saya. Yang pertama, niat saya yang semula hanya terfokus pada memenuhi hasrat pribadi bergeser pada keinginan untuk membantu orang lain. Pola pikir tersebut membuat saya tidak terbebani saat hendak membelanjakan uang. Saya melihatnya sebagai upaya dalam membantu perekonomian orang lain. Kedua, saya pun merasa ada saja rezeki yang tak terduga yang saya dapatkan. Mungkin itulah cara Sang Pemberi rezeki menitipkan rezeki orang lain melalui saya sebagai perantaranya.

Apalagi di masa pandemi seperti sekarang, saya merasa bahwa jajan adalah hal yang bermanfaat. Saat perekonomian rontok dan banyak usaha yang kritis, sebuah keistimewaan untuk masih memiliki penghasilan. Kesempatan tersebut tentu dapat menjadi sarana untuk membantu orang lain, kesempatan untuk menggerakan perputaran roda ekonomi.

Mungkin apa yang saya lakukan tidak berdampak signifikan pada perputaran ekonomi negara, tetapi setidaknya berdampak pada perputaran ekonomi keluarga yang barang dagangannya saya beli. Pada akhirnya jajan tidak hanya sekadar memuaskan hasrat pribadi, tetapi menjadi sarana untuk saling berbagi. Selagi masih ada waktu untuk berbuat baik, kenapa tidak?

Categories
Gaya Hidup

Yuk, Masak Cilok Sayur!

Cilok, camilan yang satu ini sudah sangat populer di Indonesia. Makanan ini menjadi favorit anak-anak hingga orang dewasa. Nah, sebelum memulai resep pembuatan cilok, kita cari tahu dulu asal makanan ini.  

Cilok berasal dari Jawa Barat, Indonesia. Cilok adalah singkatan dari aci dicolok (kanji ditusuk) karena biasanya cara memakan cilok adalah dengan menggunakan tusuk sate/biting (serutan bambu). Cilok dibuat dari adonan tepung kanji yang dibulatkan seperti bakso kemudian direbus, sehingga menghasilkan tekstur yang kenyal dengan pelengkap sambal kacang, kecap, maupun saos.

Dahulu cilok adalah makanan yang sangat mudah ditemukan di depan sekolah-sekolah. Namun, seiring perkembangan kuliner di Indonesia, cilok pun mulai naik kelas. Sejumlah restoran maupun kafe-kafe menyisipkan cilok di dalam buku menunya. Ada pula variasi cilok dengan saus Jepang, Korea, citarasa western seperti barbeque sauce hingga blackpepper sauce.

Salah satu inovasi yang menyehatkan adalah cilok sayur. Seperti yang saya buat kali ini. Kalian bisa coba di rumah untuk teman santai atau cemilan di sela-sela work from home. Berikut bahan dan cara pembuatannya:

Bahan-bahan:

  • 2 buah Kentang
  • 1 buah Wortel
  • 1 sachet Kornet
  • 1 batang Daun Bawang
  • Merica Bubuk secukupnya
  • Penyedap Rasa secukupnya
  • Garam secukupnya
  • Tepung Kanji secukupnya

Cara Membuat:

  1. Kupas lalu rebus kentang hingga empuk.
  2. Sembari menunggu kentang, potong wortel menjadi kotak-kotak kecil dan cincang daun bawang.
  3. Setelah kentang matang, tumbuk hingga halus.
  4. Masukkan tepung kanji, garam, penyedap rasa, dan merica. Cek rasa.
  5. Masukkan kornet dan uleni hingga tercampur rata.
  6. Bulat-bulatkan adonan, siapkan air untuk merebus.
  7. Setelah air mendidih, masukkan adonan.
  8. Adonan yang telah matang akan mengapung, ambil menggunakan saringan.
  9. Kemudian masukkan adonan yang sudah matang tadi ke air dingin atau air bersuhu biasa agar adonan satu dengan yang lain tidak lengket.
  10. Cilok Sayur siap disajikan bersama saos atau mayones favorit.

Mudah, kan? Selamat mencoba!

Categories
Gagasan

Manusia dan Peran Kebermanfaatan

Manusia sejatinya hidup atas perannya di dunia ini. Entah apa pun itu. Biasanya dalam bentuk pekerjaan atau kegiatan. Ia akan memilih jalannya sendiri untuk mengarungi kehidupan. Banyak faktor manusia akan mengambil peran tersebut, salah satunya adalah berkeinginan untuk memberikan kebermanfaatan bagi makhluk ciptaan Tuhan. Dalam konteks yang lebih jauh, agar saat Tuhan menagih pertanggungjawaban atas kehidupan yang diberikan kepada manusia, manusia bisa selamat dalam proses peradilan di mahkamah akhirat. Menjabarkan peranan kebermanfaatan tersebut dihadapan Tuhan yang menjadi hakimnya sendiri.

Hal ini mengingat manusia juga memerlukan rasa aman dan damai, baik secara fisik maupun psikis. Sebab, ia akan bersinggungan dengan makhluk yang lain. Manusia memiliki sifat dasar yaitu peduli. Sifat inilah yang menunjang untuk memberikan kedamaian secara psikis. Artinya apabila manusia bisa membantu mempermudah urusan makhluk lain maka hatinya akan damai. Dengan kesadaran itu, banyak sekali manusia berlomba-lomba melakukan kebaikan kepada sesama makhluk Tuhan, baik dalam wadah organisasi, komunitas, maupun perseorangan. Romansa hal baik senantiasa digaungkan, di jalanan, tempat tongkrongan, rumah ke rumah, dan media sosial. Bak suara guntur, ia menggema luar biasa.

Di Solo sendiri banyak sekali organisasi, komunitas, maupun perseorangan yang bergerak di bidang sosial, ekonomi, dan pendidikan. Kepedulian mereka tidak hanya untuk manusia saja, melainkan mereka curahkan juga untuk hewan, tumbuhan, dan alam. Misalnya ada komunitas yang memberikan makan kucing liar, menanam dan membagikan bibit pohon, bersih-bersih sungai, dan masih banyak lagi varian serta inovasi yang dilakukan.

Kegigihan dan konsistensi mereka tentu akan berbalas kepada yang melakukan untuk menjunjung tinggi kepedulian. Terutama kedamaian dan rasa aman. Manusia dengan makhluk Tuhan yang lain layaknya satu tubuh. Apabila merasakan sakit di salah satu tubuh maka akan berpengaruh pada tubuh yang lain. Dengan demikian manusia yang memiliki rasa peduli, ia masih di-”cap” sebagai manusia. Sebab, manusia akan merasa terusik apabila ada ketimpangan dan ketidakadilan yang terjadi. Itulah sifat dasar manusia.

Categories
Komunitas

Menyemai Kedaulatan Pangan dari Kebun Balkon

Dari kebun kecil 8 meter persegi di balkon, kami menemukan persilangan budaya dan peradaban manusia. Di sini pula, kami belajar untuk jadi lebih tangguh dan berdaulat pangan. Pengalaman kecil merawat kebun di balkon ini, pada akhirnya, meneguhkan hati kami kenapa perlu merawat bumi kita.

Kami mulai berkebun ketika pandemi Covid-19 menyerang dunia tahun lalu. Ada banyak faktor yang saling berkelindan dan kebetulan yang membuat kami menanam. Tahun lalu, kami mendadak merasa hampa berada di rumah yang baru kami tinggali lagi setelah bertahun-tahun dibiarkan kosong. Balkon dan teras rumah yang menghadap arah barat sangat gersang, minim tanaman yang menyegarkan mata.

Pindahan dari kota kecil ke desa juga menimbulkan culture shock kepada kami. Ada berbagai sayur dan kudapan yang umum di kota kini tak bisa kami akses begitu saja dari desa, seperti sayur selada beraneka ragam, pizza, dan lainnya. Sulit bagi kami mengubah kebiasaan. Satu-satunya cara untuk tetap memeroleh produk yang kami sukai hanya satu: menanam bahan bakunya.

Kebetulan, pada saat yang sama, Ruang Solidaritas Joli Jolan kala itu sedang menggiatkan kegiatan yang berhubungan dengan berkebun di ruang urban. Saat itu, kami merasa tertarik menanam. Namun, kami masih ragu-ragu. Kami khawatir gagal.

Lalu, pandemi yang memburuk memaksa kami mengurangi perjalanan. Kami jadi memiliki banyak waktu di rumah dan memutuskan untuk mulai menanam.

Kami belajar menanam dari nol. Saya dan suami tak punya banyak pengalaman mengurus kebun. Saya sendiri nol pengalaman. Sementara, terakhir kali suami memegang ladang belasan tahun lalu, saat ia hidup di kampung halamannya. Ia pernah berkebun sebentar dan membantu panen di sawah ketika masa senggang menunggu ujian universitas.

Kangkung, Bayam, dan Sawi

Kami belajar menanam dengan metode hidroponik. Metode ini kami pilih karena rumah kami minim lahan. Lokasi yang dapat ditanami adalah balkon mungil dengan lantai keramik dan teras bawah yang sempit. Sebagai awalan, kami menanam kangkung, bayam, dan sawi. Tiga jenis sayuran yang direkomendasikan untuk ditanam oleh pemula. Kami mulai menanam dengan memanfaatkan styrofoam bekas di toko buah.

Kangkung, bayam, dan sawi mudah ditanam, cepat dipanen, dan jarang diganggu hama. Sungguh jenis sayur yang tepat bagi pemula karena tingkat keberhasilannya yang tinggi mampu memacu keinginan menanam lagi setelah penanaman pertama. Dari kangkung, bayam, dan sawi, kami beranjak belajar menanam tanaman yang lain yang lebih menantang karena memiliki tingkat kesulitan yang lebih tinggi.

Kami mencoba menanam tanaman yang menghasilkan buah, seperti tomat, terong, pare belut, dan timun. Tidak semuanya mulus bisa panen dengan baik. Sekali belum berhasil, kami mencoba lagi. Tanaman buah lebih menantang dibandingkan tanaman sayur hijau karena tanaman yang berbuah membutuhkan asupan nutrisi yang lebih dan sinar matahari yang lebih banyak.

Selain tanaman buah, kami juga mencoba menanam bunga dan tanaman herbal. Beberapa bunga dan herbal bisa tumbuh di balkon kami yang minim cahaya, tapi ada pula yang kesulitan menyesuaikan diri. Kami masih memelajari cara merawat pada situasi ekstrem di balkon kami.

Saya dan suami tak selalu satu kata dalam merawat tanaman. Awalnya, ia hanya ingin menanam hidroponik. Tapi, saya bersikukuh menambah tanaman dengan cara tanam konvensional. Saya ingin tanaman kebun lebih beragam. Keragaman tanaman sangat penting untuk ekosistem tanaman dan daya tahannya terhadap hama. Saya ingin sekali mengurangi penggunaan pestisida maupun jebakan hama dalam pengelolaan kebun.

Butuh waktu tidak sebentar untuk meyakinkan suami bahwa cara itu bisa mengurangi beban hama yang muncul di tanaman. Akhirnya, kami membagi peran kami. Perawatan hidroponik dilakukan oleh suami, sementara saya merawat tanaman dengan cara tanam konvensional. Terkadang, saat ia senggang, ia membantu juga mengaduk media tanam karena pekerjaan itu memang tidak mudah. Apalagi ruang balkon kami sempit untuk mengaduk media tanam dalam jumlah besar.

Berdaulat Pangan

Sejak menanam, kami mengurangi ketergantungan konsumsi rumah tangga kami terhadap pasokan pasar. Tanaman di rumah juga mulai beragam, dari tanaman annual, biennial, hingga parenial. Kami memilih sendiri apa yang ingin kami konsumsi. Kami berdaulat atas pangan kami. Dengan menanam sendiri, kami juga tahu segala macam bentuk perawatan tanaman yang menjamin kualitas pangan kami.

Manfaat tak kalah luar biasa dari menanam yaitu keuangan rumah tangga kami tidak terpengaruh dengan inflasi harga pangan. Kebutuhan sayur sudah terpenuhi dari kebun sendiri. Kebun pangan di rumah kami membuat kami memiliki ketangguhan pangan. Kebun kami banyak menyelamatkan keuangan rumah tangga ketika pandemi menghempaskan sebagian besar pendapatan keluarga kami.

Selain mendapatkan banyak manfaat dari menanam, kami banyak belajar tentang bumi ini. Krisis iklim yang sering dibicarakan lebih terasa dampaknya ketika berkebun dengan melihat respon tanaman menghadapi perubahan cuaca dan musim.

Situasi masa kini sudah banyak berubah dibandingkan beberapa puluh tahun lalu. Boyolali, kota kecil yang kami tinggali sekarang, dulu jauh lebih dingin. Pada masa lalu, hujan es berukuran kecil biasa terjadi. Kini, panasnya menyengat untuk ukuran kota di kaki gunung.

Cuaca panas jadi tantangan berat untuk tanaman karena mereka bisa dehidrasi pada siang hari yang terik. Pada cara tanam hidroponik, air jadi cepat panas. Jadi, tanaman tak hanya layu karena cuaca panas, tapi juga layu karena airnya menghangat-panas. Selada, misalnya, adalah tanaman yang bisa berubah cita rasanya apabila cuaca dan airnya terlampau panas.

Pelajaran itu menyadarkan kami bahwa hasil kebun yang berkualitas dan berkelanjutan mensyaratkan bumi yang sehat untuk ditinggali. Kedaulatan dan ketangguhan pangan tidak akan ada apabila lingkungan dan bumi kita rusak.

Categories
Komunitas

Gerakan Cinta Lingkungan Resik Resik X

Anak muda di wilayah Laweyan Solo menginisiasi gerakan peduli lingkungan dalam tajuk Resik Resik X (dibaca kali atau sungai). Gerakan ini dimulai pada 2019 lalu. Saat itu sang inisiator, Eko Pethel, yang merupakan warga setempat mengaku risih melihat sungai dekat rumahnya yang terlihat kotor dan menghitam. Dia lalu turun ke sungai dan merasakan betapa dangkalnya lokasi tersebut.

Eko kemudian  membuat video tentang kondisi sungai dan diunggah di laman media sosial (medsos). Saat itu banyak yang merespons dan mendorong untuk membuat agenda bersih-bersih sungai. Hingga akhirnya menjadi gerakan besar bernama Resik-Resik X yang melibatkan banyak anak muda pegiat seni dan berbagai bidang lain di sekitar Solo.

Gerakan yang sebenarnya bertujuan mengembalikan kesadaran masyarakat tentang pentingnya peduli lingkungan ini direspons banyak pihak. Warga setempat hingga komunitas-komunitas di sekitar Solo. Eko dan warga beberapa kali membuat kegiatan bersih-bersih sungai, mancing bersama, hingga pembacaan puisi di pinggir kali. “Sungai itu hanya kujadikan sebagai trigger, intinya adalah tentang gerakan kesadaran merawat lingkungan,” terang Eko saat berbincang dengan tim Joli Jolan di markas Joli Jolan bilangan Kerten, Laweyan, Kamis (11/3/2021) lalu.

Pot dan Limbah Fesyen

Saat melakukan bersih-bersih sungai mereka menemukan banyak sampah fesyen yang terbawa arus sungai. Sampah berupa pakaian tersebut kemudian mereka kumpulkan karena bisa mengganggu jalannya air dan berdampak pada banjir. Setelah terkumpul cukup banyak, pakaian tak layak tersebut kemudian mereka olah menjadi bahan kerajinan tangan seperti hiasan rumah dan pot bunga.

Bersama rekannya bernama Cherik, Eko, sempat mempraktikkan pemanfaatan limbah fesyen menjadi pot dan hiasan rumahan dalam acara workshop Sampah Jadi Cuan dan Kerajinan di Joli Jolan. Eko mempraktikkan mudahnya membuat pot sampah atau hiasan rumahan dari kain. Hanya perlu menyiapkan pakaian bekas berbahan kaus, gunting, cetakan, dan semen. Detail praktiknya bisa dilihat di kanal YouTube Joli Jolan.

Eko mengatakan pengembangan program Resik Resik X dengan pot tanaman tersebut cukup menjanjikan. Jika mau diseriusi bisa menghasilkan pundi-pundi rupiah. Beberapa waktu lalu ketika ada lomba penghijauan di kampungnya, ia mengajak warga sekitar untuk bersama-sama memproduksi pot dengan kain tersebut. Hasilnya cukup lumayan, tanpa modal besar, kampungnya terlihat indah warna-warni.

Cherik dan Eko sepakat tak mau menjadikan Resik Resik X sebagai nama komunitas. Mereka menyebutnya sebagai gerakan bersama. Dengan begitu programnya tak mengikat dan bisa dikerjakan di mana pun. Gerakan peduli lingkungan Resik Resik X bahkan siap berkolaborasi dengan siapa pun asal memiliki misi yang sama. Termasuk dengan Joli Jolan lewat workshop sampah pada Kamis lalu.

Menurutnya gerakan kolaborasi seperti ini sangat penting di masa sekarang. Kita semua akan kesulitan jika bekerja sendiri. Namun, jika dilakukan bersama-sama, gaungnya akan lebih besar. Eko juga mengapresiasi gerakan Bank Sampah yang menjadi konsentrasi diskusi pada workshop Kamis lalu. Bank Sampah merupakan upaya memperpanjang umur barang. Menariknya program tersebut melibatkan para ibu-ibu.

Gerakan Resik-Resik X bahkan menarik perhatian Humas Pemerintah Provinsi Jawa Tengah (Pemprov). Humas Pemprov Jateng mengapresiasi inovasi anak muda ini dengan mendokumentasikan video feature mereka. Kemudian dipublikasikan di kanal YouTube Humas Jateng bertepatan pada Hari Sampah Nasional, Rabu (24/2/2021). Tujuannya agar gerakan ini menjadi contoh masyarakat tentang semangat menjaga alam dan lingkungan sekitar.

Categories
Gagasan

Apa Benar Kita Harus Selalu Memberi?

Amanda Palmer, vokalis dan penulis lagu band cabaret punk The Dresden Dolls, mengatakan dalam bukunya, The Art of Asking, “Our first job in life is to recognize the gifts we’ve already got, take the donuts that show up while we cultivate and use those gifts, and then turn around and share those giftssometimes in the form of money, sometimes time, sometimes loveback into the puzzle of the world. Our second job is to accept where we are in the puzzle at each moment. That can be harder.” Seketika kata-kata tersebut menyentak kesadaran saya.

Sebagai seorang yang terdidik dengan peribahasa tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah, kutipan Amanda Palmer benar-benar membuat saya berpikir ulang tentang arti memberi dan menerima. Peribahasa tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah meyakinkan saya bahwa memberi adalah sesuatu yang lebih baik dibandingkan menerima. Sebaliknya, menerima dianggap sebagai sesuatu yang kurang baik. Oleh karena itu, apa pun kondisinya, kalau bisa, selalu beri, beri, dan beri.

Keyakinan tersebut secara tidak sadar menuntun tindakan saya untuk selalu memberi tanpa mau menerima. Saya menempatkan perbuatan memberi di kasta yang jauh lebih tinggi dibandingkan tindakan menerima. Namun ternyata, apa yang saya yakini tidak sepenuhnya benar. Saya teringat pengalaman saya beberapa tahun silam saat mentraktir teman untuk kesekian kalinya. Padahal di saat yang sama, dia ingin mentraktir saya. Saya tetap mentraktirnya karena keyakinan saya yang berlebihan akan tindakan memberi. Seketika dia malah menunjukkan raut muka yang masam, tanda bahwa tindakan saya membuatnya kurang berkenan. Pengalaman itu membuat saya sadar bahwa ada saatnya memberi, ada saatnya pula menerima.

Bagi sebagian orang, tindakan menerima jauh lebih sulit dibandingkan tindakan memberi. Sebab, secara tidak sadar ada perasaan inferior dari sebuah tindakan menerima. Bisa jadi konstruksi sosial yang ada di masyarakat (lingkungan) menganggap bahwa tindakan menerima sebagai buah dari ketidakmampuan sedangkan tindakan memberi dianggap sebagai buah dari kemampuan. Keyakinan berlebihan dari konstruksi sosial tersebut secara tidak sadar mengekspose secara gamblang status sosial si pemberi dan si penerima. Apalagi jika sesuatu yang diberikan/diterima berhubungan dengan materi, status sosial tersebut akan terasa dan terlihat dengan sangat jelas. Meminjam kata-kata Henry Miller, “It’s only because giving is so much associated with material things that receiving looks bad.” Tidak semua orang siap menghadapi kenyataan seperti itu.

Padahal tindakan memberi dan menerima tidak harus selalu dikaitkan dengan status sosial. Hal seperti tenaga, waktu, pemikiran, dan bahkan perhatian (#eh) pada dasarnya bersifat netral dan tidak berhubungan sama sekali dengan status sosial dari si pemberi dan si penerima. Jangan sampai karena ‘termakan’ konstruksi sosial, kita menjadi berat sebelah dalam memaknai tindakan memberi dan menerima. Dalam jangka panjang, keyakinan seperti itu akan menyabotase diri kita sendiri dalam bertindak.

Tidak ada yang salah dengan tindakan memberi, pun tidak ada yang salah dengan tindakan menerima, asalkan keduanya dilakukan sesuai porsinya. Tindakan memberi memberikan perasaan lega dan terpenuhi secara sosial, mental, emosional, dan spiritual bagi si pemberi. Di sisi lain, tindakan menerima berarti menyatakan secara sadar dan berani bahwa si penerima butuh pertolongan orang lain. Tindakan tersebut membuka kesempatan bagi si pemberi untuk membantu si penerima. “By receiving from others, by letting them help you, you really aid them to become bigger, more generous, more magnanimous. You do them a service,” kata Henry Miller. Memberikan kesempatan bagi si pemberi untuk merasa lega dan terpenuhi ternyata secara tidak langsung juga mampu memberikan perasaan lega dan terpenuhi kepada si penerima. Hal yang tentunya juga baik. 

Biasanya masalah terjadi ketika kita terlalu berlebihan dalam memberi maupun menerima dan tidak bersedia melakukan keduanya. Terlalu banyak memberi tanpa mau menerima membuat kita merasa selalu ‘di atas angin’, sedangkan terlalu banyak menerima tanpa keinginan untuk memberi membuat kita menjadi orang yang merepotkan dan menjengkelkan. Solidaritas merupakan tindakan dua arah, bukan tindakan searah. Untuk menciptakan kesinambungan tersebut dibutuhkan dua komponen yang harus saling terjaga: memberi dan menerima. Maria Popova berhasil megungkapkan kesinambungan tersebut dengan bagus, ”The art of giving and the art of receiving are compatriots in the kingdom of creative culture, absolutely vital to each other’s survival.

Joli Jolan, komunitas gerakan solidaritas yang baru berdiri satu tahun ini, menjadi gerakan pengingat akan pentingnya siklus tersebut. Gerakan ini tidak hanya mengetuk hati orang-orang baik untuk mendonasikan barangnya, tetapi juga menjadi media bagi masyarakat dari berbagai lapisan sosial untuk menerima barang tersebut, untuk belajar menjadi si penerima. Semua orang dapat berdonasi, semua orang dapat mengambil barang yang telah didonasikan. It’s not about charity, it’s about solidarity.

Categories
Sudut Joli Jolan

Solusi Donasi Tak Layak Pakai

Bukan satu dua kali Ruang Solidaritas Joli Jolan menerima donasi yang jauh dari kata layak. Pakaian sobek, celana dalam bekas, sepatu “mangap”, tas rusak dan lain sebagainya kerap kami temui saat menyortir barang donasi. Ya mohon maaf, barang-barang itu langsung kami singkirkan karena tidak pantas jika diberikan pada orang lain. Sedih rasanya melihat sejumlah orang masih menganggap Joli Jolan sebagai gudang pembuangan barang bekas semata.

Barang tak layak tersebut tentu berpotensi menjadi masalah baru. Tak hanya memicu timbunan sampah, tapi juga mengundang penyakit. Tulisan ini mungkin dapat sekaligus menjadi pengingat bagi kawan-kawan tentang pentingnya memberikan barang yang terbaik bagi sesama. Di sisi lain, kami pun perlu mencari solusi apabila barang kurang layak ini telanjur sampai di galeri Joli Jolan. Beberapa bulan terakhir kami bekerjasama dengan sebuah pabrik pengolahan dakron/bantal untuk mengatasi sampah pakaian. Sejauh ini cara tersebut paling efektif untuk mengelola sampah pakaian meski kami harus mengantar ke pabrik yang lokasinya cukup jauh yakni di Gatak, Sukoharjo.

Namun yang masih menjadi pemikiran kami, bagaimana mengelola barang seperti tas, sepatu dan memorabilia lain yang tidak layak agar tidak langsung bermuara di tempat sampah. Beberapa hari lalu kami mendapat ide baru saat main ke Bank Sampah Jensan Mugi Berkah yang berlokasi di Pucangan, Kartasura, Sukoharjo. Kami belajar tentang pengelolaan sampah sederhana yang melibatkan warga dalam lingkup terkecil yakni RT/RW. Terbentuknya bank sampah membuat warga setempat mulai disiplin memilah sampah dari rumah. Sebulan sekali, warga rutin menyetor sampah anorganik seperti plastik, kertas, barang berbahan logam dan kaca serta lain sebagainya ke bank sampah.

Yang menarik, barang-barang khas di Joli Jolan seperti sepatu, tas, dan bahan lain berbahan plastik dan kaca yang kurang layak pun dapat terserap bank sampah. Bersama pengelola Bank Sampah Udadu, rintisan bank sampah yang berlokasi sekompleks dengan Joli Jolan, kami berinisiatif mempraktikkan pengelolaan sampah secara terpadu mulai pekan ini. Pada Rabu, 10 Februari 2021, tim sukarelawan Joli Jolan bersama Udadu akan mulai memilah donasi tak layak pakai agar dapat bernilai ekonomis dan ekologis melalui bank sampah. Sedikit banyak dana yang terkumpul akan kami gunakan untuk operasional Joli Jolan.

Kami meyakini bank sampah bukanlah solusi paripurna terhadap konsumerisme. Bank sampah hanya sebagai alat untuk mengurangi dampak gaya hidup kita yang kurang bertanggungjawab. Pola konsumsi berkelanjutan dengan membeli barang seperlunya tetap yang utama dalam menjaga kelestarian mother earth.

Categories
Komunitas

Belajar Mengasah Rasa lewat Joli Jolan Surakarta

Pada hari keempat social distancing akibat pandemi Covid-19 ini, saya ingin berbagi cerita mengenai komunitas baru di kota tetangga yakni Solo yang diberi nama Joli Jolan.

Ya, kata Joli Jolan ini diambil dari Bahasa Jawa jol-ijolan yang artinya adalah tukar-menukar. Tagline Ambil sesuai kebutuhanmu, Sumbangkan sesuai kemampuanmu adalah kalimat sederhana yang membuat saya tertarik untuk mempelajari lebih lanjut tentang gerakan yang berdiri tanggal Desember 2019 ini. Faktor menarik lain adalah karena salah satu pendiri Joli Jolan merupakan seorang dosen komunitas kami di bidang transportasi yakni Mbak Septi.

Dilansir dari akun resmi @Joli_Jolan, barang-barang yang bisa saling ditukar antara lain; pakaian, buku bacaan, perlengkapan rumah tangga, peralatan sekolah, perkakas/ hiasan rumah, makanan, keperluan hewan peliharaan, dan memorabilia/ barang koleksi.

Pada 15 Februari 2020 lalu, setelah event Edukasi #1 Aman Berlalu Lintas di Alun-alun Pancasila, Anelis (Komunitas Ijo Lumut) dan saya mencoba memperkenalkan terminologi Joli Jolan kepada masyarakat Kota Salatiga. Caranya yakni dengan giveaway mainan daur ulang dari galeri Ijo Lumut. Ya, galeri edukasi dan kreasi daur ulang ini memang cukup produktif dalam menghasilkan berbagai mainan anak-anak.

Saya menilai tak ada salahnya membagikan mainan-mainan ini. Ada dua alasan utama;

  1. Cek ombak, apakah mainan anak-anak bisa diterima masyarakat, apakah bisa dimasukkan sebagai komoditas Joli Jolan.
  2. Memberikan edukasi kepada seniman-seniman cilik Ijo Lumut bahwa tangan di atas memang akan selalu lebih baik daripada tangan di bawah. 

Sayangnya pada hari itu hampir semua anak dan orang tua mengambil mainan, tetapi tidak ada satu pun yang ikut menyumbang. Well, ada dua kemungkinan alasan menurut saya.

  1. Gerakan ini memang baru dilakukan sekali sehingga banyak yang masih belum tahu dan tidak prepare mainan untuk ikut disumbangkan.
  2. Tak bisa dipungkiri bahwa masyarakat kita lebih suka mengambil barang secara gratisan dan lupa bahwa ia pun sebenarnya telah mampu menyumbangkan barang juga.

GKJ Sidomukti Salatiga ikut tertarik mengimplementasikan gerakan Joli Jolan ini di Salatiga. Hal tersebut membuat saya semangat meluangkan waktu untuk datang ke markas Joli Jolan di Jajar, Kerten, Solo, 7 Maret 2020 lalu. Saya mengamati dan belajar dari para pakar di komunitas ini secara langsung.

Sampainya di markas Joli Jolan, saya langsung disuguhi makan siang sambil ngobrol dengan teman-teman. Relawannya berasal dari berbagai kalangan; mulai dari anak sekolah, kuliahan, pekerja formal, dan nonformal. Sambil asyik ngobrol, saya melakukan pengamatan dan observasi terhadap suasana Joli Jolan yang ada di sana.

Saya mempelajari ada beberapa poin penting;

  1. Anak-anak yang datang ke Joli Jolan diberi konsumsi susu kotak. Supaya ada effort sedikit untuk mendapatkannya, si anak perlu melewati permainan melewati karpet dengan gambar telapak tangan atau telapak kaki.
  2. Pembiayaan untuk membeli susu itu didapatkan dari kotak kardus bertuliskan Donasi Parkir untuk Membeli Susu Kotak. Kotak tersebut diisi oleh para pengunjung Joli Jolan yang membawa kendaraan. Selain itu, tentu saja Joli Jolan menerima sumbangan susu kotak dari masyarakat
  3. Pengurus Joli Jolan memiliki mindset terbuka terhadap segala sesuatu. Joli Jolan tidak hanya jadi tempat untuk berbagi, tetapi juga telah menjadi ruang publik tempat bertemunya antar komunitas. Mbak Septi pun mengamini bahwa Kota Solo sudah sangat padat sampai tak memiliki ruang publik untuk komunitas bisa berkumpul seperti ini. Salah satu tujuan Joli Jolan adalah untuk memenuhi kebutuhan tersebut
  4. Pengunjung Joli Jolan yang datang untuk kali pertama rata-rata hanya melakukan satu mata kegiatannya saja; menyumbangkan barang kemudian pulang, atau mengambil barang kemudian pulang. Orang yang mengambil barang didata oleh tim Joli Jolan dengan syarat dan ketentuan yang berlaku. Sebaliknya, orang yang menyumbangkan barang rata-rata enggan untuk ikut mengambil.
  5. Mbak Septi mengiyakan bahwa orang yang mengambil tidak harus mengijoli/ membarterkan barang pada hari itu juga dan dengan nilai barang yang sama. Tidak membarterkan barang sampai kapanpun juga tidak masalah, ia tetap boleh mengambil barang lagi.

Mbak Septi menceritakan hal menarik tentang tukang becak yang datang lagi di pekan berikutnya sembari membawa empat butir telur, juga pedagang sayur membawa dua nasi bungkus untuk ditukar. Saya sedikit mbrebes mili mendengar cerita tersebut. Sambil mengamini dalam hati “Ya, rasa seperti inilah yang harus terus dirawat dan ditumbuhkan dalam hati sanubari Bangsa Indonesia. Jangan bermental miskin: Tak mungkin tak ada yang bisa disumbangkan kepada orang lain, karena setidaknya orang yang sehat itu itu pasti punya pikiran, waktu, tenaga, dan kemampuan untuk orang lain.”

Tentang Joli Jolan

Tibalah saat-saat mendebarkan ketika saya berkesempatan ngobrol empat mata dengan Mbak Septi. Saya menanyakan beberapa hal.

“Mbak, apa sih sebenarnya tujuan didirikannya Joli Jolan?”

Mbak Septi menjawab bahwa Joli Jolan adalah gerakan untuk bisa berbagi dengan orang lain. Joli Jolan ingin menjadi ruang publik tempat orang-orang bisa berkumpul, komunitas boleh membagikan ceritanya. Orang-orang bisa menyumbangkan sesuai kemampuannya maupun mengambil barang-barang sesuai kebutuhan.  “Budaya baik ini, apabila sudah mengakar kuat dalam masyarakat, akan berdampak positif apabila suatu saat nanti terjadi bencana/musibah di Surakarta: masyarakat kita sudah terbiasa mengatasi itu semua dengan berbagi dan bekerja sama, mau saling memperhatikan kebutuhan orang yang satu dengan yang lainnya,” terangnya.

Kalau meminjam istilah Bu Risma Walikota Surabaya, barangkali inilah yang disebut gerakan membangun kota yang resilience. Resilience artinya sebuah kota yang masyarakatnya memiliki ketahanan. Kereeen buat Mbak Septi dan teman-teman pendiri Joli Jolan!

Joli Jolan ini adalah gerakan non-profit. Mereka tidak berharap menimbun banyak barang di tempat demi mendapat keuntungan ekonomi. Saya lebih suka berpendapat bahwa Gerakan Joli Jolan adalah sebuah pembelajaran untuk mengasah rasa; apakah saya benar-benar butuh, adakah orang lain yang lebih membutuhkan? Apakah saya memang belum mampu menyumbangkan sesuatu, atau apakah saya sudah mampu tetapi belum mau/ belum merelakannya?

Mengingat Maret adalah bulannya Dewa Perang Aries, saya ingin mendefinisikan Joli Jolan sebagai gerakan perang melawan gaya hidup konsumtif. Gerakan ini merupakan sebuah ajakan kemanusiaan. Melalui berbagi dan bekerja sama, idealnya tidak perlu ada lagi orang-orang yang menghalalkan segala cara untuk mencari uang demi memenuhi kebutuhan. Mari kita bersama-sama menciptakan ruang-ruang publik yang semua orang bisa datang untuk belajar lebih peduli dengan nasib sesama.

Nah, siapa di antara Teman-Teman Pembaca yang juga mau ikut terlibat dalam mengimplementasikan gerakan positif ini di Salatiga? Ditunggu kabarnya, ya.

Salatiga, 19 Maret 2020


Sumber tulisan:

http://kristantoirawanputra.blogspot.com/

Categories
Gagasan

Filantropisme Progresif Kelas Menengah

Belakangan, kelas menengah di Indonesia menjadi suatu fenomena sosiopolitik yang menarik untuk dibahas. Antara dicibir tapi dibutuhkan, hendak ditendang tapi sayang. Mungkin begitu ungkapan yang tepat untuk menggambarkan keberadaan kelas menengah di Indonesia saat ini.

Dalam kajian kelas sosial, kelas menengah merupakan suatu pengecualian yang unik dalam epos kapitalisme di era industri modern. Salah satu keunikan kelas menengah terletak pada posisi mereka yang menjadi perantara antara kelas borjuis dan kelas proletar.

Karakter kelas menengah dalam struktur industri modern juga terbilang lentur. Jika tidak berdaya lebih, mereka bisa terjerembap menjadi proletar. Namun jika punya kekuatan yang lebih besar, mereka punya peluang untuk berperan sebagai borjuis besar.

Di Indonesia, identifikasi kelas menengah dapat dilihat dari jenis pekerjaan, jumlah pendapatan, ataupun status sosial. Dengan identifikasi kelas menengah yang dilihat dari kategori sosial dan bukan hanya akumulasi modal, mereka kerap dinilai sebagai kelasnya para pekerja kerah putih.

Dahulu, Gus Dur menyebut kelas menengah ini sebagai golongan fungsional. Dalam esainya di Majalah Tempo yang berjudul, Golongan Fungsional dan Perlunya Dialog, Gus Dur mengatakan golongan fungsional tidak memiliki kesadaran kelas ataupun idealisme dalam berpolitik.

Dalam tulisannya, Gus Dur mengatakan golongan fungsional tidak memiliki keterikatan pada ideologi politik tertentu, ”Salah satu perwatakan yang menonjol dari golongan fungsional adalah pragmatisme. Oleh karena itu sedikit sekali perhatian yang mereka berikan pada ideologi politik,” tulis Gus Dur.

Arif Giyanto dalam bukunya yang berjudul Kelas Menengah Progresif mengatakan hal senada. Menurutnya, kelas menengah memang banyak dinilai sebagai kelas yang tidak memiliki kesadaran kelas yang cukup dalam menanggapi isu-isu politik atau terlibat langsung dalam kegiatan politik.

Akan tetapi, Arif Giyanto menambahkan, zaman yang berubah membuat kelas menengah terkini punya dorongan menyadari kekuatan dan eksistensinya. Konsumsi informasi dan kekuatan ekonomi yang terus meningkat, juga akan mendorong pencarian eksistensial itu.

Kalau berkaca dari sejarah, kelas menengah di Indonesia bisa tumbuh karena pembangunan ekonomi yang menyuburkan keberadaan mereka. Dengan adanya aktivitas pembangunan ekonomi, lapangan pekerjaan dan peluang usaha baru terbuka luas bagi masyarakat.

Ketika kesempatan ekonomi terbuka luas, masyarakat yang terserap ke dalam arus itu mengalami banyak proses sosial yang baru. Termasuk di dalamnya, ada aktivitas perputaran uang yang sejalan dengan kebutuhan sehari-hari, status sosial, dan tolak ukur gengsi di tengah masyarakat.

Terang apabila kolumnis sekaligus komedian Wahyu ”Dono” Sardono menyebut kelas menengah sebagai kelas yang sibuk dengan sendirinya. Sebab, kesungguhan mereka lebih terpacak pada realitas sehari-hari, bukan realitas sosial yang lebih meluas.

Namun, jika kelas menengah terpaksa berkumpul dalam satu wadah untuk membicarakan  politik, mereka punya preferensi yang beragam, plural, dan tidak ideologis. Ketiadaan kancah orientasi yang jelas juga menjadi salah satu penyebab mengapa percakapan mereka terkesan teknis, dan tidak ideologis.

Kekosongan ideologi dalam kelas menengah ini bukannya tidak ada harapan. Justru tergusurnya prioritas idelogis dan politis dalam kelas menengah bisa menjadi tolak ukur penting untuk melibatkan mereka ke dalam proses perubahan sosial yang berdasar pada kesadaran kolektif mereka.

Lain dari itu, keterampilan teknis dan kecermatan melihat realitas sehari-hari adalah salah satu modal awal bagi kesadaran kolektif yang lebih jauh bagi kelas menengah. Memang tidak perlu muluk-muluk menjadi politis, namun setidaknya ada suatu kesungguhan lain di luar masalah ekonomi dan persoalan pragmatisme kerja.

Ruang Solidaritas Joli Jolan

Di Solo, terbentuk suatu ruang barter barang kolektif bernama Joli Jolan. Sekilas namanya terkesan tradisional. Namun sebenarnya di balik itu ada ide progresif yang menyatukan ikatan kelas menengah lintas profesi di Kota Solo.

Joli Jolan didirikan oleh sekelompok warga yang gelisah dengan perilaku konsumtif masyarakat. Niat awalnya, ruang solidaritas ini berfungsi untuk menyediakan barang yang masih layak pakai dan dapat ditukar dengan barang tepat guna lainnya.

Para pendiri Ruang Solidaritas Joli Jolan juga tidak dibatasi pada profesi tertentu. Ada yang berasal dari profesi wartawan, mahasiswa, dosen, dan juga peneliti. Secara garis besar, mereka adalah pekerja kerah putih yang oleh Gus Dur disebut sebagai golongan fungsional.

Setelah beberapa waktu berselang, Joli Jolan tak cuma sekedar bergerak di ranah tukar barang. Kini relawan Joli Jolan sudah mulai menyentuh ranah solidaritas antar kelas. Para relawan kerap menggerakkan donasi sandang dan pangan bagi masyarakat akar rumput di Kota Solo.

Kesan gerakan ini memang cenderung pada sifat filantropis. Tak ada kesan revolusioner ataupun memuat potensi radikalisme sosial. Namun, gerakan mereka menunjukkan bahwa para relawan yang berangkat dari kelas menengah ini terbuka pada dialog antar-kelas.

Lingkup gerakan ini juga akrab dengan publik. Dalam gerakannya, mereka menjamah banyak ruang publik. Dan sebagai suatu wadah, Joli-Jolan juga menjadikan galerinya sebagai suatu ruang publik tersendiri. Dengan aktivitas serba publik tersebut, dialog niscaya terjadi di dalam gerakan ini.

Lebih lanjut, untuk mewujudkan dialog yang lebih kritis, para relawan kerap menyelanggarakan diskusi publik. Galeri mereka juga tak jarang digunakan untuk membuka diskusi publik bagi pihak-pihak yang membutuhkan ruang khusus untuk diskusi.

Melihat hal itu, sebagian aktivitas gerakan ini cukup menjadi jawaban atas keraguan yang banyak diterima kelas menengah. Sebab, meski tidak menawarkan potensi transaksional dalam politik. Gerakan ini memiliki kekuatan pada solidaritas praksis yang berjalan dalam ranah isu-isu sosial di tengah masyarakat.

Itu berarti, gerakan sosial adalah sebuah bentuk yang sesuai bagi aktualisasi kelas menengah dalam mendorong proses perubahan sosial masyarakat. Sifat gerakan sosial juga telah melampaui motif gerakan politik yang rawan berbenturan dengan pelbagai pihak.

Keutamaan gerakan sosial juga terdapat pada aktualisasi, kreativitas, dan kritisisme yang saling berpadupadan. Dalam gerakan sosial pula, kepedulian sosial dan keterampilan teknis ala kelas menengah dapat menjadi suatu rumusan khusus landasan pergerakan mereka.

Dengan menyerap aspek gerakan sosial dan unsur kelas menegah, organisasi kelompok secara kolektif bisa mewujudkan kelas menengah sebagai kelas progresif sebagaimana yang diungkapkan oleh Arif Giyanto.

Memang, sebagai kategori sosial-politik, kekuatan kelas menengah tidak menjamin banyak hal. Konsep dan sifat gerakan mereka sederhana. Namun dari kesederhanaan itu, optimisme kecil terkumpul, dan perlahan-lahan mengikat setiap individu dalam suatu solidaritas dan kesadaran bersama.